NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: RESTORASI DI ATAS RERUNTUHAN

Pagi itu, Jakarta tampak seperti kota yang baru saja diguyur hujan badai yang membersihkan segala polusi. Namun, bagi Arlan Arkananta, polusi yang sesungguhnya baru saja terangkat dari sistem hukum dan medis Indonesia. Berita penangkapan Menteri Wirastho dan belasan pejabat tinggi lainnya menjadi tajuk utama di setiap layar digital di sudut kota. Arkananta Group secara resmi dinyatakan pailit, namun aset-aset produktifnya—rumah sakit, laboratorium, dan pabrik obat—telah dipindahkan di bawah naungan Salsabila Medical Foundation (SMF).

Arlan berdiri di podium aula utama kementerian kesehatan yang kini dijabat oleh seorang pelaksana tugas yang bersih. Di sampingnya, Arumi tampak anggun dengan kemeja putih dan pin dokter yang berkilat.

"Hari ini, kami tidak hanya membawa data korupsi," Arlan memulai pidatonya di depan ratusan wartawan. "Kami membawa harapan. Yayasan Salsabila akan melepaskan seluruh hak paten atas obat-obatan esensial yang selama ini dimonopoli oleh Arkananta. Kami akan mengubah sistem kesehatan dari mesin pencetak uang menjadi pengabdian tanpa batas."

Arumi melangkah maju, suaranya jernih menyapa pemirsa. "Kesehatan bukan hak istimewa bagi mereka yang memiliki uang. Mulai hari ini, setiap puskesmas di daerah terpencil akan mendapatkan akses langsung ke bank data riset kami secara cuma-cuma."

Tepuk tangan bergemuruh, namun di pojok ruangan, Arlan melihat sesosok pria dengan jas abu-abu tua yang menatapnya dengan pandangan dingin. Pria itu adalah Aditya Wicaksana, pengacara pribadi Victoria yang masih bebas karena secara teknis tidak terlibat dalam skandal farmasi.

Setelah konferensi pers, Aditya mencegat Arlan di lorong belakang. "Tuan Arlan, Anda mungkin merasa sudah menang. Tapi Anda lupa satu hal. Nyonya Victoria masih memiliki simpanan rahasia di bank Swiss yang tidak tercatat dalam kotak hitam ayah Anda. Dan dia tidak akan membiarkan Anda hidup tenang di atas reruntuhan kerajaannya."

Arlan hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung otoritas mutlak. "Katakan pada Ibuku, Aditya. Jika dia mencoba menyentuh keluargaku lagi, aku tidak akan hanya mengirimnya ke penjara. Aku akan menghapus namanya dari sejarah industri ini seolah-olah dia tidak pernah ada. Sekarang, pergilah sebelum aku memerintahkan Dante untuk 'mengantarmu' keluar."

Aditya memucat mendengar nama Dante dan segera melangkah pergi. Arlan menarik napas panjang, ia tahu bahwa memotong kepala ular tidak berarti bisanya langsung hilang.

Di lantai perawatan intensif Yayasan Salsabila, Dante sedang duduk di kursi tunggu dengan tangan yang masih dibalut gips. Di depannya, Suster Sarah sedang merapikan perban di lengan Dante.

"Kau harus berhenti bergerak terlalu banyak, Tuan Dante," tegur Sarah dengan nada lembut namun tegas. "Luka tembak ini hampir mengenai syaraf utamamu."

Dante, pria yang biasanya hanya bicara dalam kalimat perintah dan ancaman, tampak kikuk.

"Aku sudah biasa dengan luka yang lebih parah dari ini, Suster."

"Mungkin di masa lalu," Sarah menatap mata Dante dengan tulus. "Tapi sekarang kau bukan lagi tentara bayaran. Kau adalah bagian dari keluarga Arlan. Kau punya orang-orang yang peduli padamu sekarang. Jadi, tolong hargai nyawamu sendiri."

Dante terdiam. Kata-kata "peduli" dan "keluarga" adalah konsep yang asing baginya selama tiga puluh tahun terakhir. Ia menunduk, melihat Sarah yang dengan telaten membersihkan lukanya.

Untuk pertama kalinya, sang penjaga berdarah dingin itu merasakan degup jantung yang berbeda—bukan karena adrenalin pertempuran, melainkan karena kehangatan manusiawi.

Malam harinya, di rumah baru mereka di kawasan Sentul yang asri, Arumi duduk di teras sambil memangku Leon. Udara perbukitan yang segar membuat Leon tertidur dengan sangat pulas. Arlan datang membawa dua gelas cokelat panas dan duduk di samping istrinya.

"Kau tampak melamun, Dokter Arumi," goda Arlan.

"Aku sedang berpikir tentang masa depan, Arlan. Dengan yayasan yang begitu besar, aku merasa tanggung jawabku sebagai praktisi medis mulai tergerus oleh administrasi. Aku ingin kembali ke ruang operasi. Aku ingin menyelesaikan spesialis bedah sarafku."

Arlan menggenggam tangan Arumi. "Lakukanlah. Aku akan mengurus manajemen yayasannya bersama Raka. Aku tidak ingin kau mengorbankan mimpimu hanya karena skandal keluargaku. Kau adalah alasan yayasan ini ada, tapi kau juga harus menjadi dirimu sendiri."

"Tapi bagaimana dengan keamanan? Jika aku kembali ke rumah sakit umum untuk ko-as, aku akan menjadi target yang sangat mudah."

Arlan mengecup punggung tangan Arumi. "Dante sudah menyiapkan tim keamanan bayangan. Mereka akan menjagamu tanpa kau sadari. Lagipula, musuh-musuh kita sekarang sedang sibuk menyelamatkan leher mereka sendiri dari KPK."

Minggu berikutnya, Arlan dan Arumi memulai program pertama mereka: Klinik Apung Salsabila. Mereka tidak ingin hanya fokus di Jakarta.

Mereka membawa tim medis ke desa-desa nelayan di pesisir utara yang selama ini hanya bisa membeli obat-obatan palsu dari pasar gelap.

Saat Arumi mengobati seorang anak nelayan yang menderita infeksi paru-paru kronis, ia menyadari sesuatu. "Arlan, lihat anak ini.

Gejalanya persis seperti yang ada di jurnal Ibuku sepuluh tahun lalu. Ini bukan infeksi biasa, ini dampak dari limbah pabrik kimia di hulu sungai."

Arlan segera melakukan penyelidikan kilat melalui Raka. Terungkap bahwa pabrik tersebut adalah anak perusahaan Arkananta yang masih beroperasi secara ilegal meskipun sudah ada perintah penutupan.

"Mereka tidak berhenti, Arumi," desis Arlan.

"Bahkan saat kerajaannya runtuh, mereka masih meracuni rakyat."

Arlan tidak memanggil polisi kali ini. Ia menggunakan kekuatannya sebagai pemilik lahan (yang baru ia beli melalui perusahaan cangkang) untuk menutup akses jalan menuju pabrik tersebut secara permanen. Ia juga menyewa helikopter untuk menyemprotkan cairan penetral limbah di sepanjang sungai.

Setelah seharian bekerja di lapangan, mereka beristirahat di sebuah tenda besar di tepi pantai. Leon tertidur di dalam boks portabel yang dijaga oleh pengawal. Arlan dan Arumi duduk di atas pasir, menatap deburan ombak yang berkilau terpantul cahaya bulan.

"Arumi," Arlan memulai, suaranya terdengar sangat reflektif. "Dulu, saat aku pertama kali bertemu denganmu dan memaksamu menandatangani kontrak seratus juta itu... aku adalah pria yang sangat hancur. Aku pikir uang bisa memperbaiki segalanya, termasuk rasa bersalahku karena gagal melindungi putraku dari ibuku sendiri."

Arumi menoleh, menatap profil samping suaminya yang tegas namun kini tampak lebih lembut. "Aku tahu. Tapi kau juga memberiku jalan keluar saat aku hampir menyerah pada hidup. Kontrak itu mungkin terlihat kejam bagi orang lain, tapi bagiku, itu adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih baik."

Arlan memutar tubuhnya menghadap Arumi. "Aku ingin kita meresmikan pernikahan kita sekali lagi. Bukan di hotel mewah, bukan untuk media. Tapi di sini, disaksikan oleh laut dan orang-orang yang kita bantu. Aku ingin dunia tahu bahwa kau bukan lagi 'Ibu Susu' Leon, tapi jantung dari seluruh hidupku."

Arumi tersenyum, air mata haru mengalir di pipinya. "Aku sudah merasa menjadi istrimu sejak malam kau melindungiku di gudang tua itu, Arlan."

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!