Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12—Menuju Pelelangan
Hari libur.
Rahmat berdiri di depan sebuah rumah besar bergaya klasik yang tersembunyi di gang tenang. Tidak mencolok, tapi jelas mahal, pemiliknya pasti kaya. Dindingnya tinggi, pagar besinya hitam dengan ukiran kuno.
“Selera kolektor banget…” gumamnya. “Pak tua itu banget sih.”
Ia menekan bel.
Ting.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan yang muncul membuat Rahmat sedikit mengangkat alis karena terkejut.
Bukan pria tua aneh itu, melainkan putri semata wayangnya–Alya
Rambutnya diikat santai, memakai kaos rumah dan celana panjang sederhana. Tanpa seragam sekolah, tanpa aura “bidadari populer”. Tapi tetap saja… cantik. Malah kesan santainya membuat dia lebih manis dan menawan.
“Iya bisa dibantu—” Alya membeku. Ia sempat mengira siapa yang datang ternyata pria ini!
“Rahmat?!”
Rahmat juga sedikit kaget, tapi wajahnya tetap datar. “Oh, dirimu toh.
“Oh? OH?! Maksud kamu apa ‘oh’?!” Alya langsung murka, reaksi itu terlalu ogah-ogahan banget. “Ngapain kamu ke rumah aku?!”
Rahmat menunjuk ke dalam. “ Ada janji tamu.”
“Hah?”
“Sama bapak lo.”
Hening tiga detik.
Wajah Alya berubah merah karena malu akan ekspektasinya sendiri, lagi-lagi dia dihancurkan oleh perasaan gr dia. Ia sempat mengira pria ini datang untuk sekedar bertemu dengannya, ternyata tujuan utama dia adalah bapaknya.
“Kamu— kamu datang ke rumah aku pagi-pagi begini cuma buat ketemu bapak aku?!”
“Iya.”
“Bukan buat ketemu aku gitu?”
Rahmat mengernyit. “dih, kagak.”
Kata itu keluar polos tanpa dosa.
Alya seperti terkena critical damage. Dih, cewek secantik dia dibilang dih? Ada yang aneh dengan pria ini! Otaknya pasti tidak beres, namun hal itu membuat dirinya semakin tertarik.
[Ding!]
[Tingkat Ketertarikan terhadap Host: 75% (Meningkat sekitar 3% dari sebelumnya)]
'Kenapa malah naik? Nih cewek masokis atau gimana?’ batin Rahmat.
“Kamu ini…!” ia menahan emosi sambil melihat ke kanan kiri, memastikan tidak ada tetangga yang dengar.
“Alya, siapa?” suara berat terdengar dari dalam.
Pak tua itu muncul dengan topi khasnya—kali ini tanpa masker. Wajahnya terlihat jelas, pria berusia sekitar 50–an akhir, sorot matanya tajam tapi penuh rasa ingin tahu.
“Oh, kamu sudah datang, nak Rahmat.”
Rahmat mengangguk sopan. “Pagi, Pak.”
Alya melirik ayahnya, lalu Rahmat, lalu ayahnya lagi. Mereka saling tersenyum seolah bertemu sohib lama.
“Kalian… kok deket banget?”
Pak tua tersenyum tipis. “jangan remehkan dia, nak. Dia semacam sohib bapak!”
“Itu benar, Alya! Bapak ini udah jadi klien tetapku!”
“anak ini juga penyedia barang-barang kuno yang menarik, tahu sendiri kan bapak suka koleksi begituan.”
“lagi-lagi, papa habisin duit buat beli barang aneh!?” Seru Alya.
“Apa maksudmu barang aneh? Barang kuno itu memiliki nilai besar, dasar bocah gak tau nilai suatu barang!” rahmat balik berseru.
“Haha, aku suka pola pikirmu anak muda,” sahut pria tua itu.
Alya memijat pelipisnya. Pria yang mungkin ia taksir malah lebih tertarik terhadap bapaknya daripada dirinya, sangat ironis. Ia merasa diselingkuhi, tapi parahnya bukan oleh seorang gadis melainkan bapak-bapak tua.
Rumah bagian dalam penuh barang antik. Lukisan tua, jam dinding klasik, patung perunggu kecil, bahkan lemari kaca berisi koin-koin kuno.
Rahmat duduk tenang.
Pak tua itu menatapnya serius. “Mana barangnya?”
Rahmat membuka sistem.
“Inventory.”
Koin emas VOC muncul di tangannya.
Ruangan seperti ikut sunyi.
Pak tua itu langsung berdiri. “Boleh saya lihat?”
Rahmat menyerahkan koin itu dengan hati-hati. Pria tua itu mengambil kaca pembesar dari meja, memeriksa sisi demi sisi. Tangannya sedikit gemetar.
“1742… Batavia Mint…” gumamnya pelan. “Gila … ini keren banget!”
Ia memeriksa tepi, ketebalan, kilau. Lalu ia terdiam cukup lama.
Alya datang membawa dua teh hangat dan beberapa cemilan ringan, ia menatap sang ayah yang terlihat sangat serius.
“Emang sebagus itu, pa?”
Pak tua menarik napas panjang. “Kalau ini asli… ini bukan barang biasa.”
Rahmat santai. Ia tersenyum. “Makanya Bapak bilang kemarin gak berani beli langsung.”
Pria itu tertawa kecil.
“Beli langsung? Nak… ini barang kalau masuk lelang internasional bisa tembus setengah miliar. Saya bukan gak berani. Saya gak mampu. Walau saya suka koleksi barang begini, tapi maaf ini bukan level saya. Beli ginian sama saja memulai perang dengan istri saya dan putri saya.”
“Baguslah kalau sadar diri, papa suka habisin uang buat hal-hal aneh!”
Alya langsung ganti menoleh ke Rahmat. “Jadi itu serius Setengah miliar?!”
Rahmat mengangkat bahu.“Kurang lebih.”
Alya menatapnya seperti baru sadar dia satu sekolah dengan makhluk aneh. Terlampau aneh.
“Kamu… dapat beginian dari mana sih sebenarnya?”
Rahmat menjawab enteng. “Rezeki.”
“Rezeki gimana?” Tanya Alya makin menggebu-gebu.
“Udah-udah, gak sopan tanya begitu ke seorang kolektor barang,” putus pria tua itu. “seorang kolektor punya rahasia sendiri, benar bukan, anak muda?”
Rahmat terkekeh. “Aku suka pola pikirmu pak tua.”
Pak tua itu akhirnya meletakkan koin dengan hati-hati.
“Kita bawa ini ke pelelangan, kebetulan sekarang lagi mulai. Saya punya koneksi rumah lelang premium di suatu tempat yang rahasia. Tapi…”
Ia menatap Rahmat tajam. “Begitu ini naik ke permukaan, kamu akan menarik perhatian orang-orang besar. Kolektor, broker… bahkan orang yang tidak suka cara resmi. Ini bisa bahaya, masih mau digas anak muda?”
Rahmat tersenyum tipis. “Gapapa, Pak. Saya suka tantangan!”
Rahmat berdiri. “Jadi kita berangkat kapan, pak?”
Pak tua itu tersenyum samar. “sekarang. lelang dibuka sampai sore hari, kita punya banyak waktu. Tunggu aku sebentar disini, aku mau bersiap-siap.”
Rahmat mengangguk. “oke.”
Ruangan tamu jad hening, pria tua itu pergi ke kamarnya. Meninggalkan Alya dan rahmat yang saling duduk berdampingan
Sunyi beberapa saat, Gadis itu yang memulai percakapan.
“Kamu tuh… bikin orang salah paham terus.”
Rahmat menoleh. “Kenapa?”
Alyaa mendengus, terlihat seperti anak kecil merajuk.
“Datang ke rumah cewek pagi-pagi, terus bilang cuma mau ketemu bapaknya. Itu menyakitkan tau.”
Rahmat menatapnya beberapa detik.
Lalu menjawab datar:
“Kalau mau, nanti gue bisa ke sini buat ketemu lo.”
Otak Alya loading.
“Ha— maksudnya apa itu?!”
“Canda doang sih.”
“RAHMAT! GAK LUCU!”