NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:205.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Ruangan itu membeku.

Tak ada satu pun suara yang berani menyela setelah kalimat Yuda jatuh seperti palu hakim. Bu Sumi yang sejak tadi paling lantang, mendadak kicep. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tak ada suara keluar. Wajahnya memucat—bukan karena takut, melainkan karena kesal yang tertahan.

Ancaman pengadilan itu terdengar baginya bukan sebagai bahaya nyata, melainkan omong kosong dari seorang “tukang ojek” yang sok berani.

“Huh,” Bu Sumi akhirnya mendengus pelan. “Ngaco. Memangnya apa yang bisa tukang ojek sepertimu bisa lakukan?”

"Cobalah, kau akan tau, Bu," tantang Bastian, masih dengan wajah yang sama sebelumnya. "Mau satu, dua, atau tiga tahun?"

"Huuhh, sok kali bicaranya," dengus Bu Sumi melengos.

Namun kali ini, tak ada lagi kata lanjutan. Ia melipat tangan di dada, memalingkan wajah, seolah semua yang baru saja terjadi sudah tak pantas lagi ditanggapi.

Yuda tidak memperpanjang. Ia tahu, percuma berdebat dengan orang yang tak merasa bersalah.

“Kita pergi, ada barangmu yang mau diambil?” ucapnya pelan pada Ning. “Mas tunggu.”

Ning mengangguk. Ada gemetar kecil di bahunya, tapi matanya lebih jernih dari sebelumnya. Ia berjalan tertatih dengan kruk di tangan, ke kamar kecil di belakang, kamar yang selama bertahun-tahun hanya ia tempati sebagai pelengkap, bukan rumah.

Tas kain tua dikeluarkannya dari kolong ranjang. Ia buka lemari kayu yang hampir roboh jika tidak diganjal kaki-kakinya dengan balok kayu. Isinya tak seberapa, beberapa potong baju, mukena yang warnanya mulai pudar. Satu-satu ia tata ke dalam tas.

Suara langkah berat terdengar di ambang pintu. Pak Hasto berdiri di sana.

“Ayah bantu,” ucapnya lirih.

Ning menoleh. Seketika matanya panas. Ia menunduk cepat, tapi Pak Hasto sudah lebih dulu meraih tas itu.

“Yah… maaf,” suara Ning bergetar. “Ning merepotkan Ayah… dari dulu sampai sekarang.”

Pak Hasto menggeleng pelan. Keriput di wajahnya terasa makin dalam saat ia tersenyum pahit. “Kamu enggak pernah merepotkan, Ning. Yang gagal itu… Ayah. Ayah gagal menjaga kamu. Ayah malu, Ning...”

Ning terisak, menggeleng pelan. “Enggak, Ayah tetap Ayah terbaik buat Ning. Dari kecil, sampai sekarang, ayah tetap ayah Ning yang tebaik—”

“Maafkan Ayah,” potong Pak Hasto. Suaranya serak. “Ayah,... terlalu sering diam. Terlalu sering membiarkan kamu terluka. Padahal tugas orang tua itu bukan cuma memberi atap dan nasi, tapi juga melindungi.”

Ia menatap Ning lekat-lekat, seolah ingin menghafal wajah anak yang tak pernah benar-benar ia bela. “Maafin Ayah, Ning. Kalau waktu bisa diputar, Ayah ingin berdiri paling depan setiap kali kamu disakiti.”

Air mata Ning jatuh satu-satu. Ia berlutut refleks, mencium punggung tangan Pak Hasto. “Ning enggak pernah dendam, Yah. Ning sayang ayah. Sungguh. Tidak ada yang bisa menyaingi rasa sayang Ayah pada Ning.”

Pak Hasto menarik Ning ke pelukannya. "Sekarang ada."

 Pelukan singkat, canggung, tapi penuh penyesalan yang tak terucap. “Kamu harus bahagia sama Nak Yuda,” katanya lirih. “Ayah yakin, dia pria yang baik. Ning. Ayah percaya sama dia. Tapi, jika nanti dia sakiti kamu, bilang sama Ayah, huumm?”

Ning mengangguk.

Di ruang depan, Yuda berdiri menunggu. Saat melihat Pak Hasto keluar bersama Ning, ia langsung menunduk hormat.

“Udah?” ucap Yuda pada Ning.

Pak Hasto mengangguk berat. “Tolong jaga dia. Lebih baik dari aku.”

Yuda menjawab mantap, “Tentu saja, Pak. Saya akan membahagiakan dia.”

Dewi yang sejak tadi mengamati dari sudut ruangan hanya mendecih. “Drama.”

Bu Sumi masih duduk kaku di kursinya, wajahnya masam. Tak satu pun dari mereka berdua bangkit untuk mengantar.

Yuda tak peduli. Ia menggenggam tangan Ning, lalu melangkah keluar. Malam menyambut mereka dengan udara dingin dan jalanan yang basah sisa hujan sore.

Motor Yuda melaju pelan. Ning duduk di belakang, tangannya masih ragu untuk melingkar di pinggang Yuda.

"Dek!"

"Iya, Mas Yuda?"

"Kruknya, biar Mas bawa aja. Di depan biar lebih enak."

"Enggak papa, Mas. Ning bisa kok," jawab Ning.

Namun, motor sudah lambat dan berhenti di tepi jalan.

"Mana?" Yuda menoleh.

"Enggak papa, Mas. Biar Ning bawa," tolak Ning, tak enak hati.

"Mana?" Yuda langsung merebut dan meletakkan di depan. "Pegangan ya."

"Udah, kok Mas."

"Mana?" tanya Yuda yang tak merasakan tangan Ning di pinggangnya.

"Ini Mas, di besi."

"Bukan di situ pegangnya. Mana tanganmu?"

Ning mengulurkan tangannya, dengan cepat, Yuda menarik dan melingkarkan di pinggangnya. Ning tersentak, baru kali ini dia memeluk pinggang lelaki.

"Mas...."

Ning berusaha menariknya, namun, genggaman tangan Yuda lebih kuat. lelaki itu tersenyum lebih lebar. Lalu menarik tuas motornya pelan-pelan. Pipi Ning memerah. Ia pasrah saja. Lama-lama, tangannya mencengkram kuat kaos suaminya.

Lampu-lampu jalan berkelebat, membawa mereka menjauh dari rumah yang tak pernah benar-benar menjadi tempat pulang.

Mereka tak langsung ke tujuan.

Yuda membawa Ning berputar-putar, menyusuri jalan kota yang sepi. Angin malam menerpa wajah Ning, membawa aroma kebebasan yang asing tapi menenangkan.

"Mas?"

"Iya?"

"Rumah Mas Yuda masih jauh ya?"

"Kenapa?"

"Kita dari tadi mutar-mutar terus."

Yuda malah terkekeh pelan, "Sengaja. Biar lama. Kan udah sah."

Pipi Ning memerah lagi. "Mas enggak capek?"

"Kamu capek?" Yuda malah bertanya balik.

"Enggak."

Yuda tersenyum kecil. “Oke.”

Hampir satu jam mereka berkeliling, sampai akhirnya motor berhenti di depan sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Catnya sudah kusam, pagarnya rendah, tapi lampu teras menyala hangat.

"Ini rumah Mas?" tanya Ning.

“Ini rumah kita,” kata Yuda. Ning menoleh menatap suaminya yang turun dari motor.

Rumah kita.

Bukan rumahku.

Sederhana, tapi Ning bahagia. Merasa dianggap jadi bagian penting seseorang.

"Ayo, Mas bantu."

Pipi Ning memerah, kontras dengan wajahnya yang bening.

"Ning bisa sendiri, kok."

"Setelah jadi istri Mas. Enggak sendiri lagi. Harus... Harus... Minta Mas bantu," ujar Yuda seraya menggendong Ning.

"Kyyaaaa!"

Ning reflek menjerit. Yuda malah tertawa.

"Mas..."

"Apa?" Yuda menatap matanya.

"Ning mau jalan sendiri," ucap Ning lirih, sedikit menunduk.

"Apa?"

"Ning mau jalan sendiri, Mas," ulang Ning. Kali ini lebih berani menatap suaminya.

"Oke. Boleh."

Yuda membuka pintu. Di dalam, perabotannya sederhana. Sofa tua, meja kayu, dapur kecil yang rapi. Tak ada apa pun yang berlebihan. Ia tersenyum puas.

"Kecil ya, Dek?"

"Enggak kok, Mas. Alhamdulillah."

Yuda meletakkan tas Ning di kursi. “Kamu istirahat dulu. Tadi kita enggak beli makan ya. Ya ampun, lupa,” katanya terkekeh kecil.

"Di tas Ning ada Mie sama telor, tadi Ayah kasih mie sama telur."

Yuda terdiam, "Itu makanan nggak sehat," gumamnya.

"Mas Yuda enggak mau?"

"Pesan delivery Food aja."

"Delivery Food?"

Yuda mengangguk, hampir mengeluarkan ponselnya. Tapi dia tahan. Jika sampai keluar, bisa-bisa malah ketahuan kalau dia bukan tukang ojek.

"Kenapa Mas?"

"Hp Mas Lowbat. Pinjam hpmu," katanya.

Ning terdiam, "Ning enggak punya begituan."

Seketika Yuda terenyuh.

Di rumah Pak Hasto, suasana justru panas.

Bu Sumi mondar-mandir di ruang tamu. “Kurang ajar! Mentang keluar uang lima puluh juta, berani ancam pengadilan! Emang siapa dia?”

“Bukankah kamu memang menginginkan Ning pergi, Sum?” kata Pak Hasto lelah. “Harusnya, kamu puas sekarang.”

“Puas?” Bu Sumi mendengus. “Aku dirugikan, Mas!”

“Kamu enggak rugi apa-apa,” suara Pak Hasto meninggi untuk pertama kalinya. "Kau bahkan masih punya pikiran mau ambil uang mahar Ning!"

Pak Hasto masuk ke kamar, menutup pintu dengan keras.

Bu Sumi berdiri kaku. Matanya menyipit penuh dendam.

Dewi mendekat, suaranya direndahkan. “Buk… ngapain sih? Udahlah, itu juga cuma 50 juta. Yang penting hidup kita udah tenang enggak ada Ning.”

Bu Sumi menoleh. "Ah, benar juga. Tapi, sayang itu uang 50 juta harusnya bisa kita dapatkan."

"Aku malah kepikiran Mas Ridho, Buk."

Senyum tipis perlahan terukir. “Iya. Ridho.”

"Mumpung dia hilang ingatan. Baiknya kita lebih gencar lagi di dekat Mas Ridho."

Bu Sumi mengangguk pelan. “Kalau begitu… kita yang harus mengisi kepalanya.”

“Pelan-pelan,” lanjut Dewi. “Bikin dia lupa Ning. Anggap Ning cuma masa lalu yang enggak penting dan harus disingkirkan.”

Bu Sumi tersenyum lebih lebar. “Benar. Ning sudah keluar dari rumah ini. Sekarang… dia harus keluar dari hidup Ridho juga.”

1
bibuk Hannan & Afnan
hayuh loh, kalian semuanya knp tdk jujur sedari awal saat Ranu sadar siuman dr koma mengenalkan Ning sebagai anggota keluarga baru status nya istri Yudha biar tdk ada kesalah pahaman
Agunk Setyawan
Ning dimanfaatin Bu anggun orangvtua egois Yuda juga aneh knp g jujur
sutiasih kasih
knapa g jujur aj bu anggun... demi kbaikan smua org....
krn klo diam & mnyembunyikan fakta.... yg ada semakin mnmbah masalah...🙄🙄
Ariany Sudjana
muak lama-lama dengan keluarga Yuda, apalagi Bu anggun, uang ada, tapi menyodorkan Ning untuk menemani Ranu terapi, dan ga mau jujur kaalu Ning itu istrinya Yuda
Sapna Anah
kenapa ga jujur aja sebelum terlambat makin d tutupi justru makinmenyskitkan bagi Ranu dan ning
muthia
bu Anggun egois, kasian ning😭
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
smakin ngeselin in novel, banyak ahli terapys knp nyusahin ning, udh gt si anggun jg gak bil kl ning istri yuda, bodohnya lg ning juga gak bilang kl sdh nikah, ah
Bunda Juna
ibunya goblok greget bnget knpa gak jujur dari awal .....
Sri Rahayu
knp sih ngga terus terang ma Ranu...kl Ning itu istri nya Yuda...ya resiko lah apa yg akan Ranu rasakan, drpd.bohong trs nanti terlalu dlm perasaan Ranu pd Ning... lanjut Thorr😘😘😘
mama
bu anggun soplak.. greget bgt.. tak skip aja lah nunggu semuanya kebongkar aj baru tau rasa.. buat ning ny pergi jauh thor setelah tau semuanya.. biar Yuda sama anggun kalang kabut nyari🤣.. enk aj ning mau di manfaatin cuma buat kesembuhan ranu.. gk mikir ati ny ning blas km yud sm bu anggun😭
Arin
Mending jujur sekarang sebelum terlalu jauh. Daripada nunggu nanti-nanti Bu Anggun
Arieee
sembunyikan terus biar anak u saling benci😡😡😡😡😡😡
Nurmaulida Zahra
satu kata egois untuk keluarga yuda
Sri rahayu
demi anaknya hidup dia menghancurkan anaknya yg lain .sungguh kejam Bu anggun .seharusnya setelah Ranu bangun jujur sebenarnya Ning udah menikah dengan Yuda .jadi Ranu tidak mengharap Ning terlalu dalam
Sri rahayu
kasihan Ning tidak tau sekenario orang tua Yuda dan Yuda sendiri .dia seperti pion yg diumpankan kepada Ranu supaya Ranu mau berusaha tetap hidup dan berjalan seperti sedia kala .mungkin nanti Ning di suruh menikah dengan Ranu .dan Ning tidak tau sekenario yg mereka ciptakan
sutiasih kasih
mna ktegasanmu dbg suami yud....
jgnlah krna ibumu km tega mmbuat ning dlm posisi sulit... pdhl km pun jga merasakn ancaman dlm rmh tanghamu...
boleh bakti trhdp org tua yud.... tpi mnolak hal yg akn mmbuat rmh tanggamu hncur jga suatu keharusan yuda........
krna prmintaan ibumu itu konyol... & mrmaksakn khendaknya...🙄🙄
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Arieee
demi anak yang sakit anak yang sehat ditekan sampai sakit hati🤧🤧🤧🤧
Ariany Sudjana
Yuda bodoh, ga mau bicara sama Ning, apa yang dirasakan. Ning juga bodoh, suami pulang kerja, kok tetap urus Ranu, suaminya dulu yang diprioritaskan. Bu anggun juga bodoh, kan orang kaya, kenapa Ning yang disuruh jadi terapisnya Ranu? ini yang akan menghancurkan rumah tangga Yuda dan Ning
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!