Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.
Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.
Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".
"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"
Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEADILAN DI TANAH SERIBU MENARA
Pagi di Kairo terasa lebih mencekam dari biasanya. Langit yang biasanya cerah kini tertutup debu tipis yang dibawa angin khamsin, menciptakan suasana suram di sepanjang jalan menuju kantor birokrasi Universitas Al-Azhar. Zafran menggenggam erat sebuah map kulit hitam berisi bukti-bukti krusial, sementara Asiyah berjalan di sampingnya dengan wajah pucat namun tetap berusaha tegar. Malam tadi adalah pertama kalinya mereka berbagi ruang yang sama tanpa dinding pembatas, dan hal itu memberikan kekuatan baru bagi Zafran untuk melindungi istrinya.
Sesampainya di gedung administrasi, mereka disambut oleh tatapan dingin dari beberapa staf. Di dalam ruang sidang birokrasi, Fatimah sudah duduk manis di samping ayahnya, Dr. Syarif, yang merupakan salah satu pejabat berpengaruh di sana. Tak jauh dari mereka, seorang pria paruh baya yang merupakan utusan hukum dari Indonesia juga tampak hadir, membawa dokumen yang dikirimkan oleh Ustadzah Salamah.
"Silakan duduk, Saudara Zafran dan Saudari Asiyah. Kami di sini untuk mengklarifikasi laporan serius mengenai pemalsuan dokumen akademik yang mendasari beasiswa Saudari Asiyah," ujar Ketua Dewan dengan suara berat.
Zafran duduk dengan tenang, ia meletakkan map hitamnya di atas meja kayu besar itu. "Terima kasih, Syeikh. Kami datang ke sini bukan untuk klarifikasi, tapi untuk membongkar sebuah konspirasi yang terorganisir untuk merusak reputasi mahasiswa kami."
Fatimah tertawa kecil, suara yang terdengar sangat meremehkan di ruangan yang sunyi itu. "Konspirasi? Zafran, kau terlalu banyak membaca novel detektif. Dokumen yang masuk ke meja dewan ini berasal dari sumber resmi di Indonesia yang menyatakan bahwa sertifikat hafalan Asiyah tidak tercatat di pangkalan data nasional."
Asiyah meremas jemarinya di bawah meja. "Itu tidak mungkin. Ayah saya sendiri yang mengurus legalisasinya, dan saya sudah melalui ujian lisan di depan dewan muwakif Ar-Rahma."
"Ar-Rahma adalah milik suamimu, Asiyah. Tentu saja mereka akan memberikan sertifikat apa pun yang kau mau. Itulah yang disebut nepotisme, bukan prestasi," sela Dr. Syarif dengan nada bicara yang sangat tajam.
Zafran menatap Dr. Syarif dengan sorot mata yang tak gentar sedikit pun. "Nepotisme adalah ketika seseorang menggunakan jabatan ayahnya untuk memanipulasi data administrasi kampus demi menyingkirkan orang yang dianggap sebagai saingan cinta. Benar begitu, Fatimah?"
Wajah Fatimah mendadak berubah menjadi merah padam. "Apa maksudmu, Zafran? Jangan melempar tuduhan tanpa bukti!"
"Saya punya semua buktinya di sini," ujar Zafran sembari membuka map hitamnya. Ia mengeluarkan lembaran mutasi rekening dan tangkapan layar percakapan terenkripsi. "Syeikh, ini adalah bukti aliran dana dari seorang wanita bernama Salamah di Indonesia kepada rekening pribadi Dr. Syarif melalui perantara pihak ketiga. Dana ini dikirimkan tepat tiga hari sebelum laporan palsu tentang Asiyah muncul."
Ketua Dewan mengerutkan kening, ia mengambil dokumen tersebut dan membacanya dengan saksama. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat tegang.
"Ini adalah tuduhan yang sangat serius, Zafran. Bagaimana kau bisa mendapatkan data pribadi ini?" tanya Ketua Dewan dengan nada menyelidik.
"Saya adalah pemilik Ar-Rahma, dan saya memiliki akses ke sistem internal yang digunakan Salamah saat ia masih menjabat. Ia menggunakan akun lama pesantren untuk berkomunikasi dengan Fatimah. Ia cukup ceroboh untuk tidak menghapus jejak digitalnya karena mengira Kairo terlalu jauh dari jangkauan saya," jelas Zafran dengan suara yang menggelegar.
Asiyah menoleh ke arah Fatimah. "Kenapa Anda begitu tega melakukan ini? Hanya karena ambisi pribadi, Anda bekerja sama dengan orang yang sudah berkhianat pada pondok kami?"
Fatimah berdiri dengan emosi yang meluap. "Karena kau tidak pantas berada di sini, Asiyah! Kau hanya penghambat bagi masa depan Zafran! Tanpa kau, Zafran bisa menjadi tokoh besar di Mesir ini bersamaku, bukan hanya mengurusi gadis kecil yang terus merajuk sepertimu!"
"Cukup, Fatimah!" teriak Dr. Syarif mencoba menghentikan putrinya, namun semuanya sudah terlambat. Pengakuan Fatimah di depan dewan birokrasi sudah lebih dari cukup sebagai bukti motif di balik fitnah ini.
Ketua Dewan mengetuk palu kayunya dengan keras. "Dr. Syarif, Saudari Fatimah, kalian telah mencoreng nama baik Al-Azhar dengan membawa masalah pribadi ke dalam sistem akademik kami. Bukti yang dibawa Saudara Zafran akan segera kami verifikasi dengan pihak bank dan kedutaan Indonesia. Untuk sementara, status beasiswa Asiyah tetap aktif dan segala tuduhan terhadapnya ditangguhkan."
Asiyah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, air mata syukurnya tumpah seketika. Ia merasa beban seberat gunung baru saja diangkat dari pundaknya. Sementara itu, Fatimah tampak sangat terguncang, ia menatap Zafran dengan tatapan benci sekaligus luka yang mendalam.
"Kau menghancurkan karier ayahku demi dia, Zafran? Kau benar-benar sudah buta!" seru Fatimah sembari berlari keluar dari ruangan sidang.
Setelah sidang ditutup, Zafran dan Asiyah berjalan keluar dari gedung birokrasi. Cahaya matahari Kairo yang mulai terik terasa menghangatkan hati mereka. Zafran berhenti di bawah sebuah pilar besar dan menatap istrinya dengan lega.
"Semuanya sudah berakhir, Asiyah. Tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu kuliahmu di sini," ujar Zafran lembut.
Asiyah menatap Zafran dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang belum pernah ia berikan sebelumnya. "Terima kasih, Mas. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika Mas tidak ada di sini. Maafkan saya yang selama ini selalu bersikap dingin dan egois pada Mas."
Zafran tersenyum, ia memberanikan diri untuk menggenggam kedua tangan Asiyah. "Aku tidak pernah meminta permintaan maafmu, Asiyah. Aku hanya meminta tempat di hatimu, meski hanya sedikit. Biarkan aku membuktikan bahwa aku di sini bukan karena amanah Abahmu saja, tapi karena aku benar-benar ingin menjadi teman hidupmu."
Asiyah tidak menarik tangannya. Ia justru menggenggam balik tangan Zafran dengan erat. "Mas sudah mendapatkan tempat itu sejak di pesawat kemarin, hanya saja ego saya terlalu besar untuk mengakuinya. Sekarang saya sadar, Mas adalah tameng yang dikirim Allah untuk menjaga saya."
Mereka berdiri di sana cukup lama, mengabaikan lalu lalang mahasiswa di sekitar mereka. Namun, di tengah kebahagiaan itu, ponsel Zafran kembali bergetar. Sebuah panggilan dari Paman Mansur di Indonesia.
"Halo, Paman? Ada apa?" tanya Zafran.
"Zafran, gawat! Ustadzah Salamah menghilang dari kediamannya setelah tahu rencananya di Mesir gagal. Tapi ada laporan bahwa dia terlihat menuju bandara. Kami khawatir dia nekat menyusul kalian ke Kairo untuk melakukan hal yang lebih berbahaya secara langsung," suara Paman Mansur terdengar sangat panik di seberang sana.
Wajah Zafran kembali menegang. Ia menyadari bahwa kemenangan ini hanyalah awal dari babak baru yang lebih berbahaya. Salamah yang sudah kehilangan segalanya adalah musuh yang paling menakutkan karena ia tidak lagi memiliki beban untuk bertindak nekat.
"Asiyah, kita harus segera kembali ke apartemen dan mengemas beberapa barang penting. Kita tidak bisa tinggal di sana lagi untuk sementara waktu," ujar Zafran sembari menarik tangan Asiyah.
"Ada apa, Mas? Siapa yang menelepon?" tanya Asiyah cemas melihat perubahan raut wajah suaminya.
"Salamah. Dia sedang menuju ke sini. Dan kali ini, dia tidak akan bermain lewat dokumen atau beasiswa lagi. Dia akan datang dengan dendam yang sudah sampai ke ubun-ubun," jawab Zafran sembari mempercepat langkahnya.
Di sudut lain kota Kairo, sebuah taksi berhenti di depan sebuah hotel tua yang kumuh. Seorang wanita dengan kacamata hitam besar dan jilbab yang disamarkan turun dengan membawa tas kecil. Ia menatap ke arah gedung-gedung tinggi dengan senyum yang mengerikan.
"Jika aku tidak bisa menghancurkan prestasimu, Asiyah, maka aku akan menghancurkan ragamu. Ar-Rahma akan menangis darah karena kepergian kalian," bisik wanita itu yang tak lain adalah Salamah.
bagus