NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 : KELUARGA YANG SALING MENGERTI

Sinar matahari sudah mulai menyinari setiap sudut kota ketika Lia menyelesaikan cucian terakhir dari ruangan dokter spesialis anak-anak. Udara siang yang hangat membawa aroma makanan dari kantin rumah sakit dan suara keramaian pasar di kejauhan. Dia menyimpan deterjen ke dalam wadah plastik yang kuat, kemudian mengambil tas kerja yang selalu ada di mejanya – di dalamnya ada buku catatan kecil, sapu tangan bekas, dan foto kecil tiga bayi yang tertidur berdampingan di bak mandi plastik.

“Lia, kamu sudah selesai kerja ya?” ucap Pak Joko dengan suara yang khas, membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah dicuci. “Sore ini ada kunjungan dari dinas sosial lho – mereka mau bicara tentang cara terbaik buat anak-anak yang membutuhkan dukungan keluarga.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut, mulai memisahkan cucian berdasarkan jenis kain dan warna. Dia melihat foto kecil yang selalu ada di mejanya – Mal dengan lekukan di bibirnya seperti Lia, Rini dengan alis mirip ayahnya, dan Adit dengan bintik merah berbentuk hati di punggung kanannya yang tidak akan pernah dia lupakan.

“Saya akan pulang sebentar ya, Pak Joko,” ucap Lia sambil mengambil tasnya yang sudah siap. “Anak-anak pasti sudah menunggu saya di kontrakan Bu Warsih.”

Saat berjalan pulang, Lia menyapa setiap orang yang mengenalnya – pedagang sayur yang memberikan sayuran segar, tukang becak yang menawarkan tumpangan. Di kontrakan, Mal dan Rini sudah berdiri di depan pintu dengan wajah ceria. “Bu sudah datang!” teriak mereka berdua dengan suara penuh semangat.

“Kamu berdua sudah mandi dan siap sekolah ya?” tanya Lia dengan suara hangat sambil memeluk mereka. “Mari kita sarapan dulu sebelum berangkat ke sekolah.”

Setelah sarapan bubur ayam yang disediakan Bu Warsih, Lia mengantar anak-anak ke sekolah dasar dekat kontrakan. Di jalan, mereka menyapa tukang parkir yang memberikan senyum hangat, pedagang kecil yang memberi makanan tambahan. Di sekolah, Lia menyapa guru kelas mereka: “Anak-anak sudah siap belajar ya, Bu Guru.”

Guru tersebut mengangguk dengan senyum: “Mereka anak yang cerdas dan rajin, Lia. Pasti akan sukses kelak.”

Setelah mengantar anak-anak, Lia kembali ke rumah sakit. Di jalan, dia melihat seorang anak laki-laki dengan rambut pirang sedang bermain dengan tanah liat. Ketika anak itu berbalik, terlihat bintik merah berbentuk hati di punggung kanannya – sama persis dengan yang ada di ingatan Lia tentang Adit.

“Hai Bu, mau lihat bentuk hati yang saya buat?” tanya anak itu dengan suara lembut.

Lia meraih tanah liat yang dibentuk menjadi hati dengan hati-hati. “Cantik sekali, nak. Kamu bisa membuatnya dengan baik ya.”

“Iya Bu, karena saya selalu ingat bentuk hati kecil di punggung saya,” jawab anak itu dengan suara lembut.

Lia merasa air mata hampir keluar. Dia mengambil foto kecil dari tasnya dan menunjukkan pada anak itu: “Kamu tahu ini siapa, nak?”

Anak itu melihat dengan mata kagum: “Itu saya kan, Bu! Bareng sama dua kakak saya yang lain.”

“Ya sayang, itu kamu sama kakak kamu Mal dan Rini,” ucap Lia dengan suara penuh emosi. “Saya adalah ibumu yang selalu mencari kamu.”

Anak itu melihatnya dengan mata penuh keheranan: “Jadi saya punya keluarga lagi ya, Bu?”

“Kita semua adalah keluarga, nak,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluknya erat.

Di kejauhan, matahari menyinari kota yang sibuk. Suara anak-anak yang bermain memenuhi udara, membawa harapan bahwa cinta keluarga tidak akan pernah padam. Lia merasakan bahwa setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya dia menemukan apa yang selalu dicarinya.

Setelah itu, Lia membawa anak laki-laki itu bernama Rio untuk bertemu dengan Mal dan Rini di sekolah. Ketika mereka bertemu, wajah Mal dan Rini langsung bersinar ceria. “Kakak Adit!” teriak mereka berdua dengan suara penuh kegembiraan.

Rio melihat kedua kakaknya dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Ini kakak saya kan?” tanya dia dengan suara lembut.

“Ya sayang, kita adalah kakakmu,” ucap Mal dengan senyum ceria, meraih tangan Rio dengan erat. Rini juga segera mendekat dan memeluknya.

“Kita semua sudah bersama lagi ya, Bu?” tanya Rio dengan suara penuh harapan.

“Ya sayang, kita sudah bersama lagi,” jawab Lia dengan suara hangat sambil memeluk ketiga anaknya dengan erat. Udara di sekitar mereka terasa hangat dengan cinta yang mengalir antar mereka.

Setelah itu, Lia mengajak mereka pulang ke kontrakan Bu Warsih. Di jalan, mereka menyapa semua orang yang kenal dengannya – pedagang sayur yang memberi sayuran segar, tukang becak yang menawarkan tumpangan. Ketika sampai di kontrakan, Bu Warsih sudah menunggu dengan makanan hangat.

“Selamat datang kembali, Lia. Dan ini siapa ya?” tanya Bu Warsih dengan suara ramah melihat anak laki-laki yang mengikuti Lia.

“Ini Adit, Bu. Akhirnya kita ketemu lagi,” jawab Lia dengan senyum penuh kebahagiaan.

Bu Warsih tersenyum hangat dan mendekat: “Selamat ya, Lia. Semoga kalian selalu bahagia bersama-sama.”

Malam itu, mereka makan bersama di kontrakan – nasi putih dengan lauk pauk dan sayuran segar yang dibeli Lia tadi pagi. Suara tawa dan candaan memenuhi udara di sekitar mereka. Mal bercerita tentang teman baru di sekolah, Rini menunjukkan gambar yang digambarkannya sendiri, dan Rio menceritakan tentang bermain dengan teman-temannya di desa.

“Besok kita mau kemana ya, Bu?” tanya Rio dengan suara lembut.

“Kita akan pergi ke taman bermain, sayang,” jawab Lia dengan senyum hangat. “Bermain bareng sama semua teman kamu yang lain juga.”

Di hari berikutnya, Lia membawa ketiga anaknya ke taman bermain kota. Banyak anak-anak bermain di sana – ada yang naik ayunan, bermain bola, atau hanya duduk menikmati suasana. Rio segera berteman dengan beberapa anak lain, sementara Mal dan Rini bermain di sekitar kolam kecil di taman. Lia duduk di bangku taman, melihat anak-anaknya dengan hati yang penuh cinta.

“Sangat bahagia melihat mereka bermain bersama, Pak Joko,” ucap Lia ketika Pak Joko datang menemukannya dengan membawa makanan ringan.

“Kamu sudah pantas merasakan kebahagiaan ini, Lia,” jawab Pak Joko dengan senyum hangat.

Ketika malam tiba, mereka pulang bersama-sama. Di jalan, mereka menyapa semua orang yang kenal dengan senyum hangat. Ketika sampai di kontrakan, suasana hangat menyambut mereka – makanan sudah siap di mejanya, dan cerita-cerita tentang hari yang penuh kebahagiaan mulai tercatat di buku Lia.

“Kita akan selalu bersama ya, Bu?” tanya ketiga anaknya dengan suara serempak.

“Selalu bersama, sayang,” jawab Lia dengan senyum penuh cinta, memeluk mereka ketiga dengan erat.

Di langit yang sudah mulai gelap, bintang-bintang mulai bersinar terang. Udara malam terasa sejuk dengan suara nyanyian dari rumah-rumah di sekitar. Lia merasakan bahwa cinta yang dia miliki tidak akan pernah hilang – walau hidup di tempat yang berbeda, walau harus berbagi dengan orang lain, cinta keluarga selalu ada di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!