Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Paviliun pengantin terasa seperti dunia kecil yang terpisah dari hiruk-pikuk istana. Cahaya api samar dari lentera kristal merah memenuhi ruangan, menciptakan bayangan lembut yang menari di dinding berukir naga dan phoenix. Tempat tidur besar di tengah kamar ditutupi seprai sutra merah darah, empuk dan hangat, seolah menanti untuk menjadi saksi ikatan baru mereka. Di luar jendela, gunung berapi suci menyala pelan di kejauhan, denyut cahayanya selaras dengan detak jantung yang semakin cepat.
Yue Yan berdiri di dekat jendela, sudah melepas mahkota dan perhiasan beratnya. Jubah pengantin merahnya kini diganti dengan gaun tidur tipis berwarna merah muda pucat, bahan sutranya mengalir lembut mengikuti lekuk tubuhnya, hampir tembus pandang di bawah cahaya api. Rambut panjangnya terurai bebas hingga pinggang, beberapa helai menempel di kulit lehernya yang sedikit berkeringat karena kegembiraan dan ketegangan hari itu.
Ling Chen menutup pintu paviliun dengan pelan, segel formasi qi menyala samar untuk memastikan tak ada yang bisa mengganggu malam ini. Dia masih mengenakan jubah pernikahan hitamnya, tapi kerahnya sudah dibuka, memperlihatkan garis leher dan dada yang semakin tegap berkat kultivasi. Matanya tak bisa lepas dari Yue Yan. Di dunia lamanya, dia tak pernah membayangkan akan memiliki momen seperti ini—dekat dengan seseorang yang begitu berharga, begitu indah.
“Chen’er…” panggil Yue Yan pelan, suaranya hampir bergetar. Dia berbalik, matanya bertemu dengan mata Ling Chen. Ada campuran malu, gugup, dan hasrat yang tak disembunyikan lagi. “Hari ini… terasa seperti mimpi.”
Ling Chen melangkah mendekat, langkahnya pelan tapi pasti. Saat jarak mereka tinggal satu lengan, dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Yue Yan dengan lembut. Kulitnya hangat, lembut seperti sutra yang dipanaskan api. “Ini bukan mimpi, Yan’er. Ini nyata. Kita nyata.”
Yue Yan menutup mata sejenak, menikmati sentuhan itu. Lalu dia membuka mata lagi, dan kali ini tatapannya lebih berani. Dia meraih tangan Ling Chen, menariknya lebih dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. “Aku… tak pernah membayangkan akan merasakan seperti ini. Selama ini aku selalu kuat, selalu mengendalikan segalanya. Tapi malam ini… aku ingin menyerah padamu.”
Kata-kata itu seperti percikan api yang menyulut sesuatu di dalam Ling Chen. Dia menarik Yue Yan ke dalam pelukannya, memeluknya erat tapi lembut, seolah takut akan menyakitinya. Yue Yan membalas pelukan itu, tangannya melingkar di leher Ling Chen, jarinya menyusup ke rambutnya. Mereka diam sejenak, hanya merasakan napas satu sama lain, detak jantung yang semakin selaras.
Ling Chen menunduk, mencium kening Yue Yan dulu—ciuman yang penuh kasih sayang. Lalu turun ke pelipis, ke pipi, hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Ciuman pertama malam itu lembut, penuh kelembutan, tapi segera berubah menjadi lebih dalam, lebih lapar. Yue Yan mengerang pelan di tenggorokan, tubuhnya menempel lebih erat, merasakan panas tubuh Ling Chen yang seperti api yang tak pernah padam.
Mereka bergerak pelan menuju tempat tidur. Ling Chen mengangkat Yue Yan dengan mudah—kekuatan kultivasinya membuatnya terasa ringan seperti bulu. Dia merebahkan Yue Yan di atas seprai sutra, lalu ikut berbaring di sampingnya, setengah menindih dengan hati-hati. Tangan Yue Yan menyusup ke dalam jubah Ling Chen, menyentuh dada telanjangnya, merasakan denyut Benih Api Leluhur di sana.
“Chen’er… aku merasakan apimu di dalam diriku,” bisik Yue Yan, suaranya serak karena hasrat. “Seperti… kita sudah menyatu bahkan sebelum malam ini.”
Ling Chen mencium leher Yue Yan, meninggalkan jejak panas di kulitnya. “Karena kita memang sudah menyatu, Yan’er. Jiwa kita, qi kita… sekarang tubuh kita juga.”
Gaun tidur Yue Yan melorot pelan dari bahunya, memperlihatkan kulit putih mulus yang bercahaya samar di bawah cahaya api. Ling Chen menatapnya dengan penuh kekaguman, lalu menunduk mencium bahu itu, turun ke tulang selangka, hingga ke dada yang naik turun cepat. Yue Yan menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkeram bahu Ling Chen, meninggalkan bekas merah tipis.
Malam semakin larut, tapi waktu seolah berhenti bagi mereka. Setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap desahan adalah bahasa baru yang mereka ciptakan bersama. Saat akhirnya mereka benar-benar menyatu, qi api dari keduanya meledak pelan di sekitar kamar—api emas dan api merah menyatu menjadi satu warna jingga hangat yang melingkupi tempat tidur seperti selimut pelindung.
Gelang pernikahan di jari mereka berdenyut kuat, ikatan jiwa mereka semakin dalam. Yue Yan menangis pelan di tengah kenikmatan, bukan karena sakit, tapi karena kebahagiaan yang terlalu penuh. “Chen’er… aku mencintaimu,” bisiknya di telinga Ling Chen, suaranya pecah.
Ling Chen mencium air matanya, lalu menjawab dengan suara serak penuh emosi. “Aku juga mencintaimu, Yan’er. Lebih dari apa pun di dua dunia ini.”
Mereka berbaring saling berpelukan setelahnya, tubuh saling menempel, napas perlahan tenang. Yue Yan menyandarkan kepala di dada Ling Chen, mendengar detak jantungnya yang selaras dengan miliknya. Ling Chen membelai rambutnya pelan, jarinya menyisir helai demi helai.
“Mulai besok, dunia luar akan semakin keras,” kata Yue Yan pelan. “Pangeran Tian Hao, klan bayangan… mereka tak akan diam.”
Ling Chen mencium puncak kepalanya. “Biarkan mereka datang. Sekarang aku punya alasan terbesar untuk jadi lebih kuat—kau.”
Yue Yan tersenyum dalam pelukannya. “Dan aku punya alasan untuk tetap hidup—kau.”
Malam itu, di tengah api yang tak pernah padam, dua jiwa yang pernah kesepian akhirnya menemukan rumah satu sama lain. Api cinta mereka baru saja dinyalakan, dan dunia kultivasi di luar sana belum tahu betapa berbahayanya pasangan ini jika dipaksa bertarung bersama.