Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGIS TANPA ALASAN
Yogyakarta terasa jauh lebih sunyi dari yang Arunika bayangkan. Kota yang dulu ia sebut rumah, kini terasa seperti penjara yang dipenuhi gema penyesalan. Setiap kali ia melewati Jalan Malioboro atau duduk di sudut Stasiun Tugu, matanya secara tidak sadar mencari sosok jangkung dengan jaket hitam yang mungkin saja muncul dari kerumunan. Namun, hasilnya selalu nihil. Arka dan teman-temannya seakan hilang ditelan bumi. Tidak ada pesan, tidak ada telepon, bahkan media sosial mereka seperti terkunci rapat bagi dunia Arunika.
"Mungkin benar," bisik Arunika pada pantulan dirinya di cermin kamar yang gelap. "Aku memang pantas dibuang. Aku yang memulai pelarian ini, jadi wajar kalau dia yang mengakhirinya dengan cara menghapusku sepenuhnya."
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju membelah aspal menuju Bandung, suasana terasa jauh lebih hangat meski diselimuti kebohongan yang rapi. Arka duduk di kursi tengah, bersandar pada bahu ibunya sambil menatap pepohonan yang berlari di balik jendela. Wajahnya tidak lagi sepucat saat di Kutoarjo.
Ibu Arka melirik suaminya dan Rio yang duduk di depan, mencoba memberanikan diri untuk menguji sejauh mana ingatan putranya terhapus.
"Ka... kamu benar-benar tidak ingat kemarin lusa sedang ngapain sampai bisa pingsan begitu?" tanya Ibunya dengan suara lembut, mencoba menyembunyikan getaran kecemasan.
Arka menoleh, alisnya bertaut sejenak seolah sedang menggali sesuatu dari dalam kepalanya.
"Inget kok," jawab Arka singkat.
Seketika, suasana di dalam mobil membeku. Rio yang sedang menyetir hampir saja menginjak rem secara mendadak. Jantungnya berpacu kencang; apakah semua usahanya membuang kartu SIM dan menghapus jejak Nika sia-sia? Apakah Arka diam-diam mengingat semuanya?
"Ingat apa, Ka?" tanya Ayahnya dari kursi depan, suaranya terdengar sangat hati-hati.
Arka mendengus pelan, lalu melirik tajam ke arah belakang kepala Rio.
"Rio tiba-tiba nyuruh aku traktir teman sedivisi kantor pas uangku lagi dikit-dikitnya. Dia nggak paham apa kalau aku lagi miskin? Egois banget emang itu anak satu," ucap Arka dengan nada menggerutu yang khas.
Mendengar kalimat itu, Rio menarik napas lega yang sangat panjang hingga bahunya merosot. Ayah dan Ibu Arka saling berpandangan, lalu tersenyum tipis dengan raut lega yang tak terlukiskan. Ingatan itu adalah memori dua hari sebelum kecelakaan tragis tiga tahun lalu. Arka tidak ingat komanya, tidak ingat kecelakaannya, dan yang paling krusial—dia tidak ingat sedikit pun tentang pertemuannya kembali dengan Arunika di Bandung kemarin.
"Ya ampun, Ka! Jadi itu yang kamu pikirin?" ucap Rio sambil tertawa lepas, tawa yang kali ini benar-benar tulus karena beban di pundaknya sedikit terangkat. "Gue kan cuma mau merayakan keberhasilan proyek kita waktu itu. Mana gue tahu lo lagi bokek!"
"Bokek ya bilang, Ka, jangan malah kabur liburan sendirian sampai pingsan," sahut Ayahnya ikut menimpali drama yang sudah disusun Rio.
Arka terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Iya, iya. Pokoknya sampai Bandung nanti, gue mau tidur seharian. Rasanya capek banget, kayak habis lari maraton antar provinsi."
Mobil itu terus melaju menuju Bandung, membawa Arka kembali ke dunianya yang "lama"—dunia di mana nama Arunika belum pernah terukir kembali sebagai luka. Arka tertawa mendengar celotehan Rio, tanpa menyadari bahwa di saku tasnya yang ia taruh di bagasi, ada sebuah gantungan kunci kecil berbentuk kucing yang pernah diberikan Nika, satu-satunya benda yang luput dari pembersihan Rio.
Mobil berhenti tepat di depan rumah Arka di Bandung. Rio dengan sigap turun dan membopong Arka yang masih tampak lemas masuk ke dalam rumah. Langkah mereka langsung menuju kamar Arka di lantai atas.
Begitu pintu kamar terbuka, mata Rio langsung tertuju pada sebuah bando telinga kucing yang tergeletak di atas meja belajar dan beberapa lembar foto photobox yang tertempel di pinggir cermin. Di foto itu, Arka dan Arunika tampak tertawa lepas dengan pose yang sangat manis.
Rio tersentak. Jejak Arunika masih tertinggal nyata di kamar ini. Jika Arka melihatnya sekarang, semua skenario amnesia ini bisa hancur berantakan.
Rio segera memutar otak. Ia membimbing Arka keluar lagi dari kamar dengan alasan yang dikarang-karang, lalu memberi kode mata yang sangat kuat kepada orang tua Arka yang berdiri di ruang tengah.
"Duduk sini dulu lo, Ka. Jangan naik dulu," ucap Rio sambil mendudukkan Arka di sofa ruang tamu dengan paksa.
"Kenapa sih, Yo? Gue mau rebahan di kasur gue sendiri," keluh Arka dengan wajah bingung.
"Halah, ntar dulu! Gue mau ambil barang gue yang lo umpetin di kamar lo mumpung lo lagi nggak berdaya begini. Awas ya kalau sampai rusak!" ucap Rio dengan nada bicara yang sengaja dibuat menyebalkan agar Arka tidak curiga.
"Heh, Rio! Ngapain lo bongkar-bongkar kamar gue?!" seru Arka, tapi ia terlalu lelah untuk bangkit mengejar Rio.
Ibu Arka yang mengerti kode tersebut langsung mengikuti Rio naik ke atas. Di dalam kamar, Rio dengan cepat menyambar bando kucing dan mencabut foto-foto itu dari cermin.
"Lihat, Bu... jejaknya masih di sini," bisik Rio dengan nada cemas sambil memperlihatkan foto-foto tersebut kepada Ibu Arka.
Ibu Arka menutup mulutnya, menatap wajah ceria putranya dan Arunika di foto itu dengan tatapan sedih. Ia tidak menyangka Arka menyimpan kenangan itu secepat ini.
"Tolong masukin kotak, simpen di tempat yang benar-benar aman ya, Bu. Jangan sampai Arka lihat barang-barang ini sampai memorinya benar-benar stabil," ucap Rio lagi, menyerahkan barang-barang itu ke tangan Ibu Arka.
Ibu Arka mengangguk mantap. "Iya, Rio. Ibu taruh di gudang dalam peti yang terkunci. Terima kasih ya, kamu sudah sejauh ini menjaga Arka."
Setelah memastikan kamar Arka "bersih" dari segala hal berbau Arunika, Rio keluar dengan membawa sebuah powerbank milik Arka sebagai alibi. Sementara itu, di bawah sana, Arka duduk menyandar sambil memejamkan mata, sama sekali tidak tahu bahwa identitas wanita yang ia cintai baru saja dikemas dalam kotak dan disembunyikan di sudut rumah yang paling gelap.
Gemini said
Di dalam kamar itu, Rio bergerak dengan ketangkasan yang ganjil, mirip seorang pencuri yang sedang berpacu dengan waktu. Napasnya memburu, matanya menyisir setiap inci ruangan dengan sangat teliti. Ia tidak ingin menyisakan satu pun celah yang bisa membawa Arka kembali pada ingatan tentang gadis itu.
Ia mulai mengobrak-abrik lemari pakaian Arka. Jaket denim yang dipakai Arka ke stasiun ditarik paksa dari gantungan, saku-sakunya digeledah hingga ke bagian terdalam. Celana jeans yang masih kotor di keranjang cucian pun tak luput dari pemeriksaan; Rio merogoh setiap lubang saku, mencari struk pembayaran, karcis parkir, atau apa pun yang bisa menjadi petunjuk.
"Cepat, Rio... cepat," bisiknya pada diri sendiri sambil melempar tas ransel Arka ke atas tempat tidur.
Ia menumpahkan isi tas itu. Buku catatan, pulpen, hingga selipan-selipan kertas kecil di dompet diperiksa satu per satu. Jika ia menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan yang halus atau aroma parfum yang bukan milik Arka, ia langsung menyambarnya. Baju-baju yang sekiranya pernah dipakai saat mereka bersama langsung dipisahkan untuk disembunyikan.
"Semua harus bersih. Jangan sampai ada yang tertinggal," ucap Rio pelan saat ia menemukan selembar tiket bioskop di saku jaket cadangan Arka.
Ibu Arka berdiri di ambang pintu, memperhatikan Rio yang sedang sibuk mengosongkan kamar putranya dari jejak-jejak cinta yang tragis itu. Hatinya perih melihat Rio harus melakukan hal ekstrem ini, seolah mereka sedang menghapus eksistensi seseorang dari muka bumi.
"Semua dicek, Yo? Sampai ke saku-saku kecil?" tanya Ibu Arka dengan suara gemetar, memastikan tidak ada bukti yang tertinggal.
"Semuanya, Bu. Jaket, celana, tas... kalau ada soal Arunika, saya ambil semuanya," ucap Rio tanpa menoleh, tangannya masih sibuk memeriksa lipatan baju di laci paling bawah.
Setelah merasa kamar itu benar-benar "steril", Rio mengumpulkan semua barang itu—bando kucing, foto, tiket, hingga catatan kecil—ke dalam satu kantong plastik hitam besar. Ia menyerahkannya kepada Ibu Arka dengan raut wajah yang tampak sangat lelah.
"Bawa ini jauh-jauh, Bu. Bakar kalau perlu, atau simpan di tempat yang Arka nggak akan pernah bisa jangkau. Mulai besok, di kamar ini, Arunika nggak pernah ada," ucap Rio tegas.
Ibu Arka menerima bungkusan itu dengan tangan dingin. Di bawah sana, di ruang tamu, terdengar suara Arka yang memanggil, menanyakan kenapa Rio lama sekali di atas. Mereka segera merapikan kembali posisi lemari yang sedikit berantakan, memastikan Arka tidak akan curiga bahwa kamarnya baru saja "dibersihkan" dari separuh jiwanya.
Pagi itu, sinar matahari Bandung yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar Arka tidak berhasil menghalau hawa dingin yang terasa aneh di dalam hatinya. Sudah dua hari Arka tidak masuk kerja, terjebak dalam rasa lelah yang tidak bisa ia jelaskan. Tubuhnya sehat, namun jiwanya terasa seperti baru saja menempuh perjalanan ribuan kilometer.
Saat kelopak matanya terbuka, hal pertama yang ia rasakan bukanlah kesegaran, melainkan hangatnya air mata yang menetes ke bantalnya. Tanpa suara, tanpa isakan, air mata itu mengalir begitu saja.
Pintu kamar terbuka perlahan. Ibu Arka masuk, membawa aroma nasi goreng hangat yang biasanya menjadi penyemangat pagi. Ia mendapati putranya masih berbaring, namun bahunya tampak bergetar.
"Bangun, Ka. Kerja, nanti Rio jemput katanya mau berangkat bareng," ucap ibunya lembut sambil mengusap kepala Arka. Namun, tangannya seketika berhenti saat melihat wajah putranya yang basah. "Kamu nangis? Kenapa, Ka? Ada yang sakit kepalanya?"
Arka terduduk pelan, menyeka pipinya dengan punggung tangan, tampak bingung dengan dirinya sendiri.
"Arka nggak tahu, Bu. Tiba-tiba nggak ada perasaan sedih atau apa, tiba-tiba ngalir sendiri," ucap Arka lirih, suaranya parau khas orang bangun tidur.
Ibunya terdiam, hatinya terasa seperti diiris sembilu. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Meskipun memori di otak Arka telah dihapus secara paksa oleh Rio dan keadaan, namun "ingatan tubuh" dan jiwanya tidak bisa berbohong. Ada bagian dari hidupnya yang hilang, dan bagian itu sedang menangis minta ditemukan.
"Mungkin kamu cuma kecapekan, sayang. Atau mimpi buruk yang lupa ceritanya," ucap ibunya, mencoba menutupi kegugupan sambil terus mengelus punggung Arka.
"Tapi rasanya sesak banget di sini, Bu," ucap Arka sambil menunjuk dadanya sendiri. "Kayak ada janji yang belum aku tepatin, atau ada seseorang yang lagi nungguin aku... tapi aku nggak tahu siapa."
Ibu Arka hampir saja kelepasan menyebut nama Arunika, namun ia segera menggigit bibir bawahnya. Ia teringat pesan Rio: semua harus dikubur sampai dia membaik.
"Sudah, nggak usah dipikirin. Cuci muka dulu sana. Rio sebentar lagi sampai. Jangan buat temanmu itu nunggu lama," ucap ibunya sambil beranjak pergi, tak sanggup berlama-lama menatap mata Arka yang penuh tanda tanya.
Arka menghela napas panjang. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Saat ia melewati cermin besar di kamarnya, ia berhenti sejenak. Ia menatap pantulan dirinya, merasa ada yang asing. Seolah-olah pria di dalam cermin itu baru saja kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada ingatannya sendiri.
Mobil Rio berhenti tepat di depan pagar rumah Arka. Dengan wajah yang dipaksakan ceria, Rio turun dan membukakan pintu untuk sahabatnya. Namun, keceriaannya memudar saat melihat Arka berjalan mendekat dengan tatapan kosong dan langkah yang sedikit sempoyongan.
"Pelan-pelan, Ka. Lo tuh emang dasarnya manja atau gimana sih, jalan aja kayak nggak napak," ucap Rio sambil sigap memegang lengan Arka, menopang berat tubuh pria itu agar tidak limbung.
"Gue nggak apa-apa, Yo. Cuma agak pusing aja tiap kena sinar matahari," ucap Arka lirih.
Sesampainya di kantor, Rio terus mendampingi Arka hingga masuk ke ruangan divisi mereka. Namun, saat mata Rio menyisir meja kerja Arka untuk memastikan semuanya aman, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sudut meja, terselip di bawah tumpukan dokumen yang sempat ditinggalkan, terlihat selembar foto polaroid yang separuhnya tertutup map. Di foto itu, terlihat jelas siluet Arunika sedang tertawa di bawah lampu jalan.
Rio panik. Ia segera menoleh ke arah meja di sebelahnya, tempat seorang staf administrasi duduk.
"Stt... Wulan, sini!" bisik Rio dengan nada mendesak.
Wulan yang sedang asyik mengetik langsung menoleh dengan wajah bingung. "Kenapa, Mas Rio?"
Rio menarik Wulan sedikit menjauh dari meja Arka, wajahnya memerah karena menahan emosi sekaligus ketakutan.
"Lo gimana sih?! Kan gue udah bilang, hilangin semua hal yang soal Arunika dari jangkauan Arka! Lihat itu di meja kerjanya, ada fotonya segala! Kalau dia lihat gimana?" ucap Rio setengah berbisik namun penuh penekanan.
Wulan terkesiap, matanya membelalak kaget. "Demi Allah, Mas, kemarin sore sudah saya bersihkan semua. File-file di komputer juga sudah saya pindahin ke folder rahasia sesuai perintah Mas Rio. Itu mungkin terselip di dalem map lama yang baru keluar. Saya beneran nggak lihat, Mas!"
"Sekarang lo cari cara buat ambil foto itu tanpa dia sadar. Gue bakal ajak dia ke pantry sebentar buat bikin kopi. Pas gue bawa dia pergi, lo sikat foto itu, buang atau bakar sekalian! Jangan sampai ada yang tersisa satu senti pun!" ucap Rio dengan nada memerintah yang tak terbantahkan.
Wulan mengangguk cepat, tangannya gemetar. "Iya, Mas. Siap. Maaf banget, saya langsung beresin sekarang."
Rio kembali menghampiri Arka yang baru saja hendak duduk dan menyentuh map di mejanya.
"Eh, Ka! Jangan duduk dulu. Temenin gue ke pantry yuk, gue ngantuk banget pengen kopi item, tapi gue nggak mau sendirian. Yuklah, sebentar doang!" ucap Rio sambil menarik paksa bahu Arka, menjauhkannya dari meja maut itu sebelum matanya sempat menangkap bayangan masa lalu yang tersembunyi di sana.
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍