NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Malam Sebelum Badai

Malam itu tidak ada yang tidur.

Kami duduk di halaman belakang, dikelilingi tumpukan bom dan peralatan. Hyun Moo mengasah pedangnya dengan gerakan lambat dan teratur—ritual yang sudah dilakukannya ribuan kali. Gong Hyerin duduk bersila di sudut, matanya terpejam, tapi aku tahu dia tidak sedang bermeditasi. Dia mendengarkan.

Aku sibuk memeriksa setiap bom satu per satu.

Sumbu. Wadah. Isian. Semua harus sempurna. Di medan perang, bom yang meledak terlalu cepat bisa membunuh penggunanya. Yang meledak terlalu lambat tidak berguna.

"Tuan," suara Hyun Moo memecah keheningan. "Ada satu hal yang menggangguku."

"Apa?"

"Hojun. Dia bukan tipe orang yang menyerang secara langsung. Dia licin. Selalu punya rencana cadangan."

Aku berhenti memeriksa bom. "Maksudmu ini bisa jadi jebakan?"

"Mungkin. Atau mungkin dia punya sesuatu yang tidak kita duga."

Gong Hyerin membuka mata. "Dari laporan yang kudengar, Hojun memang dikenal licik. Tapi dia juga pengecut. Dia tidak akan maju kalau tidak yakin menang."

"Berarti dia punya keunggulan," gumamku. "Sesuatu yang membuatnya percaya diri."

Kami bertiga diam, berpikir.

Lalu Hyun Moo berkata pelan, "Mungkin... dia punya bantuan dari luar."

"Klan Gong?" tanyaku cepat.

"Bukan. Kita sudah punya aliansi dengan Gong. Mungkin klan lain."

Gong Hyerin menggeleng. "Klan besar tidak akan ikut campur dalam urusan internal klan sekecil Jin. Terlalu kecil untuk dilirik."

"Kecuali," sambungku, "mereka tahu tentang mesiu."

Suasana mendadak tegang.

Hyun Moo menatapku dengan wajah pucat. "Tuan... jangan-jangan... informasi bocor?"

Aku memutar otak. Siapa yang tahu? Jang Ilso dan dua anak buahnya. Gong Jinsung. Patriark Gong dan para tetua. Dan Gong Hyerin.

Tapi Jang Ilso dan anak buahnya bersumpah setia pada Klan Gong. Gong Jinsung orang yang bisa dipercaya—setidaknya untuk sekarang. Patriark Gong tidak punya alasan membocorkan rahasia.

Kecuali... ada mata-mata di tubuh Klan Gong.

"Ini hanya kemungkinan," kataku akhirnya. "Tapi kita harus siap untuk skenario terburuk."

---

Fajar datang lebih cepat dari yang kuinginkan.

Cahaya pertama matahari menyelinap di antara pepohonan, menerangi kabut tipis yang menyelimuti hutan. Udara dingin menusuk tulang, tapi keringat di punggungku terasa panas.

Kami sudah siap.

Hyun Moo berdiri di depan rumah, pedang terhunus. Gong Hyerin di sampingnya, dengan pedang tipisnya yang mematikan. Aku di belakang mereka, dengan tas penuh bom dan sumbu pendek di saku.

"Tuan, lebih baik kau di dalam," kata Hyun Moo.

"Aku bukan pengecut."

"Ini bukan soal pengecut. Tuan adalah otak di balik semua ini. Kalau Tuan mati, semuanya berakhir."

"Kalau aku di dalam, aku tidak bisa melihat medan perang. Aku tidak bisa mengatur waktu ledakan."

Gong Hyerin menoleh. "Dia benar. Biarkan dia di sini. Aku akan menjaganya."

Hyun Moo ingin membantah, tapi suara dari kejauhan membuatnya diam.

Dering. Dering pelan, seperti suara logam bergesekan.

" Mereka datang," bisik Hyun Moo.

---

Mereka datang dari arah barat, melewati jalur yang biasa digunakan Hyun Moo untuk ke desa.

Dua puluh orang. Mungkin lebih. Di depan, Jin Hojun menunggang kuda hitam. Bahunya yang terluka masih dibalut, tapi dia duduk tegap di atas pelana. Di belakangnya, para pendekar berjalan dengan pedang terhunus.

Mereka berhenti sekitar seratus meter dari rumah.

Hojun turun dari kuda, melangkah maju. Suaranya lantang memecah kesunyian.

"Sepupu kecil! Aku tahu kau di sana! Keluar dan hadapilah!"

Aku melangkah keluar dari bayang-bayang rumah. Hyun Moo dan Gong Hyerin di sisiku.

Hojun menyipitkan mata saat melihat Gong Hyerin. "Kau... kau dari Klan Gong?"

"Apa urusanmu?" suara Hyerin dingin.

"Klan Gong tidak punya urusan dengan klan kami. Pergi. Ini masalah internal."

"Aku di sini sebagai murid Jin Tae-kyung. Kalau kau menyerang guruku, kau menyerang aku."

Hojun tertawa. "Murid? Sepupuku yang lemah itu punya murid? Dan dari Klan Gong pula?" Dia melirikku. "Kau berubah, Tae-kyung. Dulu kau cengeng. Sekarang kau berani melawan?"

"Aku hanya tidak suka diracun," jawabku tenang.

Mata Hojun berkilat. "Racun itu terlalu baik untukmu. Seharusnya aku memenggal kepalamu langsung."

"Kenapa tidak kau coba sekarang?"

---

Dia memberi isyarat. Dua pendekar berlari ke depan.

Hyun Moo bergerak.

Cepat. Terlalu cepat untuk dilihat mata. Satu tebasan, dan pendekar pertama jatuh. Kedua mencoba menangkis, tapi pedang Hyun Moo sudah lebih dulu menembus dadanya.

Dua tewas dalam hitungan detik.

Hojun mundur selangkah. "Kepala keamanan... kau masih hidup?"

"Maaf mengecewakanmu." Hyun Moo tersenyum tipis. "Tapi aku masih harus melindungi Tuan Muda."

Hojun menggeram. "Serang! Semua!"

Dua puluh pendekar bergerak serempak.

Ini saatnya.

Aku meraih bom kecil dari tas, menyulut sumbunya, dan melempar ke tengah kerumunan.

LEDAK!

Asap dan api. Teriakan. Dua pendekar terpelanting, tubuh mereka berlumuran darah. Yang lain terhenti, kaget.

"APA ITU?" teriak seseorang.

Aku tidak memberi mereka waktu berpikir. Bom kedua, ketiga, keempat—meluncur satu per satu.

LEDAK! LEDAK! LEDAK!

Kekacauan. Para pendekar Hojun berlari kacau, tidak tahu harus menghadapi apa. Beberapa mencoba maju, tapi dihadang Hyun Moo. Yang lain mundur, panik.

Tapi Hojun tidak mundur.

Dia melompat, menghindari bom terakhir, dan melesat ke arahku.

Cepat. Terlalu cepat.

Awas!

Gong Hyerin melangkah di depanku. Pedangnya beradu dengan pedang Hojun. Percikan api.

"Jangan sentuh dia," desisnya.

Hojun terkejut. "Kau... kau pendekar level tinggi?"

Hyerin tidak menjawab. Dia menekan, memaksa Hojun mundur.

Pertarungan mereka sengit. Pedang beradu puluhan kali dalam hitungan detik. Hojun lebih besar, lebih berpengalaman. Tapi Hyerin lebih cepat, lebih lincah.

Aku memanfaatkan waktu itu untuk mengatur strategi.

Sisa pendekar Hojun—mungkin sepuluh orang—mulai mengelilingi rumah. Hyun Moo bertarung melawan tiga sekaligus. Lukanya mulai terlihat—gerakannya sedikit lambat.

Aku meraih bom besar—yang seukuran kelapa. Ini terakhir. Kalau meledak di sini, bisa melukai kita sendiri.

Tapi tidak ada pilihan.

Aku berlari ke samping rumah, tempat Hyun Moo bertarung. "Hyun Moo! Mundur!"

Dia mendengar. Satu tebasan cepat, mundur tiga langkah. Aku melempar bom ke tengah kerumunan pendekar.

LEDAKK... DUAR!

Ledakannya dahsyat. Tiga pendekar terpental. Dua lainnya jatuh, tak bergerak. Yang selamat mundur ketakutan.

Tapi suara itu juga mengalihkan perhatian Hyerin.

Hojun memanfaatkan kelengahan itu. Sabetan pedangnya mengenai bahu Hyerin.

Dia menjerit, jatuh berlutut.

"HYERIN!"

Aku berlari, tapi Hojun sudah lebih dulu. Dia berdiri di hadapanku, pedang teracung.

"Sepupu kecil," desisnya. "Akhirnya kita bertemu."

Aku mundur. Tanganku meraba pinggang—hanya ada satu bom kecil. Tapi terlalu dekat. Kalau meledak, aku ikut mati.

"Kau kira bubuk hitammu bisa mengalahkanku?" Hojun tertawa. "Lihat sekelilingmu. Pendekarmu sekarat. Muridmu terluka. Hanya kau sendiri."

Dia mengangkat pedang.

"Selamat tinggal, sepupu."

Tapi sebelum pedang itu turun, sesosok bayangan melesat dari belakang.

Hyun Moo.

Dia menerjang Hojun dengan seluruh tubuhnya. Pedang Hojun menembus perutnya, tapi dia tidak berhenti. Dia mendorong Hojun menjauh dariku.

"HYUN MOO!"

Pria tua itu tersenyum. Darah mengalir dari mulutnya.

"Tuan... lari..."

Hojun menggeram, menarik pedangnya. Hyun Moo jatuh.

"Aku akan habisi kalian semua!"

Dia melangkah maju. Tapi aku sudah bangkit. Di tanganku, bom terakhir.

"Kau mau mati bersamaku?" tanyaku tenang.

Hojun terhenti. Matanya membelalak melihat bom di tanganku—sumbu sudah menyala.

"Kau gila!"

"Mungkin."

Api merambat di sumbu. Satu detik. Dua detik.

Hojun mundur. Tiga detik. Empat.

Dia berbalik dan lari.

Aku melempar bom ke arahnya, lalu berlari ke tempat Hyun Moo dan Hyerin.

LEDAK!

Gelombang kejut menerpaku. Tapi aku tidak peduli. Aku berlutut di samping Hyun Moo.

Pria tua itu terbaring di tanah. Pedang masih menancap di perutnya. Napasnya tersengal.

"Hyun Moo... bertahanlah..."

Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti saat pertama kali aku bangun dari koma.

"Tuan... akhirnya... aku membayar utangku..."

"Jangan bicara! Aku akan..."

"Tuan... dengarkan..." Tangannya yang berlumuran darah meraih lenganku. "Aku sudah hidup cukup lama... lebih lama dari yang seharusnya... tapi bertemu Tuan... di akhir hidupku... itu anugerah..."

Air mata mengalir di pipiku. Aku tidak ingat kapan terakhir kali menangis. Mungkin tidak pernah, di kehidupan ini.

"Jangan mati... aku masih butuh kau..."

Dia tertawa pelan. Batuk. Darah muncrat.

"Tuan... sudah bisa berdiri sendiri... kau punya sekutu... kau punya murid... kau tidak butuh orang tua ini lagi..."

"TIDAK!"

Tapi napasnya semakin lemah. Matanya menatap langit.

"Patriark... aku datang..." bisiknya.

Lalu diam.

---

Aku tidak tahu berapa lama aku berlutut di sana.

Gong Hyerin merangkak mendekat, bahunya terluka parah. Tapi dia masih hidup. Dia meletakkan tangan di bahuku.

"Tae-kyung oppa..."

Aku tidak menjawab.

Di kejauhan, Hojun dan sisa pendekarnya telah lari. Pertempuran usai. Tapi kemenangan ini terasa hampa.

Hyun Moo.

Orang pertama yang percaya padaku. Orang pertama yang setia. Orang yang menyelamatkan hidupku, mengajariku tentang dunia ini, dan mati melindungiku.

Aku memeluk tubuhnya yang sudah dingin.

Dan di tengah halaman yang hancur, di antara asap dan mayat, seorang insinyur dari dunia lain menangis untuk pertama kalinya.

---

[Bersambung ke Bab 10]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!