Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
WARNING 21+
_____________________________
Harap bijak dalam membaca.
_____________________________
"Jadi kamu beneran mau dipecat?!" ancam Ana berhasil membuat wanita tadi diam tak berkutik.
"M-maaf. Akan segera saya ambilkan,"
Seketika terbit lengkung bibir sebab berhasil mencapai tujuan, meski tak lagi berada di tubuh yang sama. Bukan hal dusta jika menyebut dirinya sebagai keponakan,
Segera Ana melangkah pergi setelah mengantongi benda tipis yang akan mempermudah misi.
Setelah melewati lorong juga menggunakan elevator, gadis itu berhasil sampai pada lantai yang dituju.
Tak segan kedua manik sigap meneliti satu persatu pembatas demi mencari angka yang tepat, "450---itu dia!"
Segera mengetuk kotak sensor dengan kartu, lampu sensor pun berubah dan terdengar bunyi.
Ting...
Pintu pun berhasil dibuka.
"Untung, orangnya udah keluar." gumam Ana, mendapati ruang luas tanpa pengunjung,
Perlahan mulai menyusuri seluruh ruang sambil menikmati hidangan buah yang tersaji di atas meja,
CEKLEK,
Gadis itu terbelalak, mendengar suara dari arah pembatas. Dengan cepat beranjak pergi ke sudut samping ranjang,
"Perasaan baru 15 menit! Masa udah selesai," pikir Ana, mendengar langkah kaki yang perlahan mendekat.
"Aduh, plis! Jangan kesini."
Sorot mata tak sengaja menatap alas kaki seorang wanita, yang mampu membuat gadis itu menghela nafas lega. "Huft, ternyata cuma pelayan."
Selang beberapa menit, ruangan kembali hening. Bahkan Ana telah memastikan tidak ada orang lain selain dirinya,
Mulai berani mendongak, menatap sebuah teko kaca dan juga gelas yang baru saja tersaji di atas meja. "Hampir aja jantungku copot,"
"Tapi, dia kok bisa masuk! Bukannya perlu---au deh, bodo amat."
"Yang penting ga ketahuan,"
30 menit kemudian,
Gadis yang tengah asik mengotak atik layar ponsel, tak sengaja mendengar langkah kaki dari luar kamar.
Sekali lagi tersentak kaget, segera meringkuk di belakang sofa.
CEKLEK.
Pria tinggi bersetelan jas melangkah masuk dengan berkas di tangannya.
Diletakkan berkas tadi ke atas meja, sebelum membuka beberapa kancing kemeja.
Tubuhnya menunduk, meraih segelas air untuk mengusir dahaga.
"Tunggu! Kenapa aku sembunyi! Kan niatku mau ketemu," pikir Ana mengerutkan alis, menggerutui sikap penakutnya.
"Kok malah gini, seharusnya aku keluar!"
"Aku harus mebongkar semua kebusukan Ryan."
Dengan kebodohan yang dipikir sebagai keberanian, gadis itu mendongak dan beranjak bangun, menatap punggung lebar berbalut jas hitam di depannya.
Mulai berjinjit maju, mencegah suara langkahnya agar tidak ketahuan.
Perlahan mengulurkan telapak demi meraih pundak,
GREP!
Ana tersentak saat pria itu menoleh dan menarik paksa pergelangan tangannya.
Genggaman itu semakin erat sampai membuat Ana bergidik ngeri,
"Aw..."Ana merintih kesakitan,
Tak kuasa menatap wajah pria yang memandanginya dengan sinis.
Mata bulat menawan, serta rahang tegas yang tengah mengeratkan gigi. Sorot dinginnya tak henti memandang hingga mampu mengacaukan pikiran Ana,
Rencana matang yang telah tersusun rapi, hilang tersapu bersih oleh rasa takut.
Kini Ana hanya berpikir untuk segera lari dari sana,
"Sial."
"Siapa yang membiarkan jalang sepertimu, masuk ke dalam kamarku." cibir Max dengan angkuh,
"T-tidak. K-kamu salah paham," sanggah Ana terbata bata.
"Ck.." Max berdecak kesal, merasakan hawa panas yang mulai menggerogoti tubuh.
Entah bagaimana bagian miliknya merasa tegang hanya karena sentuhan fisik. Itupun dengan wanita asing,
Degup jantung mulai melaju cepat bahkan timbul hasrat liar. Sigap Max menarik kerah bajunya, lalu menarik paksa tubuh Ana hingga terlempar ke atas ranjang.
"Aku sudah muak dengan rencana licik seperti ini," ketusnya geram,
Mengeratkan gigi, menatap lekat gadis yang terbaring ketakutan.
"Tunggu!" sontak Ana berusaha bangun,
Menghalangi aksi pria yang sedang melepas jas di tubuhnya.
Neil Maxime, atau Max. Dibalik paras tampan, terkenal sosok angkuh yang disebut sebagai pembunuh darah dingin.
Sebutan itu didapat karena sikapnya yang tak segan menumpas habis mereka yang berani menentang apalagi menjebaknya.
Entah apa yang akan Ana alami karena berani menyusup ke dalam kamar singa jantan itu.
"Bukankah ini yang kamu mau?" imbuh Max,
Mulai menindih tubuh kurus Ana, tangan kanannya tak henti bergerak melepas ikat pinggang serta resleting celana.
"Kita lihat, seberapa hebat kamu di atas ranjang."
Ana terbelalak melihat dada bidang yang menghimpit tubuhnya, lengan kekar serta perut sixpack tak tertutupi sehelai kain.
Pemandangan mempesona itu, malah membuat Ana ketakutan.
"Tunggu. Ini salah! Aku bukan wanita seperti itu!" tegas Ana berusaha beranjak, namun gagal karena telapak kekar yang kembali menekan kedua lengannya hingga kembali terbaring.
"Riasan tebal, baju seksi, dan parfum menyengat. Apa lagi yang kamu mau kalau bukan ini?"
Max menatap tajam, seakan muak mendengar ocehan Ana.
"Kamu tidak bisa keluar, masuk sesukamu."
Gadis itu berulang kali menggeliat berusaha keluar, tapi sikapnya malah membuat tubuh Max kesetanan.
Tergoda oleh dua gumpalan kenyal yang menggesek kulit, pahanya juga tanpa sengaja menyentuh bagian bawah Max.
Pikiran Max kalut, sadar jika ada orang yang telah menambahkan obat perangsang ke dalam gelas minumnya.
Seluruh tubuhnya terasa terbakar, sedangkan sentuhan Ana malah terasa dingin.
Bagai menemukan penawar yang harus diteguk habis. Tak ragu telapak kekarnya meraba tubuh berbalut dress tanpa lengan itu,
"Jangan! Jangan lakukan ini," pekik Ana, menahan tangan yang berusaha menyelinap dari bawah pakaian.
"Apa kamu berusaha bermain tarik ulur denganku?" sontak Max merasa geram,
Kening putihnya mulai mencucurkan keringat bahkan terengah-engah. Entah mengapa suara Ana terasa begitu merdu seperti sihir yang menyuruh Max untuk terus menjelajah,
Memaksa tangannya, merogoh paha putih Ana sampai menemukan kain ketat yang menjadi sangkar mahkota para kaum hawa.
"Jangan..." Ana berusaha keras mendorong bahkan mengapit kedua kaki demi menahan telapak yang hendak menjamah selangkangannya.
Kesabaran Max mulai habis, tak segan berganti rencana. Merobek long dress yang gadis itu pakai hingga menyisakan pakaian dalam yang melekat di tubuh ramping Ana.
"DASAR MESUM!" pekiknya, memeluk erat diri sendiri, berusaha menutup gumpalan yang terlihat.
Kedua matanya terpejam sembari menahan rasa takut, namun Max tidak menghiraukan teriakan serta penolakan yang tersemat di wajah gadis tadi.
Menarik paksa kedua tangan Ana, sebelum meraih rahang kecil di depannya. Pria itu meraup pucuk bibir dengan brutal sedangkan tangan lain tengah sibuk mencari pengait di belakang tubuh gadis itu,
Ana terbelalak ketika menyadari ada sesuatu sedang menyelinap masuk ke dalam mulutnya.
Lumatan demi lumatan, perlahan lidah Max mengabsen setiap bagian di dalam. Menyentuh langit langit, mulai menyalurkan salivanya ke dalam mulut Ana.
"Ng. Ng..." Ana menggeliat, sambil mendorong paksa dada kekar itu.
Bahkan tak segan menggaruk kuat kutikula Max, meninggalkan bekas cakaran yang cukup dalam. Tapi belum bisa menggentarkan Max, tanpa reaksi kesakitan dia terus menjalankan aksi bejatnya.