NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertaruhan

Surat kaleng di atas meja itu terasa lebih panas dari bara api. Bagas menatap foto Ibu dan Bapak yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak jauh. Sudut pandang kamera menunjukkan bahwa seorang penembak jitu benar-benar sedang mengincar nyawa orang tuanya. Bagas merasakan kemarahan yang dingin menjalar di tulang belakangnya. Nexus Group bukan lagi sekadar lawan korporat; mereka adalah monster yang tak memiliki nurani.

"Gas, ada apa?" tanya Bapak, mencoba tetap tenang meski ia bisa melihat perubahan drastis pada raut wajah anaknya.

Bagas segera melipat surat itu dan memasukkannya ke saku. Ia tidak ingin orang tuanya hidup dalam ketakutan yang mencekam. "Hanya masalah kantor, Pak. Tapi sepertinya kita harus pindah rumah malam ini juga. Ada renovasi mendadak karena kebocoran gas di pipa bawah tanah," bohong Bagas, suaranya terdengar stabil meski jantungnya berpacu.

Bagas tahu ia tidak bisa mengandalkan protokol keamanan standar pemerintah yang mungkin sudah disusupi oleh kaki tangan Nexus Group. Ia menghubungi satu-satunya orang yang memiliki jaringan "bawah tanah" paling loyal dan tidak terlacak Pak Baron.

"Pak Baron, saya butuh 'jalur tikus'. Sekarang juga. Ibu dan Bapak dalam bahaya," bisik Bagas lewat telepon yang sudah ia enkripsi.

"Datang ke pelabuhan lama dalam satu jam. Jangan pakai mobil dinas. Pakai motor tua Bapakmu," jawab Pak Baron singkat.

Bagas segera bertindak. Ia meminta Ibu hanya membawa satu tas kecil berisi pakaian dan mukena. Mereka keluar lewat pintu belakang, menyelinap di antara gang-gang sempit yang sangat dikenal Bagas sejak kecil. Dengan motor Supra tua milik Bapak, mereka bertiga membelah kegelapan Jakarta. Bagas merasa seperti kembali ke masa sekolah, namun kali ini taruhannya adalah nyawa.

Di pelabuhan lama, Pak Baron sudah menunggu dengan sebuah kapal nelayan yang tampak kusam namun memiliki mesin turbin yang sangat bertenaga di dalamnya hasil modifikasi rahasia.

"Bawa mereka ke sebuah pulau kecil di Kepulauan Seribu. Di sana ada bunker bekas gudang logistik yang tidak ada di peta GPS mana pun. Anak buahku yang paling setia akan menjaganya," instruksi Pak Baron.

Setelah memastikan Ibu dan Bapak aman di dalam kapal, Bagas memegang tangan Ibunya. "Ibu, Bapak, percaya sama Bagas. Ini demi kebaikan kita semua. Bagas akan segera menjemput setelah semuanya beres."

Ibu menangis, membelai pipi Bagas. "Hati-hati, Nak. Ingat, harta paling berharga Ibu bukan mesin itu, tapi kamu."

Kapal itu meluncur membelah ombak, menghilang di balik kabut malam. Bagas kini berdiri sendirian di dermaga yang sepi. Ia merasa sangat rapuh, namun sekaligus sangat berbahaya. Ia mengambil ponselnya dan menelepon nomor yang tertera di surat ancaman tadi.

"Saya setuju. Kita bertemu besok pagi jam 9 di atap gedung terbengkalai di pusat kota. Bawa dokumen pembatalan hak patennya. Saya akan bawa algoritma kuncinya," ujar Bagas dengan nada menyerah.

Di seberang telepon, suara pria asing itu tertawa puas. "Pilihan yang cerdas, Mr. Pratama. Nyawa orang tua memang tidak ada harganya dibandingkan besi tua."

Bagas mematikan telepon. Ia tersenyum sinis. Pria itu tidak tahu bahwa ia baru saja berbicara dengan seorang ahli logistik yang biasa mengatur jutaan skenario pengiriman. Bagas tidak berencana menyerah. Ia berencana melakukan penghancuran total.

Sisa malam itu dihabiskan Bagas di sebuah warnet tua yang masih buka. Ia meretas sistem satelit komunikasi Nexus Group menggunakan back door yang pernah ia temukan saat bekerja di Dubai. Ia menanamkan virus "Logic Bomb" ke dalam seluruh server mereka. Virus ini dirancang untuk menghapus semua data penelitian Nexus Group secara permanen tepat saat Bagas memberikan "algoritma kunci" palsu besok pagi.

Pagi tiba dengan langit yang mendung. Bagas berdiri di atap gedung dengan sebuah flashdisk di tangan. Helikopter hitam dengan logo Nexus Group mendarat. Seorang pria berpakaian necis keluar, dikawal oleh empat pengawal bersenjata lengkap.

"Berikan flashdisk-nya, dan orang tuamu akan tetap hidup," ujar pria itu.

Bagas melemparkan benda itu ke lantai beton. "Ambil. Tapi pastikan bosmu tahu satu hal: Kamu tidak bisa memadamkan matahari dengan cara mengancam cahayanya."

Pria itu segera memasukkan flashdisk tersebut ke dalam laptopnya. Ia tersenyum saat melihat ribuan baris kode bergerak di layar. Ia tidak menyadari bahwa itu adalah kode penghancur diri. Begitu ia menekan tombol 'Execute', sebuah gelombang data balik menyerang pusat data Nexus Group di seluruh dunia.

Di saat yang sama, tim khusus dari Badan Siber Negara yang sudah dikoordinasikan Bagas melalui Tiara melakukan penggerebekan serentak di seluruh kantor cabang Nexus Group di Indonesia atas tuduhan terorisme dan percobaan pembunuhan.

Pria itu menyadari ada yang salah. "Apa yang kamu lakukan?!" teriaknya sambil menodongkan pistol ke arah Bagas.

"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang teknisi Membuang sampah pada tempatnya," jawab Bagas tenang.

Tiba-tiba, suara helikopter tempur TNI terdengar mendekat. Penembak jitu Nexus Group yang mengincar Bagas di gedung seberang berhasil dilumpuhkan terlebih dahulu oleh tim elit Pak Baron. Para pengawal di depan Bagas segera menjatuhkan senjata mereka saat dikepung dari segala arah.

Bagas terduduk di lantai beton yang kasar. Ia gemetar, bukan karena takut, tapi karena kelegaan yang luar biasa. Ia segera menelepon Pak Baron. "Pulau Aman?"

"Aman, Gas. Ibu dan Bapakmu sedang makan pisang goreng sekarang," jawab Pak Baron sambil terkekeh.

Bagas menangis tersedu-sedu. Ia telah memenangkan pertaruhan paling berbahaya dalam hidupnya. Nexus Group lumpuh total secara finansial dan digital dalam waktu kurang dari satu jam. Seluruh rahasia kejahatan mereka kini terunggah secara otomatis ke internet, menjadi konsumsi publik dunia.

Bagas bangkit berdiri, menatap matahari yang mulai muncul dari balik awan. Ia tahu, bab-bab selanjutnya bukan lagi tentang perang, melainkan tentang membangun kembali. Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik reruntuhan Nexus Group, ada satu sosok yang selama ini tersembunyi sang "Arsitek" sebenarnya dari segala kekacauan ini, yang identitasnya akan membuat Bagas terkejut .

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!