"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Satu Atap di Bawah Langit Shanghai
[Waktu: Senin, 4 Mei, Pukul 20.00 PM]
[Lokasi: Restoran Tepi Sungai Huangpu, The Bund, Shanghai]
Malam ini, Shanghai tampak jauh lebih cantik dari biasanya. Lampu-lampu kristal dari gedung-gedung bersejarah di kawasan The Bund memantul di permukaan air sungai, menciptakan suasana yang magis. Di sebuah meja privat di balkon restoran paling eksklusif, Zhuo Jingshen duduk berhadapan dengan Lin Xia.
Tidak ada lagi beban berat di pundak Jingshen. Jas kaku yang biasa ia pakai telah diganti dengan kemeja navy berkualitas tinggi yang lengannya disingsingkan hingga sikut. Ia menatap Lin Xia dengan pandangan yang begitu lembut, seolah-olah dunia hanya berisi mereka berdua.
"Kau tahu, Xia? Ini pertama kalinya aku merasa benar-benar bisa bernapas tanpa rasa takut akan hari esok," ucap Jingshen sambil memutar gelas wine di tangannya.
Lin Xia tersenyum manis. Ia mengenakan gaun putih sederhana yang membuatnya tampak sangat anggun di bawah cahaya lilin. "Aku juga. Rasanya aneh tidak harus memikirkan plot rahasia atau kunci dekripsi setiap kali aku bangun tidur."
Makan malam itu berlangsung dengan penuh tawa. Mereka membicarakan hal-hal kecil, mulai dari hobi Lin Xia yang ingin belajar memasak makanan Shanghai, hingga rencana Jingshen untuk membangun taman kecil di kantor baru mereka. Tidak ada lagi pembicaraan tentang Gu Corp, tidak ada lagi bayang-bayang tiran. Hanya ada Jingshen dan Xia.
[Waktu: Senin, 4 Mei, Pukul 22.00 PM]
[Lokasi: Di dalam Mobil Perjalanan Menuju Apartemen, Shanghai]
Setelah makan malam, Jingshen memutuskan untuk menyetir sendiri mobilnya. Ia ingin menikmati momen berdua tanpa gangguan asisten atau sopir. Mobil melaju perlahan menembus jalanan Shanghai yang mulai lengang. Musik jazz lembut mengalun dari speaker mobil, menambah suasana romantis di dalam kabin yang kedap suara itu.
Lin Xia menyandarkan kepalanya di bahu Jingshen saat mobil berhenti di lampu merah. Jingshen meraih tangan kanan Lin Xia, menjalin jemari mereka, dan membawanya ke bibirnya. Ia mengecup punggung tangan Lin Xia dengan sangat lembut dan lama.
"Tuan Zhuo," panggil Lin Xia pelan.
"Hmm?" Jingshen menjawab tanpa melepaskan tangan itu.
"Setelah mengantarku... kau langsung pulang ke hotelmu?" tanya Lin Xia dengan nada yang sedikit berat, seolah tidak rela momen ini berakhir.
Jingshen melirik Lin Xia sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan saat lampu berubah hijau. "Hmm, ya, sepertinya begitu. Aku harus meninjau beberapa berkas terakhir untuk peluncuran Zhuo-Sheng besok pagi."
Lin Xia terdiam sejenak. Ia menatap profil samping wajah Jingshen yang tampak sempurna dalam temaram lampu jalan. Pikiran tentang Jingshen yang tidur sendirian di kamar hotel yang dingin membuatnya merasa tidak nyaman.
"Kenapa? Kau tidak mau berpisah denganku, ya?" goda Jingshen sambil kembali mengecup jemari Lin Xia, menyadari kegelisahan wanita di sampingnya.
Lin Xia tidak mengelak. Ia justru mengangguk jujur. "Iya. Rasanya setelah semua yang kita lewati, kembali ke ruangan kosong sendirian itu... menyebalkan."
Jingshen terkekeh rendah. Suara tawanya yang bariton terasa sangat menenangkan. "Aku juga merasakannya, Xia. Tapi aku tidak mau terlihat seperti pria yang terlalu menempel padamu."
Sebuah ide tiba-tiba melintas di otak Lin Xia. Ia menggigit bibirnya pelan, menimbang-nimbang apakah permintaannya ini terlalu berani. Namun, ia teringat bagaimana Jingshen selalu melindunginya, dan kini ia ingin memberikan kenyamanan yang sama.
"Jingshen," panggil Lin Xia lagi. Kali ini suaranya lebih mantap.
"Ya, Sayang?"
"Bagaimana kalau... kau tidur di apartemenku saja malam ini? Kita satu tempat tinggal... maksudku, kau tidak perlu repot kembali ke hotel. Ada kamar tamu yang cukup nyaman, atau... ya, kita bisa mengobrol lebih lama sampai besok pagi," ucap Lin Xia dengan pipi yang mulai merona merah.
Mobil tiba-tiba melambat. Jingshen menepikan mobilnya di bahu jalan yang teduh. Ia mematikan mesin dan melepaskan sabuk pengamannya, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Lin Xia.
Matanya menatap dalam ke mata Lin Xia, mencari keseriusan di sana. "Kau sadar apa yang kau katakan, Lin Xia? Mengajak seorang pria menginap setelah semua ketegangan ini selesai... itu tawaran yang sangat berbahaya untuk jantungku."
Lin Xia tertawa kecil, rasa canggungnya sedikit mencair. "Aku serius. Aku hanya ingin bangun besok pagi dan melihatmu adalah orang pertama yang kutemui. Bukan melalui layar ponsel, tapi nyata di depanku. Aku ingin kita membangun 'rumah' kita mulai malam ini."
Jingshen terpaku. Kata 'rumah' yang diucapkan Lin Xia meruntuhkan sisa-sisa pertahanannya. Ia menarik Lin Xia ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat. Ia menghirup aroma rambut Lin Xia yang menenangkan.
"Baiklah. Jika itu maumu, aku tidak akan pernah melepaskan kesempatan ini," bisik Jingshen. Ia melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Lin Xia dengan kedua tangannya.
Ia mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga hidung mereka bersentuhan. "Tapi jangan menyesal jika besok pagi aku tidak mau beranjak dari tempat tidurmu karena terlalu betah."
Jingshen mendaratkan ciuman manis di bibir Lin Xia. Bukan ciuman yang terburu-buru seperti saat mereka di taman Nanshan, melainkan ciuman yang lembut, penuh janji dan rasa syukur.
[Waktu: Senin, 4 Mei, Pukul 23.00 PM]
[Lokasi: Apartemen Lin Xia, Distrik Jing'an, Shanghai]
Mereka akhirnya sampai di apartemen Lin Xia. Ruangan itu terasa jauh lebih hangat saat mereka masuk berdua. Jingshen meletakkan kunci mobilnya di meja, merasa aneh namun bahagia berada di ruang pribadi Lin Xia.
Lin Xia segera menuju dapur. "Aku akan buatkan teh chamomile agar kau bisa tidur nyenyak."
Jingshen mengikuti dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Lin Xia saat wanita itu sedang menunggu air mendidih. Ia menyandarkan dagunya di bahu Lin Xia.
"Aku tidak butuh teh, Xia. Aku hanya butuh ini," gumam Jingshen pelan.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di sofa ruang tamu, hanya dengan lampu meja yang redup. Lin Xia menceritakan tentang draf naskah permainannya yang kini benar-benar menjadi kenyataan, sementara Jingshen mendengarkan dengan penuh perhatian sambil sesekali mengusap rambutnya.
Malam itu, di tengah kemegahan Shanghai, dua jiwa yang sempat hancur oleh konspirasi keluarga akhirnya menemukan tempat berlabuh yang sesungguhnya. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi jarak. Hanya ada satu atap, satu rasa, dan satu masa depan yang mulai mereka rajut bersama dalam keheningan malam yang indah.
"Selamat tidur, Jingshen," bisik Lin Xia saat mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat.
"Selamat tidur, Nyonya Zhuo di masa depanku," jawab Jingshen sambil memberikan kecupan terakhir di dahi Lin Xia sebelum mereka terlelap dalam kedamaian.