NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Akrom Kafa Bihi

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Disembunyikan

Suasana di ruang kerja Arkan masih terasa berat bahkan setelah Surya meninggalkan ruangan.

Arkan berdiri di depan jendela besar, menatap jalanan kota yang sibuk di bawah sana.

Namun pikirannya jauh dari pemandangan itu.

Kata-kata pamannya masih terngiang di kepalanya.

“Kadang-kadang kebenaran bisa menghancurkan lebih banyak hal daripada kebohongan.”

Kalimat itu terdengar seperti peringatan.

Atau mungkin ancaman.

Arkan mengetuk kaca jendela dengan jarinya perlahan.

Jika Surya benar-benar terlibat dalam semua ini, maka permainan yang sedang ia hadapi jauh lebih rumit dari yang ia kira.

Pintu ruang kerjanya diketuk.

“Masuk.”

Bima masuk dengan tablet di tangannya.

“Bos, aku baru saja menerima laporan dari tim audit.”

Arkan berbalik.

“Ada apa lagi?”

Bima terlihat ragu sejenak sebelum menjawab.

“Sepertinya seseorang mencoba menghapus beberapa file transaksi dari server perusahaan.”

Mata Arkan langsung menyipit.

“Kapan?”

“Sekitar tiga puluh menit lalu.”

Arkan melirik jam di pergelangan tangannya.

Itu berarti—

Saat Surya masih berada di gedung ini.

“Apakah kita bisa melacak siapa yang melakukannya?” tanya Arkan.

Bima mengangguk.

“Tim IT sedang mencoba menelusuri alamat IP-nya.”

Arkan kembali duduk di kursinya.

Jika seseorang mencoba menghapus bukti sekarang, berarti penyelidikan mereka sudah mulai membuat orang-orang tertentu panik.

“Pastikan semua data itu diamankan,” kata Arkan.

“Baik.”

Bima berhenti sejenak sebelum menambahkan,

“Bos… ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Alamat IP itu berasal dari lantai eksekutif.”

Arkan terdiam.

Itu berarti pelakunya adalah seseorang dengan akses tinggi di perusahaan.

Dan jumlah orang dengan akses seperti itu tidak banyak.

Sementara itu di mansion Wijaya, Aluna sedang berjalan di taman belakang rumah.

Angin sore bertiup lembut, membawa aroma bunga dari taman.

Namun pikirannya sama sekali tidak tenang.

Sejak mengetahui bahwa kematian ayahnya mungkin bukan kecelakaan, hatinya selalu dipenuhi kegelisahan.

Ia berhenti di dekat kolam kecil di tengah taman.

Airnya tenang.

Namun bayangannya di permukaan air terlihat sedikit bergetar.

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar di belakangnya.

“Aluna.”

Ia menoleh.

Arkan berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Kamu pulang lebih cepat hari ini,” kata Aluna.

Arkan berjalan mendekat.

“Ada banyak hal yang harus kupikirkan.”

Aluna memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Apakah ini tentang Paman Surya?”

Arkan sedikit terkejut.

“Kamu tahu?”

Aluna mengangguk.

“Tadi aku melihat foto lama di rumah. Dan Bi Sari menyebut namanya.”

Arkan menatap permukaan kolam.

“Kami dulu cukup dekat.”

“Dulu?”

Arkan tersenyum tipis.

“Dalam bisnis, hubungan bisa berubah dengan cepat.”

Aluna ragu sejenak sebelum bertanya,

“Apakah kamu benar-benar curiga padanya?”

Arkan tidak langsung menjawab.

Ia memandang langit yang mulai berubah jingga.

“Aku tidak ingin mencurigai keluarga sendiri.”

“Tapi?”

Arkan akhirnya menoleh padanya.

“Tapi bukti mulai mengarah ke sana.”

Aluna menunduk pelan.

Jika itu benar, berarti kematian ayahnya mungkin berkaitan dengan konflik besar dalam keluarga Wijaya.

Dan ia kini berada tepat di tengahnya.

“Arkan…” katanya pelan.

“Apa pun yang terjadi nanti… aku ingin tahu kebenarannya.”

Arkan menatapnya lama.

“Aku tahu.”

Dan untuk pertama kalinya sejak penyelidikan ini dimulai, Arkan merasa bahwa Aluna bukan hanya seseorang yang perlu ia lindungi.

Ia juga seseorang yang cukup kuat untuk berdiri di sampingnya.

Di tempat lain di kota itu, Surya Wijaya duduk di ruang kerja pribadinya.

Ruangan itu mewah namun remang.

Di meja depannya ada beberapa dokumen proyek.

Ia membuka salah satunya perlahan.

Angka-angka di dalamnya menunjukkan aliran uang yang sangat besar.

Lima puluh miliar.

Delapan puluh miliar.

Dan itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan rencana.

Ponselnya bergetar.

Surya melihat nama yang muncul di layar.

Cemalia.

Ia mengangkat telepon.

“Apa Arkan mencurigaimu?” tanya Cemalia tanpa basa-basi.

Surya menghela napas.

“Dia lebih pintar dari yang kita kira.”

“Apakah dia menemukan sesuatu?”

“Belum.”

Ada jeda beberapa detik.

Lalu Cemalia berkata dengan nada dingin,

“Pastikan dia tidak menemukan semuanya.”

Surya bersandar di kursinya.

“Kau tahu itu tidak semudah yang kau katakan.”

Cemalia tertawa kecil.

“Bukankah dulu kau yang mengatakan bahwa Arkan masih terlalu muda untuk memimpin perusahaan?”

Surya tidak menjawab.

Ia tahu wanita itu sengaja memancingnya.

“Tenang saja,” lanjut Cemalia.

“Selama kita tetap selangkah lebih maju, dia tidak akan bisa menyentuh kita.”

Surya menatap dokumen di mejanya.

Ia tidak terlihat sepenuhnya yakin.

“Dan jika dia menemukan kebenarannya?” tanyanya.

Cemalia menjawab tanpa ragu.

“Kalau begitu… kita pastikan dia tidak punya kesempatan untuk mengungkapkannya.”

Surya mengerutkan kening.

“Maksudmu apa?”

Namun sebelum ia bisa mendapat jawaban, Cemalia sudah menutup telepon.

Surya menatap ponselnya dengan perasaan tidak nyaman.

Ia sudah terlalu jauh masuk ke permainan ini.

Dan sekarang tidak ada jalan kembali.

Malam itu di mansion Wijaya, Arkan kembali ke ruang kerjanya.

Ia membuka laptop dan memeriksa laporan yang dikirim tim IT.

Mereka berhasil memulihkan sebagian file yang hampir dihapus.

Arkan membaca data itu dengan seksama.

Beberapa transaksi baru muncul.

Namun satu file membuatnya berhenti.

File itu berisi kontrak kerja sama lama.

Tanggalnya tiga tahun lalu.

Arkan membuka dokumen itu.

Nama perusahaan klien tercantum di bagian atas.

Namun yang membuat matanya menyempit adalah satu detail kecil di halaman terakhir.

Nama penjamin proyek.

Nama itu membuat Arkan perlahan bersandar di kursinya.

Karena nama itu bukan milik Surya.

Bukan juga milik Dimas.

Nama itu adalah seseorang yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Seseorang yang bahkan tinggal di rumah yang sama dengannya sekarang.

Arkan menatap layar laptop dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Jika dokumen ini benar…

Maka permainan ini jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

Dan orang yang terlibat mungkin lebih dekat daripada siapa pun yang ia curigai.

Di luar, angin malam mulai bertiup lebih kencang.

Seolah membawa pertanda bahwa badai yang sebenarnya baru saja dimulai.

Bersambung ke Bab 36…🔥

1
jenny
aku bingung Thor...
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?
𝔅𝔩𝔞𝔠𝔨 𝔐𝔞𝔪𝔟𝔞☬♆: Coba dibaca ulang deh kak🤭
total 1 replies
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!