Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Kondangan mantan part 2
Mereka duduk di kursi plastik yang sudah di sediakan untuk menunggu giliran menyalami pengantin. Namun sejak Ziya dan Asep datang wajah sumringah Asih nampak sedikit berubah, senyumnya tak lagi sama seperti di awal sebelum Asep dan Ziya datang, bahkan pusat perhatian tamu undangan pun bukan lagi dirinya tapi justru tamunya.
Ziya menatap tajam saat pandangan mereka tak sengaja saling bertemu, Asih pun lekas mengalihkan pandangannya dan kembali menyalami tamu yang datang padanya.
“Sekarang giliran kita Sep!” Ziya bangkit penuh aura, tentu saja semua tatapan mata hanya tertuju padanya.
“Neng, kenapa semua orang liatin kita atuh?” bisik Asep, berbeda dengan Ziya yang memang menikmati menjadi pusat perhatian Asep justru merasa risih dan tak nyaman di tatap terus oleh semua orang seperti dia ini seorang terdakwa di pengadilan.
“Mungkin karena gue cantik,” canda Ziya.
“Iya atuh, lagian Neng kenapa dandannya berlebihan, semuanya kan jadi terus liatin Neng, tuh liat laki-laki yang disana juga matanya kaya mau keluar atuh,” keluh Asep, dia melempar tatapan tak suka pada pria yang berani menatap Istrinya dengan tatapan tak sopan.
“Hayo loh, cemburu ya gue diliatin cowok lain?” goda Ziya.
“Hah, bu-bukan gitu atuh Neng,” dustanya gugup, “Saya cuma gak suka aja liat tatapan mereka sama Eneng,” kesalnya.
“Udah gak usah di liat biarin aja, karena yang gue liat hanya tatapan iri dari mereka, eh itu Istrinya Asep cantik banget, dia beruntung banget ya. Itu yang gue denger keluar dari bibir meraka,” bisik Ziya di telinga Asep.
Ziya kembali mengaitkan lengannya di lengan Asep, “Go, sayang, kita ketemu mantan kamu.”
“Hah?” Asep menoleh dengan tatapan bingung.
Dia ingin menanyakan maksud kata 'Sayang' yang keluar dari bibir Ziya, namun dia urungkan karena ini bukan waktu yang tepat.
Mereka berjalan bersama menuju kursi pelaminan. “Halo, Selamat ya, Asih sama suami. Semoga pernikahan kalian Sakin, mawadah, warahmah. Kenalin saya Ziya, Istrinya A Asep,” ucapnya memperkenalkan diri, bahkan dia sengaja menekan kata Istri dan menambah panggilan Aa yang selama ini tak pernah sekalipun keluar dari bibirnya.
”I-iya terimakasih, saya Asih temen SMA nya, Kang Asep,” sambut Asih gugup.
Ziya tiba-tiba memeluk Asih seperti mereka sudah akrab saja, “Asih, gue tahu lu bukan hanya sekedar temennya Asep. Sekarang lu udah sama-sama punya kehidupan baru jadi so, berhenti mengharapkan sesuatu yang gak seharusnya lo harapkan.” bisik Ziya, dia tersenyum setelah melepaskan rangkulannya.
Sedang Asih hanya diam seribu bahasa seakan tak mampu berkata-kata. Ziya beralih menyalami suaminya Asih. Sedang Asep hanya memberi ucapan sekedarnya saja.
“Selamat ya Kang, semoga pernikahan kalian langgeng,” ucap Ziya pun dengan Asep.
Bukan tanpa alasan Ziya mengatakan itu pada Asih, dia tahu gadis itu di paksa untuk menikahi suaminya itu tapi hatinya masih milik Asep dan itu menyebalkan menurut Ziya.
Selepas mencicipi makanan ala kadarnya Ziya dan Asep pun beranjak pulang.
“Neng, err a-apa maksud Neng manggil gitu tadi sama saya?” tanya Asep memecah keheningan.
“Manggil lu apaan? Oh yang panggilan Aa itu, gue di kasih tahu ama Siti katanya disini kalau manggil suami itu kalau gak Akang yah Aa, katanya gak sopan kalau langsung panggil nama,” terang Ziya.
“Bukan yang itu atuh, yang satu lagi,” ucap Asep, lagi-lagi dia tampak gugup.
“Yang mana, seingat gue, gue cuma manggil lu dengan sebutan Aa,” ucap Ziya sambil berpikir.
“Oh gitu, gak papa deh kalau Neng gak ingat, kayanya saya juga cuma salah denger tadi,” ujarnya sedikit kecewa.
Ziya melirik Asep dari ujung matanya, ‘Sebenernya lu suka kan sama gue Sep? Kenapa lu gak mau ngakuin sih, kalau gue yang ngaku duluan kan malu, lagian mana ada cewek yang nembak duluan,’ batin Ziya.
‘Tinggal bilang suka doang sih, apa susahnya.’
Tiba-tiba ponsel Asep berdering, dia menghentikan mobilnya di tepi jalan.
“Siapa yang nelpon?” tanya Ziya karena Asep hanya menatap layar ponselnya.
“Bapaknya Neng,” sahutnya.
“Papah?” Asep mengangguk pelan.
“Ngapain Papah nelpon? Gak usah di angkat lah.” Ujarnya.
“Eh jangan gitu atuh Neng, siapa tahu ada penting,” Asep pun mengangkat teleponnya.
“Halo Pak,” ucap Asep.
“Sep, kamu lagi sama Ziya?” tanya Pak Arman.
“Iya Pak, ini Neng Ziya duduk di samping saya,” sahut Asep.
“Saya nelponin dia tapi hp nya gak aktif.”
“Oh disini emang sinyalnya aga susah Pak, ini pun ada sinyal karena saya lagi diluar Desa,” ungkap Asep, dia tidak tahu kalau Ziya memang sengaja mematikan daya ponselnya.
“Oh gitu ya udah, Sep bisa gak besok kalian pulang dulu kesini soalnya saya mau ngadain acara syukuran kantor, saya gak mungkin ngadain acaranya tanpa kehadiran Ziya,” pinta Pak Arman.
“Oh kalau saya sih bisa Pak. Gak tahu kalau Neng Ziya, Bapak mau ngomong langsung?”
“Boleh,” sahut Pak Arman.
“Neng, ini Bapak mau ngomong,” Asep memberikan hpnya yang tak disambut sama sekali oleh Ziya.
“Gue terserah lu aja,” ucap Ziya tak peduli.
“Iya atuh Pak besok saya dan Neng Ziya akan berangkat ke Jakarta.” Ucap Asep.
🤣😄😍💪❤❤❤
dari bemci jadi bucin.
🤣😄😍❤💪💪❤❤
jgn2 sarah ikutan ngabisin dueit ziya..
❤❤❤❤
2x up hari ini ..
😍😍❤❤❤💪💪
keren banget Asseeepppp..
😄😍❤💪💪❤❤😍😍
🤣😄😍😍😍💪❤❤❤💪💪
biar tuh regan kena mental....
😄😍😍💪💪💪