Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Anisa Mulai Tidak Betah.
Suara adzan subuh mulai berkumandang, di sini Anisa sudah terbangun. Ia mengerjakan shalat terlebih dahulu. Di dalam shalatnya tersemat sebuah doa yang ia panjatkan.
Apalagi untuk saat ini ia tengah menghadapi masalah yang cukup membuat dadanya sesak. Selesai shalat hati Anisa merasa cukup lega meskipun ia masih belum mendapatkan maaf dari majikannya.
Anisa memegang sapu dan juga kemoceng di tangan kirinya. Pagi ini ia mencoba lebih berhati-hati lagi dan cekatan, namun seketika ia memberhentikan pekerjaannya. Suara dari anak tangga terdengar ketus.
"Nis, kalau nyapu yang bersih," tegur majikannya seolah ada saja yang dikeluhkan oleh majikannya.
Pagi-pagi sekali hal yang jarang dilakukan oleh majikan, Anisa merasa jika kali ini ia benar-benar diawasi dan dicurigai dan hal itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Anisa segera menoleh ke suara itu. "Iya Bu.
Hanya dua kalimat itu yang keluar dari mulut Anisa. Ia berusaha lagi mengulang dari awal, dan fix semua lantai sudah bersih, bahkan ia merasa bingung apanya yang kurang bersih.
"Sabar Nis, kamu harus sabar ya," gumamnya seolah itu satu-satunya kata untuk menjadi penenangnya.
Anisa melanjutkan kembali nyapunya, tangannya tidak berhenti begitu saja, langkahnya terhenti di depan bupet cukup besar, di situ tersusun rapi berbagai hiasan perabotan yang terpajang indah.
Seperti biasa Anisa membersihkannya dengN hati-hati dan teliti namun lagi-lagi pas majikannya kembali menegur.
"Ini gimana, kamu kalau masang yang bener dong," ucapan itu terasa menusuk, padahal Anisa masih belum selesai membereskannya.
"Ini belum selesai Bu," sahut Anisa dengan sopan.
"Meskipun belum selesai, bukan seperti itu caranya, kamu letakkan dulu, baru bersihkan satu-satu," tandas majikannya.
Anisa mengernyitkan keningnya, padahal yang ia lukakan memang seperti itu, tapi sang majikan seolah mencari-cari kesalahannya hingga membuatnya bingung dan salah tingkah. Meskipun dari tadi ia sudah membersihkan secara berulang sesuai aturan awal, dan dia tidak pernah kerja asal.
"Perasaan apa yang aku kerjakan sama seperti hari-hari sebelumnya," gumamnya pelan, tapi ada hati yang mulai tidak nyaman di dalam sana.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, Anisa langsung melangkah ke dapur, wajahnya terlihat begitu lelah, bukan hanya capek tenaga, hatinya juga.
Anisa menghela nafas perlahan tangannya meraih meraih teko dan menuangkan ke dalam gelas kecil.
"Glek ... glek ...," Anisa meneguk air itu tanpa henti sedikit mengurangi rasa dahaganya meskipun saat ini pikirannya masih penuh.
Saat Anisa hendak mendekat ke dua rekannya yang masih sibuk dengan perbumbuan dapur tiba-tiba saja Latifa menyektuk.
"Nis kenapa kok mukanya terlihat lelah?" tanya Latifa.
"Gal apa-apa Mbak, cuma sedikit capek saja," sahut Anisa.
"Orang tuh kalau habis di lamar seharusnya bahagia," celetuk Latifa.
Anisa hanya menanggapi dengan senyuman, ia pun langsung ikut membantu pekerjaan yang harus diselesaikan saat ini juga.
"Nis, kau goreng ikan saja," kata Eni, ia segera memberi Anisa tugas seolah tahu agar tidak diintrogasi oleh rekan seniornya itu.
"Iya Mbak," sahutnya dengan sedikit senyum.
Minyak diatas wajan sudah panas, Anisa segera memasukkan beberapa ikan itu, ia mencoba untuk fokus agar tidak kena tegur lagi jika majikannya tiba-tiba masuk ke dalam dapur.
Gelembung minyak di dalam wajan menimbulkan percikan kecil bahkan sesekali percikan itu mengenai lengannya tapi gadis itu berusaha untuk menahan kesakitan itu daripada harus bersuara.
Karena ia tidak mau disalahkan lagi dalam pekerjaannya, ia sudah benar-benar berusaha dengan baik.
"Mbak ikannya sudah matang," kaya Anisa akhirnya.
Eni hanya mengangguk dan sedikit senyum, gadis itu tidak pernah banyak tanya seolah tahu dengan masalah yang saat ini tengah dialami oleh Anisa.
☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di dalam kamar kosnya, hari ini Zaki benar-benar tersenyum, bukan karena Anisa, tapi ia mendapat notifikasi dari email beberapa lamaran kerja yang kemarin salah satunya ada yang keterima.
Entah kenapa seolah takdir melancarkan semuanya, baru kemarin ia melamar Anisa, bahkan di kota ini ia belum punya pekerjaan tapi pesan masuk itu seolah membuatnya yakin. Keinginan baik pasti selalu ada jalan.
"Ya Allah terima kasih, padahal tadi malam aku masih berpikir setelah ini mau bekerja di mana," ucapnya dengan penuh rasa syukur.
Zaki segera membalas pesan itu, lalu beberapa menit kemudian pihak restoran memintanya untuk segera masuk hari ini.
Entah kebetulan atau tidak, yang jelas untuk saat ini Zaki benar-benar merasa beruntung, dan untuk pertama kalinya ia bersorak atas kebahagiaan ini.
"Yes akhirnya aku bisa mempunyai pekerjaan," gumamnya dengan semangat.
Zaki segera memesan ojek online, dengan sigap ia berangkat menjemput rejekinya hari ini, dengan balutan kemeja putih yang rapi pemuda itu terlihat semakin percaya diri.
Setelah sampai ia langsung berada di ruang interview, bebagai pertanyaan Zaki jawab dengan baik, hingga pada akhirnya ia keterima kembali di bagian belakang yaitu sebagai cuci piring kembali, sama halnya dengan di restoran Om nya dulu.
"Maaf ya, pihak kami terlambat merespon lamaran anda," kata petugas itu.
Zaki hanya tersenyum tipis. "Tidak masalah Pak, yang penting sekarang aku dapat panggilan ini."
"Sebelumnya pernah kerja dimana?"
"Di restoran Tambun, dan bekerja di bagian cuci piring," sahut Zaki jujur.
"Baiklah Mas Zaki, kalau memang di pekerjaan sebelumya anda sudah pernah menekuni," ucap petugas itu pelan, "dan mulai sekarang restoran kami memperkerjakan anda."
Zaki menyambut uluran tangan petugas itu dengan wajah sumringah ia pun dengan semangat langsung melangkah ke bagian belakang, bagian cuci piring, pekerjaan yang sebelumnya pernah ia kerjakan di Restoran Om Farid.
Bukan karena di pekerjaan lamanya ia diberhentikan, tapi karena faktor lokasi. Zaki memilih tempat yang dekat, dengan Anisa dan juga kedua orang tuanya, karena biar bagaimanapun ia tetap memantau kondisi kedua orang tuanya meskipun dari kejauhan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di tempatnya yang baru, Zaki berusaha bekerja lebih baik dan lebih teliti lagi, tumpukan piring bukan sesuatu yang asing lagi, tapi menjadi penyemangat, lama-lama ia mulai mencintai pekerjaannya ini, karena dari satuan piring kotor itu, rejekinya mengalir sedikit demi sedikit.
"Nis, aku sudah kerja lagi," ungkapnya seolah Anisa ada dihadapannya.
Zaki segera membasahi tangannya dengan busa sabun, gerakan tangannya lebih cepat dan terlatih, senior yang ada di belakangnya mulai melirik cara kerja Zaki yang dinilai begitu dominan, hampir tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh karyawan baru itu.
"Kerjamu cukup rapi bro," ujar rekan barunya.
Zaki hanya tersenyum menanggapinya. "Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini Mas," sahut Zaki.
Baginya, ini bukan tentang pekerjaan, tapi tentang tanggung jawab, dirinya sebagai seorang laki-laki yang dalam waktu dekat ini akan mengikat seorang gadis.
Bersambung ....
Pagi Kakak ....
Dari kisah Anisa kita bisa belajar, jika laki-laki menginginkan seorang wanita, pasti dia akan mengusahakan wanita itu menjadi miliknya, b Terlihat egois karena menentang kedua orang tuanya, tapi memang itulah perjuangan dari seorang Zaki.