💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 : Malam yang menggoda, pagi yang menguji.
Di dalam kamar yang sunyi, Arsen duduk di kursi dekat jendela, matanya menatap keluar dengan pandangan kosong. Dia memang mencintai Viona, tapi dia tidak bisa menceritakan sesuatu yang bisa merusak segalanya. Dia hanya berharap jika saat itu tiba, Viona bisa menghadapinya dengan dewasa.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan berdiri dan menutup tirai jendela. Tepat setelah tirai tertutup, suara pintu yang diketuk dengan pelan terdengar. Arsen melangkah ke arah pintu dan membukanya, melihat Viona yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah yang tampak cemas.
"Maaf Paman, aku mengganggumu malam-malam begini," ucapnya dengan suara pelan. "Aku cuma ingin tahu apa yang tadi paman Bima bicarakan dengan Paman. Apa Paman Bima marah karena aku pulang bersama dengan Paman?"
Arsen terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Tidak ada masalah apapun, Viona. Kami hanya ngobrol biasa seperti seorang adik dan kakak, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang apapun."
Viona masih berdiri di depan pintu, tatapannya belum bisa melepas dari wajah Arsen. Dia tampak belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh pria itu, namun dia juga tidak berani menekan Arsen untuk bercerita lebih jauh.
Dengan gerakan cepat namun lembut, Arsen menarik tangan Viona masuk ke dalam kamar, kemudian menutup pintu kamarnya dengan rapat dan mendorong pelan tubuh gadis itu ke tembok. Viona sedikit terkejut, kedua tangannya menyentuh dada Arsen untuk tetap menjaga jarak diantara mereka.
"Paman..." ucapnya pelan, jantungnya berdetak dengan cepat.
Arsen menatap Viona dengan tatapan yang dalam. Tangannya terangkat perlahan, menyentuh lembut pipi gadis itu dan mengusapnya lembut. Viona menutup matanya sejenak saat rasa hangat itu menyebar perlahan dari wajahnya ke seluruh tubuhnya. Dia menghela napas lembut, seolah ingin menangkap setiap sentuhan yang diberikan pria di depannya itu.
"Jika saatnya tiba dan kamu harus memilih," bisiknya dalam hati, menatap wajah Viona yang begitu damai. "Aku hanya berharap kamu bisa memaafkanku karena tidak bisa mengatakannya lebih awal."
Pandangan Arsen turun ke bibir gadis itu, perlahan dia mendekatkan wajahnya, membuat jarak di antara mereka semakin menyempit. Wajah Arsen kian mendekat, hingga napasnya menyentuh bibir Viona. Arsen menyunggingkan senyum tipis.
"Kenapa kamu menutup matamu? Apa kamu berharap aku menciummu?" goda Arsen yang membuat mata Viona langsung terbuka lebar dengan wajah memerah.
"T-Tidak, bukan begitu Paman!" ucapnya dengan terbata, "Aku hanya..."
Arsen tertawa lembut, "Jangan bohong padaku, gadis kecil. Aku bisa melihatnya dari matamu. Kamu juga menginginkannya, bukan?"
Arsen tersenyum hangat, lalu mendekatkan wajahnya lagi hingga hidung mereka saling menyentuh. "Kalau begitu izinkan aku untuk memenuhi keinginan kita berdua," bisiknya dengan nada yang menggairahkan.
Tanpa menunggu jawaban, Arsen mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Viona dengan lembut. Tangan Viona yang ada di dada Arsen mulai menggenggam baju yang dikenakan oleh pria itu, kemudian mulai merespons ciuman itu.
Ciuman itu perlahan menjadi lebih dalam, penuh dengan hasrat yang telah lama terkubur dan rasa cinta yang tak bisa disembunyikan lagi. Arsen mengangkat satu tangannya untuk menopang leher Viona, sementara tangan lainnya melingkari punggungnya. Viona membuka bibirnya, membalas ciuman dengan penuh kehangatan, tangan yang tadinya menggenggam baju Arsen perlahan naik dan meraih leher Arsen, menariknya lebih dekat.
Suara jam di dinding kamar menunjukkan pukul satu dini hari, namun mereka berdua seolah melupakan segala sesuatu di luar sana dan tentang status mereka. Arsen memindahkan ciuman dari bibir Viona ke lehernya, memberikan sentuhan hangat yang membuat gadis itu mengerang lembut.
"Paman..." panggil Viona dengan suara tertahan, "Aku harus kembali ke kamarku sekarang..."
Arsen segera menghentikan kegiatannya, menjauhkan sedikit wajahnya dengan mata yang sudah mulai berkabut gairah. Dia menghela napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan diri dari hasrat yang baru saja membara di dalam dirinya.
"Aku akan mengantarmu," ucap Arsen dengan suara yang sedikit terengah, mengusap lembut bibir Viona dengan ibu jarinya, menghapus sedikit jejaknya dari ciuman mereka tadi.
"Tidak perlu, Paman," tolak Viona dengan halus, "Aku bisa pergi sendiri. Kalau kita keluar berdua, aku takut Farel akan melihat dan curiga."
Arsen terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan, "Kalau begitu aku akan melihat dari pintu."
Arsen menggenggam tangan Viona dan membawanya melangkah ke arah pintu. Dia membuka sedikit pintu kamarnya dan memastikan dulu diluar aman sebelum menatap Viona kembali.
"Istirahatlah. Jangan sampai aku menghukummu lagi karena ketiduran di kantor," ucapnya, mengusap kepala Viona dengan lembut.
Viona tersenyum kecil seraya mengangguk pelan, kemudian keluar dari kamar Arsen dan berjalan menuju ke kamarnya. Arsen tetap berdiri di pintu, matanya tidak pernah lepas dari sosok Viona yang semakin menjauh, hingga akhirnya Viona masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Setelah pintu kamar Viona tertutup rapat, Arsen tetap berdiri disana sebentar, menatap arah kamar Viona dengan pandangan yang dalam. Dia menghela napas panjang, lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
-
-
-
"Paman, tunggu!"
Langkah Arsen terhenti tepat sebelum dia memasuki pintu utama gedung kantornya, berbalik dan melihat Farel yang datang dengan langkah cepat, sementara Viona mengikuti di belakang dengan wajah yang tampak sedikit cemas.
"Ada apa, Farel?" tanya Arsen dengan nada yang tenang saat Farel berhenti tepat di depannya dengan Viona berdiri beberapa langkah di belakang. Tangan gadis itu menggenggam tas kerjanya dengan erat.
"Aku ingin Paman menghentikan hukuman terhadap Viona." ucap Farel dengan suara lantang. "Viona adalah tunanganku, seharusnya Paman tidak perlu menghukumnya seperti itu meskipun dia melakukan kesalahan."
"Perusahaan Paman punya peraturan sendiri, Farel." ucap Arsen dengan nada yang lebih tegas. "Dan Paman sebagai pemilik perusahaan harus memastikan bahwa tidak ada kecurangan atau perlakuan istimewa yang diberikan kepada siapapun, termasuk kepada tunanganmu."
"Dan seharusnya kamu bangga jika Viona bekerja di sini karena kemampuan dan dedikasinya sendiri, bukan karena hubungan dengan kita." imbuhnya kemudian.
"Aku tetap tidak terima Paman memberinya hukuman!" tegas Farel, meninggikan sedikit suaranya karena emosi. "Meski itu adalah peraturan perusahaan, Viona bukan hanya karyawan biasa, dia adalah bagian dari keluarga kita!"
Viona segera menarik lengan Farel saat beberapa orang yang lewat mulai melihat ke arah mereka. "Farel, cukup! Aku kan sudah bilang jika ini salahku. Justru aku senang karena Paman tidak memperlakukan aku secara istimewa meskipun aku adalah tunanganmu!"
Farel menghela napas panjang, wajahnya masih menunjukkan rasa tidak puas, "Aku tetap tidak terima! Nanti sore aku akan datang untuk menjemputmu, jam lima kamu harus sudah ada disini, jika tidak, aku sendiri yang akan menyusulnya ke lantai atas dan membawamu pulang."
Viona menarik lengan Farel dengan sedikit lebih kuat, wajahnya kini menunjukkan ekspresi tegas yang jarang terlihat darinya. "Farel, kamu tidak bisa bersikap seenaknya seperti itu meskipun ini adalah kantor Pamanmu!"
"Aku adalah karyawan di perusahaan ini, bukan hanya tunanganmu yang harus selalu dijaga dan diatur," lanjutnya dengan suara yang jelas namun tidak terlalu keras, dia menurunkan tangannya dari lengan Farel. "Aku punya tanggung jawab sendiri terhadap pekerjaanku, dan jika ada pekerjaan yang belum selesai, aku punya hak untuk menyelesaikannya tanpa harus dipaksa pulang tepat waktu!"
"Tidak ada bantahan Viona!" tegas Farel, suaranya kembali sedikit meninggi. "Aku sudah memutuskan ini. Jika kamu tidak ada di sini jam lima tepat, aku tidak akan tinggal diam!"
Selesai dengan kalimat itu, Farel menatap Arsen sebentar kemudian melangkah pergi dengan langkah cepat. Viona menatap Farel yang menjauh, tangannya masih menggenggam erat tali tasnya.
Arsen mendekat dan menepuk pundaknya dengan lembut. "Jangan terlalu dipikirkan. Dia hanya khawatir padamu."
Viona terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Matanya masih terpaku pada arah di mana Farel menghilang, sebelum akhirnya dia menoleh ke arah Arsen.
"Masih mau berdiri disini seperti ini atau mau aku menggandeng tanganmu dan membawamu masuk," ucap Arsen dengan nada menggoda, mencoba mengalihkan perhatian Viona ke hal lain.
Viona sedikit terkejut, wajahnya mulai gugup, "Aku akan masuk sekarang!" jawabnya cepat.
Arsen tersenyum lebar melihat reaksi Viona yang tiba-tiba bergerak dengan cepat, namun sepersekian detik tiba-tiba senyuman itu menghilang dan digantikan dengan raut cemas. Dia menoleh lagi kesamping dan melihat mobil Farel yang sudah tidak ada disana.
"Aku khawatir anak itu akan merencanakan sesuatu yang buruk,"
-
-
-
Bersambung...