Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
“Alecio, don't touch me!” Suara tangis Sandrina pecah.
Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Bukan karena lemah, tetapi karena luka lama kembali disayat. Tangisan itu bukan jeritan, bukan teriakan, tetapi suara seseorang yang pernah hampir kehilangan dirinya.
Suara tangisan Sandrina itu menembus kesadaran Alecio. Tubuhnya membeku. Emosinya yang tadi seperti badai tiba-tiba mereda.
Alecio melihat wajah Sandrina benar-benar bukan perempuan yang menantangnya. Bukan gadis yang berani menghajarnya, tetapi seseorang yang pernah terluka. Seseorang yang sedang ketakutan.
Alecio perlahan melepaskan cengkeramannya. Namun, alih-alih meminta maaf, egonya yang masih terluka mengambil alih. Ia mundur satu langkah. Wajahnya kembali dingin.
“Jangan pernah lupa,” ucap Alecio rendah, mencoba menyembunyikan keguncangannya sendiri, “kau ada di sini karena aku mengizinkannya.”
Sandrina menatapnya dengan mata basah. “Aku bukan milikmu,” bisiknya.
Alecio mendekat lagi, kali ini tanpa menyentuh. “Siapa bilang? Saat ini kau berada di wilayahku. Di bawah aturanku. Jadi, kau itu milikku!”
Suasana kembali tegang dan dengan nada yang terdengar lebih sebagai benteng daripada ancaman, Alecio berkata, “Kau pikir dunia di luar sana lebih aman? Tanpa aku, kau tidak akan bertahan sehari.”
Itu bukan kebenaran mutlak. Itu pembenaran. Namun, Alecio mengucapkannya seperti hukum.
Sandrina perlahan bangkit, merapikan cadarnya dengan tangan gemetar. “Kau bisa menguasai kota,” katanya pelan, suaranya kembali stabil meski air mata masih membekas, “tapi kau tidak bisa menguasai aku.”
Tatapan mereka bertemu. Dua karakter yang keras kepala. Dua jiwa yang sama-sama terluka.
Dengan napas yang masih berat, Alecio akhirnya berbalik dan berjalan menuju pintu. Meninggalkan kamar yang hancur berantakan. Perabotan banyak pecah, kaca berserakan.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. Namun, tidak mengatakan apa-apa. Pintu tertutup keras.
Kini Sandrina berdiri sendirian. Tubuhnya gemetar. Bukan karena kalah, melainkan karena ia baru saja mempertahankan batas yang dulu hampir direnggut darinya.
Dan di lorong luar Alecio menyandarkan diri ke dinding. Tangannya mengepal. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Ia hampir menjadi monster yang selama ini ia benci. Dan kesadaran itu, jauh lebih menyakitkan daripada luka tembak di bahunya.
Lorong kastil masih sunyi ketika Alecio berjalan cepat menuju ruang medis. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Bukan karena luka tembak di bahunya, terapi karena sesuatu yang jauh lebih memalukan.
Alecio mengetuk pintu ruang medis dengan keras.
Francisco yang sedang merapikan alat-alat operasi menoleh heran. “Bos? Ada yang terasa sakit lagi?”
Alecio masuk dan menutup pintu. Tatapannya gelisah.
“Aku butuh obat.”
Francisco langsung siaga. “Obat apa? Pendarahanmu sudah berhenti.”
Alecio terdiam beberapa detik, seolah sedang menimbang apakah harga dirinya cukup kuat untuk mengucapkan ini.
“E ... obat untuk menenangkan ketegangan.”
Francisco mengerutkan kening. “Ketegangan?”
Alecio menatap langit-langit, jelas tidak nyaman. Dia malu untuk mengatakan hal itu secara langsung. “Ya.”
Terjadi keheningan di antara mereka. Beberapa detik kemudian, wajah Francisco berubah pelan-pelan.
“Ke-tegangan ... di bagian itu?” tanya sang dokter hati-hati.
Alih-alih menjawab, Alecio malah menatapnya tajam.
Francisco menelan ludah. “Ya Tuhan ...!” Ia mundur selangkah. “Apa yang sebenarnya terjadi di kamar tadi?”
“Aku tidak mau membahasnya,” potong Alecio cepat. Rahangnya mengeras. “Kepalaku sakit, terasa cenat-cenut. Dan ini, tidak mau hilang.”
Francisco berdeham pelan. “Bos, tubuh manusia bereaksi terhadap tekanan emosional dengan cara yang aneh.”
Alecio mengusap wajahnya kasar. “Jangan beri aku kuliah biologi.”
Francisco mencoba tetap profesional, meski jelas ia menahan tawa gugup. “Baik. Secara medis tidak ada obat ajaib untuk itu.”
Alecio menatapnya tak percaya. “Kau itu dokter.”
“Dokter, bukan penyihir.”
Alecio mendesah frustrasi. Dia tidak bisa melampiaskan hasratnya yang membuatnya tegang.
Francisco lalu berkata pelan, “Kalau ini hanya soal hasrat yang tertahan, mungkin kau hanya perlu menyalurkannya.”
Tatapan Alecio berubah dingin. “Maksudmu?”
Francisco mengangkat bahu kecil. “Cari perempuan lain. Yang tidak membuatmu emosional.”
Kalimat itu menggantung. Alecio terdiam lama. Mungkin itu solusi paling sederhana. Tanpa emosi. Tanpa konflik. Tanpa air mata. Akhirnya ia berkata pelan, “Atur.”
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil memasuki halaman kastil. Seorang wanita turun.
Cantik dan penuh percaya diri. Mengenakan gaun yang dirancang untuk menarik perhatian. Ia sudah terbiasa dengan pria-pria berkuasa.
Francisco berdiri di lorong, merasa seperti manajer hotel yang salah tempat. Sementara Alecio duduk di sofa ruang tamu pribadi, wajahnya kembali dingin.
Wanita itu mendekat, tersenyum manis. “Signor Alecio,” suaranya lembut dan menggoda.
Alecio menatapnya. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Mengosongkan kepala. Membiarkan insting mengambil alih. Wanita itu duduk lebih dekat, menyentuh lengannya perlahan.
Namun, tidak ada reaksi. Alecio sampai mengerutkan kening.
Mencoba lagi. Tetap tidak ada. Sebaliknya, bayangan wajah lain muncul di kepalanya. Wajah yang tertutup cadar. Mata yang berani melawan. Tangisan yang membuatnya tersadar.
Alecio berdiri tiba-tiba.
Wanita itu terkejut. “Ada yang salah, Signor?”
Alecio menghela napas pelan. Dia menyadari sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Tubuhnya tidak merespons sama sekali.
Francisco yang mengintip dari pintu samping menelan ludah.
Beberapa menit kemudian, wanita itu pergi dengan kebingungan yang jelas. Pintu tertutup dan ruangan kembali hening.
Alecio berdiri diam, rahangnya menegang.
Francisco mendekat perlahan. “Jadi?”
Alecio menatapnya datar. “Tidak berhasil.”
Francisco mengedip. “Tidak ... sama sekali?”
Alecio hanya menatapnya lebih tajam.
Francisco mengangkat kedua tangan menyerah. “Baik.” Dia mengangguk, ”Oke. Secara medis, ini menarik.”
Alecio hampir melempar vas bunga ke arahnya. “Jangan gunakan kata ‘menarik’.”
Francisco berdeham. “Bos ... mungkin ini bukan soal fisik.”
Alecio diam.
“Tubuhmu merespons emosi. Bukan sekadar rangsangan,” lanjut Francisco pelan. “Dan sepertinya satu-satunya orang yang memicu reaksi itu adalah Sandrina.”
Nama itu seperti tamparan. Alecio membeku. “Itu tidak masuk akal.”
Francisco tersenyum tipis. “Tubuh jarang peduli pada logika.”
Alecio berjalan menjauh beberapa langkah. Ia membenci kesimpulan itu. Membenci kenyataan bahwa emosinya terhadap Sandrina jauh lebih dalam dari yang ingin ia akui. Bukan sekadar ketertarikan. Bukan sekadar ego. Ada sesuatu yang lebih berbahaya. Sesuatu yang membuatnya kehilangan kendali.
Dan malam ini Alecio baru menyadari bahwa masalahnya bukan karena ia tidak bisa menyalurkan hasrat. Masalahnya adalah hasrat itu hanya mengarah pada satu orang dan orang itu membencinya.
Francisco akhirnya menepuk bahunya pelan. “Secara medis, kau sehat.”
Alecio menatapnya datar.
“Secara emosional?” tanya Francisco.
Alecio tidak menjawab. Dia memalingkan muka karena tidak tahu jawabannya.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu