NovelToon NovelToon
Crowned Villains :The End Of Old World

Crowned Villains :The End Of Old World

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Fantasi
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Asjoe the writer

Dunia adalah sebuah luka yang menolak untuk sembuh. Di Utara, perang suci antara Holy Kingdom dan Demon Realm tak kunjung usai. Di Selatan, tirani matriarki menciptakan perbudakan sistematis terhadap kaum pria. Sementara di Timur, jutaan nyawa menjadi tumbal bagi ambisi Federasi dan Aliansi. Bahkan di Barat, Kekaisaran Berline yang agung telah membusuk dari dalam akibat korupsi, nepotisme, dan kelaparan yang mencekik rakyatnya.Saat dunia memprediksi keruntuhan Berline akan menjadi awal dari domino kehancuran global, sebuah anomali muncul dari balik bayangbayang. Bukan pahlawan yang bangkit, melainkan Chara Initiative Organization (CIO). Sebuah organisasi villain yang kejam dan tak terduga. Lewat kudeta berdarah, mereka merebut tahta Berline dan memulai langkah radikal untuk menjungkirbalikkan tatanan dunia yang lama. Bagi mereka, dunia yang rusak tidak butuh diperbaiki; dunia butuh dihancurkan untuk dibangun kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asjoe the writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angin dari Utara, Bisikan dari Selatan

Di wilayah Selatan yang masih didominasi oleh kerajaan-kerajaan agraris dan feodal, suasana terasa seperti di ambang badai. Di sebuah bar pengap bernama "The Broken Compass" di perbatasan wilayah Selatan, asap tembakau menyatu dengan aroma bir murah. Dua orang pria duduk di sudut yang remang-remang, bicara dengan suara rendah.

Dialog di Bar: Kabar Burung dan Ketakutan

"Kau dengar apa yang terjadi di perbatasan Utara kemarin?" tanya pria berjanggut lebat, seorang pedagang keliling yang baru saja melarikan diri dari wilayah Federasi.

Pria di depannya, seorang pandai besi lokal, mengangguk pelan.

"Kabar tentang 'Iblis Perak' Aris? Katanya dia menghancurkan satu batalyon ksatria Pangeran Frederick sendirian."

"Bukan sendirian," bisik si pedagang.

"Dia memimpin pasukan yang... bukan manusia. Mesin-mesin berjalan dengan jantung uap dan mata merah. Dan yang paling mengerikan adalah komandannya. Mereka bilang itu Kaelen. Ksatria Suci yang dulu kita elu-elukan."

Si pandai besi terperangah.

"Kaelen? Mustahil. Dia adalah simbol kehormatan."

"Kehormatan tidak ada harganya di depan emas CIO, kawan," pedagang itu menyesap birnya dengan tangan gemetar.

"Dia sekarang dingin seperti baja yang dia pakai. Dia tidak bicara, hanya memberi perintah tembak. Di Timur, Aliansi mulai menyebarkan 'Wabah Jiwa' untuk menahan laju tank-tank CIO, tapi Aris membalasnya dengan membakar seluruh kota untuk mencegah penyebaran. Tidak ada lagi belas kasih. Yang ada hanya efisiensi."

"Dan di Barat?" tanya si pandai besi lagi.

"Di Barat, ideologi baru mulai muncul. Mereka menyebutnya 'Teknokrasi Absolut'. Rakyat di Oakhaven tidak lagi menangis atau tertawa. Mereka bekerja seperti jam dinding karena 'Jantung Menara'—si penyihir Elara—mengatur detak jantung mereka dari jauh. Dunia kita sedang mati, sobat. Digantikan oleh pabrik raksasa."

Istana Kerajaan Selatan: Takhta Sang Ratu

Jauh dari hiruk-pikuk bar, di dalam Aula Matahari yang megah di ibu kota Selatan, suasana jauh lebih tegang. Di sini, tidak ada raja. Takhta tertinggi diduduki oleh Ratu Valeriana, seorang wanita dengan tatapan setajam elang yang mengenakan mahkota dari anyaman emas dan batu zamrud. Di sekelilingnya, dewan penasihat yang terdiri dari para wanita bijak dan jenderal wanita berdiri dengan sikap siaga.

Seorang utusan dari Holy Kingdom berlutut di bawah tangga takhta, wajahnya pucat pasi.

"Yang Mulia Ratu," menteri intelijen wanita itu melapor.

"Laporan dari front Utara mengonfirmasi bahwa Pangeran Frederick telah terpukul mundur ke pegunungan salju. Kaelen—yang kini menjabat sebagai Direktur Keamanan Utama CIO—telah menerapkan taktik 'Bumi Hangus'. Setiap desa yang membantu pemberontak diratakan dengan artileri uap."

Ratu Valeriana menyesap teh herbalnya, matanya menatap dokumen bermeterai perak milik CIO yang terletak di meja sampingnya.

"Aris mengirimkan 'tawaran' lagi pagi ini. Dia menjanjikan irigasi otomatis dan mesin tenun uap untuk rakyat kita. Tapi dia meminta kita menutup pelabuhan bagi pengungsi dari Utara."

"Paduka," utusan Holy Kingdom memohon,

"Paus Innocentius meminta perlindungan Anda. Aris menyatakan bahwa iman adalah 'gangguan psikologis'. Jika Anda membiarkan mesin-mesin itu masuk ke Selatan, budaya dan spiritualitas wanita Selatan yang luhur akan digantikan oleh angka-angka produksi!"

Ratu Valeriana berdiri. Jubah sutranya menyapu lantai marmer. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke lembah selatan yang damai.

"Aris mengira dia bisa membeli Selatan dengan kenyamanan. Dia lupa bahwa kekuatan kita bukan berasal dari besi, tapi dari tanah dan jiwa."

Ia berbalik, menatap jenderal perangnya.

"Kirim bantuan logistik ke Pangeran Frederick melalui jalur tikus di pegunungan. Tapi secara resmi, katakan pada Aris bahwa kita sedang mempertimbangkan tawarannya. Kita butuh waktu untuk memperkuat pertahanan garis pantai kita sebelum 'Iblis Perak'-nya menoleh ke arah sini."

Medan Perang Utara: Wajah Sang Algojo

Sementara itu, di sebuah bukit yang menghadap ke lembah yang masih membara di wilayah Utara, seorang pria berdiri diam. Zirah peraknya kini dilapisi oleh lempengan baja hitam tambahan dan pipa-pipa hidrolik yang mendesis halus di bahunya.

Kaelen menatap melalui teropong mekanisnya. Di lembah itu, pasukan Pangeran Frederick sedang berusaha mengevakuasi warga sipil.

"Wakil Direktur Kaelen," suara Silas terdengar melalui earpiece radio.

"Baterai artileri sudah siap. Target berada dalam jangkauan. Apakah kita mulai penghancuran sektoral?"

Kaelen terdiam selama beberapa detik. Pikirannya melayang ke Menara Aether, di mana Elara dipenjara dalam mesin yang menjaga stabilitas dunia ini. Setiap pembangkangan yang ia lakukan akan berarti "beban kerja" tambahan bagi jiwa Elara.

"Tembak," ucap Kaelen pendek.

Suaranya tidak memiliki emosi. Nada bicaranya benar-benar telah menjadi cerminan dari mesin yang ia layani.

BOOM!

Bumi berguncang. Kaelen tidak berpaling. Ia telah menjadi apa yang paling ia benci: seorang penjahat bermahkota baja, demi menyelamatkan satu nyawa yang tersisa di dalam mesin.

1
anggita
mampir like👍 iklan ☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!