Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA UDANG DIBALIK BATU
Mata Riko berangsur-angsur terbuka. Tangannya bergerak dalam genggaman sang ibu.
"Anakku...kamu sadar nak" lirih Yuliana.
Riko mendengar suara ibunya dan menoleh kesamping.
"I..ibu.." lirih pria yang baru saja siuman setelah hampir 2 minggu tak sadarkan diri.
Iyan yang berada di ruangan itu langsung berlari keluar dan mencari dokter. Tito dan Leon sedang keluar membeli makan malam.
Dokter dan beberapa perawat datang memeriksa Riko. Yuliana berdiri disamping brankar dan melihat putranya di observasi oleh tim medis.
Setelah pemeriksaan dilakukan, dokter pun memberikan analisisnya.
"Syukurlah, keadaan pasien sudah membaik. Alat vitalnya sudah mulai bekerja semestinya meskipun masih terbilang pelan namun sudah mengalami peningkatan. Untuk tindakan selanjutnya, besok pagi kami akan datang melihat perkembangan pasien lebih jauh lagi" ujar si dokter.
Yuliana hanya bisa meneteskan air mata dan mengangguk saja mengiyakan semua yang dikatakan dokter.
Setelah pemeriksaan, Riko kembali bersama Yuliana dan Iyan saja diruangan.
"I..ibu kok bisa disini?" tanya Riko.
"Demi kamu, Nak....ibu...ibu" jawab Yuliana terpotong sampai tidak bisa mengatakan apa apa karena kebahagiaannya melihat sang putra sadar saling bertolak belakang dengan perasaan terpuruk sepeninggalnya sang suami.
"Welcomw back, bro" timpal Iyan mencairkan suasana. Riko pun menoleh kearah Iyan.
"Hei, broo.." sahut Riko dengan senyum tipis.
"Kamu sudah tidur nyenyak selama 12 hari dan membuatku, Tito, dan Leon menemanimu disini" ujar Iyan.
"12 hari? Aku udah gak sadar 12 hari?" ujar Riko tak percaya.
"Ya. Sampai kemarin ibumu dibawa Tito kesini biar merangsang kesadaran mu dengan suaranya" sahut Iyan.
"Benar yang dikatakan Iyan, Nak. Ibu kesini karena teman temanmu. Mereka sangat baik kepada keluarga kita" ujar Yuliana.
Riko tersenyum lalu kembali memikirkan mimpinya dan ingin menanyakan keberadaan sang ayah serta adik adiknya.
"Ayah kemana bu? Dia gak ikut kesini? Adik adik ikut nggak?" tanyanya.
Yuliana semakin tidak bisa membendung air matanya. Ia langsung memeluk sang putra dan membuat Riko merasakan ada yanga aneh.
Apakah mimpi Riko ada maksud tersendiri? batin pria itu.
"Bu, ayah dimana? Kok bisa ayah tidak ikut jika ibu datang kesini sendirian? Kalau adik adik di rumah, aku bisa percaya sama Raka buat jaga Rika dan Lili. Tapi kalau ibu kesini sendirian, aku rasa.." belum juga selesai berbicara, Yuliana tidak bisa menahan lagi isi hatinya.
"A..ayahmu..sudah pergi meninggalkan kita, Nak. Ayahmu sudah gak sakit lagi" ujar Yuliana semakin erat memeluk putranya sambil menangis terisak.
Iyan yang melihat pemandangan itu sampai memilih keluar ruangan karena air matanya pun jatuh.
Deg.
Seketika itu tubuh Riko membeku. Ia tidak bisa merespon sesuatu atau mengatakan sesuatu. Diam beberapa saat dan mencerna mimpinya kembali.
Setelah mulai sadae apa yang benar benar terjadi, Riko mengeluarkan suaranya.
"Apakah ayah tersenyum saat terakhir kali ibu melihatnya?" tanyanya sambil meneteskan air mata.
Yuliana mengangguk.
"Iya..ayahmu tersenyum..dia sangat bahagia putranya bisa lulus sarjana di kampus terkenal Jakarta. Dia berdoa agar kamu bisa menjadi pria sukses dan membawa kebaikan untuk keluarga" jelas wanita itu.
Tangan Riko yang terpasang infus dan masih tidak bertenaga, dipaksakan untuk terangkat memeluk kembali sang ibu.
"Doakan aku bu. Aku akan berusaha memenuhi harapan ayah" ucapnya.
Keduanya saling berbagi duka dan penghiburan sebagai anak dan ibu.
...****************...
3 tahun kemudian, Riko lulus sebagai master dalam bidang hukum sebagai pengacara. Setelah kejadiaan kecelakaan yang membuatnya tidak bisa menghadiri wisuda sarjananya dan sepeninggalnya sang ayah, Riko bertekad untuk bangun kembali dari keterpurukan itu.
6 bulan masa pemulihan kakinya untuk berjalan, akhirnya Riko bisa berangkat S2 di Australia atas bantuan dari keluarga Tito.
Saat Yulianan di Jakarta menemani Riko, kakek Tito menawarkan pekerjaan dirumahnya sebagai asisten rumah tangga yang membolehkannya membawa ketiga anaknya yang lain kerumahnya juga.
Jadi sekarang keluarga Riko berada dirumah bak istana milik keluarga kakek Tito di Bandung.
Raka, Rika, dan Lili pindah sekolah juga. Semua dananya ditanggung oleh kakek Tito yang bernama Gagas Hadiningrat.
Dan hari ini, kelulusan S2 Riko di Australia pun Gagas memberikan tiket pesawat keberangkatan untuk keluarga Riko.
Anak desa yang berhasil pergi ke luar negeri mengejar pendidikan dan membawa keluarganya menyaksikan kesuksesan itu.
Gagas dan Tito juga hadir. Sedangkan Iyan dan Leon hanya bisa menyaksikan melalui videocall karena mereka sudah bekerja terpisah.
Sedangkan Tito saat ini sudah menjadi pengacara di firma milik keluarganya sendiri di Jakarta dan sedang menempuk pendidikan S2 di London.
Gagas yang berusia 75 tahun masih terlihat sehat dan semangat menyaksikan keberhasilan teman cucunya yang sudah ia anggap cucu sendiri.
Tapi dibalik kebaikan Gagas, ada maksud lain darinya. Maksud tersembunyi dan rahasia tanpa keluarganya tau.
Setelah acara kelulusan, semuannya kembali ke Indonesia kecuali Gagas dan Riko.
Tito membawa keluarga sahabatnya itu untuk kembali, sedangkan kakeknya ingin tinggal beberapa saat dengan Riko.
Tito tidak curiga dengan kakeknya, karena selama ini Gagas telah sangat membantu kehidupan keluarga Riko. Jadi wajar saja jika donatur meminta waktu si penerima donatur.
Apalagi Tito juga harus segera kembali bertugas untuk kasus yang ia terima di Jakarta. Mau tidak mau harus kembali.
Ketika sudah berdua, Gasan mengajak Riko menuju sebuah tempat di malam hari.
"Tuan, jika boleh tau kita akan kemana?" tanya Riko penasaran tapi tetap sopan. Riko sangat merasa berhutang budi dengan pria tua ini.
"Aku akan mengajakmu disebuah tempat yang nantinya akan kamu warisi dariku. Tempat yang tidak diketahui keluargaku dan hanya kamu yabg kupercaya untuk memegangnya" jawab Gagas.
Kening Riko mengerut.
"Tempat seperti apa itu?" batinnya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di dermaga pelabuhan dengan banyak kontainer ditata tinggi disana.
Gagas dan Riko turun mobil.
Dengan tongkat yang ia gunakan untuk berjalan, Gagas mengatakan sesuatu.
"Kamu tau, saat putraku, ayah Tito menjadi pengacara dan memilih mendalami karir itu apa yang aku rasakan?" tanyanya.
Riko menggelengkan kepala.
"Tidak tau, Tuan" jawabnya.
"Ketakutan. Ketakutan jika putraku dan keluargaku tau apa yang aku bangun sejak 30 tahun yang lalu" ujar Gagas.
"Apa yang Tuan takutkan dari Tuan Galio yang sudah menjadi pengacara sehebat sekarang?" sahut Riko.
"Ini yang aku takutkan untuk dia ketahui" ucap Gagas saat salah satu gudang dermaga terbuka.
Mata Riko terbelalak saat melihat banyak senjata dan kepingan emas berada disana.
"Aku adalah mafia senjata dan melakukan perdagangan emas secara illegal di benua asia" ungkap Gagas.
Riko menoleh kearah pria tua itu.
"Aku ingin kamu meneruskan perjalanan ini" lanjut Gagas.
Riko semakin terdiam dan mematung.
Didalam gudang terlihat beberapa orang dalam aktivitas menata barang dan ketika melihat Gagas datang mereka berlari lalu memberikan salam penghormatan.
"Selamat Malam, Tuan Besar" ucap mereka serempak.
"Malam. Aku disini ingin mengenalkan calon pewaris ku di Golden Market" sahut Gagas.
"Dia adalah Mr. Lion, panggil saja L. Seperti biasa kita semua disini menggunakan nama samaran bukan, jadi simpan identitas asli kalian" lanjut Gagas.
Riko semakin tak percaya dengan apa yang dia dengar. Wajahnya tersirat kebingungan dan kepanikan dalam diam tak terucap.