Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayembara Desa Sebelah
Dinginnya udara malam di lereng Gunung Lawu biasanya menjadi kawan bagi Subosito, tetapi kini, dingin itu terasa seperti pisau yang menguliti harga dirinya.
Setelah tragedi di Padepokan Gagak Hitam, Subosito melarikan diri menembus rimbunnya hutan belantara, menjauhi kepulan asap hitam yang menjadi nisan bagi puluhan nyawa yang telah direnggutnya tanpa sengaja.
Subosito tidak berani kembali ke Desa Hargodalem. Pemuda itu tak sanggup menatap mata Sekar yang penuh ketulusan, atau mata Pak Modin yang sarat akan ketakutan.
Bagi dunia, dia adalah setan. Bagi dirinya sendiri, dia adalah wadah yang retak.
Tiga hari perjalanan membawa ke sisi tenggara gunung, wilayah yang lebih terbuka dengan hamparan ladang terasering yang luas.
Di lembah itu terdapat sebuah Desa bernama Desa Karangwangi, sebuah desa yang tampak jauh lebih makmur dan ramai dibandingkan desa asalnya.
Namun, di setiap persimpangan jalan dan pohon beringin besar, Subosito melihat pemandangan yang membuat jantungnya berdegup kencang: sebuah papan pengumuman dengan sketsa wajah yang mirip dengannya—meski tampak lebih menyeramkan dengan mata yang digambarkan mengeluarkan api.
"SAYEMBARA: Tangkap Setan Api Lawu. Hidup atau Mati. 1000 Keping Emas."
Subosito menarik caping bambu yang dia temukan di ladang lebih dalam, guna menutupi wajahnya yang kini tirus dan sayu.
Perutnya melilit karena lapar, dan tenaganya terkuras habis. Subosito butuh bekal untuk pergi lebih jauh, menuju puncak Lawu yang paling tersembunyi, atau mungkin ke wilayah pesisir di mana tak ada yang mengenalnya.
Namun, bekal membutuhkan uang, dan Subosito tidak punya apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuh—itu pun hasil curian dari jemuran warga.
Saat melewati alun-alun Desa Karangwangi, telinga Subosito menangkap keriuhan yang luar biasa. Sorak-sorai penonton pecah di antara dentuman gong yang bertalu-talu. Di tengah lapangan, sebuah panggung kayu besar berdiri kokoh.
"Ayo! Siapa lagi yang berani menantang Jagoan Karangwangi?" teriakan seorang pria gemuk dengan kumis melintang yang berdiri di tepi panggung. "Hadiah utama lima puluh keping emas bagi pemenang pertarungan hari ini! Cukup untuk makan enak setahun penuh!"
Lima puluh keping emas. Jumlah yang cukup untuk membawa sejauh mungkin dari kutukan ini.
Subosito ragu sejenak. Jika dirinya bertarung, risikonya sangat besar. Identitasnya bisa terbongkar. Namun, jika dia tidak melawan, dia mungkin akan mati kelaparan di tengah hutan sebelum sempat menemukan jawaban atas takdirnya.
Subosito menarik napas panjang, mencoba menenangkan Segel Garuda Paksi yang berputar pelan di punggungnya.
"Aku tidak akan menggunakan api itu," janjinya pada dirinya sendiri. "Aku akan bertarung sebagai manusia biasa. Hanya mengandalkan otot dan keringat. Jika aku tidak memicu emosiku, burung api itu akan tetap tertidur!"
Subosito mendaftarkan dirinya dengan nama samaran "Sito". Penampilannya yang kurus dan mengenakan caping lusuh sempat mengundang tawa dari para peserta lain yang bertubuh kekar. Namun, ketika Subosito naik ke panggung untuk pertarungan pertama, tawa itu segera senyap.
Pertarungan Pertama adalah melawan seorang pria besar bernama Barok yang mengandalkan kekuatan murni. Barok menerjang seperti banteng ketaton (banteng yang terluka).
Subosito, yang sejak kecil terbiasa menghindari lemparan batu warga desa, memiliki kelincahan yang luar biasa. Pemuda itu tidak membalas dengan pukulan kuat, melainkan menggunakan momentum lawan.
Dengan satu gerakan memutar dan sapuan kaki yang tepat, Subosito membuat raksasa itu terjungkal keluar panggung.
Penonton terdiam sejenak sebelum akhirnya bertepuk tangan. Subosito beruntung, dirinya hanya menunduk, merasakan keringat dingin mengucur.
Subosito bisa merasakan suhu tubuhnya sedikit naik karena detak jantungnya, dan lagi-lagi, dirinya masih bisa kendali.
Tenang, Sito. Jangan biarkan dia bangun.
Pertarungan Kedua dan Ketiga berlangsung lebih cepat. Lawan-lawannya adalah pesilat lokal yang lebih mengedepankan gaya daripada isi.
Subosito memenangkan keduanya dengan serangan balik yang efisien—satu pukulan di ulu hati dan satu kuncian lengan yang membuat lawannya menyerah.
Subosito bertarung dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada percikan api atau uap panas yang keluar dari tubuhnya. Pemuda itu hanya menggunakan teknik bela diri dasar yang pernah dilihatnya dari jarak jauh saat para pemuda desa berlatih pencak.
Para penonton mulai berdiskusi "Pemuda Bercaping" yang misterius itu. Beberapa tetua desa yang duduk di barisan depan mulai mengamati gerak-gerik Subosito dengan saksama.
Ada sesuatu yang janggal dari caranya bertarung—tampak seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar di dalam dirinya.
Matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan warna jingga kemerahan yang mengingatkan Subosito pada amukannya di padepokan.
Hatinya menyesal, warna itu adalah pengingat akan noda darah di tangan.
"Dan sekarang!" suara pria berkumis melintang kembali menggelegar. "Kita telah sampai di puncak acara. Pertarungan final untuk memperebutkan gelar jawara dan lima puluh keping emas!"
Subosito berdiri di sudut panggung, mengatur napasnya. Di seberangnya, seorang pria baru saja naik. Pria ini berbeda dari lawan-lawan sebelumnya. Tidak bertelanjang dada; dan mengenakan pakaian hitam ketat dengan lilitan kain merah di pinggangnya.
Wajahnya tenang, matanya tajam seperti elang, dan membawa aura yang dingin sekaligus mengancam.
“Lawanmu adalah Mahesa,” bisik pengadil kepada Subosito. "Dia pengembara dari wilayah kulon. Belum ada yang sanggup menyentuhnya sejak turnamen dimulai pagi tadi!"
Mahesa menyerang perlahan. “Kau punya teknik yang bagus, Anak Muda,” ucapnya dengan suara berat yang berwibawa. "Tapi kau bertarung seperti orang yang takut pada bayangannya sendiri. Kenapa kau menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya?"
Pertanyaan itu menghantam Subosito lebih keras dari pukulan Barok. Apakah penyamarannya terbongkar?
Ataukah pria di depannya ini memiliki indra yang mampu merasakan hawa panas yang ditekan di titik nadirnya?
"Aku hanya ingin uangnya, bukan pamer kekuatan," jawab Subosito singkat.
“Uang tidak akan kamu dapatkan dengan setengah hati di depanku,” jawab Mahesa.
Gong tanda dimulainya pertarungan terakhir berbunyi.
Mahesa bergerak lebih cepat dari apa pun yang pernah dilihat Subosito. Dalam sekejap, pria itu sudah berada di depan dada Subosito, melepaskan serangkaian pukulan telapak tangan yang mengeluarkan suara berdesing di udara.
Subosito berusaha menangkis, setiap benturan membuat lengannya terasa kaku dan perih. Mahesa bukan hanya kuat, tapi tahu titik-titik saraf manusia.
Pukulan Mahesa mendarat telak di bahu Subosito, membuatnya terhuyung ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu segera direspons oleh Segel Garuda Paksi .
Subosito merasakan denyutan panas yang tak asing mulai merambat dari tulang belikat menuju ujung jemarinya.
"Jangan! Belum saatnya!" batin Subosito berteriak.
Namun, Mahesa tidak memberikan ruang untuk Subosito bernapas. Pria itu terus menghujaninya dengan tendangan berputar dan pukulan beruntun yang memaksa Subosito bertahan habis-habisan di tepi panggung.
Penonton tampak histeris melihat sang jagoan caping tersudut.
Di bawah tekanan yang luar biasa, kemarahan dan rasa kekecewaan mulai menyelimuti hati Subosito. Pemuda itu merasa terasing.
Mengapa dirinya harus selalu ditekan? Mengapa dia harus bersembunyi? Kenapa dia tidak boleh menjadi dirinya sendiri?
Suhu udara di atas panggung tiba-tiba naik drastis. Kayu panggung di bawah kaki Subosito mulai mengeluarkan uap tipis.
Mahesa menyadari perubahan itu.bAlih-alih mundur, pria itu justru tersenyum tipis dan meningkatkan intensitas serangannya, seolah sengaja memprovokasi sang setan di dalam diri Subosito untuk keluar.
Sebuah pukulan telak mendarat di pelipis Subosito, menjatuhkan caping bambunya ke tanah.
Wajah Subosito kini terekspos sepenuhnya—mata emasnya mulai menghiasi lingkaran cokelat yang berpendar redup, dan uap panas mulai keluar dari mulut setiap kali Subosito mengembuskan napas.
"Ayo, tunjukkan siapa kau sebenarnya!" tantang Mahesa sambil menerjang maju untuk serangan penghancur.
Subosito mengerang pelan. Di dalam penglihatannya, panggung itu mulai memerah. Suara batin sang Garuda mulai memekik nyaring, menuntut untuk dibebaskan dari ikatan kesabaran manusia.
Subosito berada di persimpangan maut: kalah dan kehilangan bekal perjalanannya, atau menang dengan risiko membakar seluruh desa dan memastikan bahwa dirinya adalah setan yang dicari dalam sayembara.
Siapakah sebenarnya Mahesa, dan mengapa dia tampak begitu bernafsu memancing kekuatan api Subosito keluar?
Apakah turnamen ini hanyalah jebakan untuk memancing "Setan Api" keluar?
Ikuti puncaknya dalam 'Kemenangan yang Menyesakkan.'