Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Langkah kaki Adnan dan Kinan disambut oleh tawa riang anak-anak dari halaman rumah Ustadz Yusuf.
Begitu melihat mobil Adnan berhenti, seorang bocah kecil berlari kencang menuju gerbang.
"Bunda! Athar kangen!" seru bocah itu sambil menghambur ke pelukan Kinan.
Kinan berjongkok, menyambut pelukan hangat putra angkatnya itu dengan tawa kecil.
"Baru ditinggal sebentar sudah kangen. Sekarang cium tangan Ustadz Yusuf dan Ustadzah Sarah," ucap Kinan lembut sambil membimbing tangan kecil Athar.
Athar dengan patuh menyalami pasangan suami istri yang telah menjaganya itu.
"Athar pamit dulu ya," ucapnya polos.
Mereka tertawa kecil melihat tingkah Athar yang sangat sopan dan menggemaskan.
Sesampainya di rumah, Athar menikmati baksonya dengan sangat lahap di meja makan.
Ia sesekali meniup kuah baksonya yang masih hangat sebelum memasukkannya ke mulut.
"Enak Bunda baksonya!" serunya dengan pipi yang penuh, membuat Kinan dan Adnan yang melihatnya saling berpandangan dan tersenyum.
Malam semakin larut. Setelah memastikan Athar bersih-bersih, Kinan menemani Athar tidur di kamar barunya.
Ia membacakan dongeng singkat sampai napas bocah itu terdengar teratur dalam mimpinya.
Setelah itu, ia masuk ke kamar. Suasana mendadak menjadi sangat serius.
Adnan sedang duduk di tepi ranjang, tampaknya
sedang merenungkan hasil konseling tadi pagi.
Kinan menutup pintu perlahan, lalu berdiri menghadap suaminya dengan tatapan yang sangat dalam.
Ia tahu, jika ingin benar-benar sembuh, lubang hitam di masa lalu mereka harus ditutup dengan kejujuran.
"Mas, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku," ucap Kinan, suaranya tenang namun sarat akan ketegasan. Adnan mendongak, menatap istrinya dengan perhatian penuh.
"Kenapa Mas begitu percaya pada Fauziah? Apa Mas pernah mencintainya? Jujur, Mas," tanya Kinan langsung pada intinya.
Pertanyaan itu bagaikan petir di tengah keheningan malam. Adnan terpaku.
Ia melihat ada luka dan rasa haus akan kebenaran di mata Kinan.
Ia tahu, jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan apakah fondasi kepercayaan mereka bisa dibangun kembali atau justru hancur selamanya.
Adnan menarik napas panjang, ia mempersilakan Kinan duduk di kursi rias di hadapannya.
"Kinan, Mas akan bicara sejujur-jujurnya di hadapan Allah..."
Adnan menunduk, meremas jemarinya sendiri seolah sedang mengumpulkan kepingan memori yang selama ini menjadi bumerang dalam rumah tangganya.
Ia menyadari bahwa kejujuran pahit jauh lebih baik daripada kebohongan manis yang akan terus menghantui Kinan.
"Kinan, dengarkan Mas..." Adnan menghela napas panjang, menatap mata istrinya dengan kesungguhan yang murni.
"Mas jujur, Mas tidak pernah mencintai Fauziah. Mas hanya menganggapnya sebagai adik, tidak lebih."
Kinan tidak bergeming. Tatapannya masih tajam, menuntut penjelasan yang lebih masuk akal daripada sekadar status 'kakak-adik'.
"Lalu kenapa Mas begitu buta membela dia kemarin?" tanya Kinan, suaranya bergetar menahan perih.
"Karena Mas merasa berhutang budi sangat besar," jawab Adnan lirih.
"Keluarga Fauziah sudah menjadi sahabat karib Abah, sejak mereka masih di pesantren. Saat Abah kesulitan membangun madrasah dulu, orang tua Fauziah lah yang berdiri paling depan membantu tanpa pamrih. Abah selalu berpesan pada Mas untuk menjaga Fauziah seperti adik sendiri karena orang tuanya sudah tiada. Itulah kenapa Mas merasa harus melindunginya, namun Mas justru salah langkah karena menutup mata dari kebusukannya."
Kinan tersenyum sinis, sebuah senyuman getir yang menyayat hati Adnan.
"Adik? Tapi saat ia berbohong tangannya kena kuah rawon. Mas ingat apa yang Mas lakukan?"
Kinan menjeda, memorinya kembali ke hari di mana Fauziah berpura-pura kesakitan karena kecerobohannya sendiri, namun Adnan justru menghardik Kinan seolah Kinan lah pelakunya.
"Waktu itu Mas langsung panik, Mas membentakku, dan Mas begitu perhatian padanya hanya karena setetes kuah rawon yang mengenai tangannya. Sedangkan saat hatiku berdarah karena tuduhanmu, Mas ke mana?"
Adnan terpaku. Kalimat Kinan menghujam tepat di ulu hatinya.
Ia baru menyadari bahwa perlakuannya yang ia labeli sebagai "rasa sayang pada adik" telah menjadi belati yang mengiris hati istrinya berkali-kali.
"Maafkan Mas, Kinan. Mas bodoh. Mas tidak sadar bahwa rasa hutang budi itu telah berubah menjadi tameng bagi Fauziah untuk menyakitimu," bisik Adnan dengan suara serak.
"Mas mengira dia adalah anak kecil yang butuh dilindungi, tapi Mas salah. Mas seharusnya melindungi ratu di rumah Mas sendiri, yaitu kamu."
Kinan mengalihkan pandangannya ke jendela, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.
Pengakuan Adnan tentang "hutang budi" setidaknya menjawab rasa penasarannya, namun rasa sakit karena telah dinomorduakan tetap membekas.
Kinan menatap suaminya dengan tatapan kosong.
Pengakuan tentang "hutang budi" itu memang masuk akal, namun tidak serta-merta menghapus rasa sakit karena pernah diabaikan.
"Entahlah, Mas. Hatiku masih terasa tumpul," ucap Kinan lirih.
Ia merasa sesak jika harus tetap berada dalam jarak sedekat ini dengan Adnan di atas ranjang yang sama.
"Malam ini aku tidur sama Athar," lanjutnya singkat.
Kinan bangkit dari kursi riasnya, hendak melangkah menuju pintu.
"Sayang, jangan tidur di kamar Athar," cegat Adnan cepat, wajahnya tampak panik.
Ia ikut berdiri dan menghalangi langkah Kinan. "Nanti Athar tanya kenapa kita tidur berpisah. Kasihan dia, Kinan. Dia baru saja merasa memiliki keluarga yang utuh."
Kinan terhenti. Perkataan Adnan ada benarnya. Athar sangat peka, dan ia tidak ingin bocah malang itu merasa ada yang tidak beres di antara kedua orang tua angkatnya. Namun, untuk tidur satu selimut dengan Adnan, Kinan masih belum sanggup.
Tanpa berucap sepatah kata pun, Kinan berbalik arah.
Ia mengambil selimut tambahan dan bantal dari dalam lemari.
Bukannya kembali ke ranjang, Kinan mengambil bantal dan tidur di sofa kamar yang terletak di sudut ruangan.
Melihat istrinya lebih memilih sofa yang keras daripada tidur di sampingnya, hati Adnan terasa seperti disayat.
Ia mendekat, lalu Adnan menggenggam tangan istrinya yang sedang berusaha memejamkan mata di sofa.
"Tidur sama Mas, di kasur saja. Mas janji tidak akan menyentuhmu kalau kamu belum siap. Mas bisa tidur di lantai atau di sisi paling ujung," pinta Adnan dengan nada memohon.
Kinan tetap diam, namun Adnan tidak melepaskan genggamannya. Ia menatap Kinan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau kita seperti ini terus, lalu buat apa konseling?" tanya Adnan dengan suara bergetar.
"Konseling itu untuk memperbaiki jarak di antara kita, Sayang. Kalau kamu terus membangun benteng seperti ini, bagaimana Mas bisa menunjukkan kalau Mas sudah berubah?"
Kinan membuka matanya, menatap langit-langit kamar dengan nanar.
"Benteng ini tidak akan ada kalau kamu tidak pernah meruntuhkan kepercayaanku, Mas. Konseling adalah proses, dan proses butuh waktu. Jangan paksa aku untuk cepat-cepat kembali seperti dulu seolah tidak pernah terjadi apa-apa."
Adnan tertunduk saat mendengar perkataan dari istrinya.
Ia melepaskan genggaman tangannya perlahan, menyadari bahwa memaksakan kehendak hanya akan memperburuk keadaan.
Malam itu, meski berada dalam satu ruangan yang sama, ada jurang yang sangat lebar yang memisahkan mereka berdua.
Kegelapan malam menyelimuti kamar, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang terdengar monoton.
Kinan yang masih berbaring di sofa kamar belum benar-benar terlelap.
Pikirannya masih melayang jauh saat tiba-tiba, ponsel Adnan yang diletakkan di atas nakas bergetar hebat.
Cahaya layarnya menerangi sebagian sudut ruangan yang remang-remang.
Adnan yang terbangun karena getaran itu segera meraih ponselnya.
Ia mengernyitkan dahi saat melihat nomor yang tidak dikenal, namun instingnya mengatakan ada yang tidak beres.
Ia melirik ke arah sofa, mengira Kinan sudah tidur, lalu mengangkat panggilan itu dengan suara sangat rendah.
Ternyata, itu adalah Fauziah yang sudah dilepaskan oleh polis. Ia nekat menelepon Adnan di tengah malam.
"Mas Adnan, tolong aku. Aku takut, Mas. Polisi memang melepaskanku, tapi orang-orang di luar sana menghujatku. Mas, aku butuh Mas Adnan sekarang..." suara isak tangis Fauziah terdengar dari seberang telepon.
Di sudut sofa, Kinan yang mendengarnya diam-diam hanya bisa mengepalkan tangannya di balik selimut.
Jantungnya berdegup kencang, menanti reaksi apa yang akan diberikan suaminya kali ini.
Adnan menarik napas panjang. Wajahnya tidak lagi menunjukkan rasa iba, melainkan ketegasan yang dingin.
"Fauziah, jangan hubungi aku lagi," ucap Adnan datar, namun penuh penekanan.
"Tapi Mas, aku melakukan ini semua karena aku mencintaimu! Aku hanya ingin Mas kembali seperti dulu!" rengek Fauziah.
"Cinta tidak pernah menghancurkan martabat orang lain, Fauziah. Apa yang kamu lakukan pada Kinan adalah kejahatan yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun," balas Adnan.
Ia berdiri dan menjauh sedikit dari arah Kinan, tidak menyadari bahwa istrinya menyimak setiap kata.
"Aku tidak akan menolongmu lagi. Mas meminta kamu bertanggung jawab atas perbuatannya, Fauziah. Hadapi konsekuensi hukumnya, hadapi penilaian orang lain. Itu adalah hasil dari benih fitnah yang kamu tanam sendiri. Berhenti berlindung di balik nama baik orang tuamu atau persahabatan ayah kita."
"Mas Adnan jahat!"
"Bukan aku yang jahat, tapi kamu yang sudah kehilangan nurani. Jangan pernah telepon nomor ini lagi, atau aku sendiri yang akan menyerahkan bukti tambahan ke polisi."
Klik!
Adnan mematikan sambungan telepon itu secara sepihak dan langsung memblokir nomor tersebut.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berbalik menatap ke arah sofa.
Di sana, ia melihat Kinan sudah duduk bersandar, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Dia menelepon lagi?" tanya Kinan pelan.
Adnan terkejut, namun ia mengangguk jujur. "Iya. Tapi Mas sudah tegaskan padanya, Kinan. Mas tidak akan lagi menjadi tameng untuk kesalahannya. Mas ingin dia sadar bahwa tanggung jawab itu ada pada dirinya sendiri."
Kinan terdiam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat ketegasan yang nyata dari Adnan—ketegasan yang selama ini ia dambakan untuk melindunginya dari gangguan Fauziah.
Keheningan kembali merajai kamar itu, namun kali ini atmosfernya tidak lagi mencekam.
Kata-kata tegas Adnan kepada Fauziah di telepon tadi seolah menjadi hujan yang memadamkan api keraguan di hati Kinan.
Ia melihat suaminya benar-benar mencoba memutus rantai "hutang budi" yang selama ini membelenggu kewarasan mereka.
Kinan melipat selimut tipisnya di sofa, lalu berdiri perlahan.
Langkahnya ragu, namun ia memantapkan hati untuk mendekat ke arah tempat tidur. Kinan mulai merasa sedikit lebih tenang dan mau kembali tidur di atas ranjang meskipun masih memberi jarak yang cukup lebar di antara mereka.
Adnan yang melihat perubahan sikap istrinya itu merasa dadanya sesak oleh rasa haru.
Ia tidak menyangka bahwa ketegasannya terhadap Fauziah akan memberikan dampak sebesar ini bagi kenyamanan Kinan.
"Terima kasih, Mas," bisik Kinan sebelum ia membelakangi Adnan dan menarik selimut hingga ke bahu.
Ucapan itu sederhana, namun bagi Adnan, itu adalah kemajuan besar. Itu bukan sekadar ucapan terima kasih karena telah menolak telepon, melainkan tanda bahwa Kinan mulai menghargai usahanya untuk berubah.
Adnan menganggukkan kepalanya, meski ia tahu Kinan tidak melihatnya.
Ia merebahkan diri di sisi ranjang yang paling pinggir, menjaga jarak agar tidak membuat istrinya merasa terintimidasi.
"Sama-sama, Sayang. Tidurlah yang nyenyak. Mas ada di sini untuk menjagamu, bukan untuk menyakitimu lagi," jawab Adnan dengan nada suara yang sangat tenang.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak badai fitnah menerjang, mereka tidur di bawah selimut yang sama.
Meski tidak ada sentuhan fisik, setidaknya dinding pelindung yang dibangun Kinan mulai retak sedikit demi sedikit, memberi jalan bagi cahaya kedamaian untuk masuk kembali ke dalam rumah tangga mereka.
Di luar, angin malam berhembus kencang, namun di dalam kamar itu, badai perlahan-lahan mulai mereda.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅