NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Balik yang Sunyi

Sejak perwakilan Aurora duduk sebagai pengamat di rapat pemegang saham, suasana di Ardhana berubah.

Tidak ada serangan frontal.

Tidak ada gugatan baru.

Justru itulah yang membuat Alina gelisah.

“Diam sebelum badai,” gumamnya suatu pagi saat membaca laporan pasar.

Arsen yang duduk di seberangnya mengangkat wajah dari tablet. “Atau mereka sedang menghitung langkah.”

Alina mengangguk pelan.

Ia belajar satu hal dari beberapa minggu terakhir musuh yang terlalu tenang biasanya sedang menyiapkan sesuatu yang besar.

Dan firasatnya jarang salah.

Tiga hari kemudian, kabar itu datang.

Salah satu bank internasional yang menjadi mitra pembiayaan utama proyek energi Ardhana mengirimkan pemberitahuan peninjauan ulang fasilitas kredit.

Alasannya sederhana di atas kertas: “penyesuaian kebijakan risiko.”

Namun waktunya terlalu tepat.

“Kalau fasilitas ini ditarik, arus kas kita terganggu,” jelas direktur keuangan dalam rapat darurat.

Alina duduk tenang, meski dadanya terasa sesak.

“Berapa besar eksposurnya?” tanyanya.

“Cukup untuk memperlambat dua proyek utama.”

Ruangan hening.

Semua tahu, memperlambat berarti memberi ruang bagi kompetitor.

Arsen bersandar di kursinya.

“Bank itu punya hubungan bisnis dengan Aurora?” tanyanya.

Direktur keuangan mengangguk ragu. “Ada beberapa proyek bersama di luar negeri.”

Alina menutup mata sejenak.

Jadi ini langkah mereka.

Bukan menyerang langsung.

Tapi menekan dari sisi pendanaan.

Sore itu, Alina memutuskan menemui langsung perwakilan bank tersebut.

Bukan melalui email.

Bukan lewat pengacara.

Ia datang sendiri.

Di ruang pertemuan yang dingin dan formal, seorang pria asing menyambutnya dengan senyum profesional.

“Kami hanya mengikuti prosedur internal,” katanya sopan.

Alina membalas senyum itu.

“Saya mengerti prosedur,” jawabnya. “Saya juga mengerti tekanan eksternal.”

Pria itu terdiam sejenak.

“Kami tidak berada di bawah tekanan siapa pun.”

Alina tidak memotongnya.

Ia hanya mengeluarkan laporan audit tata kelola terbaru Ardhana, lengkap dengan peningkatan rating internal dan dukungan investor strategis baru.

“Kami baru saja mendapatkan dukungan Hartono Group,” katanya tenang. “Dan arus kas kami stabil.”

Ia menatap langsung ke mata pria itu.

“Jika bank Anda menarik fasilitas tanpa alasan kuat, pasar akan membaca ini sebagai keputusan politis, bukan finansial.”

Ruangan itu menjadi sunyi.

Pria itu akhirnya berbicara lebih pelan.

“Kami akan mempertimbangkan kembali keputusan ini.”

Alina berdiri.

“Saya harap begitu.”

Di mobil dalam perjalanan pulang, Arsen menggenggam tangannya.

“Kau menekan mereka dengan elegan,” katanya.

“Aku hanya mengingatkan mereka bahwa reputasi mereka juga dipertaruhkan,” jawab Alina.

Namun di balik ketenangannya, ia tahu permainan semakin besar.

Aurora tidak akan berhenti hanya karena satu pertemuan.

Malam itu, ketika mereka akhirnya punya waktu berdua tanpa rapat atau telepon, suasana terasa anehnya hening.

Alina duduk di sofa ruang keluarga, tanpa laptop, tanpa dokumen.

Arsen masuk membawa dua gelas anggur.

“Kita butuh jeda,” katanya ringan.

Alina tersenyum kecil.

“Kau yang biasanya tidak pernah berhenti bekerja.”

“Aku belajar dari istriku,” balasnya.

Kata itu membuat Alina terdiam sesaat.

Istri.

Bukan lagi sekadar istilah kontrak.

Arsen duduk di sampingnya.

“Alina,” katanya pelan.

Ia menoleh.

“Aku tidak mengatakan itu kemarin untuk menambah tekanan.”

“Kau tidak menambah tekanan,” jawabnya lembut.

“Tapi aku ingin kau tahu satu hal,” lanjut Arsen. “Apapun hasil perang ini, aku tidak ingin hubungan kita hanya bergantung pada kemenangan.”

Alina menatapnya lama.

“Kau takut kalau kita kalah, semuanya berubah?”

Arsen tersenyum samar.

“Aku takut kalau kau terlalu sibuk menang, kau lupa kita.”

Kalimat itu menusuk lembut.

Selama ini, ia begitu fokus melindungi nama keluarga, membalas ketidakadilan, menjaga perusahaan.

Ia hampir lupa memikirkan dirinya sendiri.

“Arsen,” katanya pelan, “aku tidak pernah membayangkan pernikahan ini menjadi nyata.”

“Aku juga tidak.”

“Awalnya aku hanya ingin waktu. Perlindungan. Strategi.”

Arsen mengangguk.

“Tapi sekarang?” tanyanya pelan.

Alina terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, ia tidak memikirkan saham, audit, atau Aurora.

Ia memikirkan pria di sampingnya.

Pria yang memilih berdiri di sisi yang sama, bahkan ketika badai datang bertubi-tubi.

“Sekarang aku takut kehilanganmu,” katanya jujur.

Keheningan itu berbeda dari yang lain.

Tidak penuh ancaman.

Tapi penuh pengakuan.

Arsen mengangkat tangannya, menyentuh wajahnya perlahan.

“Aku tidak pergi ke mana-mana.”

Alina tersenyum tipis.

Untuk sesaat, dunia luar seolah berhenti.

Namun pagi berikutnya, kenyataan kembali mengetuk.

Harga saham Aurora Holdings justru turun tajam.

Berita internasional melaporkan bahwa salah satu proyek besar mereka di Eropa tengah diselidiki karena dugaan pelanggaran regulasi.

Alina membaca laporan itu dengan alis terangkat.

“Kebetulan?” tanya Arsen.

Alina menggeleng pelan.

“Mungkin bukan.”

Beberapa menit kemudian, ia menerima panggilan dari salah satu kontak lamanya di luar negeri.

“Aurora sedang goyah,” kata suara di ujung sana. “Beberapa investor mereka mulai panik.”

Alina memandang Arsen.

“Kalau mereka goyah, tekanan pada kita bisa berkurang,” katanya.

“Atau mereka akan menyerang habis-habisan sebelum tenggelam,” balas Arsen.

Alina terdiam.

Itu kemungkinan yang lebih berbahaya.

Musuh yang merasa terpojok sering kali menjadi paling nekat.

Sore itu, sebuah undangan resmi masuk ke email Alina.

Pertemuan tertutup.

Pengirim: CEO Aurora Holdings.

Lokasi: Singapura.

Waktu: tiga hari lagi.

Pesan singkat di bawahnya:

Kita perlu berbicara sebelum semuanya terlambat.

Alina membaca kalimat itu berulang kali.

Arsen berdiri di belakangnya.

“Ini bisa jadi jebakan,” katanya pelan.

“Atau kesempatan,” balas Alina.

Ia menutup laptopnya perlahan.

“Jika ini titik balik, aku harus melihat langsung wajah orang yang bermain di balik layar.”

Arsen menatapnya serius.

“Kau tidak pergi sendiri.”

Alina tersenyum kecil.

“Aku tidak pernah sendiri lagi.”

Angin sore menyentuh tirai ruang kerja mereka.

Aliansi sudah dibangun.

Serangan sudah dihadapi.

Cinta mulai diakui, meski belum sepenuhnya diucapkan.

Kini, bab berikutnya akan membawa mereka keluar negeri.

Ke medan yang lebih besar.

Dan mungkin, ke titik di mana bukan hanya perusahaan yang dipertaruhkan

Melainkan hati yang baru saja mereka sadari sedang tumbuh.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!