Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Douma mulai terusik
Pagi itu, di rumah kediaman keluarga Amatsuki yang sunyi, Douma merasa ada yang tidak beres. Tidak seperti biasanya, ia terbangun lebih awal, meskipun tidak ada alasan yang jelas. Hanya ada rasa gelisah yang menempel di dinding pikirannya.
Beberapa hari terakhir, ia merasa seperti ada yang mengintai. Sebuah tekanan yang hampir tak terasa, namun cukup untuk membuatnya tidak nyaman.
Setelah duduk di meja belajar selama beberapa menit, Douma memutuskan untuk memeriksa ponselnya. Berbagai notifikasi kelas masuk, tapi ada satu yang menarik perhatian.
Pesan singkat dari ibunya.
Ibu:
"Douma, kamu sudah mencoba menghubungi ayah? Aku khawatir dia belum kembali dari rumah sakit."
Douma menatap pesan itu sejenak, matanya menyipit.
“Ayah...” gumamnya.
Dia mengerutkan kening. Sejak percakapan terakhir mereka beberapa hari lalu, komunikasi dengan Profesor Amatsuki Hiroshi menjadi terputus. Teleponnya selalu masuk voicemail. Pesan teks tidak pernah dibalas.
Douma mencoba menghubungi nomor ayahnya sekali lagi. Nada dering bergema di telinganya, tapi tidak ada jawaban. Untuk beberapa detik, suasana di dalam kamar terasa mencekam.
“Ibu...” Douma berkata pelan, tidak ingin ibunya mendengar ketegangan di suaranya. Ia menekan tombol layar ponselnya sekali lagi dan memulai panggilan video. Tidak ada jawaban.
Sejak saat itu, ketenangan yang biasanya ada di dalam dirinya terasa hilang. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
Ibu Douma tiba-tiba muncul di pintu kamar.
“Douma…” suaranya cemas. “Kenapa masih belum bisa menghubunginya? Aku sudah mencoba beberapa kali. Kamu bisa mencoba lagi, kan?”
Douma menatap ibunya, yang kini tampak semakin khawatir. "Ibu, jangan khawatir. Ayah pasti sibuk di rumah sakit, mungkin dia terlalu banyak pekerjaan."
Namun, ibunya tidak terlihat meyakinkan. Ia menghela napas berat.
“Ini berbeda, Douma,” jawab ibunya dengan suara pelan. “Aku sudah lama mengenal ayahmu. Biasanya, ia akan segera menghubungi kita jika ada masalah. Tapi sekarang… Aku rasa ini bukan hanya soal pekerjaan.”
Douma diam sejenak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata untuk mencari tahu lebih dalam. Sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.
---
Akhirnya, Douma memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
Namun, kali ini, ia tahu ia harus menggunakan sedikit kekuatan spiritualnya. Ia bukan tipe orang yang mudah menunjukkan kekuatannya, terutama karena itu akan membuatnya terlalu mencolok.
Ia berdiri dari kursinya, menatap layar komputernya, dan menutup aplikasi kelas yang sedang berjalan. Pikirannya mulai fokus. Tanpa kata, ia mengangkat tangan dan menekankan sedikit aura energi yang selama ini ia sembunyikan.
Itu adalah sesuatu yang halus. Hanya 0,5% dari total kekuatannya yang meluncur keluar, cukup untuk menembus penghalang di sekitar rumah sakit.
Sebentar kemudian, tubuh Douma terasa sedikit lebih ringan. Ia berjalan menuju pintu dan mengambil jaket sekolahnya.
Di Rumah Sakit Pusat Argena, pengamanan ditingkatkan setelah wabah semakin mengkhawatirkan. Douma berdiri di depan gerbang utama. Ia melirik ke arah sekitar, memastikan tidak ada yang memperhatikan.
Saat ia melangkah lebih dekat ke pagar pembatas, ia merasakan energi berat yang menggantung di sekitar rumah sakit. Sesuatu yang tak terlihat, namun bisa ia rasakan—seperti gelombang energi yang padat, menekan ruang dan waktu.
Hasil dari sedikit kekuatan spiritualnya, yang ia lepaskan untuk menembus penghalang energi rumah sakit, mulai mengalir sedikit lebih kuat.
“Tidak ada yang bisa menghentikanku…” gumamnya dalam hati, berusaha menenangkan diri. Namun dalam hatinya, ia sudah tahu—ada sesuatu yang lebih besar di dalam sana.
Douma menyusuri sisi pagar yang sedikit terlupakan oleh petugas. Setelah beberapa menit, ia sampai di pintu belakang rumah sakit, yang hanya terbuka dengan izin khusus. Di sanalah ia mulai merasakan lebih banyak lagi tekanan energi.
Namun kali ini, bukan penghalang biasa.
Ada sesuatu yang tidak wajar.
Ia merasakan aura gelap. Bukan hanya karena adanya wabah. Tetapi juga karena sesuatu yang lebih jahat sedang beroperasi di dalam sana.
Douma melangkah lebih dekat.
Di dalam rumah sakit, Hiroshi tidak tahu bahwa putranya berada sangat dekat.
Di ruang observasi yang terisolasi, Hiroshi sedang bekerja, mencoba menganalisis sampel yang ia dapatkan sebelumnya.
Namun sistem yang digunakan untuk mengontrol aliran data menjadi terganggu.
Ia merasakan sedikit kegelisahan di dalam dirinya.
Kenapa sistem tidak bisa terkoneksi dengan baik?
Ia memeriksa beberapa layar dengan cermat.
“Struktur protein ini…” Hiroshi bergumam. “Ini… tidak sesuai.”
Namun, saat ia meneliti lebih dalam, keanehan semakin terasa. Sebuah file terenkripsi secara misterius tidak bisa diakses.
Seolah ada tangan tak terlihat yang memblokirnya.
Hiroshi menekan tombol untuk membuka akses manual, namun layar yang muncul malah memberi pesan error.
“Ini… bukan pekerjaan orang biasa,” katanya pelan. “Ada yang lebih besar di sini.”
Namun, ia tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sepertinya sistem telah dibajak, entah oleh siapa.
Di luar ruangan, Douma akhirnya menemukan pintu yang menuju Level 3, yang dipenuhi penghalang energi. Aura spiritualnya kini semakin kuat, namun ia berusaha mengendalikan kekuatannya.
Ketika ia berdiri di depan pintu yang terkunci otomatis, ia memutuskan untuk memaksa masuk. Dengan sedikit aura spiritual yang keluar, pintu itu terbuka sedikit.
Ia merasakan ada keheningan di dalam.
Namun, ada aura gelap yang mengisi ruangan.
“Ini… ruangan yang berbeda,” bisiknya pelan.
Douma melangkah masuk.
Di dalam, ia melihat beberapa layar besar yang memantulkan data tidak wajar.
Ada beberapa botol kecil tanpa label, tergeletak di meja.
Douma mengerutkan kening.
“Benda-benda ini…” pikirnya.
Ia mulai mendekat, merasakan adanya energi gelap di sekitar botol itu. Beberapa sampel darah yang terlihat telah dimodifikasi, dan bahkan terdapat beberapa jarum suntik yang digunakan dengan cara yang tidak biasa.
Douma tahu, ini bukan tempat yang seharusnya ada.
Dalam beberapa detik, dia mendengar suara langkah kaki mendekat.
Ia segera menghilang ke dalam bayangan, mengendap dengan hati-hati.
“Siapa yang bisa tahu tentang ruangan ini?” Douma berpikir, menyadari bahwa ruangan ini tampaknya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu yang memiliki akses.
---
Tak lama setelah itu, Douma kembali ke rumahnya, berpikir panjang.
Ia duduk di kursinya, merenung.
“Ayah… Apa yang terjadi?” bisiknya, tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikirannya. Ia merasakan sesuatu yang besar—lebih besar dari wabah itu sendiri.
Namun, ia tidak bisa bertindak terlalu cepat. Ia tahu, apapun yang sedang diatur, itu harus segera dihentikan.
“Ini adalah awal dari semuanya…” katanya pelan, tatapan matanya tajam.
“Kalian tidak akan menang.”
Douma menghela napas.
“Aku tak akan membiarkan dunia ini hancur begitu saja, aku baru saja akan memulai hidup damai huh!”
Ia menggerakkan jarinya. Sebuah layar kecil muncul di depan wajahnya.
Tidak ada lagi yang harus ia katakan.
Ia hanya tahu satu hal.
Konspirasi ini bukan sekadar tentang wabah. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya.
Dan ia akan melawannya, tanpa peduli betapa kuatnya musuh di hadapannya.
Tapi untuk saat ini… Douma memutuskan untuk menunggu. Menyusun langkah berikutnya dengan hati-hati.
---