Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH DI TAPAL BATAS
Udara di perbatasan desa pagi itu terasa lebih menusuk dari biasanya. Kabut tebal masih menyelimuti jalanan setapak yang hanya bisa dilalui oleh mobil penggerak empat roda. Nabila duduk di kursi penumpang dengan pandangan lurus ke depan, sementara Bima mengemudikan jip dengan ketenangan yang luar biasa. Meski surat pengunduran diri itu sudah ditarik kembali, ada dinding kaca yang seolah membatasi keduanya.
"Kita akan memeriksa laporan warga mengenai aktivitas mencurigakan di bekas gudang kayu perbatasan. Informan bilang ada beberapa orang asing yang sering terlihat membawa senjata," ujar Nabila memecah keheningan yang menyesakkan.
Bima mengangguk mantap. "Siap, Komandan. Saya sudah menyiapkan pelapis perlindungan tambahan. Sisa-sisa anak buah Juragan Darwis mungkin masih berkeliaran di area ini untuk mencari jalan keluar."
Nabila melirik Bima sekilas. Pria di sampingnya ini selalu memikirkan keselamatannya lebih dari apa pun. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, namun ego sebagai seorang atasan segera menepis perasaan itu. Mereka harus profesional.
Sesampainya di lokasi, suasana sangat sunyi. Hanya suara gesekan daun kering yang tertiup angin. Nabila turun dari mobil, tangannya sudah bersiap di sarung pistol yang melingkar di pinggangnya. Bima mengikuti di belakang dengan jarak yang sangat ideal untuk memberikan perlindungan.
"Kosong?" bisik Nabila saat mereka mendekati pintu gudang yang sudah miring.
"Jangan lengah, Komandan. Saya mencium bau asap rokok yang masih baru," sahut Bima dengan suara sangat rendah.
Tiba-tiba, suara tembakan memecah kesunyian. Dor! Sebuah peluru menghantam pilar kayu tepat di samping kepala Nabila.
"Tiarap!" teriak Bima. Ia dengan sigap menarik tubuh Nabila dan membawanya berlindung di balik tumpukan kayu besar.
Tiga orang pria dengan penutup wajah keluar dari balik semak-semak, melepaskan tembakan beruntun ke arah mereka. Nabila segera membalas tembakan tersebut dengan akurasi yang mematikan. Salah satu penyerang terjatuh sambil memegang kakinya.
"Menyerahlah! Polisi sudah mengepung tempat ini!" seru Nabila dengan suara lantang, mencoba melakukan gertakan meskipun ia tahu bantuan masih dalam perjalanan.
"Jangan banyak bicara, Polisi cantik! Kalian sudah menjebloskan bos kami ke penjara, sekarang giliran kalian yang mati!" teriak salah satu pria yang tampak sebagai pemimpin kelompok itu.
Baku tembak pun tidak terhindarkan. Nabila dan Bima bekerja sama dengan sinkronisasi yang sempurna. Saat Nabila bergerak mencari posisi lebih baik, Bima memberikan tembakan perlindungan. Namun, salah satu penyerang ternyata memiliki senjata laras panjang dan membidik Nabila dari arah samping yang tidak terlindungi.
"Nabila, awas!" teriak Bima tanpa sadar menyebut nama tanpa gelar pangkat.
Bima melompat dan menghambur ke arah Nabila tepat saat peluru dilepaskan. Sebuah erangan tertahan keluar dari mulut Bima saat peluru itu menembus bahu kanannya. Tubuh tegap itu roboh menindih Nabila, namun tangannya masih berusaha menggenggam senjatanya.
"Bima! Kamu terluka!" seru Nabila dengan wajah yang seketika pucat pasi.
Melihat ajudannya terluka demi melindunginya, kemarahan Nabila memuncak. Ia keluar dari tempat perlindungan dengan keberanian yang nekat, melepaskan tembakan bertubi-tubi yang melumpuhkan dua penyerang sisanya. Dalam hitungan detik, suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara napas Nabila yang terengah-engah dan rintihan pelan dari Bima.
Nabila segera berlutut di samping Bima. Darah segar mulai membasahi seragam cokelat pria itu. Nabila merobek sebagian kain dari seragamnya sendiri untuk menekan luka di bahu Bima.
"Kenapa kamu lakukan itu, Bima? Kenapa kamu harus jadi tameng buatku?" tanya Nabila dengan suara bergetar. Air mata yang selama ini ia tahan sebagai komandan kini mulai jatuh.
Bima tersenyum tipis, wajahnya mulai pucat namun tatapan matanya tetap lembut. "Tugas saya adalah menjaga Anda, Nabila. Tapi lebih dari itu, saya tidak bisa membayangkan jika peluru itu mengenai Anda. Saya lebih baik mati daripada melihat Anda terluka."
"Jangan bicara bodoh! Kamu tidak akan mati!" bentak Nabila, namun tangannya yang gemetar saat menekan luka Bima menunjukkan ketakutannya yang mendalam.
Tak lama kemudian, sirene mobil polisi bantuan terdengar mendekat. Haris dan Farel yang mendapatkan kabar dari markas juga langsung meluncur ke lokasi dengan jip mereka. Haris turun dari mobil dengan wajah panik, sementara Farel segera membantu mengamankan para tersangka yang sudah dilumpuhkan Nabila.
"Nabila! Kamu tidak apa-apa?" teriak Haris menghampiri adiknya.
Nabila tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke arah Bima yang kini sudah setengah sadar. Haris segera membantu mengangkat Bima ke dalam mobil ambulans yang baru saja tiba. Sepanjang perjalanan menuju puskesmas desa, Nabila tidak melepaskan tangan Bima.
Sesampainya di puskesmas, Bima langsung dibawa ke ruang tindakan. Nabila berdiri di lorong dengan seragam yang bercampur darah Bima. Haris menghampiri adiknya, memberikan jaket untuk menutupi bahu Nabila yang kedinginan.
"Dia pria yang luar biasa, Dek. Dia mempertaruhkan nyawanya untukmu tanpa ragu sedikit pun," ujar Haris pelan.
Nabila menatap tangannya yang masih ternoda darah. "Aku hampir kehilangannya, Kak. Saat peluru itu mengenainya, aku merasa duniaku mendadak gelap. Aku baru sadar kalau aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia di sampingku."
Haris tersenyum tipis. "Akhirnya kamu sadar juga. Cinta memang seringkali baru terasa saat kita hampir kehilangan. Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia karena egomu yang ingin hidup sendiri."
Beberapa jam kemudian, dokter keluar dan menyatakan bahwa peluru berhasil dikeluarkan dan tidak mengenai tulang utama. Bima sudah melewati masa kritis dan sedang dalam masa pemulihan. Nabila segera masuk ke ruang rawat. Ia melihat Bima terbaring lemah dengan perban di bahunya.
Bima membuka mata perlahan dan melihat Nabila duduk di samping ranjangnya. "Komandan? Anda masih di sini?"
"Berhenti memanggilku komandan jika kita sedang berdua, Bima Batara," ujar Nabila dengan suara yang jauh lebih lembut.
Bima tertegun. "Lalu saya harus memanggil Anda apa?"
Nabila meraih tangan Bima yang tidak terluka dan menggenggamnya erat. "Panggil aku Nabila. Dan ambil kembali surat pengunduran dirimu. Aku tidak hanya butuh kamu sebagai ajudan, tapi aku butuh kamu untuk tetap berada di sampingku, selamanya."
Bima menatap Nabila dengan tidak percaya. "Apakah ini berarti saya memiliki kesempatan?"
"Jangan buat aku mengatakannya dua kali, Bima. Kamu sudah menumpahkan darah untukku, sekarang giliranku untuk memberikan hatiku padamu," jawab Nabila sambil tersenyum malu-malu.
Di balik pintu kaca, Ratih yang baru saja sampai bersama Farel tampak mengintip sambil menahan tawa bahagia. Ia menyenggol lengan Farel. "Lihat, rencanaku berhasil kan? Mereka butuh sedikit 'kejutan' untuk bisa jujur pada perasaan masing-masing."
Farel hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. "Lain kali, jangan gunakan peluru sebagai kejutan, Nyonya Farel. Itu sangat berbahaya bagi jantungku."
Ratih tertawa renyah dan merangkul lengan suaminya. "Tapi hasilnya manis, kan?"
Malam itu, di sebuah puskesmas desa yang sederhana, sebuah kisah cinta baru telah terukir. Nabila si komandan dingin akhirnya menemukan kehangatan dalam diri ajudannya yang setia. Dan bagi Haris, kebahagiaan keluarganya kini sudah lengkap. Ia tidak perlu lagi khawatir adiknya akan menjadi perawan tua, karena Bima Batara telah membuktikan bahwa ia adalah pria yang tepat untuk menjaga Nabila seumur hidupnya.