seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 2
Nama "Cobra" perlahan memudar dari desas-desus warung kopi di Jakarta Utara, digantikan oleh sosok Andi yang kini lebih akrab dengan aroma cat kayu dan debu kapur di sekolah marjinal.
Namun, kedamaian adalah barang mewah bagi seseorang yang pernah menggenggam takhta hitam.
Sore itu, saat matahari terbenam dengan warna jingga yang pekat di cakrawala pelabuhan, Andi sedang memperbaiki atap sekolah yang bocor. Andin sedang di bawah, membagikan susu kotak kepada anak-anak. Semuanya tampak sempurna, sampai sebuah motor sport hitam berhenti di depan gerbang.
Pengendaranya tidak turun, hanya membuka kaca helmnya sedikit. Ia melemparkan sebuah koin perak kuno ke arah Andi. Koin itu mendarat tepat di kaki Andi—koin dengan lambang jangkar yang melilit pedang.
Darah Andi berdesir dingin. Itu bukan simbol geng motor. Itu adalah simbol "The Anchor", sindikat kartel internasional yang selama ini menyuplai barang ke jalur logistik yang dulu dikuasai The Venom.
"Andi," panggil Andin dari bawah, menyadari perubahan ekspresi kekasihnya. "Siapa itu?"
Andi melompat turun dari tangga dengan gerakan yang masih sangat lincah. "Hanya orang salah alamat, Ndin. Masuklah ke dalam bersama anak-anak. Sekarang."
Andin melihat ketegangan di rahang Andi yang mengeras. Ia tidak membantah, ia tahu kapan suaminya itu berubah kembali menjadi sosok yang protektif.
Andi berjalan mendekati motor itu. "Aku sudah membubarkan The Venom. Jalur itu kosong. Ambil saja."
"Kosong berarti kacau, Cobra," suara dari balik helm itu terdengar dingin dan mekanis. "Kami tidak butuh pemimpin baru yang amatir. Kami butuh sistemmu. Atasanku di Singapura tidak suka kerugian. Kau punya waktu 48 jam untuk mengaktifkan kembali jalur sektor empat, atau kami yang akan 'membersihkan' seluruh sektor itu... termasuk sekolah kecil ini."
Motor itu menderu dan melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan ancaman yang nyata.
Pilihan Mustahil Sang Mantan Raja
Malamnya, Andi duduk di meja makan, menatap koin perak itu. Ia tahu, melawan Bara adalah masalah pribadi, tapi melawan The Anchor adalah melawan mesin pembunuh berskala global.
Jika ia menolak, sekolah dan Andin akan hancur. Jika ia menerima, ia akan kembali menjadi monster yang paling dibenci Andin.
"Andi," Andin duduk di depannya, menggenggam tangan Andi yang kasar. "Katakan padaku. Jangan menanggungnya sendirian lagi."
Andi menatap mata bening itu. "Mereka ingin aku kembali, Ndin. Jika tidak, mereka akan meratakan tempat ini."
Andin terdiam sejenak, lalu memberikan jawaban yang tak terduga. "Kalau begitu, jangan bertarung sebagai 'Cobra' yang mereka kenal. Bertarunglah sebagai pria yang melindungi rumahnya. Kita tidak akan lari, tapi kita juga tidak akan tunduk."
Rencana Terakhir
Andi tahu ia tidak bisa menang jika hanya mengandalkan otot. Ia butuh strategi. Ia mengambil ponsel lama yang sudah ia simpan di dalam kotak besi di bawah tempat tidur. Ia mengirim satu pesan singkat ke nomor yang sudah lama tidak aktif.
“Ular butuh bantuan Elang. Pelabuhan Tua. Jam 12 malam.”
Pesan itu ditujukan kepada Komisaris Wijaya, polisi yang selama bertahun-tahun mencoba menangkapnya, namun memiliki rasa hormat yang aneh terhadap kode etik Andi yang tidak pernah menyentuh narkoba.
Andi memutuskan untuk melakukan langkah paling berisiko dalam hidupnya: Menjadi informan bagi kepolisian untuk menghancurkan The Anchor dari dalam. Ia akan berpura-pura menerima tawaran kartel tersebut, menjebak mereka dalam satu transaksi besar, dan menyerahkan seluruh jaringan internasional itu kepada hukum.
"Satu tarian terakhir," gumam Andi sambil mengenakan kembali jaket kulit hitamnya yang legendaris.
Andi melangkah masuk ke sebuah gudang tua di sudut Pelabuhan Tanjung Priok yang terisolasi. Bau garam dan karat menyengat indra penciumannya. Di tengah ruangan, di bawah lampu gantung yang berayun pelan, berdiri Komisaris Wijaya—pria yang selama sepuluh tahun ini terobsesi menjebloskan Andi ke penjara.
"Cobra yang legendaris akhirnya merayap keluar dari lubangnya," ujar Wijaya, melirik jaket kulit Andi yang ikonik. "Kudengar kau sudah jadi orang suci sekarang. Jualan buku dan cat sekolah?"
Andi tidak terpancing. Ia melemparkan koin perak The Anchor ke atas meja kayu di antara mereka. "Orang-orang ini tidak peduli dengan kesucianku, Pak Kompol. Mereka ingin jalur sektor empat dibuka kembali untuk pengiriman besar besok malam. Senjata, manusia, atau entah apa lagi."
Wijaya mengambil koin itu, menimbangnya di telapak tangan. "Dan kau ingin aku melakukan apa? Menangkapmu saat kau menyerahkannya pada mereka?"
"Tangkap mereka semua," sahut Andi dingin. "Aku akan memimpin pengiriman itu. Aku akan membawa mereka langsung ke titik buta radar di Dermaga 9. Di sana, pasukanmu bisa mengepung mereka. Sebagai imbalannya, hapus catatan kriminal sisa anak buahku yang ingin tobat, dan pastikan Andin aman."
Wijaya terdiam lama, menatap mata Andi yang tak berkedip. "Ini misi bunuh diri, Andi. Jika mereka tahu kau bekerja sama dengan polisi, kau tidak akan sempat sampai ke pengadilan."
"Aku sudah mati sejak lama, Pak," bisik Andi. "Malam ini hanyalah cara agar aku bisa hidup kembali sebagai manusia."
Detik-Detik Pengkhianatan Terencana
Malam harinya, pelabuhan itu sunyi senyap. Andi berdiri di atas kapal kargo yang baru saja merapat. Di sampingnya stands Marco, algojo The Anchor dari Singapura yang memiliki tatapan mata seperti hiu.
"Kerja bagus, Cobra. Jalur ini memang paling efisien," puji Marco sambil membuka salah satu peti kemas yang berisi barisan senapan serbu ilegal. "Bos sangat senang kau kembali ke bisnis ini. Ada tempat untukmu di Singapura jika kau mau."
Andi hanya mengangguk tipis, tangannya diam-diam meraba pemancar kecil di saku celananya. "Kita hampir sampai di Dermaga 9. Di sana bongkar muat akan lebih aman."
Tepat saat kapal bersandar, suasana berubah mencekam. Lampu sorot raksasa tiba-tiba menyala dari segala arah, membutakan mata para anggota kartel.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!" suara pengeras suara menggelegar.
"Kau menjebak kami?!" teriak Marco, wajahnya memerah karena amarah. Ia mencabut pistol dari balik pinggangnya.
Andi bergerak lebih cepat. Dengan teknik CQC (Close Quarters Combat) yang mematikan, ia memelintir pergelangan tangan Marco hingga terdengar bunyi tulang patah. Pistol terjatuh, dan Andi menghantamkan lututnya ke ulu hati sang algojo.
Baku tembak pecah di sekitar mereka. Anak buah The Anchor yang terlatih mulai membalas tembakan polisi. Andi terjebak di tengah hujan peluru, mencoba mencari perlindungan di balik kontainer baja.
Harga Sebuah Kebebasan
Di tengah kekacauan, sebuah peluru menyerempet bahu kiri Andi. Ia meringis, namun terus merangkak menuju pusat kendali dermaga untuk mematikan mesin derek yang bisa digunakan musuh untuk melarikan diri.
Saat ia hampir mencapai tujuan, ia melihat Marco yang terluka parah memegang sebuah detonator.
"Jika aku tidak mendapatkan jalur ini, tidak ada yang boleh memilikinya!" teriak Marco sambil menekan tombol.
BOOM!
Ledakan hebat mengguncang sisi kiri kapal kargo. Api membubung tinggi ke langit malam Jakarta. Andi terlempar ke air laut yang dingin, sementara puing-puing besi berjatuhan di sekitarnya.
Beberapa jam kemudian, tim penyelamat menyisir lokasi. Wijaya berdiri di tepi dermaga, menatap puing-puing kapal yang masih berasap. Operasi itu sukses besar; seluruh jaringan The Anchor di Jakarta lumpuh total. Namun, sosok yang memimpin mereka ke sana tidak ditemukan.
Fajar Baru
Satu minggu kemudian.
Andin sedang duduk di teras sekolah, matanya sembap menatap jalanan yang sepi. Berita tentang ledakan di pelabuhan sudah tersebar di seluruh televisi. Tidak ada nama Andi di daftar korban selamat, namun juga tidak ada di daftar korban jiwa.
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari ke arahnya. "Ibu Guru! Ada orang aneh di gerbang!"
Andin berdiri dengan jantung berdebar kencang. Di sana, berdiri seorang pria dengan tangan yang digendong perban dan plester di sekujur wajahnya. Ia tidak lagi memakai jaket kulit hitam. Ia memakai kemeja flanel sederhana yang kotor terkena debu jalanan.
Andi tersenyum lemah. "Maaf aku terlambat, Ndin. Jalannya agak macet."
Andin tidak sanggup berkata-kata. Ia berlari dan memeluk Andi seolah-olah dunia akan berakhir esok hari.
"Kau tidak akan pergi lagi?" tanya Andin di sela tangisnya.
Andi mencium keningnya, lalu menatap ke arah papan tulis di dalam kelas. "Aku punya banyak pelajaran yang harus diberikan pada anak-anak. Mulai hari ini, hanya ada Andi sang guru. Cobra sudah tenggelam di pelabuhan."
Di saku celananya, Andi masih menyimpan koin perak itu, namun kali ini koin itu ia lemparkan ke kotak sampah. Sejarah hitam itu sudah ditutup, dan fajar yang baru saja terbit terasa jauh lebih hangat dari lampu neon Jakarta Utara yang pernah meneranginya.