Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Observasi Kerusakan Bangunan
Sambil memperhatikan anak-anak makan dengan lahap, mata Bayu perlahan beralih menatap langit-langit ruang tengah yang tinggi. Ia melihat noda cokelat besar bekas rembesan air hujan yang sudah mengering dan membentuk pola tidak beraturan di atas sana.
Noda-noda itu nampak sangat kontras dengan cat putih plafon yang sudah kusam dan mulai mengelupas di beberapa sisi. Bayu menyadari bahwa atap panti asuhan ini sudah tidak lagi mampu menahan gempuran air hujan yang belakangan ini sering mengguyur desa dengan intensitas tinggi.
"Langit-langitnya sudah parah begini, apa nggak ada yang benerin?" gumam Bayu dalam hati sembari mengerutkan kening.
Pandangannya kemudian turun menyusuri dinding, hingga ia menemukan sebuah retakan dinding yang cukup lebar di sudut ruangan.
Retakan itu memanjang secara vertikal, mulai dari dekat langit-langit hingga menghilang di balik ubin lantai yang juga nampak retak. Bayu merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan struktur bangunan ini, jauh lebih berbahaya daripada sekadar masalah estetika ruangan yang memudar.
Rasa penasaran dan naluri teknisnya sebagai orang yang pernah bergelut di dunia properti mulai bangkit dengan kuat. Ia berdiri perlahan dari pojok ruangan yang gelap tersebut, mencoba untuk tidak menarik perhatian sembilan belas anak yang sedang menyantap makanan berbuka mereka.
Ia berjalan pelan agar tidak mengganggu ketenangan anak-anak yang masih asyik menikmati ayam goreng pemberian Fahmi malam itu. Bayu mendekati retakan di sudut ruangan tersebut dan membungkuk sedikit untuk memeriksa kedalamannya secara lebih mendalam dengan mata telanjang.
Jari-jarinya yang kasar mulai meraba permukaan semen yang terasa sangat dingin dan tidak rata saat bersentuhan dengan kulitnya. Saat ujung jarinya memberikan sedikit tekanan, beberapa butiran semen dan pasir rontok begitu saja ke atas lantai keramik yang berdebu.
"Ini bukan retak rambut biasa, semennya udah keropos dan nggak ngiket lagi ke bata," bisik Bayu dengan dahi yang berkerut cemas. Ia menempelkan telapak tangannya ke dinding, mencoba merasakan apakah ada kemiringan atau getaran yang tidak wajar dari struktur bangunan tersebut.
Bayu menyadari dengan ngeri bahwa struktur bangunan ini mulai bergeser secara perlahan karena pondasi yang kemungkinan besar sudah tidak stabil. Penyusutan tanah atau rembesan air yang terus-menerus di bawah lantai mungkin telah melemahkan tumpuan utama panti asuhan yang sudah tua ini.
Ia membayangkan jika gempa kecil atau hujan badai besar terjadi, bangunan ini bisa saja membahayakan nyawa sembilan belas anak di dalamnya. "Gue selama ini sibuk mikirin gedung pencakar langit di Jakarta, sementara di sini … anak-anak hidup di bawah atap yang kayak gini," batin Bayu penuh penyesalan.
Ia terus mengamati retakan itu sembari menghitung perkiraan biaya untuk perkuatan struktur yang sudah sangat mendesak. Bayu menggelengkan kepala saat menyadari biaya perbaikan ini hanya akan memperpanjang daftar beban finansial yang menghimpit Nayla dan juga Fahmi.
"Butuh suntik semen, penguatan kolom, dan mungkin renovasi atap total," hitungnya dalam hati dengan perasaan yang semakin berat.
Fahmi yang sedari tadi bersandar di tiang rupanya mengamati gerak-gerik Bayu yang nampak sangat serius memeriksa dinding panti yang mulai rapuh. Ia berdiri dan melangkah pelan menghampiri sahabatnya itu agar tidak menimbulkan gaduh di tengah keriuhan anak-anak yang sedang makan.
"Lo baru sadar ya, Bay? Dinding ini memang makin parah sejak musim hujan bulan lalu," ucap Fahmi dengan nada bicara yang terdengar pasrah.
Fahmi berdiri di samping Bayu, ikut menatap retakan yang memanjang itu dengan sorot mata yang dipenuhi oleh sejuta kekhawatiran yang terpendam. Ia menghela napas panjang, sebuah napas yang membawa beban berat dari seorang pria yang sudah mencoba segala cara untuk bertahan hidup.
Bayu menoleh ke arah Fahmi dengan tatapan bertanya, seolah menuntut penjelasan mengapa kerusakan separah ini dibiarkan begitu saja tanpa ada perbaikan. "Kenapa nggak langsung ditambal, Mi? Ini kalau didiamkan bisa makin lebar dan narik struktur bagian lainnya, bahaya buat anak-anak."
Fahmi hanya tersenyum pahit sembari menepuk-nepuk dinding yang keropos itu dengan telapak tangannya yang nampak sangat lelah. "Bukan nggak mau, Bay. Uangnya selalu habis buat urusan yang lebih darurat, kayak perut anak-anak dan biaya sekolah mereka yang nggak bisa ditunda."
Bayu terdiam membisu, ia merasakan dadanya kembali sesak saat menyadari prioritas hidup di panti asuhan ini benar-benar berada di garis batas. Setiap rupiah yang masuk harus diputar sedemikian rupa hanya untuk menyambung nyawa, membuat urusan perbaikan bangunan menjadi kemewahan yang tak terjangkau.
"Gue nggak nyangka kondisinya seburuk ini, Mi. Kalian benar-benar berjuang sendirian," ujar Bayu dengan nada suara yang bergetar.
Fahmi kemudian menarik lengan Bayu perlahan, mengajak sahabatnya itu bergeser sedikit ke arah sisi lain ruangan yang letaknya berdekatan dengan bingkai jendela.
Dia menunjukkan titik kebocoran lain di area dekat jendela yang nampak ditutupi dengan selotip hitam berukuran cukup lebar dan tebal. Selotip itu nampak sudah mengeras dan mulai mengelupas di ujungnya, menunjukkan bahwa itu hanyalah solusi sementara yang sudah terlalu lama dipaksakan.
"Kalau hujan gede, air masuk lewat sini sampai banjir ke tengah ruangan, Bay. Kadang anak-anak harus tidur di musala karena kamarnya basah," keluh Fahmi.
Bayu meraba pinggiran jendela yang kayunya sudah mulai lapuk dan terasa lembap meskipun cuaca malam ini sedang tidak turun hujan sama sekali. Ia menyadari bahwa panti asuhan ini bukan hanya sedang terancam disita oleh hukum, tapi juga sedang dihancurkan secara perlahan oleh waktu dan alam.
"Gue bener-bener buta, Mi. Gue bener-bener minta maaf karena dulu cuma pamer kesuksesan tanpa peduli sama keadaan di sini kita ini," ujar Bayu rendah.
Fahmi menggelengkan kepala, ia menatap Bayu dengan tatapan persahabatan yang tetap tulus meski mereka berdua sedang dikepung oleh masalah yang besar. "Santai aja, Bay. Yang penting sekarang lo sudah liat sendiri, dan lo masih mau di sini bareng kita buat cari jalan keluar."
Fahmi menepuk pundak Bayu, mencoba memberikan kekuatan pada sahabatnya yang nampak sangat terpukul oleh kenyataan di depan matanya. "Kita nggak punya banyak waktu, tapi selama kita bareng-bareng, gue yakin pasti ada celah buat memperbaiki ini semua, walau pelan-pelan."
Bayu menatap sembilan belas pasang mata yang masih ceria di hadapannya, mereka tidak tahu bahwa dinding yang melindungi mereka bisa runtuh kapan saja. Ia mengepalkan tangannya, sebuah tekad baru tumbuh di hatinya untuk menyelamatkan panti ini bukan hanya dari sitaan, tapi juga dari kehancuran fisik.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰