Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di tempat berbeda Panca sudah mulai berubah, ia tak lagi terpuruk seperti sebelumnya. Semenjak kepergian Lidia hidupnya kacau. Wulan sang istri juga memilih menyerah dan pergi meninggalkan dirinya tanpa kata.
Lelaki itu tak peduli dengan kepergian istrinya dunianya hanya Lidia, Wulan cuma menambah pusing kepalanya. Di antara mereka tidka jelas statusnya seperti apa.
"Gimana kabarnya Wulan?" tanya sang mama penasaran dengan nasib ruamh tangga putranya yang tak jelas juntrungnya.
"Ga tau." Panca menaikkan bahunya dan mencibir.
"Kamu ini gimana sih, kalau memang sudah tak bisa di perbaiki lepaskan. Kasihan anak orang di gantung ga jelas." omel sang mama.
"Bukan salah aku, ma. Ngapain juga ia pergi tanpa kata. Bodo amatlah." ujar Panca tak mau ambil pusing.
"Bukanya gitu nak, sebaiknya kalian berdua bicara baik - baik. Kalau mau di lanjutkan perbaiki lagi tapi jika memang harus berakhir akhiri dengan baik - baik. Dulu kamu mengambilnya baik - baik maka pulangkan juga secara baik - baik." nasehat mama.
"Dulu mamakan yang memaksa. Jika bukan karna tekanan dari mama tidak akan jadi begini."
"Iya mama mengaku salah, tapi tolong kamu pikirkan lagi baik - baik nak. Mama akan mendukung apapun keputusan yang kamu ambil." janji mama asal putranya kembali seperti dulu.
Dulu mama Panca terlalu memuja Wulan adalah wanita yang sempurna untuk putranya. Cantik, lemah lembut dan keibuan serta penurut. Mama menaruh harapan banyak pada mereka agar di berikan cucu sebagi penerus keluarga mereka. Tapi Tuhan berkata lain sampai detik sekarang tak ada tanda - tanda jika Wulan akan memberikan ia seorang cucu.
Rahasia Wulan hanya keluarganya saja tau, sampai kapan pun wanita itu tidak akan pernah bisa hamil. Sehebat apapun pengobatan m3dis tak akan bisa merubahnya. Rahasia itu tersimpan rapi, Wulan dan keluarga sama sekali tak ada niat ingin berkata jujur pada Panca dan keluarganya.
Panca adalah kunci bagi keluarga Wulan untuk tetap dapat bertahan. Usaha yang mereka geluti berjalan lancar karna adanya sokongan dari Panca tentunya.
Di kantor Panca memikirkan apa yang mamanya katakan. Ada benarnya juga jika dirinya harus memberikan status yang jelas pada Wulan apalagi wanita itu sudah lama tak tinggal serumah dengan dirinya.
"Pak Soni tolong urus perceraian saya dengan Wulan. Berikan kompensasi yang pantas untuknya." Panca menghubungi pengacaranya untuk segera mengurus berkas perceraiannya dengan Wulan.
"Baik, pak. Secepatnya akan saya urus." sambungan telpon langsung terputus. Panca meletakan ponselnya di meja dan kembali duduk termenung di kursi kebesarannya.
Pernikahannya dengan Wulan tak mungkin lagi ia pertahankan. Karna memang dari awal pernikahannya hanya sebatas menjadi ajak berbakti.
Wulan tentu saja tak terima dengan keputusan sepihak Panca. Dirinya belum siap berpisah dengan lelaki itu. Ia tak bisa membayangkan jika nanti ia sudah resmi bercerai dengan Panca bagaimana dengan hidupnya nanti? Meski Panca memberikan kompensasi yang lumayan besar tapi tetap saja tak akan bisa menjamin ia bisa hidup enak seperti biasanya.
"Mas, aku ga mau bercerai." ujar wanita itu saat mendatangi kantor Panca.
"Sudahlah Wulan, terima saja. Kita sudahi kepura - kepuraan ini. Toh aku juga sudah memberimu kompensasi lebih dari cukup."
"Aku mencintai kamu mas."
"Wulan, Wulan apa kamu bilang cinta. Di mana kamu saat aku terpuruk, itu yang kamu katakan cinta." cibir Panca dengan suara sumbang.
Wulan kehabisan kata, ia terpaksa memilih pergi begitu saja dari kantor Panca. Mau membantah juga percuma, Panca punya senjata untuk melawan dirinya.
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$%$%%%%%%%٪%%%%
Assalamualaikum kk, thor up lagi ya.
Di tunggu saran dan masukannya kk
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 🙏💪😘
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?