Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Aku Ketawa, Jadi Kupikir Aman
Aku ketawa waktu Faris nyeletuk soal kopi sachet yang rasanya kayak air bekas cucian gelas. Ketawaku reflek, kebiasaan. Bukan karena lucu banget, tapi karena kalau lagi capek, ketawa itu jalan paling gampang biar suasana nggak makin berat. Rara ikut senyum. Tipis. Senyum yang kayak formalitas. Aku nggak terlalu mikirin itu. Kupikir ya wajar. Semua juga capek.
Hari itu kami rapat kecil di ruang pramuka. Ruangan sempit, bau papan kayu, dan kipas angin yang bunyinya lebih kencang daripada anginnya. Meja penuh kertas, pulpen warna-warni, dan sisa bungkus roti yang nggak ada yang mau ngaku punya.
Proposal sudah disetujui kemarin. Tanda tangan kepala sekolah masih kebayang jelas di kepalaku. Tinta biru, agak miring, tapi tegas. Waktu Rara nunjukkin fotonya di grup, aku cuma balas stiker jempol. Nggak ngerasa perlu nambah apa-apa. Aku pikir itu cukup.
“Jadi besok kita mulai data ulang peserta,” kata Rara sambil buka buku catatan. Suaranya jelas, tenang, kayak orang yang memang biasa didengar.
Aku manggut. “Iya. Aku nanti urusin pembagiannya.”
Faris angkat kepala. “Yang koordinasi sama kelas-kelas, ya?”
“Iya,” jawabku. Simpel. Nggak ada drama. Nggak ada nada aneh. Aku merasa semuanya normal. Itu yang bikin aku lengah.
Setelah rapat selesai, anak-anak satu-satu keluar. Ada yang pamit ke toilet, ada yang langsung ke kantin. Tinggal aku dan Rara. Dia masih duduk, nulis sesuatu. Aku beresin kertas-kertas, nyusun proposal ke map lagi, biar nggak lecek. “Capek?” tanyaku, sambil masukin map ke tas. Rara angkat kepala. “Lumayan.”
Aku ketawa kecil. “Baru juga mulai.” Dia ikut senyum. Lagi-lagi tipis. Aku nganggepnya biasa. Orang capek emang suka irit ekspresi. Kami keluar bareng. Di lorong, beberapa anak kelas sepuluh nyapa. “kak Rara!”
Rara nengok. “Iya?”
“Diklatnya jadi, kan?”
“Jadi. Nanti tunggu info lanjut, ya.” Mereka senyum-senyum, keliatan seneng. Salah satu dari mereka melirik ke aku, terus senyum juga. Aku balas senyum. Nggak kepikiran apa-apa. Tapi entah kenapa, setelah itu, kejadian serupa kejadian lagi. Di kantin, pas aku lagi ngambil air minum, ada yang nyeletuk, “Rara hebat, ya. Proposalnya langsung tembus.”
Aku refleks jawab, “Iya.” Aku ketawa. Rara juga ada di situ. Dia cuma bilang, “Ah, biasa aja.” Aku pikir, ya sudah. Namanya juga pujian. Masa aku koreksi satu-satu. Aku terbiasa di posisi itu. Di belakang. Ngerjain, nutupin, ngatur alur, tapi nggak muncul. Dan jujur aja, selama ini aku fine-fine aja. Aku nggak haus validasi. Aku cuma pengin semua jalan. Dan semua memang jalan.
Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Pagi rapat, siang koordinasi, sore ngecek ulang. Aku datang lebih pagi dari biasanya. Kadang sebelum satpam buka pintu ruang pramuka, aku sudah nunggu di depan. Tanganku pegal. Kepalaku penuh. Tapi aku nggak ngerasa sendiri. Setidaknya, aku pikir begitu.
Suatu siang, Bu Santi manggil aku dan Rara ke ruang guru. Kami duduk bersebelahan di depan mejanya. Ada map cokelat di tangannya, sama stempel sekolah. “Ini tinggal teknis aja,” kata Bu Santi. “Rara, nanti kamu koordinasi sama OSIS. Untuk logistik, kamu sama Faris, ya.” Aku nunggu. Biasanya bagian logistik juga nyangkut ke aku. “Naya,” lanjut Bu Santi, “kamu bantu-bantu Rara aja, ya. Kan kamu wakil.”
Aku manggut. “Iya, Bu.” Kalimat itu nggak salah. Nggak ada yang kasar. Tapi entah kenapa, ada rasa aneh yang nyempil. Kecil. Kayak kerikil masuk sepatu. Ganggu, tapi nggak cukup buat berhenti jalan. Keluar dari ruang guru, Rara jalan duluan. Aku nyusul di belakang. Biasanya kami ngobrol. Kali ini nggak. Aku buka suara. “Nanti aku bikin pembagian tugas detail, ya. Biar nggak numpuk.”
“Oh,” jawabnya. “Iya.” Cuma itu. Aku ketawa sendiri, berusaha ringan. “Tenang aja. Aku biasa.” Dia senyum lagi. Tipis. Terus jalan. Aku berhenti di koridor sebentar. Bukan karena kesel. Lebih ke bingung. Tapi aku cepat-cepat nepisnya. Mungkin dia lagi capek. Mungkin aku kebanyakan mikir. Aku lanjut jalan. Di ruang pramuka, Tara lagi duduk sambil mainin HP. Sela di sampingnya, nyoret-nyoret kertas. “Gimana?” tanya Tara.
“Lancar,” jawabku. “Cuma makin rame.”
Sela ngelirik. “Keliatan, sih.” Aku ketawa. “Iya. Capek aja.” Mereka nggak nanya lebih jauh. Dan aku juga nggak cerita lebih jauh. Aku nggak ngerasa ada yang perlu diceritain.
Sore itu, aku pulang agak telat. Di motor, angin kena muka, kepalaku kosong. Aku mikir soal jadwal, soal konsumsi, soal tenda. Hal-hal teknis yang bisa dipegang, diatur, diberesin. Aku nggak mikir soal perasaan.
Besoknya, grup pramuka rame. Banyak pertanyaan, banyak info. Rara aktif jawab. Aku ikut nimbrung kalau ada yang teknis. Salah satu pesan masuk. “Kak Rara, makasih ya udah ngurusin ini semua.” Aku baca. Aku ketawa. Ngetik: “Sama-sama.” Nggak ada yang salah. Aku bagian dari “sama-sama”. Tapi setelah itu, pesan-pesan berikutnya tetap pakai nama Rara. Aku masih ketawa. Masih santai. Masih bantu jawab. Aku bilang ke diriku sendiri, ini cuma soal penyebutan. Yang penting kerjaan beres. Dan kerjaan memang beres.
Sampai suatu malam, aku ngerjain pembagian tugas sendirian di kamar. Kertas-kertas berserakan. Jam dinding sudah nunjuk angka sebelas. Mataku perih. Aku kirim file ke grup. “Nanti dicek, ya. Kalau ada yang kurang, bilang.” Rara balas beberapa menit kemudian. “Oke.” Cuma itu. Biasanya dia nambahin. Biasanya ada diskusi kecil.
Malam itu nggak. Aku pegang HP agak lama. Nunggu. Nggak ada lanjutan. Aku taruh HP. Rebahan. Ngelihat langit-langit. Rasanya capek, tapi nggak jelas capeknya di mana. Aku ketawa kecil. Sendiri. “Mungkin aku lebay,” gumamku. Besok paginya, di sekolah, aku tetap datang pagi. Tetap nyapa orang. Tetap becanda. Tetap jadi Naya yang sama. Aku ketawa waktu Faris telat. Aku ketawa waktu Sela salah sebut nama. Aku ketawa waktu Tara nyeletuk random. Dan semua orang ketawa. Kalau aku ketawa, berarti aman. Itu pikiranku. Di tengah keramaian itu, aku nggak sadar kalau jarak kecil mulai kebentuk. Bukan jarak yang jelas. Bukan jarak yang bisa ditunjuk.Lebih kayak perubahan arah pandang. Orang-orang mulai nyebut nama Rara duluan. Mulai nanya ke dia duluan. Mulai nunggu reaksinya. Aku masih ada. Masih kerja. Masih pegang banyak hal.
Tapi pelan-pelan, aku jadi background. Dan karena aku ketawa, nggak ada yang curiga. Termasuk aku. Aku pulang hari itu dengan badan pegal dan kepala penuh, tapi hati masih bilang, “Nggak apa-apa.” Aku percaya itu. Aku benar-benar percaya. Sampai nanti, di minggu berikutnya, rasa capek itu nggak cuma di badan. Tapi hari itu belum sampai ke sana. Hari itu aku masih ketawa. Dan karena itu, aku pikir semuanya aman. Padahal ternyata, itu cuma tenang yang palsu.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭