Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lalu Apa Masalahnya?
Matahari pagi di Jakarta menyambut Karina dengan sinar yang lebih cerah dari biasanya. Hari itu, ia bekerja dan menyelesaikan rapat-rapat direksi dan menandatangani dokumen pengambilalihan aset Agus yang kini sudah berada di bawah kendali Grup Wijaya. Namun, di balik ketegasannya sebagai pimpinan, ada debar jantung yang tidak bisa ia sembunyikan setiap kali ia melirik jam tangan emasnya.
Pukul tujuh malam, sebuah restoran tua bergaya kolonial di kawasan ibu kota menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Restoran ini adalah tempat di mana Faisal pertama kali bertemu dengan Karina dua puluh tahun lalu saat orangtua mereka menjodohkan keduanya, tempat ini juga yang dulu Karina tinggalkan demi mengejar impian semu bersama Agus.
Karina tiba lebih awal, ia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang elegan dan rambutnya disanggul modern hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang kini dihiasi kalung mutiara peninggalan ibunya. Di tangannya, ia menggenggam tas kecil yang di dalamnya tersimpan kotak beludru biru dari brankas Ayahnya.
Pintu restoran berdenting dan sosok pria bertubuh tegap masuk, Faisal tidak mengenakan jas formalnya yang kaku dan hanya mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang sedikit digulung, wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa tampak menyiratkan ketegangan yang jarang terlihat.
Langkah kaki Faisal terhenti sejenak saat melihat Karina, ia menatap wanita di depannya seolah-olah sedang melihat keajaiban yang kembali nyata.
"Karina," sapa Faisal dan suaranya sedikit serak.
"Duduklah, Faisal," ucap Karina dan tersenyum, sebuah senyuman yang hangat namun menyimpan kedalaman emosi yang luar biasa.
Setelah memesan hidangan yang sama seperti yang mereka pesan dua dekade lalu, keheningan sempat menyelimuti meja mereka, hanya suara denting sendok dan musik klasik pelan yang mengisi ruangan.
"Kenapa tempat ini?" tanya Faisal akhirnya, memecah keheningan.
"Maksudnya?" tanya Karina.
"Aku pikir tempat ini menyimpan terlalu banyak kenangan yang... mungkin ingin kamu lupakan," jawab Faisal.
Karina meletakkan garpunya dan menatap Faisal tepat di mata, "Aku baru membuka brankas Ayah semalam, Faisal," ucap Karina.
Gerakan tangan Faisal terhenti, ia menarik napas panjang lalu menyandarkan punggungnya. Faisal sudah tahu momen ini akan datang, namun ia tidak menyangka akan secepat ini.
"Dan aku menemukan surat Ayah, aku menemukan tentang bagaimana kamu menjaga perusahaan ini saat Ayah kecelakaan. Tentang bagaimana kamu tetap membujang dan menjagaku dari jauh selama dua puluh tahun, saat aku justru sibuk memberikan hidupku pada orang yang salah," ucap Karina.
Faisal tersenyum pahit, "Tuan Baskoro selalu punya cara untuk membocorkan rahasia, bahkan setelah beliau tiada," ucap Faisal.
"Kenapa, Faisal?" tanya Karina dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kenapa kamu melakukan itu semua? Kamu bisa saja mencari wanita lain yang lebih muda, yang lebih baik, yang tidak membuangmu demi pria seperti Agus, kenapa harus aku?" tanya Karina.
Faisal mencondongkan tubuhnya ke depan dan tatapannya begitu tulus hingga membuat pertahanan Karina runtuh. "Karena bagiku, cinta bukan tentang memiliki, Karina. Saat kamu pergi dua puluh tahun lalu, duniaku memang sempat hancur. Tapi saat aku melihatmu berjuang membangun hidupmu sendiri, meski aku tahu pria itu tidak layak untukmu, aku memutuskan bahwa jika aku tidak bisa menjadi suamimu, setidaknya aku bisa menjadi pelindungmu," ucap Faisal.
Faisal menghela napas dan jemarinya mengetuk meja dengan lembut, "Menjaga Grup Wijaya adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap terhubung dengamu, aku ingin memastikan bahwa jika suatu saat kamu memutuskan untuk pulang, rumahmu masih berdiri tegak. Aku tidak pernah merasa membuang waktu, Karina. Menunggumu adalah satu-satunya hal paling bermakna yang aku lakukan dalam hidupku," lanjutnya.
Karina tidak bisa lagi membendung air matanya, ia mengeluarkan kotak beludru biru itu dari tasnya dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Faisal.
"Aku menemukannya di dalam brankas, cincin yang seharusnya menjadi milikku dua puluh tahun lalu," ucap Karina lirih.
Faisal menatap kotak itu dengan pandangan rindu, "Aku menitipkannya pada Ayahmu setahun setelah kamu menikah, aku bilang padanya jika suatu hari kamu kembali, tolong berikan ini padanya sebagai tanda bahwa masih ada tempat baginya untuk pulang," ucap Faisal.
Karina meraih tangan Faisal, merasakan kehangatan dan kekokohan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari Agus. "Faisal... aku merasa sangat kotor dan rusak setelah apa yang aku lalui, aku bukan lagi Karina yang dulu. Aku adalah wanita dengan dua anak, yang penuh dengan luka pengkhianatan," ucap Karina.
Faisal menggenggam tangan Karina erat-erat, seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi. "Luka itu yang membuatmu menjadi wanita paling hebat yang pernah aku kenal, Karina. Kamu bukan rusak, kamu hanya baru saja melewati badai dan bagiku, kamu tetap Karina yang sama seperti dua puluh tahun lalu," ucap Faisal.
"Tapi, aku sudah pernah menikah," ucap Karina.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Faisal.
"Aku rasa, aku tidak pantas bersanding denganmu. Karena aku sudah begitu menyedihkan," ucap Karina.
"Tidak, Karina. Kamu tidak terlihat menyedihkan, kamu begitu indah, karena sekarang aku melihat seorang ratu yang telah berhasil merebut kembali mahkotanya. Karina, aku tidak butuh kesempurnaan, aku hanya butuh kamu yang berdiri di sampingku tanpa beban masa lalu itu lagi," ucap Faisal.
Karina terisak pelan, namun kali ini isak tangisnya terasa seperti pelepasan beban yang luar biasa. Karina perlahan membuka kotak beludru biru itu, di bawah temaram lampu restoran kolonial, berlian itu berkilau murni, seolah-olah waktu memang telah berhenti khusus untuk perhiasan tersebut.
"Dua puluh tahun yang lalu, aku terlalu buta untuk melihat siapa yang benar-benar mencintaiku. Aku menghabiskan hidupku membangun istana untuk orang yang hanya ingin membakarnya dan sekarang, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama," ucap Karina sambil menatap cincin itu.
Karina mengambil cincin itu lalu dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia memberikannya kepada Faisal. "Faisal... jika permintaan ini tidak terlalu lancang setelah semua yang aku lakukan padamu... maukah kamu memasangkannya untukku? Bukan sebagai tanda kepemilikan, tapi sebagai janji bahwa kita akan membangun masa depan yang baru bersama-sama?" izin Karina.
Mata Faisal berkaca-kaca, pria yang biasanya sangat tenang di meja perundingan bisnis itu kini tampak sangat emosional. Faisal menerima cincin itu, menarik tangan kiri Karina dan perlahan menyematkannya di jari manis wanita itu.
Cincin itu pas sempurna, seolah-olah memang diciptakan untuk tetap berada di sana. "Ini bukan janji yang terlambat, Karina. Ini adalah janji yang akhirnya menemukan waktunya," ucap Faisal dan mencium punggung tangan Karina.
Di bawah tatapan teduh Faisal, Karina merasa seolah beban seberat gunung yang dipikulnya sejak meninggalkan rumah Ayahnya dulu, menguap begitu saja ke udara malam Jakarta.
"Terima kasih, Faisal. Terima kasih karena tidak menyerah padaku," ucap Karina.
Faisal tersenyum dan genggaman tangannya memberikan kekuatan, "Aku tidak pernah menyerah pada hal-hal yang berharga, Karina. Sekarang, mari kita lupakan masa lalu. Kita punya banyak hal yang harus dikerjakan di masa depan," ucap Faisal.
.
.
.
Bersambung.....