NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Terminal Hati

Lampu-lampu merkuri di sepanjang jalur tol Surabaya-Malang mulai menyala satu per satu, membelah keremangan senja yang perlahan turun. Mobil SUV hitam milik Dimas melaju stabil di lajur kanan. Di dalam kabin yang kedap, aroma kopi dari cup plastik di dashboard bercampur dengan wangi sisa parfum Dinara, menciptakan suasana yang intim sekaligus menenangkan.

Perjalanan pulang dari Malang sore itu terasa lebih lambat karena padatnya arus kendaraan, namun bagi Dimas, ini adalah waktu tambahan yang sangat ia syukuri.

"Dek, cari lagu yang bisa bikin Mas melek. Mataku sudah mulai kerasa lima watt ini," ujar Dimas sambil melirik sekilas ke arah istrinya yang sedang bersandar santai.

Dinara meraih ponsel yang terhubung ke audio mobil. "Lagu apa, Mas? Pop lama atau nasyid?"

"Apa saja, asal jangan lagu pengantar tidur. Nanti kita berdua malah 'pindah alam' ke bahu jalan," canda Dimas.

Tak lama, intro lagu Hanya Rindu versi akustik mengalun. Dinara mulai ikut bernyanyi pelan, suaranya yang lembut mencoba mengimbangi instrumen. Dimas tidak mau kalah. Ia menarik napas dalam dan mulai mengambil bagian reff dengan suara baritonnya yang jernih dan bertenaga.

“Kurindu senyummu, Ibu…”

Dinara terdiam sejenak, membiarkan suaminya mengambil alih vokal. Ia selalu tahu suara Dimas bagus saat berbicara atau membacakan draf novel, tapi saat menyanyi dengan teknik yang tertata seperti ini, ada getaran berbeda yang ia rasakan.

"Suara Mas kok... stabil banget? Belajar di mana?" tanya Dinara heran saat lagu berakhir.

Dimas hanya nyengir, tangannya tetap kokoh memegang setir SUV yang berat. "Lho, Mas ini dulu mantan bintang panggung, Dek. Jangan remehkan penulis yang hobi ngopi ini."

Penasaran, Dinara mulai menggeledah laci dashboard mobil, mencari kabel data cadangan atau mungkin benda lain yang bisa menjelaskan "masa lalu" suaminya. Alih-alih kabel, ia menemukan sebuah amplop cokelat kecil yang terselip di balik buku manual mobil. Di dalamnya, ada sebuah foto cetak yang sedikit memudar di bagian ujungnya.

Dalam foto itu, sekelompok pemuda mengenakan sarung batik seragam dengan baju koko putih dan peci hitam. Mereka memegang rebana dan berdiri di sebuah panggung sederhana dengan latar tulisan Arab. Di barisan paling depan, berdiri seorang pemuda yang wajahnya sangat familiar.

"Mas... ini Mas Dimas?" pekik Dinara sambil menunjukkan foto itu ke hadapan Dimas.

Dimas melirik sebentar lalu tertawa kecil, wajahnya sedikit memerah. "Walah, kok bisa ketemu foto itu? Itu jaman Mas masih di pondok, Dek. Tim Hadroh Syubbanul Wathan. Mas bagian vokal utama di sana."

Dinara menatap foto itu lekat-lekat. Dimas dalam foto itu tampak lebih muda, namun sorot matanya yang jenaka sudah terlihat sejak dulu. "Pantesan kalau shalat jamaah suaranya enak banget, apalagi kalau lagi baca doa setelah shalat. Ternyata mantan vokalis hadroh. Kok nggak pernah cerita?"

"Lho, kan Mas mau kasih kejutan pelan-pelan. Kalau semuanya dikasih tahu di awal, nanti kamu nggak penasaran lagi sama Mas," goda Dimas. "Oiya, ngomong-ngomong soal hadroh, minggu depan Mas ada undangan ke Madiun. Teman lama Mas nikahan, sekalian tim lama Mas mau reuni tampil satu-dua lagu. Kamu ikut ya? Mas mau pamer kalau istrinya Mas lebih cantik dari bidadari di kitab-kitab."

"Mas ini, gombal terus," jawab Dinara pelan, meski dalam hati ia merasa bangga. "Tapi kalau ke Madiun, apa nggak kejauhan, Mas? Dinara ada tugas kelompok."

"Beres, nanti tugasmu bawa saja. Mas carikan tempat paling tenang di sana buat kamu ngetik. Yang penting ikut. Mas nggak mau kalau di sana nanti ada santriwati yang naksir suara Mas, terus nggak ada yang jagain Mas."

Dinara tertawa, kali ini tawanya lepas. Ia kembali menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk. Tangannya kemudian merogoh kantong plastik di bawah kaki. "Duh, keripik apelnya habis, Mas?"

"Lho, baru juga beli di Singosari tadi, sudah habis?" Dimas melirik bungkus plastik yang sudah kosong melompong. "Tadi siapa ya yang bilang: 'Mas, aku cuma mau satu saja kok, biar nggak gendut'?"

"Kan Mas juga makan!" bela Dinara.

"Mas cuma makan dua biji, sisanya kamu yang habisin sambil baca pasal-pasal tadi. Itu pipi apa bakpao, kok makin lama makin gemas?" Dimas menjangkau pipi Dinara dan mencubitnya pelan dengan satu tangan.

"Aduh, Mas! Sakit tahu," keluh Dinara, namun ia tidak menepis tangan suaminya. Ia justru mengambil sepotong cokelat yang masih tersisa dan menyuapkannya ke mulut Dimas.

"Ini biar Mas melek. Jangan ngatain pipi Dinara terus," ucapnya.

Suasana kembali tenang saat mobil mulai memasuki gerbang tol Waru. Surabaya sudah menyambut dengan lampu-lampu kota yang riuh. Kemacetan mulai terlihat di jalur keluar, namun di dalam SUV itu, waktu seolah berjalan melambat.

"Mas," panggil Dinara pelan.

"Dalem, Sayang?"

"Makasih ya sudah jemput ke Malang. Makasih juga sudah bikin Dinara nggak merasa sendirian sepanjang jalan."

Dimas memelankan laju mobilnya saat antrean tol semakin padat. Ia meraih tangan kanan Dinara, menggenggamnya erat di atas armrest tengah. "Dek, terminal hati Mas itu sudah berhenti di kamu. Mau ke Malang, Madiun, atau ke ujung dunia sekalipun, kalau pulangnya ke kamu, Mas nggak akan pernah ngerasa capek."

Dinara tersenyum, pipinya bersemu merah di bawah temaram lampu kabin. Ia menyadari satu hal; meskipun pernikahan ini berawal dari paksaan orang tua dan standar usia yang kolot di Blitar, namun Tuhan memiliki cara yang sangat indah untuk menuliskan ceritanya. Dimas bukan hanya sekadar suami yang dijodohkan, tapi teman perjalanan yang selalu punya cara untuk mengubah jalur tol yang membosankan menjadi panggung konser penuh tawa.

"Nanti di Madiun, Mas harus nyanyi satu lagu khusus buat Dinara ya?" tantang Dinara.

"Satu lagu? Sepuluh album pun Mas jabanin kalau buat kamu," sahut Dimas penuh percaya diri.

SUV itu terus melaju, membelah malam Surabaya yang gerah. Di tengah hiruk-pikuk kota, mereka telah menemukan ritme mereka sendiri—sebuah melodi rumah tangga yang harmonis, yang dibangun dari secangkir kopi pagi, draf novel, dan suara hadroh yang merdu di dalam ingatan.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!