Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KULTIVATOR PEMALAS DAN PERKAMEN TERLARANG
Puncak Awan Putih selalu dikenal sebagai tempat para jenius menempa diri. Di bawah naungan Perguruan Kunci Langit, ribuan murid berlomba-lomba menyerap esensi alam demi mencapai keabadian. Namun, di sudut paling terpencil dari Paviliun Pengobatan yang berdebu, ada satu pengecualian yang membuat para tetua hanya bisa mengelus dada.
Namanya Tian Feng.
Sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon persik yang sedang tidak berbuah, Feng menguap lebar. Jubah abu-abunya yang kusam penuh dengan noda tanah dan serpihan rumput. Di tangannya, ia memegang sebuah kuas kecil yang ia gunakan untuk membersihkan debu dari permukaan sebuah liontin giok hijau zamrud yang tergantung di lehernya.
"Meditasi itu melelahkan," gumam Feng pada dirinya sendiri. "Kenapa orang-orang repot-repot duduk diam selama sepuluh tahun hanya untuk bisa melompat lebih tinggi? Lebih baik aku tidur satu jam lagi."
Bagi penghuni perguruan, Feng adalah "sampah" yang paling tidak tertolong. Dia tidak memiliki bakat dalam bela diri, tidak punya ambisi dalam kultivasi, dan hanya betah bekerja sebagai pelayan pembersih tungku alkimia. Namun, di balik wajah malas dan kelopak mata yang selalu tampak berat itu, Feng menyimpan sesuatu yang bisa membuat seluruh dunia gempar jika mengetahuinya.
Ia adalah keturunan ketujuh dari aliran Tao sejati—sebuah garis keturunan yang dianggap sebagai anomali berbahaya oleh dunia kultivasi ortodoks.
Feng meraba liontin giok nya. Benda itu tampak seperti giok biasa, namun jika dilihat lebih dekat, terdapat retakan halus yang hampir tidak terlihat di permukaannya. Baginya, giok ini bukan sekadar warisan kakeknya; ini adalah segel yang menahan aura dahsyat di dalam tubuhnya agar tidak terdeteksi oleh radar energi para tetua agung yang haus kekuasaan.
"Asal kau tidak pecah, aku akan tetap aman dan bisa malas-malasan selamanya," bisik Feng.
Namun, ketenangan itu terusik saat kakinya yang sedang selonjoran menyentuh sebuah benda keras di bawah tumpukan daun kering. Feng mengernyit, tangannya merogoh ke bawah dan menarik sebuah gulungan perkamen tua yang kulitnya sudah menghitam dimakan usia.
"Apa ini? Daftar hutang Guru Lin lagi?"
Feng membuka gulungan itu. Seketika, jantungnya berdegup kencang. Tulisan di atas perkamen itu bukan tinta biasa; tulisan itu bercahaya emas redup, seolah-olah bernapas mengikuti detak jantung Feng.
TEKNIK ALKIMIA ARUS BALIK: PINTASAN MENUJU SURGA
Di bawah judul besar itu, kalimat-kalimat yang tampak mustahil mulai bermunculan.
"Mengapa berlatih jika kau bisa mencuri? Mengapa bermeditasi jika kau bisa memeras energi dari Item Surgawi dalam sekejap? Teknik ini memungkinkan pengguna menyerap esensi spiritual secara instan tanpa proses pemurnian yang membosankan."
Mata Feng membelalak. Ini adalah teknik terlarang yang pernah diceritakan kakeknya sebelum meninggal. Alkimia Arus Balik tidak mengikuti hukum alam; ia memutarbalikkan logika kultivasi. Jika kultivator biasa butuh waktu satu bulan untuk mencerna sebuah pil energi, teknik ini bisa melakukannya dalam satu helah napas.
Namun, ada baris peringatan di bagian bawah yang ditulis dengan warna merah darah.
"Peringatan: Surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan yang didapat secara instan adalah Hutang Karma. Langit akan mengirimkan Pembalasan untuk menagih hutang tersebut. Bersiaplah untuk membayar dengan nyawa."
Feng terdiam lama. Keinginannya untuk tetap malas bergolak dengan rasa haus akan keamanan. Di dunia yang kejam ini, menjadi lemah berarti menjadi mangsa. Jika ia bisa menjadi kuat tanpa perlu bermeditasi membosankan selama puluhan tahun, bukankah itu adalah puncak dari kemalasan yang produktif?
"Hanya sekali," gumamnya. "Aku hanya butuh sedikit kekuatan agar tidak ada murid elit yang berani menendang ku saat aku sedang tidur."
Feng melihat ke arah tungku alkimia besar di paviliun yang sedang ditinggalkan Guru Lin untuk menghadiri pertemuan dewan. Di atas meja, terdapat sebuah Pil Embun Pagi—pil tingkat rendah yang biasanya membutuhkan waktu tiga jam meditasi untuk diserap sepenuhnya.
Feng duduk bersila—bukan untuk bermeditasi, tapi untuk melakukan prosedur Alkimia Arus Balik. Ia memegang pil itu di telapak tangannya, menutup matanya, dan membayangkan aliran energi yang berputar terbalik dari arah yang biasa diajarkan.
WUUUUZZZZZ!
Seketika, ruangan itu dipenuhi oleh angin kencang yang entah datang dari mana. Pil di tangan Feng hancur menjadi debu emas yang langsung meresap melalui pori-pori kulitnya. Feng merasakan sensasi panas yang luar biasa, seolah-olah ada naga kecil yang sedang mengamuk di dalam Meridien nya.
Biasanya, seseorang yang menyerap energi se kasar itu akan meledak secara instan. Namun, liontin giok di dadanya tiba-tiba memancarkan cahaya hijau lembut. Giok itu bertindak sebagai filter, mendinginkan energi yang liar dan menjadikannya murni sebelum mencapai jantung Feng.
Dalam hitungan detik, tubuh Feng yang tadinya lemah kini terasa dipenuhi tenaga.
> "Status: Ranah Pengumpulan Chi Tingkat 1 - TERCAPAI."
> "Hutang Karma Tercatat: Ringan. Bunga: 5%. Penagihan pertama: Dalam 24 jam."
Feng tersentak bangun, keringat dingin membasahi bajunya. Ia merasakan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tulang-tulangnya terasa lebih padat, penglihatannya lebih tajam.
"Hanya lima detik? Aku baru saja mencapai apa yang murid lain butuhkan waktu satu tahun?" Feng tertawa kecil, meskipun hatinya was-was mengenai 'Penagihan' yang disebutkan perkamen itu.
Namun, kegembiraannya terhenti saat suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah pintu masuk paviliun.
"Tian Feng! Di mana kau, bocah malas?! Tungku nomor empat masih penuh abu!"
Itu adalah Guru Lin. Pria tua dengan wajah galak dan jenggot pendek yang tidak beraturan itu masuk dengan langkah besar. Ia adalah tabib hebat yang kasar, namun dialah satu-satunya orang yang tahu bahwa Feng adalah keturunan dari temannya yang sudah tiada.
Guru Lin berhenti mendadak saat melihat Feng yang sedang duduk di lantai dengan perkamen di tangannya. Matanya yang tajam menyapu ruangan, merasakan sisa-sisa energi emas yang belum sepenuhnya menghilang.
"Apa yang kau lakukan? Dan bau apa ini? Kenapa kau bau seperti... Pil Embun Pagi yang hangus?" Guru Lin mendekat, hidungnya kembang kempis.
Feng segera menyembunyikan perkamen itu di balik jubahnya dan memasang wajah konyolnya yang biasa. "Ah, Guru! Anda kembali cepat sekali. Saya tadi... saya tadi terpeleset dan menjatuhkan botol pilnya. Saya mencoba membersihkannya, tapi sepertinya saya malah menginjaknya sampai hancur. Maafkan saya!"
Guru Lin menyipitkan mata. Ia memegang bahu Feng, dan untuk sesaat, Feng merasa jiwanya sedang dipindai oleh kekuatan besar.
"Kau..." Guru Lin terdiam. Ia merasakan sesuatu yang berbeda pada nadi Feng, namun liontin giok zamrud di dada muridnya itu bekerja dengan sangat cepat, menekan aura baru Feng kembali ke titik nol.
"Kau tampak lebih... bersih dari biasanya," gumam Guru Lin, wajahnya masih penuh kecurigaan. "Jangan bilang kau mencoba-coba memakan sisa bubuk pil di lantai? Kau tahu tubuhmu tidak bisa memproses energi itu. Kau bisa mati, bocah bodoh!"
"Saya lapar, Guru! Pagi tadi dapur lupa memberi saya jatah mantau," jawab Feng sambil nyengir lebar.
Guru Lin menghela napas panjang, lalu memukul kepala Feng dengan gulungan kertas yang ia bawa. "Lain kali kalau kau lapar, makanlah akar ginseng yang sudah busuk di gudang, jangan pil energi! Sekarang cepat bersihkan tungku! Jika sebelum matahari terbenam tungku itu belum mengkilap, kau tidak akan dapat jatah makan malam!"
Feng mengaduh sambil memegang kepalanya, namun di dalam hati ia merasa lega. Penyamarannya masih aman. Guru Lin memang bijaksana, namun ia terlalu terbiasa melihat Feng sebagai orang gagal sehingga ia tidak menduga bahwa muridnya baru saja melakukan penipuan terhadap hukum alam.
Feng berjalan menuju tungku raksasa, mengambil sapu lidi dan ember air. Sambil mengayunkan sapunya, pikirannya tetap tertuju pada tulisan di perkamen tadi.
Penagihan dalam 24 jam.
"Apa yang akan dikirimkan surga padaku untuk hutang sekecil ini?" gumamnya. "Mungkin hanya nasib buruk kecil, seperti terpeleset di kamar mandi atau digigit serangga."
Feng tidak menyadari bahwa di dunia wuxia, tidak ada hutang yang dibayar dengan murah. Seiring matahari mulai tenggelam di balik Puncak Awan Putih, awan-awan hitam yang tidak biasa mulai berkumpul di atas paviliun pengobatan. Guntur terdengar samar dari kejauhan, padahal cuaca seharusnya cerah.
Di dalam kamarnya yang kecil, Feng merebahkan diri, memegang liontin giok nya yang terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Ia tidak tahu bahwa mulai malam ini, tidurnya tidak akan pernah nyenyak lagi. Takdir keturunan ketujuh Tao telah terbangun, dan Langit tidak suka dicurangi.
"Besok," bisik Feng sambil menutup mata, "aku akan mencari cara untuk menjadi kuat lagi tanpa harus bekerja keras. Ini benar-benar jalan hidup yang sempurna."
Namun, di atas langit sana, seberkas kilat berwarna merah darah menyambar sunyi, menandai dimulainya permainan kucing dan tikus antara seorang kultivator pemalas dengan hukum karma alam semesta.