NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. The Fragile Peace

Pagi itu, aroma kopi dan kayu manis memenuhi pondok kayu mereka. Julian sedang duduk di lantai ruang tamu, dikelilingi oleh tumpukan buku teologia dan beberapa lembar kertas musik kosong. Ia tampak jauh lebih sehat; kulitnya tidak lagi pucat, dan binar matanya menunjukkan kedamaian yang sudah lama hilang.

Alice berjalan menghampirinya, membawa dua cangkir kopi hangat. Ia duduk di pangkuan Julian, sebuah kebiasaan yang menjadi candu bagi suaminya selama masa pengasingan ini.

"Kau sedang menulis lagu lagi?" tanya Alice lembut, sambil mengusap rambut Julian yang mulai sedikit gondrong.

Julian melingkarkan lengannya di pinggang Alice, menariknya lebih dekat. "Hanya nada-nada pendek, Al. Bukan untuk dijual. Hanya untuk kita. Aku ingin menulis tentang bagaimana rasanya bangun di sampingmu tanpa perlu merasa takut pada hari esok."

"Kau benar-benar tidak merindukan panggung?" Alice menatap mata cokelat Julian yang jernih.

Julian terdiam sejenak, lalu menggeleng mantap. "Panggung itu seperti fatamorgana, Al. Terlihat indah dari jauh, tapi saat kau di sana, kau hanya akan merasa haus. Di sini, bersamamu, aku merasa penuh. Aku merasa... cukup."

Julian mencium leher Alice, menghirup aroma sabun bayinya yang menenangkan. "Terima kasih sudah membawaku ke sini, Istriku. Jika bukan karena idemu untuk vacuum, aku mungkin sudah hancur sekarang."

Namun, kedamaian itu pecah saat sebuah amplop cokelat tiba-tiba diselipkan di bawah pintu depan mereka. Tidak ada ketukan, tidak ada suara kendaraan. Hanya keheningan yang mencekam.

Julian bangkit, wajahnya mendadak waspada. Ia mengambil amplop itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto hasil cetakan mentah.

Wajah Julian memucat. Foto-foto itu memperlihatkan kemesraan mereka di balkon kemarin, saat Julian menggendong Alice. Ada juga foto Julian saat sedang bernyanyi di gereja. Dan yang paling mengerikan adalah sebuah foto Ellena Breeze di rumah sakit, dengan kondisi yang jauh lebih kurus dari sebelumnya, disandingkan dengan foto bahagia Julian.

Di balik foto itu tertulis pesan singkat: "Dunia sedang menangis untuknya, sementara kau sedang merayakan 'kesucian' di atas penderitaannya. Berapa harga sebuah kebohongan, Julian?"

"Julian? Ada apa?" Alice mendekat, namun Julian mencoba menyembunyikan foto-foto itu di balik punggungnya.

"Bukan apa-apa, Al. Hanya surat sampah," ujar Julian, suaranya sedikit bergetar.

"Jangan bohong padaku. Wajahmu berubah drastis," Alice merebut amplop itu. Saat ia melihat isinya, Alice menutup mulutnya dengan tangan. Napasnya mulai memburu. "Sean... ini pasti Sean. Dia menemukan kita."

"Tenang, Alice. Tarik napasmu," Julian merengkuh bahu Alice yang mulai gemetar.

"Bagaimana aku bisa tenang, Julian?! Dia punya foto-foto kita! Dia akan menyebarkannya dengan narasi bahwa kita bersenang-senang saat Ellena sekarat! Fans akan menghancurkan rumah orang tuaku! Mereka akan mengejar kita sampai ke sini!" Alice mulai terisak, ketakutan yang ia pendam selama ini meledak.

"Dengarkan aku!" Julian memegang wajah Alice, memaksa istrinya menatapnya. "Kita tidak melakukan kesalahan. Kita menikah secara sah. Kita menjalani hidup yang jujur. Masalah Ellena... aku sudah memberikan segalanya padanya melalui agensi. Aku tidak bisa membiarkan hidupku diatur oleh rasa bersalah yang diciptakan orang lain terus-menerus!"

"Tapi dunia tidak akan melihat itu, Julian! Mereka hanya melihat apa yang Sean tunjukkan!"

Tiba-tiba, ponsel Julian yang selama ini dimatikan dan disimpan di dalam laci, bergetar hebat. Ia menyalakannya hanya untuk melihat ratusan notifikasi masuk. Berita utama di seluruh media hiburan dunia meledak:

"SKANDAL BESAR: Julian Reed Menikah Diam-Diam Saat Ellena Breeze Koma Setelah Percobaan Bunuh Diri!"

Julian tertegun. "Koma? Percobaan bunuh diri?"

Alice merosot ke lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Ini sudah berakhir, Julian. Kedamaian kita... sudah berakhir."

Satu jam kemudian, gerbang depan pondok mereka mulai dikerumuni oleh mobil-mobil hitam. Paparazzi dari New York berhasil melacak lokasi tersebut melalui meta-data foto yang sengaja dibocorkan Sean.

Julian berdiri di depan jendela, melihat kerumunan yang haus akan skandal itu. Ia menoleh ke arah Alice yang masih meringkuk di sofa.

"Al," panggil Julian pelan. Suaranya kini penuh dengan ketegasan yang dingin. "Mereka ingin aku kembali menjadi 'Julian si Pendosa'. Mereka ingin aku merangkak kembali ke kaki agensi demi menyelamatkan reputasiku."

"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Alice dengan suara parau.

"Aku akan keluar. Tapi bukan untuk meminta maaf," Julian mengenakan jaketnya. "Aku akan memberi tahu mereka bahwa aku adalah seorang suami yang sedang melindungi istrinya. Dan jika mereka ingin menyalahkan seseorang atas kondisi Ellena, mereka harus menyalahkan sistem yang membuat kita semua menjadi gila, bukan kita."

"Jangan, Julian! Mereka akan mencabikmu!"

"Biarkan saja," Julian tersenyum getir, namun matanya tetap tenang. "Aku sudah punya Tuhan di sisiku sekarang. Dan aku punya restu dari ayahmu. Itu lebih dari cukup untuk menghadapi iblis-iblis ini."

Julian berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak dan berbalik. Ia menghampiri Alice, mencium bibirnya dengan sangat lama dan dalam, seolah itu adalah ciuman terakhir mereka.

"Tetaplah di dalam. Jangan keluar sampai aku memintamu. Ingat, kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, Al. Jangan pernah ragukan itu, apapun yang mereka katakan nanti."

Julian membuka pintu depan. Kilatan lampu blitz menyambutnya seperti badai salju. Teriakan pertanyaan yang menghujat langsung menyerbu telinganya. Di tengah kerumunan itu, ia melihat Sean Miller berdiri di belakang para wartawan, memberikan senyum kemenangan yang paling memuakkan.

Julian melangkah maju, berdiri tegak di teras pondoknya. Ia tidak menunduk. Ia menatap mereka semua dengan martabat seorang pria yang telah menemukan kebenarannya.

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!