“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Ruangan itu membeku.
Tak ada satu pun suara yang berani menyela setelah kalimat Yuda jatuh seperti palu hakim. Bu Sumi yang sejak tadi paling lantang, mendadak kicep. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tak ada suara keluar. Wajahnya memucat—bukan karena takut, melainkan karena kesal yang tertahan.
Ancaman pengadilan itu terdengar baginya bukan sebagai bahaya nyata, melainkan omong kosong dari seorang “tukang ojek” yang sok berani.
“Huh,” Bu Sumi akhirnya mendengus pelan. “Ngaco. Memangnya apa yang bisa tukang ojek sepertimu bisa lakukan?”
"Cobalah, kau akan tau, Bu," tantang Bastian, masih dengan wajah yang sama sebelumnya. "Mau satu, dua, atau tiga tahun?"
"Huuhh, sok kali bicaranya," dengus Bu Sumi melengos.
Namun kali ini, tak ada lagi kata lanjutan. Ia melipat tangan di dada, memalingkan wajah, seolah semua yang baru saja terjadi sudah tak pantas lagi ditanggapi.
Yuda tidak memperpanjang. Ia tahu, percuma berdebat dengan orang yang tak merasa bersalah.
“Kita pergi, ada barangmu yang mau diambil?” ucapnya pelan pada Ning. “Mas tunggu.”
Ning mengangguk. Ada gemetar kecil di bahunya, tapi matanya lebih jernih dari sebelumnya. Ia berjalan tertatih dengan kruk di tangan, ke kamar kecil di belakang, kamar yang selama bertahun-tahun hanya ia tempati sebagai pelengkap, bukan rumah.
Tas kain tua dikeluarkannya dari kolong ranjang. Ia buka lemari kayu yang hampir roboh jika tidak diganjal kaki-kakinya dengan balok kayu. Isinya tak seberapa, beberapa potong baju, mukena yang warnanya mulai pudar. Satu-satu ia tata ke dalam tas.
Suara langkah berat terdengar di ambang pintu. Pak Hasto berdiri di sana.
“Ayah bantu,” ucapnya lirih.
Ning menoleh. Seketika matanya panas. Ia menunduk cepat, tapi Pak Hasto sudah lebih dulu meraih tas itu.
“Yah… maaf,” suara Ning bergetar. “Ning merepotkan Ayah… dari dulu sampai sekarang.”
Pak Hasto menggeleng pelan. Keriput di wajahnya terasa makin dalam saat ia tersenyum pahit. “Kamu enggak pernah merepotkan, Ning. Yang gagal itu… Ayah. Ayah gagal menjaga kamu. Ayah malu, Ning...”
Ning terisak, menggeleng pelan. “Enggak, Ayah tetap Ayah terbaik buat Ning. Dari kecil, sampai sekarang, ayah tetap ayah Ning yang tebaik—”
“Maafkan Ayah,” potong Pak Hasto. Suaranya serak. “Ayah,... terlalu sering diam. Terlalu sering membiarkan kamu terluka. Padahal tugas orang tua itu bukan cuma memberi atap dan nasi, tapi juga melindungi.”
Ia menatap Ning lekat-lekat, seolah ingin menghafal wajah anak yang tak pernah benar-benar ia bela. “Maafin Ayah, Ning. Kalau waktu bisa diputar, Ayah ingin berdiri paling depan setiap kali kamu disakiti.”
Air mata Ning jatuh satu-satu. Ia berlutut refleks, mencium punggung tangan Pak Hasto. “Ning enggak pernah dendam, Yah. Ning sayang ayah. Sungguh. Tidak ada yang bisa menyaingi rasa sayang Ayah pada Ning.”
Pak Hasto menarik Ning ke pelukannya. "Sekarang ada."
Pelukan singkat, canggung, tapi penuh penyesalan yang tak terucap. “Kamu harus bahagia sama Nak Yuda,” katanya lirih. “Ayah yakin, dia pria yang baik. Ning. Ayah percaya sama dia. Tapi, jika nanti dia sakiti kamu, bilang sama Ayah, huumm?”
Ning mengangguk.
Di ruang depan, Yuda berdiri menunggu. Saat melihat Pak Hasto keluar bersama Ning, ia langsung menunduk hormat.
“Udah?” ucap Yuda pada Ning.
Pak Hasto mengangguk berat. “Tolong jaga dia. Lebih baik dari aku.”
Yuda menjawab mantap, “Tentu saja, Pak. Saya akan membahagiakan dia.”
Dewi yang sejak tadi mengamati dari sudut ruangan hanya mendecih. “Drama.”
Bu Sumi masih duduk kaku di kursinya, wajahnya masam. Tak satu pun dari mereka berdua bangkit untuk mengantar.
Yuda tak peduli. Ia menggenggam tangan Ning, lalu melangkah keluar. Malam menyambut mereka dengan udara dingin dan jalanan yang basah sisa hujan sore.
Motor Yuda melaju pelan. Ning duduk di belakang, tangannya masih ragu untuk melingkar di pinggang Yuda.
"Dek!"
"Iya, Mas Yuda?"
"Kruknya, biar Mas bawa aja. Di depan biar lebih enak."
"Enggak papa, Mas. Ning bisa kok," jawab Ning.
Namun, motor sudah lambat dan berhenti di tepi jalan.
"Mana?" Yuda menoleh.
"Enggak papa, Mas. Biar Ning bawa," tolak Ning, tak enak hati.
"Mana?" Yuda langsung merebut dan meletakkan di depan. "Pegangan ya."
"Udah, kok Mas."
"Mana?" tanya Yuda yang tak merasakan tangan Ning di pinggangnya.
"Ini Mas, di besi."
"Bukan di situ pegangnya. Mana tanganmu?"
Ning mengulurkan tangannya, dengan cepat, Yuda menarik dan melingkarkan di pinggangnya. Ning tersentak, baru kali ini dia memeluk pinggang lelaki.
"Mas...."
Ning berusaha menariknya, namun, genggaman tangan Yuda lebih kuat. lelaki itu tersenyum lebih lebar. Lalu menarik tuas motornya pelan-pelan. Pipi Ning memerah. Ia pasrah saja. Lama-lama, tangannya mencengkram kuat kaos suaminya.
Lampu-lampu jalan berkelebat, membawa mereka menjauh dari rumah yang tak pernah benar-benar menjadi tempat pulang.
Mereka tak langsung ke tujuan.
Yuda membawa Ning berputar-putar, menyusuri jalan kota yang sepi. Angin malam menerpa wajah Ning, membawa aroma kebebasan yang asing tapi menenangkan.
"Mas?"
"Iya?"
"Rumah Mas Yuda masih jauh ya?"
"Kenapa?"
"Kita dari tadi mutar-mutar terus."
Yuda malah terkekeh pelan, "Sengaja. Biar lama. Kan udah sah."
Pipi Ning memerah lagi. "Mas enggak capek?"
"Kamu capek?" Yuda malah bertanya balik.
"Enggak."
Yuda tersenyum kecil. “Oke.”
Hampir satu jam mereka berkeliling, sampai akhirnya motor berhenti di depan sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Catnya sudah kusam, pagarnya rendah, tapi lampu teras menyala hangat.
"Ini rumah Mas?" tanya Ning.
“Ini rumah kita,” kata Yuda. Ning menoleh menatap suaminya yang turun dari motor.
Rumah kita.
Bukan rumahku.
Sederhana, tapi Ning bahagia. Merasa dianggap jadi bagian penting seseorang.
"Ayo, Mas bantu."
Pipi Ning memerah, kontras dengan wajahnya yang bening.
"Ning bisa sendiri, kok."
"Setelah jadi istri Mas. Enggak sendiri lagi. Harus... Harus... Minta Mas bantu," ujar Yuda seraya menggendong Ning.
"Kyyaaaa!"
Ning reflek menjerit. Yuda malah tertawa.
"Mas..."
"Apa?" Yuda menatap matanya.
"Ning mau jalan sendiri," ucap Ning lirih, sedikit menunduk.
"Apa?"
"Ning mau jalan sendiri, Mas," ulang Ning. Kali ini lebih berani menatap suaminya.
"Oke. Boleh."
Yuda membuka pintu. Di dalam, perabotannya sederhana. Sofa tua, meja kayu, dapur kecil yang rapi. Tak ada apa pun yang berlebihan. Ia tersenyum puas.
"Kecil ya, Dek?"
"Enggak kok, Mas. Alhamdulillah."
Yuda meletakkan tas Ning di kursi. “Kamu istirahat dulu. Tadi kita enggak beli makan ya. Ya ampun, lupa,” katanya terkekeh kecil.
"Di tas Ning ada Mie sama telor, tadi Ayah kasih mie sama telur."
Yuda terdiam, "Itu makanan nggak sehat," gumamnya.
"Mas Yuda enggak mau?"
"Pesan delivery Food aja."
"Delivery Food?"
Yuda mengangguk, hampir mengeluarkan ponselnya. Tapi dia tahan. Jika sampai keluar, bisa-bisa malah ketahuan kalau dia bukan tukang ojek.
"Kenapa Mas?"
"Hp Mas Lowbat. Pinjam hpmu," katanya.
Ning terdiam, "Ning enggak punya begituan."
Seketika Yuda terenyuh.
Di rumah Pak Hasto, suasana justru panas.
Bu Sumi mondar-mandir di ruang tamu. “Kurang ajar! Mentang keluar uang lima puluh juta, berani ancam pengadilan! Emang siapa dia?”
“Bukankah kamu memang menginginkan Ning pergi, Sum?” kata Pak Hasto lelah. “Harusnya, kamu puas sekarang.”
“Puas?” Bu Sumi mendengus. “Aku dirugikan, Mas!”
“Kamu enggak rugi apa-apa,” suara Pak Hasto meninggi untuk pertama kalinya. "Kau bahkan masih punya pikiran mau ambil uang mahar Ning!"
Pak Hasto masuk ke kamar, menutup pintu dengan keras.
Bu Sumi berdiri kaku. Matanya menyipit penuh dendam.
Dewi mendekat, suaranya direndahkan. “Buk… ngapain sih? Udahlah, itu juga cuma 50 juta. Yang penting hidup kita udah tenang enggak ada Ning.”
Bu Sumi menoleh. "Ah, benar juga. Tapi, sayang itu uang 50 juta harusnya bisa kita dapatkan."
"Aku malah kepikiran Mas Ridho, Buk."
Senyum tipis perlahan terukir. “Iya. Ridho.”
"Mumpung dia hilang ingatan. Baiknya kita lebih gencar lagi di dekat Mas Ridho."
Bu Sumi mengangguk pelan. “Kalau begitu… kita yang harus mengisi kepalanya.”
“Pelan-pelan,” lanjut Dewi. “Bikin dia lupa Ning. Anggap Ning cuma masa lalu yang enggak penting dan harus disingkirkan.”
Bu Sumi tersenyum lebih lebar. “Benar. Ning sudah keluar dari rumah ini. Sekarang… dia harus keluar dari hidup Ridho juga.”