Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA MIMPI DAN HARAPAN
Langkah kaki Vhirel terasa berat, bukan karena beban tubuh Dea di punggungnya, melainkan karena sisa oksigen di paru-parunya yang nyaris habis setelah menempuh bermil-mil perjalanan. Keringat dingin membasahi pelipisnya saat gerbang vila akhirnya terlihat di balik kabut tipis.
Begitu menginjak teras, Surya langsung menyongsong dengan wajah pias. Ia tak banyak bertanya melihat kondisi Vhirel yang kacau dan Dea yang tak berdaya.
"Kenapa si? Tahu jauh gak pake mobil aja?!" Protes Vhirel.
"Akses ke rumah Pak Bowo kecil, Vhirel." Jawab Maudi. "Kamu sendiri tahu kan, rumahnya tadi di tengah kebun teh."
"Ya udah... Bawa Dea ke kamarnya sekarang juga," Perintah Surya tegas namu sarat kekhawatiran.
Vhirel hanya mampu mengangguk kecil. Napasnya tersengal, namun ia mengeratkan dekapan tangannya pada lipatan lutut Dea. Ia melangkah melewati undakan tangga kayu yang berderit pelan, setiap langkahnya nyaris, terasa seperti detak jantung yang berpacu dengan waktu.
Begitu sampai di depan pintu kamar, Dea nampak masih tertidur pulas di pundak Vhirel.
"Kamu harus bayar ini!" Gumam Vhirel membuka pintu dan langsung masuk.
Vhirel pun menutup pintu kamar dari belakang dan mematung sesaat. Suasana di dalam kamar itu mendadak terasa menyesak, udara seolah membeku, meninggalkan rasa hampa yang menghimpit dada. Cahaya lampu temaram menciptakan bayangan panjang di dinding, menambah kesan yang sulit dijelaskan.
Saat Vhirel merunduk untuk merebahkan tubuh mungil itu ke atas kasur, Dea bergerak. Kelopak matanya berkedip perlahan, terbuka setengah sadar dengan pandangan yang masih buram.
"Kak... Vhirel?" Gumamnya lirih, nyaris seperti bisikan angin.
Vhirel terpaku. Ia tidak langsung menjauh. Posisinya masih condong di atas Dea, menatap lamat-lamat wajah yang pucat namun tetap terlihat indah di matanya.
Keheningan itu menyeret Vhirel ke dalam pusaran emosi yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Dadanya bergemuruh, rasa sesak itu naik ke tenggorokan hingga ia tak mampu lagi membendung kalimat yang menjadi pantangannya selama ini.
"Kakak..."
"Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan kamu lagi, Dea." Gumam Vhirel akhirnya. "Tolong, jangan sejauh ini lagi..." bisiknya, suaranya parau dan bergetar, menumpahkan segala ego yang runtuh malam itu juga.
Dea menatapnya sayu, sebuah senyum tipis yang getir tersungging di bibirnya. Tangannya yang lemas berusaha menggapai ujung jaket Vhirel. "Apa Kak Vhirel merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasain sekarang?"
Tanpa berpikir panjang, Vhirel mengangguk tanpa suara.
Suasana seketika menjadi hening, hanya menyisakan deru napas yang saling memburu. Jarak yang terkikis habis membuat Dea bisa merasakan hangatnya napas Vhirel di permukaan kulitnya. Kebingungan yang tadi sempat menyiksa Vhirel kini seolah menguap, digantikan oleh debar jantung yang kian tak beraturan saat ia menatap dalam ke mata Dea.
Dea sendiri tidak melepaskan cengkeramannya pada kerah jaket Vhirel. Alih-alih menjawab dengan kata-kata, ia membiarkan tindakannya yang berbicara. Ia menatap bibir Vhirel sejenak sebelum kembali mengunci pandangan pada matanya. Ada binar haru sekaligus keberanian yang selama ini ia sembunyikan.
Dan, Vhirel, yang awalnya ragu, kini melingkarkan lengannya di pinggang Dea, menariknya sedikit lebih dekat seolah takut momen ini hanya mimpi.
"Bolehkah aku mencintaimu?" Lirih Vhirel, akhirnya lolos dari bibirnya begitu saja.
"Kakak nggak perlu tahu ini perasaan apa, Kak..." bisik Dea lirih, nyaris tak terdengar. "... karena aku udah merasakannya jauh sebelum kamu menyadarinya."
Vhirel tersenyum. Ia kemudian memejamkan mata sesaat, meresapi harum rambut Dea dan keberanian gadis itu. Rasa gila yang tadi ia sebutkan kini terasa masuk akal. Detik berikutnya, Ia menundukkan kepalanya sedikit lagi, membiarkan kening mereka bersentuhan.
"Kalau begitu," suara Vhirel memberat, penuh dengan ketulusan yang tak lagi tertahan, "biarkan aku mengatakannya sekali lagi agar kamu yakin. Aku mencintaimu, Dea. Sangat."
Tanpa menunggu aba-aba lagi, jarak di antara mereka benar-benar hilang, bukan hanya fisik mereka yang bertemu, tapi seluruh beban perasaan yang selama ini mereka pikul sendirian.
Dea merasakan kristal bening yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya. Itu bukan tangisan sedih, melainkan rasa lega yang teramat sangat—seperti seseorang yang akhirnya menemukan jalan pulang setelah tersesat di tengah badai yang dingin. Sementara, Vhirel merasakan tetesan air mata Dea di pipinya. Alih-alih menjauh, ia justru makin merapatkan dekapannya, seolah ingin menyerap semua rasa sakit dan penantian yang pernah wanita itu rasakan.
Dea melepaskan cengkeramannya di jaket Vhirel dan beralih memeluk leher pria itu dengan erat. Dan di saat itu juga, Vhirel menyambut pergerakan Dea. Bibir mereka akhirnya bertemu dalam sebuah tautan yang dalam dan penuh kerinduan. Bukan sebuah ciuman yang terburu-buru, melainkan sebuah pertemuan yang sarat akan pengakuan yang selama ini tertahan di ujung lidah.
"Inikah... mimpi?" Bisik Dea melenguh pelan, suaranya mengandung keraguan yang menyayat hati.
Vhirel tak menjawab dengan kata-kata. Kalimat sudah tidak lagi dibutuhkan saat ini.
Tangannya yang tadi menangkup lembut wajah Dea kini berpindah dengan gerakan yang lebih menuntut. Satu tangannya menyusup ke belakang, mendekap tengkuk Dea dengan posesif—menahan kepala wanita itu agar tetap dalam kunciannya—sementara tangan lainnya melingkar kuat di pinggang Dea. Ia menarik tubuh Dea hingga tak ada lagi celah di antara mereka, seolah ingin menyatukan raga mereka agar tak terpisahkan lagi oleh keraguan apa pun.
"Vhireeeeel!"
Sahut suara lantang dari arah luar yang memecah kesunyian malam itu, menggema di antara dinding-dinding yang baru saja menjadi saksi bisu pengakuan mereka.
"Sial, Mama!" Umpat Vhirel perlahan melonggarkan dekapannya pada tengkuk Dea. Tatapan posesifnya berubah menjadi tajam dan waspada. Ia menoleh ke arah sumber suara dengan rahang yang mengeras, seolah kesal karena momen paling berharganya diganggu.
Sementara, Dea sendiri tak bisa menahan tawa kecilnya yang keluar begitu saja dari bibirnya yang basah—campuran antara rasa geli karena situasi yang canggung dan luapan emosi yang meluap-luap. Ia segera menjauhkan diri, jemarinya bergerak cepat menyisir helaian rambutnya yang berantakan akibat dekapan posesif Vhirel tadi. Meskipun tertawa, napasnya masih memburu. Jantungnya kini berdegup bukan lagi karena debaran cinta yang manis, melainkan karena rasa panik yang tiba-tiba menyerang seperti sengatan listrik.
"Kamu pura-pura tidur sekarang juga!" Bisik Vhirel setengah mendesak. Suaranya rendah, serak, dan penuh kepanikan yang menggelikan.
Kata 'kamu' yang meluncur dari bibir Vhirel seketika berdenging aneh di benak Dea. Hangat, manis, tapi juga terasa begitu asing karena selama ini ada dinding tak kasat mata di antara mereka. Namun, alih-alih merasa tegang karena instruksi darurat itu, Dea malah merasa geli.
"Cepetan, De! Enggak ada waktu!" Vhirel menempelkan jari telunjuknya ke bibir Dea, memberi isyarat diam yang sangat tidak meyakinkan karena tangannya sendiri sedikit gemetar.
Dea akhirnya menyerah. Dengan sisa-sisa tawa yang masih menghiasi wajahnya, ia segera merebahkan tubuhnya, memejamkan mata rapat-rapat, dan berusaha mengatur napasnya yang masih memburu.
Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, Dea bisa merasakan kehadiran Vhirel yang bergerak gelisah di dekatnya—mungkin sedang membetulkan letak selimut atau sekadar memastikan wajah Dea tidak terlihat seperti orang yang baru saja tertawa habis-habisan.
Vhirel menarik napas panjang, berusaha menetralkan raut wajahnya yang sempat kacau balau karena panik. Dengan langkah yang dipaksakan tenang, ia melangkah menjauh dari sisi Dea yang kini sedang "akting" memejamkan mata di atas ranjang.
Sesaat sebelum mencapai pintu, Vhirel sempat menoleh ke belakang, memastikan Dea tidak mengintip atau malah tertawa di saat yang salah. Setelah merasa aman, ia memutar kenop pintu dan membukanya sedikit.
"Lama banget buka pintunya!" Protes Maudi.
"Uhm.. Iya, Ma." Tergagap Vhirel, segera menutup kamar Dea, memastikan tak ada celah bagi Maudi untuk mengintip.
"Kenapa, kamu?"
"A-Apa yang kenapa?"
Maudi melipat kedua lengannya di bawah dada, matanya menyipit tajam menatap lurus ke arah Vhirel yang berdiri kaku di ambang pintu. "Kenapa kamu kayak gugup, dan... gemetar gitu?"
"Uh?" Vhirel terkesiap. Sial! Ia merutuk dalam hati karena gagal menyembunyikan sisa-sisa kegilaan yang baru saja terjadi di dalam sana.
"I-Ini..." Vhirel tertegun sejenak, otaknya berputar cepat mencari alasan paling masuk akal—atau setidaknya yang paling cepat keluar. "Tremor, Ma!" Celetuknya dengan nada yang sedikit terlalu tinggi. "Berat banget ngangkat badan Dea!"
Vhirel mencoba mengatur napasnya yang masih berantakan, sementara tangannya yang tadi mendekap Dea dengan posesif kini benar-benar bergetar—kali ini karena kombinasi antara sisa adrenalin dan rasa takut terciduk. "Tadi pas mindahin dia ke ranjang... otot tangan aku kayak ketarik. Mama tahu sendiri kan Dea kalau tidur badannya kayak batu, nggak mau dibantu sama sekali!"
"Ya udah... kamu istirahat sekarang." Ujar Maudi. "Kalau kamu mau ajak jalan adikmu besok ke sungai, harus dari pagi. Karena besok sore kita harus pulang lagi ke Bandung."
"Iya, Ma." Jawab Vhirel mengangguk mantap, berusaha mengakhiri interogasi itu secepat mungkin sebelum pertahanannya benar-benar runtuh. "Kalau gitu... Vhirel ke kamar dulu, ya."
Maudi hanya mengangguk pelan, membiarkan putranya melangkah menjauh. Namun, begitu Vhirel berbalik dan mulai melangkah menuju kamarnya, insting Maudi justru berkata lain.
Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Maudi bergegas memutar kenop dan membuka pintu kamar Dea. Ia melongokkan kepalanya ke dalam, matanya menyisir seisi ruangan yang hanya diterangi lampu tidur yang temaram.
Di sana, Dea tampak terbaring diam di bawah selimut. Napasnya teratur, matanya terpejam rapat, dan wajahnya terlihat begitu tenang dalam balutan cahaya kuning redup. Putrinya itu benar-benar terlihat seperti seseorang yang sudah terlelap sejak lama.
Maudi akhirnya mengembuskan napas panjang, bahunya yang tadinya tegang kini merosot. Apa yang ada di pikirannya tadi ternyata salah. Tidak ada yang aneh, tidak ada rahasia tersembunyi. Ia hanya mengangguk lantas kembali menutup pintu kamar itu rapat.
Sementara itu, di balik selimut, Dea sebenarnya sedang berjuang mati-matian. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sampai ke tenggorokan, dan tangannya mencengkeram kain seprai dengan erat untuk menahan napas agar tetap terdengar natural. Begitu mendengar bunyi klik dari pintu yang tertutup, barulah ia berani melepaskan pasokan oksigen yang tadi ia tahan sekuat tenaga.
Gadis itu kemudian tertawa tanpa suara di balik bantalnya. Setelah detak jantungnya sedikit melambat, ia meraih ponsel di atas nakas. Layar yang terang menyinari wajahnya yang masih memerah. Ia segera mencari nama Vhirel dan mengetik dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
Kakak gimana? Aman?
Tak lama kemudian, ponselnya menyala kembali.
Vhirel:
Apa yang kita lakukan tadi benar-benar nggak waras. Jantung aku hampir copot pas Mama masuk.
Dea menggigit bibir bawahnya, menahan tawa yang ingin meledak. Perubahan panggilan dari 'Kakak' menjadi 'Aku' pun di dalam pesan itu memberikan sengatan manis yang berbeda di dadanya. Rasanya jauh lebih intim, seolah dinding formalitas di antara mereka benar-benar telah runtuh sepenuhnya malam ini.
Tapi seru lho kak. Sembunyi-sembunyi gini. Kayak di film-film action tapi romantis.
Vhirel:
Kamu kalau ketahuan Papa Mama bahaya. Bisa habis kita diinterogasi semalaman.
Dea terdiam sejenak, jemarinya tertahan di atas layar. Ada satu keraguan yang ingin ia tumpas tuntas malam ini juga. Detik berikutnya, jemarinya kembali menari di atas keyboard.
Tapi... apa perasaan itu benar? Yang Kak Vhirel katakan tadi, benar?
Hening beberapa detik. Status di bagian atas chat berubah menjadi 'typing' yang cukup lama, membuat Dea kembali menahan napas. Sampai akhirnya, sebuah pesan panjang masuk.
Vhirel:
Benar, De. Sangat benar sampai rasanya menyakitkan kalau aku simpan sendiri terus. Aku nggak tahu sejak kapan, tapi rasanya kayak ada magnet yang selalu narik aku ke arah kamu. Kamu itu satu-satunya orang yang bisa bikin aku ngerasa kacau tapi tenang di saat yang sama. Maaf kalau caraku salah, tapi jujur... memilikimu itu satu-satunya hal yang paling aku inginkan sekarang, meskipun harus sembunyi-sembunyi dari seluruh dunia. Bukan karena pelampiasan soal kata putus yang diucapkan Sofia padaku. Tapi jauh sebelum itu, perasaanku sudah ada.
Dea memeluk ponselnya di depan dada. Kalimat itu terasa lebih hangat daripada selimut yang membungkusnya sekarang. Di kamar sebelah, Vhirel mungkin juga sedang menatap langit-langit, merasakan debaran yang sama.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,