NovelToon NovelToon
Rumah Yang Mengingat Namaku

Rumah Yang Mengingat Namaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Rumahhantu / Hantu / TKP
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?

Jendela di Lantai Dua Belas

Titik merah baru di peta itu bernama Apartemen Cempaka Residence—gedung paling tinggi di kota kecil kami, simbol modern yang dibangun di atas tanah bekas pabrik tekstil. Proyek ini salah satu peninggalan jaringan Pak Jaya yang masih berjalan meski lelaki itu telah tiada.

Aku berdiri di depan gedung itu untuk pertama kalinya dan merasakan ironi yang pahit:

kalau dulu teror bersembunyi di bawah tanah, kini ia berdiri terang di atas beton, lengkap dengan lift dan satpam.

Dini menatap fasad kaca mengilap itu.

“Horor naik kelas ya, Sa. Dari sumur ke apartemen.”

Arga membuka catatannya.

“Laporan gangguan paling banyak datang dari lantai dua belas: lift berhenti sendiri, jendela terbuka tanpa angin, dan beberapa penghuni mendengar suara air di kamar mandi padahal keran mati.”

Aku merinding.

Air selalu jadi bahasa pertama mereka.

Kami menemui pengelola gedung, seorang pria bernama Riko. Wajahnya lelah seperti orang yang terlalu sering menenangkan tamu marah.

“Sejujurnya saya nggak percaya hal-hal begitu,” katanya.

“Tapi komplain makin banyak. Investor mulai panik.”

Aku menjawab hati-hati,

“Kami bukan mau mengusir apa pun. Hanya ingin memastikan gedung ini tidak jadi alamat baru ketakutan.”

Riko menatap lonceng kecil di tanganku.

“Selama kalian tidak bikin keributan, silakan.”

Kami diberi izin naik ke lantai dua belas malam itu.

Lift berdenting pelan, angka digital bergerak naik: 8… 9… 10…

Di angka 11, lampu mendadak redup sepersekian detik.

Dini meremas lenganku.

“Baru masuk aja udah drama.”

Pintu terbuka di lantai dua belas dengan suara mendesis seperti napas.

Koridor sepi, hanya diterangi lampu putih dingin. Karpetnya masih baru, tapi aromanya lembap seperti gedung lama.

Arga menunjuk unit 12B—sumber laporan terbanyak.

Penghuninya, seorang perempuan muda bernama Maya, menyambut kami dengan mata kurang tidur.

“Saya nggak gila,” katanya langsung.

“Yang saya dengar itu nyata.”

Maya bercerita bahwa sejak pindah dua minggu lalu, setiap pukul 00.30 ia mendengar suara orang berjalan di balkon—padahal unit sebelah masih kosong. Kadang ada suara air menetes dari plafon, dan sekali ia melihat bayangan berdiri di balik tirai.

“Anehya, saya tidak merasa diancam,” katanya.

“Lebih seperti… dia cuma numpang lewat.”

Kalimat itu mengingatkanku pada kata-kata di sumur: ingatan yang belum selesai.

Aku meminta izin duduk di ruang tamu.

Tanpa ritual, tanpa komando, aku hanya membunyikan lonceng sekali.

Suara kecil itu memantul di dinding apartemen seperti batu jatuh ke kolam.

Tidak terjadi apa-apa.

Tapi udara terasa sedikit berubah—lebih jujur.

Tepat pukul 00.28, listrik di koridor berkedip.

Dari arah balkon terdengar suara langkah—pelan, berirama, seperti orang menghitung lantai dengan tumit.

Maya memucat.

“Itu dia.”

Aku berdiri mendekati pintu balkon. Angin malam masuk membawa bau besi dan semen, bukan bau tanah seperti dulu.

Langkah berhenti tepat di depan kaca.

Bayangan samar terlihat, tinggi tapi tidak utuh—seperti gambar yang belum selesai dirender.

Aku tidak merasa ingin lari.

“Kalau kamu cuma lewat,” kataku pelan, “lewatlah dengan sopan.”

Dini melotot.

“Lo ngomong sama siapa, Sa?”

Bayangan itu bergerak sedikit, lalu memudar perlahan.

Tidak ada jeritan, tidak ada kaca pecah—hanya sunyi yang agak lega.

Maya menatapku hampir menangis.

“Selama ini saya selalu dimarahin untuk jangan cerita ke siapa-siapa.”

Aku mengangguk.

“Takut butuh saksi, Mbak.”

Namun keesokan harinya, masalah datang bukan dari makhluk, melainkan dari manusia.

Manajemen apartemen mendapat tekanan dari investor. Mereka menuduh kami menyebarkan isu agar harga unit turun.

Seorang pria berjas menemui kami di lobi.

“Kalau kalian terus bikin acara mistis di sini, kami akan laporkan pencemaran nama baik.”

Arga menjawab tenang,

“Kami datang karena penghuni meminta bantuan, bukan untuk panggung.”

Pria itu tersenyum sinis.

“Bantuan kalian merugikan bisnis.”

Aku sadar sekali lagi:

musuh terbesar selalu berbentuk keuntungan.

Malam berikutnya kami mengadakan pertemuan kecil dengan beberapa penghuni yang berani datang.

Bukan ritual, hanya ruang cerita.

Orang-orang mulai berbagi pengalaman: ada yang mendengar suara radio lama di unit kosong, ada yang merasa lift mengantar ke lantai yang tidak ada, bahkan satpam mengaku melihat genangan air membentuk jejak kaki di basement.

Aku mengajak mereka melakukan hal sederhana: menyebut nama sendiri sebelum tidur, menyalakan lampu kecil, dan tidak memaksa menafsirkan semua bunyi sebagai ancaman.

Beberapa orang terlihat lega—seolah akhirnya ada bahasa selain teror.

Tetapi jaringan lama Pak Jaya tidak tinggal diam.

Mereka menyebarkan video editan seolah kami melakukan pemanggilan arwah di apartemen. Media lokal mulai memburu cerita sensasional.

Dini marah besar.

“Mereka pengen lo jadi tokoh jahat, Sa.”

Aku hampir terpancing amarah.

Di titik itulah ujian sebenarnya datang:

apakah aku akan berubah jadi orang yang melawan dengan kebencian?

Mbah menelepon malam itu.

“Marah itu pintu lain,” katanya.

“Kalau kamu masuk, alamat benar-benar berpindah ke hatimu.”

Aku memejamkan mata lama.

Klimaks Bab 25 terjadi pada malam pemadaman besar di apartemen.

Semua listrik mati kecuali di lantai dua belas.

Lift terkunci, penghuni panik, dan dari balkon terdengar suara air deras seperti hujan lokal.

Kami berlari naik lewat tangga darurat.

Di koridor 12, karpet basah tanpa sumber jelas. Di dinding kaca muncul embun membentuk pola mirip denah lama—versi modern dari sumur.

Maya gemetar.

“Makin parah…”

Aku berdiri di tengah koridor, membunyikan lonceng lebih lama dari biasanya.

“Tempat ini milik orang hidup,” kataku keras.

“Tidak ada yang diundang jadi raja.”

Embun bergerak pelan, membentuk satu kalimat:

“Takut kalian lebih luas dari gedung ini.”

Aku menjawab,

“Dan keberanian kami lebih ramai.”

Arga mengajak semua penghuni menyebut nama masing-masing bersamaan.

Suara manusia memenuhi lorong—campur aduk, tidak kompak, tapi jujur.

Lampu menyala mendadak.

Air di karpet mengering seperti ditarik ke balik dinding.

Investor datang pagi buta dengan wajah pucat.

Mereka tidak lagi bicara soal bisnis, hanya ingin kejadian berhenti.

Aku menatap mereka.

“Selama kalian menjual ketakutan sebagai fasilitas, alamat akan terus pindah.”

Untuk pertama kalinya mereka diam.

Bab 25 berakhir dengan aku berdiri di balkon lantai dua belas memandang kota.

Dari atas sini, sumur kampung, rumah Mbah, dan apartemen terlihat seperti titik-titik kecil dalam satu peta besar.

Aku sadar perjalananku bukan lagi mengusir,

tapi menjaga agar dunia modern tidak membuat sumur baru setiap hari.

Di ponselku masuk pesan dari nomor tak dikenal:

“Kamu menang malam ini. Tapi kota punya banyak lantai.”

Aku tersenyum lelah.

“Dan manusia punya lebih banyak suara.”

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 S͠ᴜʟʟy☠ᵏᵋᶜᶟ
Rahasia apa di rumah tua itu ,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!