Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Laura terlonjak dari tempat tidur. Gerakan itu terasa aneh, kaku, seolah ia baru saja melarikan diri dari lumpur hisap. Kalung kunci itu dingin, menempel di kulitnya yang masih terasa hangat karena sentuhan Lexi.
Ia harus bertindak cepat.
Alex sudah membuka pintu kamar, koper kecilnya diletakkan di lantai. Wajah Alex tampak lelah, matanya redup, tetapi senyumnya—senyum polos dan penuh cinta itu—langsung menusuk hati Laura.
"Sayang, sudah bangun?" sapa Alex, suaranya pelan agar tidak mengganggu. Ia berjalan mendekat, membungkuk untuk mencium kening Laura.
Laura dengan refleks memutar badannya sedikit, membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi lehernya. Ia memaksakan senyum yang terasa seperti topeng besi yang berat.
"Baru saja," jawab Laura, suaranya terlalu tinggi, terlalu ceria. "Kenapa baru pulang, Kak? Aku sudah menunggu."
"Maaf, Sayang. Ada masalah mendadak di proyek, dan aku harus menginap di kantor. Aku sudah menghubungimu, tapi kau sepertinya sudah tertidur puluan," Alex mengusap pipi Laura dengan sayang.
Alex tidak menyadari aroma Lexi. Laura bersyukur ia sempat mandi singkat sebelum fajar menyingsing, tetapi aroma cologne Lexi yang mahal dan khas itu seolah meresap ke dalam kain seprai, bersembunyi di udara seperti ancaman yang tak terlihat.
"Tentu saja aku tertidur," kata Laura, menyentuh laptop yang diletakkan Lexi di sisi ranjangnya, sebuah pengingat yang mengerikan. "Aku bahkan mencoba mencari pekerjaan paruh waktu di laptopmu, Kak. Aku bosan sendirian."
Alex tertawa lembut. "Baiklah, baiklah. Kau terlalu mandiri. Tapi jangan khawatir, aku sudah pulang sekarang. Aku janji, akhir pekan ini kita akan liburan. Aku akan ajak kau ke Bali, ya?"
Laura mengangguk, tetapi hatinya mencelos. Liburan? Alex sedang merencanakan masa depan, sementara ia baru saja mengkhianati pria itu beberapa jam yang lalu.
Saat Alex bergerak ke lemari pakaian, Laura segera melompat ke kamar mandi, berpura-pura ingin buang air. Di dalam, ia menatap dirinya di cermin. Wajahnya tampak pucat, matanya memancarkan campuran ketakutan dan gairah yang memalukan.
Ia menarik kalung kunci itu dari lehernya. Ia ingin membuangnya, menghancurkannya, tetapi ia tahu ia tidak bisa. Itu adalah belenggu, dan juga kunci menuju kemerdekaan Alex—sebuah paradoks yang membuat jiwanya tercabik.
Laura memasukkan kalung itu ke dalam kotak perhiasan di laci, menyembunyikannya di bawah setumpuk syal sutra.
Ketika ia kembali ke kamar, Alex sudah berpakaian rapi, siap untuk kembali bekerja setelah sarapan.
"Kau terlihat sangat cantik pagi ini, Laura," puji Alex, menatap istrinya dengan bangga. "Aku akan mandi sebentar. Kau siapkan sarapan, ya?"
"Tentu, Kak," jawab Laura.
Laura berjalan menuju dapur. Saat ia menuruni tangga, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok yang ia hindari. Lexi, sudah rapi dengan setelan bisnisnya, sedang berdiri di ruang keluarga, memegang cangkir kopi.
Lexi menyadari kehadiran Laura. Ia tidak tersenyum. Ia hanya menatap Laura, tatapan yang tenang, penuh pengetahuan, dan tanpa belas kasihan.
Laura merasakan lututnya lemas. Ia berusaha keras untuk melewati ruang keluarga tanpa membuat kontak mata.
Tepat saat Laura hendak masuk ke dapur, Lexi bersuara, suaranya santai dan profesional, seolah mengomentari cuaca.
"Selamat pagi, Laura," sapanya. "Ah, ngomong-ngomong, tadi pagi aku lihat ada berkas proposal kerja yang kau tinggalkan di meja makan. Jangan khawatir, sudah kubuang ke tempat sampah. Kau kan sudah kubilang, kau tidak perlu mencari pekerjaan. Fokus saja pada urusan rumah. Itu lebih baik untuk semuanya."
Lexi menyesap kopinya, dan di balik cangkir itu, pandangannya mengunci Laura—sebuah ancaman terselubung dan sebuah pengingat akan janji dosa mereka semalam.
Laura hanya mengangguk, tenggorokannya tercekat. Lexi bahkan tidak perlu mengancam Alex secara langsung. Hanya dengan satu kalimat, dia menunjukkan bahwa dia masih memegang kendali penuh atas hidup Laura, bahkan di bawah atap yang seharusnya menjadi miliknya dan Alex.
Lexi menyeringai puas, seorang sipir penjara yang baru saja menegaskan kembali batasan sel tawanan.
Pertunjukan sudah berakhir, tetapi tawanan Laura baru saja dimulai.
Laura berhasil menyiapkan sarapan—roti panggang, telur orak-arik, dan buah-buahan—semuanya terlihat sempurna. Namun, di bawah permukaan, ia merasa seperti bom waktu.
Ia duduk di antara dua pria itu. Di hadapannya, Lexi membaca laporan di tabletnya, tenang, karismatik, seolah malam tidak pernah terjadi.
Di sampingnya, Alex makan dengan gembira, menceritakan detail pekerjaannya.
“Pokoknya, proyek ini besar sekali, Sayang,” jelas Alex, matanya bersinar. “Aku harus berterima kasih pada Kak Lexi. Tanpa dia, aku tidak akan pernah mendapat posisi ini. Dia yang bicara langsung dengan dewan direksi.”
Jantung Laura berdesir dingin. Ia menoleh ke Lexi, yang kini mendongak, menatapnya dengan senyum tipis. Senyum itu—bukan senyum seorang kakak ipar, melainkan senyum seorang pengendali yang puas.
“Tentu saja, Alex,” Lexi menyahut, suaranya halus. “Keluarga harus saling membantu. Tapi, Alex, kau tahu, posisi ini datang dengan tanggung jawab besar. Kau harus benar-benar fokus. Tidak boleh ada gangguan di rumah, tidak ada masalah personal yang bisa memengaruhi keputusanmu.”
Alex mengangguk serius. “Aku tahu, Kak. Aku akan fokus 100%. Dan Laura akan mendukungku sepenuhnya, kan, Sayang?”
Laura tercekat. Ia meraih gelas air dan menenggaknya. Di bawah meja, ia merasakan kakinya kaku.
“Tentu saja, Kak,” jawab Laura, berusaha mempertahankan nada normal. “Aku akan memastikan semuanya berjalan lancar di sini.”
“Bagus,” kata Lexi, matanya kembali menatap Laura, tetapi kali ini hanya untuk sesaat, cukup lama untuk membuat Laura merasa telanjang di tengah ruangan yang ramai. “Kau lihat, Alex. Istrimu ini adalah penyemangatmu. Jaga dia baik-baik.”
Lexi berdiri, mengambil cangkir kopinya. “Aku harus pergi. Ada rapat pagi di luar kota. Alex, kau susul aku nanti siang. Ada beberapa hal yang harus kau persiapkan untuk presentasi dewan direksi.”
“Siap, Kak!” Alex tampak bersemangat, seperti seorang prajurit yang menerima perintah dari komandannya.
Lexi berjalan menuju pintu, dan saat ia melewati kursi Laura, ia berhenti. Gerakannya sangat cepat, hanya sepersekian detik. Tangan besarnya menyentuh bahu Laura, tekanan yang lembut namun tegas.
“Sampai jumpa lagi, Sayang,” bisiknya pelan, hanya untuk didengar Laura.
Lalu, ia pergi.
Laura merasakan sensasi sentuhan itu menjalar di punggungnya, meninggalkan bekas panas yang menyesakkan. Kata ‘Sayang’ itu terdengar seperti kunci yang berputar, mengunci takdirnya.
Jantungnya berdetak kencang,seakan mau copot dari tempatnya.
Setelah Alex pergi, Laura merasa lega dan sekaligus takut. Kehadiran Lexi telah mengubah dinamika rumah tangga mereka. Laura menghabiskan sisa pagi itu dengan gelisah, berkali-kali memeriksa laci tempat kalung kunci itu disembunyikan.
Dia mulai menyadari bahwa Lexi tidak hanya mengancam Alex, tetapi juga menawarkan sesuatu yang Alex tidak bisa berikan: gairah yang menghanguskan dan perhatian yang obsesif. Kebutuhan yang Laura rasakan semalam terasa seperti virus, menggerogoti setiap niat baiknya.
Saat Laura sedang berada di dapur, teleponnya berdering. Itu Lexi.
Laura ragu sesaat, lalu mengangkatnya.
“Halo, Kak?”
Suara Lexi terdengar profesional, namun penuh otoritas. “Aku baru saja sampai di lokasi rapat. Aku menelepon hanya untuk memastikan kau tahu. Aku tahu kau tidak bisa tidur nyenyak setelah semalam.”
Pipi Laura memanas. “Apa yang kau inginkan, Kak?”
“Aku ingin kau mengingat di mana posisimu,” balas Lexi, nadanya berubah lebih tajam. “Kau tahu, Laura, Alex baru saja mengirimiku pesan. Dia bilang dia akan membelikanmu hadiah mahal untuk liburan kalian. Dia begitu polos. Begitu mudah dimanipulasi.”
Lexi tertawa rendah, tawa yang menusuk tulang. “Jika kamu memberitahunya, atau jika kamu mencoba melarikan diri lagi, bukan hanya pekerjaannya yang akan hilang. Dia akan hancur secara emosional. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, karena aku masih membutuhkannya. Dan… aku masih membutuhkanmu.”
“Aku membencimu,” bisik Laura, air matanya menetes.
“Bohong,” potong Lexi, tanpa sedikit pun keraguan. “Kau mungkin membenci kendaliku, tapi kau menyukai apa yang aku berikan padamu. Kau mencari pembebasan, Laura, dan aku adalah satu-satunya yang bisa memberikannya. Malam ini, Alex akan pulang terlambat lagi.”
Laura mendengarkan. Ia tahu, Lexi sedang menciptakan ruang, ruang kedap suara yang mereka ciptakan semalam.
“Pikirkan baik-baik, tawanan cantikku,” tutup Lexi. “Jika kau merindukanku, kunci itu ada di laci. Ingat baik-baik kuncinya. Dan ingat baik-baik janji kita.”
Panggilan terputus.
Laura berdiri mematung di dapur yang sepi. Kuncinya. Ia tidak tahu apakah itu adalah kunci yang dimaksud Lexi—kunci belenggu di lehernya, atau kunci emosi yang terkunci di dalam dirinya.
Sore itu, Laura menatap dirinya di cermin di kamar tidur. Ia membuka laci, mengambil kalung kunci perak itu. Dinginnya logam itu menyentuh kulitnya, terasa menenangkan.
Ia tidak bisa lari. Ia terperangkap. Lexi tidak hanya memegang Alex di bawah kendalinya, tetapi juga memegang gairah terlarang yang kini menjadi candu bagi Laura.
Ketika malam tiba, Laura tidak lagi menunggu Alex. Ia menunggu sipir penjara nya.
Bersambung...