NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Hari Ulang Tahun Ironis

​Saat Kirana melangkah keluar dari gerbang RSUD, malam sudah benar-benar larut.

Langit tampak gelap tanpa bintang. Bahkan bulan seolah sengaja bersembunyi di balik awan tebal, seperti ikut memahami beratnya beban yang baru saja ia pikul.

Deru kendaraan sesekali melintas, memecah sunyi jalan raya. Jalan itu sebenarnya masih cukup ramai untuk membuat seseorang tidak merasa sendirian—namun anehnya tetap terasa terlalu sepi bagi seorang perempuan untuk merasa aman.

Kirana menarik napas pelan.

Di dalam benaknya, ia mengakui satu hal: rencana Aruna kali ini memang sederhana, bahkan terlihat ceroboh. Tidak ada sabotase rumit, tidak ada trik teknis canggih.

Namun justru karena kesederhanaannya itulah serangan itu berhasil melukainya dengan telak.

'Aruna jauh lebih licik dari yang kukira…' batin Kirana dingin.

'Dia selalu tahu di mana titik terlemahku.'

Aditya.

Orang tua kandungnya.

Semua itu bukan kebetulan. Mereka hanyalah pion yang sengaja digunakan Aruna untuk menghancurkan hatinya perlahan.

Kadang, di saat seperti ini, sebuah pikiran pahit muncul.

'Mungkin semua ini memang salahku… aku terlalu polos. Terlalu mudah percaya pada orang. Sampai akhirnya semua orang membenciku… lalu meninggalkanku sendirian.'

Ia menelan ludah.

Lima tahun.

Lima tahun perjuangan, air mata, dan harga diri yang ia pertaruhkan di dunia hiburan yang penuh topeng itu.

"Kalau suatu hari nanti aku berhasil mendapatkan semuanya… kalau aku benar-benar punya segalanya… apakah masih ada orang yang benar-benar peduli padaku?" gumamnya lirih.

Suaranya nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Ia sadar, tanpa seseorang yang benar-benar tulus di sisinya, puncak kesuksesan hanya akan terasa seperti menara tinggi yang dingin dan kosong.

Kirana terus melangkah dengan ponsel tergenggam erat. Ia sudah memesan taksi online, dan mobilnya sedang menuju ke lokasi.

Di depan rumah sakit, jalanan sebenarnya masih hidup. Kendaraan berlalu-lalang. Pedagang kaki lima di seberang jalan masih sibuk melayani pembeli. Lampu kota berkilau seperti panggung raksasa yang tak pernah tidur.

Namun pikirannya terlalu penuh untuk peduli.

Tiba-tiba sebuah MPV hitam melambat tepat di depannya.

Kirana sempat mengira itu mobil pesanannya. Ia menatap ke arah sopir di balik kaca film gelap, hendak memastikan.

Namun sebelum sempat bertanya—

Pintu tengah mobil itu bergeser terbuka.

Dua pria melesat keluar.

Salah satunya langsung menutup wajah Kirana dengan kain basah. Aroma tajam menusuk hidungnya.

Yang satu lagi mencengkeram lengannya dengan kasar.

Tubuh Kirana tersentak. Ia refleks melawan, mencoba menepis, mencoba berteriak—

Namun suaranya tercekik di balik kain.

Tenaga pria itu terlalu kuat.

Tubuhnya terseret menuju pintu mobil. Sepatunya hampir tersandung aspal.

Dalam hitungan detik, ia sudah dilempar ke kursi belakang.

Tubuhnya terhuyung. Kepalanya nyaris membentur interior mobil karena sabuk pengaman belum terpasang.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Para pedagang, pengendara, orang-orang di sekitar—baru menyadari sesuatu telah terjadi saat mobil itu sudah melaju kencang meninggalkan lokasi.

Kirana mencoba menggerakkan tubuhnya.

Gagal.

Matanya mulai berat. Pengaruh obat bius bekerja cepat di sistem sarafnya. Dunia di sekelilingnya perlahan memudar, seperti lampu panggung yang dimatikan satu per satu.

Tubuhnya kehilangan tenaga. Kesadarannya tenggelam dalam kegelapan.

Sebuah senyum tipis—pahit dan lemah—muncul di wajahnya.

'Hari ulang tahunku benar-benar ironis…' batinnya samar.

'Pertama dijebak… sekarang diculik…'

Dan setelah itu, segalanya gelap.

​Sementara itu, di sebuah resort mewah berbintang lima di jantung Jakarta, suasananya sangat kontras dengan penderitaan Kirana.

Gunawan Halim—pria yang dikenal sebagai Bos Halim—baru saja menerima kabar tentang sebuah pesta private social gathering eksklusif di tempat itu. Yang paling penting: Bryan Santoso dikabarkan akan hadir.

Halim datang lebih awal. Ia sudah menyiapkan banyak hal khusus demi menyambut sang raja bisnis tersebut.

Namun seperti dugaan awalnya, orang seperti Bryan Santoso jelas bukan tipe yang bisa dipancing dengan trik murahan.

Telepon genggam Halim tiba-tiba berdering.

Tangannya sedikit gemetar saat mengangkatnya.

"Halo? Kenapa lama sekali? Sudah selesai atau belum?" tanya Halim tajam.

"Ya, Bos Halim, target sudah kami dapatkan. Sekarang kami sedang menuju lokasi," jawab suara di seberang.

"Bagus. Pastikan dia sampai dalam sepuluh menit. Bawa ke Kamar 808. Jangan sampai salah kamar," perintah Halim dingin.

"Tenang saja, Bos. Tapi ck… gadis ini benar-benar cantik. Kami sampai terpesona," ujar pria itu dengan nada kurang ajar.

Nada suara Halim langsung berubah dingin seperti es.

"Kalau kau berani menyentuhnya sedikit saja, lupakan sisa bayaranmu. Aku punya urusan penting dengan wanita itu. Jangan sampai sehelai rambut pun rusak."

Telepon langsung diputus.

Beberapa saat sebelumnya, MPV hitam itu melaju kencang di tol menuju Jakarta Pusat.

Di dalam mobil, Kirana perlahan mulai sadar.

Kepalanya terasa berat. Pandangannya gelap. Ia baru sadar matanya tertutup kain tebal yang diikat rapat.

Tangannya terikat. Kakinya terikat. Mulutnya disumpal kain.

Ia hanya bisa merasakan getaran mobil yang melaju tanpa tahu arah tujuan.

'Apakah ini ulah orang suruhan Aruna?' pikirnya.

Namun ia langsung menepis kemungkinan itu.

'Aruna tidak perlu sejauh ini. Dia sudah menjebakku dengan sempurna di lokasi syuting. Dia tak butuh penculik profesional.'

Pikirannya berputar cepat.

'Kalau bukan dia… siapa?'

Ia mencoba mengingat musuh-musuhnya.

Tidak ada nama yang muncul—sampai ia mendengar suara dari kursi depan.

"Ya Bos Halim, semuanya beres. Kami sedang dalam perjalanan… hahaha, tentu kami tidak berani menyentuhnya. Dia sepenuhnya milik Bos."

Tubuh Kirana langsung menegang.

'Bos Halim…?'

Ingatan tentang kejadian di restoran semalam muncul.

Pria menjijikkan itu.

'Gunawan Halim…?'

Rahang Kirana mengeras.

'Jadi babi berminyak itu masih belum menyerah…'

Beberapa jam kemudian, mobil berhenti di basement parkiran mewah.

Pintu terbuka.

Seseorang meraih tubuhnya.

Kirana langsung meronta.

Bahunya menghantam sandaran kursi. Lututnya menendang liar. Ikatan tali menahan semua gerakannya, tapi ia tetap melawan.

"Diam kau!" bentak pria kasar.

Kirana mencoba berteriak di balik sumbatan. Yang keluar hanya dengusan lirih.

"Heh, ternyata masih galak," gumam pria lain kesal.

Tangannya yang terikat bergerak liar, kuku-kukunya menggores jok mobil. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat.

"Pegang kepalanya!"

Sebuah tangan kasar mencengkeram rambutnya, memaksa kepalanya mendongak.

Kirana meronta semakin keras.

"Berisik. Kubilang diam!"

Ia menggeleng kuat, mencoba melepaskan cengkeraman.

Namun kain berbau tajam itu kembali ditekan ke wajahnya.

Aroma obat bius langsung memenuhi hidungnya.

'Sialan kalian…' batinnya marah sebelum kesadarannya kembali tenggelam.

Tubuhnya melemah. Gerakannya melambat. Lalu diam.

Beberapa menit kemudian, kesadarannya kembali samar.

Ia masih tak bisa melihat. Tangan dan kakinya tetap terikat.

Namun kini ia tidak lagi berada di mobil.

Udara terasa dingin—hembusan AC yang stabil.

Ia mendengar suara dua perempuan berbicara pelan di dekatnya, tetapi tak jelas apa yang mereka katakan.

Tangannya terasa disentuh.

Pakaiannya dilepas.

Lalu diganti dengan sesuatu yang tipis, halus, licin.

Gaun tidur.

Sesaat kemudian, benda-benda kecil wangi ditaburkan di tubuhnya.

Kelopak bunga.

Lalu aroma parfum lembut menyelimuti kulitnya.

Tubuh Kirana menegang.

Logikanya langsung berteriak.

'Orang seperti Halim tidak sabaran. Kalau dia ingin sesuatu, dia pasti langsung mengambilnya…'

'Tapi kenapa aku malah didandani?'

Perasaan tidak enak menjalar di dadanya.

'Dasar babi menjijikkan… cabul tua… kenapa tidak langsung bunuh aku saja kalau mau? Kenapa harus pakai sandiwara begini…'

Rasa mual naik ke tenggorokannya.

​…

​Sementara itu, di area pesta resort yang tidak jauh dari sana, Bryan Santoso tampak sedang mengecek jam tangan mewahnya untuk kesekian kalinya.

Ia merapikan lengan kemejanya, lalu berdiri dari kursi dengan ekspresi jelas—ia sudah siap pergi.

Tepat saat ia hendak melangkah, sebuah sosok tiba-tiba muncul dari permukaan kolam renang dengan gerakan lincah.

Pria itu mengibaskan rambut basahnya ke belakang. Percikan air beterbangan, menyegarkan orang-orang di sekitarnya. Wajahnya terangkat—angkuh, tampan, penuh percaya diri.

Dengan satu tangan masih basah, ia meraih pergelangan kaki Bryan.

"Hei hei hei, Bryan Santoso! Akulah yang susah payah mengatur pesta malam ini. Masa kau tidak bisa memberi sedikit penghormatan pada tuan rumah?" rengeknya.

"Baru setengah jam dan kau sudah mau kabur? Kita punya anggur terbaik dan wanita tercantik di sini. Tidak ada satu pun yang bisa membuatmu betah?"

"Lepaskan tanganmu," ujar Bryan singkat.

Nada suaranya dingin. Tatapannya bahkan lebih dingin—seolah kaki pria itu benar-benar bisa patah jika ia tak segera melepaskan.

Situasi menegang.

Arion Santoso segera mendekat sambil membawa segelas anggur. Ia tertawa kecil melihat adegan itu.

"Bang Morio, kau sadar tidak? Dari tadi jiwa Abangku ini sama sekali tidak ada di sini. Fakta bahwa dia mau hadir tiga puluh menit saja sudah merupakan kehormatan besar bagimu."

Morio kini duduk santai di tepi kolam, senyum nakal terukir jelas.

"Kalau bukan di sini, memangnya hatinya di mana? Setahuku dia tidak punya wanita," ejeknya.

Arion mendengus pelan, wajahnya seperti menyimpan rahasia besar.

"Siapa bilang dia tidak punya? Aku jamin sebentar lagi dia pasti punya."

"Apa?! Itu pengkhianatan!" Morio langsung meloncat keluar dari kolam, ekspresinya dramatis. "Kita sepakat jadi saudara jomblo selamanya! Siapa yang pacaran duluan berarti monyet!"

Bryan menatapnya datar.

"Aku tidak ingat pernah menyetujui kesepakatan bodoh seperti itu."

Arion tertawa, lalu menepuk bahu Morio.

"Bang Morio, kau boleh saja hidup bebas. Tapi Abangku ini punya anak laki-laki. Sebagai ayah, dia punya tanggung jawab mencari ibu yang tepat."

Morio langsung menajamkan pandangan.

"Kalau begitu, siapa wanita beruntung itu?"

Bryan hanya melirik arlojinya lagi.

Ekspresinya kini jelas menunjukkan ketidaksabaran.

Tanpa menjawab, ia langsung melangkah pergi meninggalkan area kolam, sama sekali mengabaikan Morio.

"Sial! Dia benar-benar ninggalin aku demi perempuan!" gerutu Morio.

Arion segera mengejar Bryan. Dibanding pesta anggur membosankan, ia jauh lebih tertarik melihat bagaimana kakaknya mendekati wanita.

"Bang Bryan, kau buru-buru pulang karena mau merayakan ulang tahun Kakak Ipar, ya? Ayo cerita. Kejutan apa yang sudah kau siapkan? Siapa tahu aku bisa kasih ide tambahan!"

Ia terus mengoceh di belakang.

Namun tiba-tiba pandangannya menangkap sosok lain.

"Tuan Bryan! Tuan Arion!" panggil pria itu terengah-engah.

Dahinya basah oleh keringat. Jelas ia baru berlari.

Arion mengangkat alis.

"Hei, CEO Halim. Kenapa terburu-buru begitu?"

"Saya… saya mencari Bos Bryan," ujar Gunawan Halim dengan senyum yang dipaksakan.

Ia lalu menyerahkan sebuah kartu kunci kamar emas dengan kedua tangan.

"Bos Bryan, ini hadiah kecil dari saya. Mohon diterima."

Maknanya jelas bagi siapa pun: seorang wanita telah disiapkan di kamar itu sebagai bentuk gratifikasi.

Bryan sebenarnya tidak ingin berurusan dengan siapa pun malam ini. Namun untuk menghentikan pemborosan waktunya, ia langsung mengambil kartu itu tanpa berkata sepatah kata pun dan terus berjalan.

Gunawan Halim langsung menghela napas lega.

Meski begitu, di dalam hati ia masih cemas—apakah Bryan benar-benar akan pergi ke kamar tersebut?

Arion menatap kartu itu sekilas, lalu tersenyum miring.

"Wow, Abang. Soal wanita, kau benar-benar beruntung. Kau menekan Gunawan Halim sampai dia harus menyiapkan sesuatu yang luar biasa besar untukmu malam ini."

Arion yakin wanita yang ditemukan Halim untuk diberikan kepada Bryan pasti luar biasa cantik.

Namun ia juga tahu hati abangnya sudah ada pemiliknya. Bryan jelas tidak mungkin melirik wanita lain.

"Kalau Abang tidak mau memakainya, kenapa tidak kasih kartu ini saja padaku?" ujar Arion santai. "Aku penasaran dewi seperti apa yang berhasil ditemukan babi Halim itu."

Bryan menjentikkan jari.

Detik berikutnya kartu kunci emas itu melayang ke arah Arion.

Arion langsung menangkapnya dengan cekatan di antara dua jari, wajahnya berseri-seri seperti anak kecil mendapat mainan baru.

"Kalau begitu, aku yang ke sana!"

Ia melirik nomor kamar.

"Wow. Kamar 808. Suite Kepresidenan paling mahal."

Dengan langkah ringan penuh antusias, Arion menuju lift.

Lift mencapai lantai teratas. Dengan satu tangan di saku celana, ia berjalan santai menyusuri koridor sunyi menuju kamar di ujung lorong.

Sesampainya di depan pintu 808, ia menggesek kartu emas itu.

Bip.

Pintu terbuka.

Tepat sebelum mendorongnya, sebuah pikiran narsis sempat muncul.

"Aduh… bagaimana kalau wanita di dalam langsung jatuh cinta padaku dan tidak mau melepaskanku?" gumamnya pelan.

Walau belum berniat menikah, Arion tetap menganggap dirinya pria terhormat. Ia hanya percaya pada hubungan yang tulus dan serius.

Pintu akhirnya terbuka penuh.

Pandangan Arion langsung tertuju pada ranjang besar di tengah ruangan. Permukaannya hampir seluruhnya tertutup kelopak mawar merah.

Seorang wanita terbaring lemas di tengah hamparan bunga itu.

Melalui celah kelopak mawar, terlihat samar gaun tidur transparan yang dikenakannya. Sepasang kaki panjang berkulit kuning langsat terang Terbentang anggun, memantulkan kilau hangat bak sutra keemasan.

"Hanya melihat kaki seindah ini saja rasanya sudah cukup membuat pria mana pun jatuh cinta pada pandangan pertama," gumam Arion kagum.

"Sepertinya si Halim itu benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya kali ini untuk memikat Abang, tapi sayangnya jebakan madu seperti ini tidak akan mempan padanya."

Ia melangkah dua langkah lebih dekat.

Baru sekarang wajah wanita itu terlihat jelas.

"Hmm? Tunggu… kenapa wajahnya terasa familiar?"

Alis Arion berkerut.

Meski matanya tertutup kain renda tipis, Arion langsung mengenalinya.

"Oh my goooooddddd!!!!!!!!!!!"

Teriakannya menggema di seluruh ruangan.

Ia refleks melompat mundur, tersungkur seperti baru melihat monster.

Tanpa pikir panjang ia bangkit dan kabur keluar, membanting pintu keras-keras.

Ia bahkan memilih berlari menuruni tangga darurat daripada menunggu lift.

Ia terus berlari sampai ke pintu keluar basement—dan tepat saat itu ia melihat mobil mewah Bryan hendak melaju keluar.

"ABANGGG!"

Arion langsung berdiri di tengah jalan menghalangi.

CIIITTT!

Rem mobil menjerit keras. Mobil berhenti nyaris menyentuh tubuhnya.

Ekspresi Bryan di balik kaca langsung berubah gelap.

Arion panik menampar-nampar jendela mobil.

Sebelum Bryan sempat memarahi, Arion sudah membuka pintu dan menyeretnya keluar paksa seolah gedung sedang terbakar.

"Abang ikut aku sekarang! Cepat!" katanya panik.

"Ada apa?" tanya Bryan datar, masih berusaha tenang.

"Ini darurat! Darurat hidup mati! Ikut saja dulu, nanti Abang tahu sendiri!"

"Hanya ada satu hal yang menjadi prioritasku sekarang," jawab Bryan dingin. Ia jelas ingin segera pergi menjemput Kirana untuk merayakan ulang tahunnya.

"Aku tahu di kepala Abang sekarang cuma Kakak Ipar," kata Arion serius. "Tapi yang mau kutunjukkan ini ada hubungannya langsung dengannya."

Bryan langsung berhenti bergerak.

Tatapannya menajam.

"Apa maksudmu?"

"Ikut saja dulu. Abang akan tahu sendiri. Cepat!"

Arion kembali menarik lengan kemeja Bryan.

Beberapa detik hening.

Lalu akhirnya Bryan menurut.

Ia mengikuti langkah adiknya kembali menuju gedung resort.

Bersambung…

1
샤롷툴 밯디얗
siap2 habis om halimun 🤣🤣🤣
Siru
bagussss cerita nya thor 👍👍
semangat 💪💪
Ira Janah Zaenal
bryan😍😍 kamu memang 👍👍👍👍semoga makin lengket dengan kakak ipar😍
Ira Janah Zaenal
😍kereeennm thorr ... ikut tegang dalam naskah drama kirana adegan berciuman dengan mas yono😍😍💪💪
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!