NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Sambutan Sang Calon Mertua

Malam itu, kamar Gery hanya diterangi lampu meja yang remang. Ia baru saja selesai mengulang pelajaran, di saat yang bersamaan ponselnya di atas kasur bergetar pendek. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang ia beri nama "Vanya PH2".

From Vanya: "Ger, besok sore fiks ya latihan di rumah gue. Nadia sama Sammy udah oke. Tinggal keputusan dari lo nih, sang resepsionis andalan. Jangan bilang nggak bisa ya, gue udah siapin cemilan enak!"

Gery tersenyum tipis. Ia menimbang sejenak jadwal latihannya, lalu jempolnya lincah mengetik balasan.

To Vanya: "Oke, gue bisa. Besok pulang sekolah langsung meluncur."

Keesokan harinya, suasana parkiran sekolah riuh rendah oleh suara knalpot siswa yang bersiap pulang. Gery menghampiri motor matic hitamnya yang sudah sedikit ia modifikasi—dengan ban yang lebih lebar, body motor yang sudah di repaint ulang agar terlihat lebih stylish dan sudah di bored-up agar tarikan gas yang lebih enteng—membuatnya tampak lebih modis meski bukan motor keluaran terbaru.

"Naik, Van," kata Gery sambil memberikan helm cadangan kepada Vanya yang sudah menunggu di samping motornya.

Vanya naik dengan cekatan, memegang pundak Gery sebentar sebelum akhirnya melingkarkan tangannya dengan santai di pinggang Gery. Di belakang mereka, Sammy dengan motor bebeknya dan Nadia dengan motor scooter matic-nya sudah siap membuntuti.

"Woi, pelan-pelan ya Ger! Gue nggak hafal jalan ke rumah Vanya!" teriak Sammy dari balik helmnya.

Perjalanan menuju daerah perumahan elit tempat tinggal Vanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Begitu memasuki gerbang komplek, suasana berubah menjadi sunyi dan asri, sangat kontras dengan hiruk-pikuk sekolah mereka. Gery memarkirkan motornya tepat di depan teras sebuah rumah berlantai dua dengan desain modern minimalis yang elegan.

Belum sempat Vanya memencet bel, pintu kayu besar itu sudah terbuka. Ibu Vanya muncul dengan daster rumahan yang tetap terlihat modis, wajahnya langsung berseri-seri.

"Wah, sudah sampai ya?" sambut Ibu Vanya ramah. Namun, tatapannya langsung tertuju pada pemuda yang baru saja melepas helm di depan motor hitam itu. "Eh, ada Gery juga! Akhirnya main ke sini juga ya, Ganteng."

Gery sedikit membungkuk sopan dan menyalami tangan Ibu Vanya. "Siang, Tante. Maaf jadi merepotkan, mau numpang latihan buat tugas sekolah."

"Repot apa sih? Malah Tante seneng rumah jadi ramai," sahut sang Ibu sambil melirik Vanya yang wajahnya mulai sedikit memerah karena godaan mamanya. "Ayo masuk, masuk! Nadia, Sammy, ayo jangan malu-malu. Tante sudah buatkan sirup dingin sama gorengan buat kalian."

Sambil melangkah masuk, Gery sempat memperhatikan interior rumah Vanya yang luas dan rapi. Ada rasa canggung yang sedikit merayap karena perbedaan suasana rumahnya dengan rumah Vanya, namun keramahan Ibu Vanya dan tarikan tangan Vanya yang membimbingnya menuju ruang tamu luas segera menghalau rasa tidak enak itu.

"Duduk dulu, Ger. Gue ambil laptop sama skripnya di kamar sebentar," ucap Vanya sambil memberikan kedipan rahasia sebelum berlari kecil menaiki tangga.

Ruang tamu luas di rumah Vanya kini berubah fungsi menjadi simulasi lobi hotel. Laptop terbuka di atas meja kaca, tumpukan kertas skrip berserakan, dan Gery sedang berjuang keras melawan musuh terbesarnya: pengucapan kata-kata dalam bahasa Inggris.

"I-it's a pleasure to... to... assist you... with your res-reser-pesen," ucap Gery terbata-bata, lidahnya seolah terbelit kabel listrik. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak tegang luar biasa.

Nadia dan Sammy yang duduk di sofa seberang tak bisa lagi menahan tawa. Sammy sampai memegangi perutnya, sementara Nadia tertawa hingga matanya berair.

"Hahaha! Gery, Gery! Di lapangan basket lu jago, matematika lu sikat, tapi pas ngomong bahasa Inggris kenapa lu jadi kayak orang kumur-kumur pake air jahe sih?" ledek Nadia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sammy menimpali dengan sisa tawanya, "Setuju gue! Lu tadi bilang reservation malah kayak nyebut reserpesen. logat betawi banget itu Ger!"

Gery mengembuskan napas panjang, melempar skripnya ke atas meja dengan pasrah. "Nah itu dia masalahnya. Dari dulu gue paling anti sama pengucapan. Kalau disuruh baca teks atau ngartiin di kertas sih gue paham, tapi kalau udah disuruh conversation begini, mulut gue langsung ribut sendiri. Susah banget sinkron sama lidah!"

Vanya yang duduk tepat di samping Gery tertawa kecil. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Gery dengan tatapan menggoda yang sudah menjadi ciri khasnya. "Tapi ya karena itu kan lo jadi betah duduk sebangku sama gue? Biar lo punya guru privat bahasa Inggris gratis yang cantik begini?"

Gery melirik Vanya dari sudut matanya. Jiwa usilnya yang baru saja "kena mental" gara-gara bahasa Inggris mendadak bangkit kembali untuk menyerang balik.

"Dibilang betah sih... nggak juga ya," sahut Gery dengan nada datar yang dibuat-buat. "Siapa juga yang mau duduk tiap hari sama singa betina? Apalagi kalau udah masuk 'tanggal merah', itu tanduknya bisa keluar lebih panjang dari antena TV."

Bwa-ha-ha!

Sammy dan Nadia meledak dalam tawa yang lebih keras dari sebelumnya. Bahkan Ibu Vanya yang sedang menata piring gorengan di meja makan yang letaknya agak jauh tidak bisa menahan tawa. Beliau ikut terkekeh mendengar keberanian Gery menggoda anak perempuannya yang memang dikenal keras kepala itu.

"GERYYYY! NYEBELIN BANGET SIH!" teriak Vanya.

Tanpa membuang waktu, tangan ringan Vanya langsung beraksi. Ia memberikan cubitan bertubi-tubi di lengan Gery dan memukulinya dengan bantal sofa yang ada di sana. Gery mencoba menghalau sambil tertawa, membuat suasana di ruang tamu yang mewah itu menjadi sangat hangat dan penuh kekeluargaan.

"Ampun, Van! Tuh kan, singanya udah bangun!" seru Gery di tengah kepungan serangan Vanya.

"Makan tuh singa betina! Makanya jangan jujur-jujur banget kalau ngomong!" balas Vanya sambil tetap melancarkan cubitan mautnya, sementara Sammy dan Nadia hanya bisa menonton sambil menikmati aneka kue kering yang tersedia.

Ibu Vanya meletakkan nampan berisi es sirup dan sepiring besar gorengan hangat di meja. Melihat Vanya yang masih menekuk wajahnya, beliau mendekat dan mencubit pipi putrinya itu dengan penuh kasih sayang.

"Sudah, jangan cemberut terus. Nanti kalau Gery sama yang lain takut terus pulang, kamu yang rugi lho," goda Ibu Vanya sambil mengerling ke arah Gery.

Vanya mendengus pelan, "Habis Gery rese banget, Mah. Mulutnya minta disekolahin lagi."

"Iya, iya, kan gue udah minta maaf, Van," sahut Gery cepat sambil menahan senyum. "Ayo kita lanjutin lagi, keburu malam. Nanti malah nggak selesai-selesai."

Nadia juga ikut membujuk, "Iya Van, ayo fokus. Gue nggak bisa lama-lama, nanti malam ada rapat Karang Taruna di komplek. Nggak enak kalau telat."

Akhirnya, suasana kembali serius. Mereka berlatih dengan lebih intens. Gery mulai terbiasa dengan pelafalan beberapa kata sulit, sementara Sammy dan Nadia berhasil membangun chemistry sebagai pasangan tamu yang "ribet". Latihan berjalan lancar hingga tak terasa matahari sudah mulai terbenam.

"Sip! Kayaknya buat hari ini cukup dulu deh. Grammar kita udah lumayan rapi," ucap Sammy sambil merenggangkan otot-ototnya. Ia dan Nadia kemudian berpamitan karena urusan masing-masing, meninggalkan Gery dan Vanya di ruang tamu yang kini sedikit lebih sunyi.

Gery sedang sibuk merapikan buku dan lembaran skrip yang berserakan, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari kencang dari arah dalam rumah.

"Kakak! Kakak!"

Seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua tiba-tiba muncul dan langsung menyodorkan sebuah buku tulis tepat di depan wajah Gery. "Kata Kak Vanya, Kakak pinter matematika kan? Aku minta tolong ngerjain PR ku, aku nggak ngerti-ngerti!"

Ibu Vanya yang sedang duduk di meja makan segera menghampiri. "Eh, Vania! Kamu nggak boleh begitu sama Kak Gery. Kerjakan sendiri dong PR-nya, jangan ganggu tamu," tegur Ibu Vanya pada si kecil yang ternyata bernama Vania itu.

Vania mengerucutkan bibirnya, "Aku cuma minta ajarin, Mah, bukan minta dikerjain!"

Gery tertawa kecil, merasa gemas dengan keberanian adik Vanya ini. "Coba Kakak lihat, PR-nya tentang apa?"

Vania dengan semangat memberikan bukunya. Saat Vanya mencoba mendekat untuk ikut melihat, tiba-tiba Vania melakukan gerakan tak terduga. Dengan tubuh kecilnya, ia mendorong bahu Vanya agar menjauh dari sisi Gery. Vania langsung mengambil posisi duduk di samping Gery, meletupkan lidahnya ke arah kakaknya dengan gaya meledek yang sangat kental.

"Mah! Liat tuh kelakuan Vania!" adu Vanya seketika. Wajahnya merah padam, bukan karena marah sungguhan, tapi karena harga dirinya terusik oleh sang adik. "Dia mau coba rebut Gery dari aku, Mah!"

Ibu Vanya hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. "Kalian ini benar-benar ya... kakak adik nggak pernah ada akurnya. Maaf ya nak Gery, mereka berdua memang seperti ini kalau di rumah. Bikin Tante pusing lihatnya."

Gery justru merasa suasana ini sangat menyenangkan. "Nggak apa-apa kok, Tante. Seru kok lihat mereka," jawab Gery tulus. Ia kemudian mulai menjelaskan soal pembagian di buku Vania dengan sangat sabar, membuat Vania menatapnya dengan kekaguman, sementara Vanya berdiri di belakang mereka sambil melipat tangan di dada dan terus memasang wajah cemberut.

Gery membimbing Vania dengan telaten, menuliskan beberapa contoh coretan angka di pinggir buku tulisnya. Ternyata, Vania cukup cerdas; ia hanya butuh pendekatan yang lebih santai.

"Nah, sekarang coba kamu kerjain soal nomor tiga," instruksi Gery lembut.

Vania mengerjakannya dengan cepat, dan hasilnya tepat. Matanya berbinar menatap Gery. "Wah, ternyata bener kata Kak Vanya, Kak Gery itu pinter banget! Bu Guru di sekolah ga bisa kayak Kak Gery, Kalo sama Kak Gery, aku bisa ngertinya," puji Vania tulus.

Vanya yang sedari tadi "terasingkan" di belakang kursi mereka langsung menyambar dengan nada meledek. "Halah, emang kamunya aja yang oneng! Makanya kalau guru lagi nerangin itu diperhatiin, jangan malah gambar-gambar di buku!"

Vania menoleh dan menjulurkan lidahnya. "Ih, siapa Kak Vanya nyambung aja kayak kabel!"

Gery hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kakak-beradik itu. Ia sempat melirik ke arah Ibu Vanya yang masih duduk di meja makan. Wanita itu hanya tersenyum maklum, seolah sudah biasa menjadi wasit di ring tinju rumah tangga mereka.

Setelah suasana tenang dan PR-nya tuntas, Vania menutup bukunya. "Makasih ya, Kak Gery! Kakak keren deh," ucapnya sebelum berlari kecil naik ke lantai atas menuju kamarnya.

Gery mulai merapikan tasnya. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. "Tante, Vanya, kayaknya saya harus pamit pulang sekarang. Takut kemalaman di jalan," ucap Gery dengan sopan.

Namun, Ibu Vanya segera berdiri dan menghampiri meja makan. "Eh, tunggu dulu, Ger. Ini sudah jam tujuh malam. Lebih baik makan malam sama-sama dulu di sini. Biar nggak masuk angin naik motor malam-malam kalau perutnya kosong."

Gery merasa sangat sungkan. "Aduh, nggak usah repot-repot, Tante. Nanti saya makan di rumah saja."

"Nggak repot sama sekali, Tante sudah masak lebih kok," paksa Ibu Vanya dengan suara yang lembut namun tak terbantah.

Gery menoleh ke arah Vanya untuk mencari pembelaan agar bisa pulang, namun yang ia temukan justru sebaliknya. Vanya berdiri di dekat meja makan dengan wajah berbinar-binar penuh harapan, seolah memohon lewat tatapan matanya agar Gery setuju untuk tinggal sedikit lebih lama.

Gery tidak memiliki alasan lagi untuk menolak. Apalagi saat ia melihat di atas meja makan sudah tertata empat piring yang rapi. Meski rumah itu terasa mewah dan luas, Gery menyadari sesuatu yang sunyi; hanya ada kursi untuk Ibu, Vanya, Vania, dan satu kursi kosong yang kini dipersiapkan untuknya. Tidak ada sosok ayah di sana setelah perceraian yang dialami orang tua Vanya.

"Iya, Ger. Masa lo tega biarin gue makan cuma bertiga sama Mama dan Vania? Ayolah, nyokap gue udah capek masak lho," bujuk Vanya dengan nada manja.

Gery akhirnya menghela napas pasrah namun tersenyum. "Ya sudah, kalau begitu saya numpang makan ya, Tante. Maaf jadi merepotkan."

"Gitu dong! Ayo, duduk di sini, Ger," ajak Ibu Vanya sambil menunjukkan kursi di samping Vanya.

Malam itu, di bawah pendar lampu gantung ruang makan yang elegan, Gery merasakan kehangatan yang berbeda. Suara tawa Vania yang kembali turun, celotehan Vanya yang tak henti menggoda adiknya, dan keramahan Ibu Vanya membuat meja makan itu terasa lengkap, seolah kursi kosong yang selama ini ditinggalkan sang ayah kini terisi oleh kehadiran sosok laki-laki yang membawa suasana baru di rumah itu.

Makan malam itu berakhir dengan perut kenyang dan hati yang jauh lebih ringan. Aroma masakan Ibu Vanya masih tertinggal di ruang makan saat Gery berdiri, merapikan jaketnya, dan bersiap untuk benar-benar pulang. Kehangatan di meja makan tadi sejenak membuatnya lupa bahwa ia hanyalah seorang tamu.

"Tante, Vanya, Vania... saya pamit dulu ya. Makasih banyak buat makan malamnya, enak banget," ucap Gery dengan tulus sambil menyalami tangan Ibu Vanya.

Vania, yang sejak tadi duduk menempel di dekat Gery, langsung memegang ujung jaketnya. Dengan wajah polos dan mata bulatnya, ia mendongak. "Kakak... besok main ke sini lagi ya? Bantuin aku ngerjain PR lagi. Janji?"

Gery tertegun, lalu secara refleks menatap ke arah Vanya. Biasanya, Vanya akan langsung menyambar ucapan adiknya dengan ledekan, tapi kali ini berbeda. Vanya justru diam, menatap Gery dengan binar mata yang sama persis dengan Vania. Untuk pertama kalinya, si "Singa Betina" dan sang adik berada di satu kubu yang sama.

Ibu Vanya tertawa kecil melihat ekspresi canggung Gery yang dikeroyok oleh dua putri kesayangannya. "Vania, Kak Gery kan juga harus belajar di rumahnya. Tapi kalau Kak Gery ada waktu lagi, pasti dia main kok ke sini," ujar Ibu Vanya, sembari melemparkan lirikan penuh harap yang membuat Gery semakin sulit untuk berkelit.

Gery merasa seperti terjebak dalam jebakan Batman yang paling manis. Ia menghela napas pasrah, lalu mengusap pelan kepala Vania. "Iya, Vania. Nanti kalau Kakak ada waktu luang, Kakak mampir lagi ya."

Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulut Gery, Vanya dan Vania saling melirik kilat. Tanpa aba-aba, mereka melakukan high-five alias tos di depan Gery.

"Yes! Berhasil!" seru Vania kegirangan.

Gery hanya bisa menggelengkan kepala. Sepertinya, ini memang rencana terselubung yang sudah mereka atur sejak di meja makan tadi.

Gery menyalakan mesin motor maticnya, membiarkannya menderu pelan di bawah gelapnya langit komplek. Setelah berpamitan terakhir kali di depan pagar, ia mulai melajukan motornya membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang.

Di sepanjang perjalanan, pikiran Gery melayang kembali ke kamar hotel di Yogyakarta. Ia teringat cerita Adrian tentang latar belakang keluarga Vanya yang sudah tidak utuh lagi. Bayangan tiga wanita di rumah besar itu—Ibu yang mandiri, Vanya yang protektif, dan Vania yang haus perhatian—terus berputar di kepalanya.

Gery menyadari sesuatu. Rumah itu memang mewah, tapi ada ruang hampa yang tak bisa diisi oleh furnitur semahal apa pun. Kehadirannya malam tadi, meskipun hanya sesaat sebagai teman belajar, seolah memberikan percikan kehangatan yang sudah lama redup. Ia merasakan bahwa rumah itu bukan sekadar butuh tutor matematika atau teman diskusi, melainkan sosok laki-laki yang bisa melengkapi kepingan puzzle yang hilang di sana.

"Jadi ini rasanya dibutuhkan?" gumam Gery pelan di balik helmnya, sambil terus melaju menembus dinginnya angin malam.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!