NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang kutunggu

Keesokan harinya, sekitar pukul lima pagi, ketika langit masih gelap dan udara subuh terasa sejuk, pintu rumah Zahra diketuk pelan.

Tok. Tok. Tok.

Ibu Zahra yang baru saja selesai salat berjalan menuju pintu. Ia membukanya sambil menjawab, “Waalaikumsalam…”

Begitu pintu terbuka, wajahnya langsung berbinar.

“Udah pulang, Mas…”

Di hadapannya berdiri Schevenko dengan senyum lelah namun hangat. Di kedua tangannya penuh barang—tas belanja, kotak-kotak besar, kantong makanan, dan sebuah buket bunga cantik yang masih segar.

Ibu Zahra memperhatikan banyaknya barang itu.

“MasyaAllah…itu apa mas banyak sekali.”

Schevenko tersenyum sopan. “Oleh-oleh sedikit, Bu.”

Ibu Zahra terkekeh pelan. “Sedikit katanya… itu Zahra nangis mulu, Mas, dari kemarin,” ucapnya sambil tersenyum penuh arti.

Schevenko hanya tersenyum mendengarnya.

Tak lama kemudian Ayah Zahra keluar.

“Lho, Mas sudah sampai?”

“Iya, Yah.”

Ayah Zahra melihat barang-barang itu lalu tertawa kecil. “Iya, Mas… udah kayak nikah setahun aja, nangis terus dari kemarin.”

Schevenko hanya tersenyum tipis.

“Ayo masuk dulu, Mas.”ucap ayah zahra.

Schevenko masuk dan meletakkan sebagian barang di ruang tamu, tapi kemudian kembali keluar.

“Mau ke mana lagi, Mas?” tanya Ayah Zahra.

“Ambil barang, Yah. Masih banyak di bagasi.”

“Yaudah ayo, Ayah bantuin.”

Mereka berdua bolak-balik mengambil barang sampai akhirnya ruang tamu penuh dengan bingkisan dan makanan.

Schevenko menatap Ayah dan Ibu Zahra. “Ini untuk Ayah dan Ibu.”

Ayah tersenyum haru. “Banyak sekali ini, Mas. Terima kasih ya.”

Setelah suasana agak tenang, Schevenko bertanya pelan, “Zahra di mana, Bu?”

“Masih tidur dia, Mas.kemarin katanya lagi datang bulan makanya gak aku bangunin, Itu dia lagi tidur di kamarnya. Mungkin kecapekan nangisin kamu,” jawab Ibu Zahra lembut.

Schevenko terdiam sejenak, lalu mengangguk. Buket bunga yang tadi ia pegang masih ada di tangannya.

“Yaudah bentar ya, Bu. Aku mau lihat dulu.”

“Mau dibangunin, Mas?”

“Enggak kok, Bu. Cuma mau lihat aja.”

Langkahnya pelan saat menuju kamar Zahra. Ia membuka pintu dengan hati-hati.

Zahra masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat tenang, tapi jelas ada bekas tangis di matanya yang sedikit lebam. Ponselnya masih berada di dekat bantal.

Schevenko berdiri beberapa detik memandangi wajah itu.

Ia melangkah masuk, lalu dengan hati-hati meletakkan buket bunga yang ia bawa di atas meja kecil di samping tempat tidur Zahra. Warna bunga yang lembut kontras dengan suasana kamar yang masih temaram.

Setelah itu, ia mendekat ke sisi kasur.

Tangannya terulur pelan, menyibakkan sedikit rambut Zahra dari dahinya. Ia menatap wajah itu dengan tatapan lembut yang tak terucap.

“Maaf…” gumamnya sangat pelan.

Ia lalu mencium kening Zahra dengan lembut.

Zahra sedikit bergerak dalam tidurnya, tapi tidak terbangun.

Schevenko tersenyum kecil melihatnya, lalu berdiri dan keluar kamar dengan langkah ringan, meninggalkan buket bunga sebagai kejutan saat Zahra membuka mata nanti.

Di ruang tamu, Ibu Zahra langsung menatapnya.

“Gimana, Mas? Belum bangun?”

Schevenko menggeleng. “Biarin tidur aja, Bu. Kasian lihatnya.”

Ayah Zahra tersenyum kecil. “Yaudah, ayo ke belakang rumah, Mas. Ngopi dulu sambil main catur.”

Schevenko mengangguk. “Ayo, Yah.”

Ayah Zahra memanggil ibu zahra. “Bu, buatin dua kopi ya!”

Ibu Zahra mengangguk dan segera menuju dapur.

Di belakang rumah, udara pagi masih segar. Papan catur dikeluarkan, dua cangkir kopi mengepul hangat di atas meja kayu.

Sementara itu, di dalam kamar, Zahra masih tertidur—tidak tahu bahwa orang yang ia tunggu dengan tangis dua hari itu sudah pulang.

Dan di atas mejanya, buket bunga segar menanti saat ia membuka mata.

Di belakang rumah, udara masih sejuk. Embun menempel di daun-daun, dan aroma kopi hitam mengepul pelan di antara mereka.

Ayah Zahra dan Schevenko duduk berhadapan dengan papan catur di meja kayu kecil. Sesekali terdengar suara bidak digeser.

“Kamu pasti capek ya, Mas?” tanya Ayah Zahra sambil memindahkan pion.

“Lumayan, Yah. Tapi nggak apa-apa,” jawab Schevenko santai.

Obrolan mereka mengalir ringan, sampai di sela permainan Ayah Zahra berkata pelan,

“Kemarin teman Zahra datang ke rumah, Mas.”

Schevenko mengangkat pandangan dari papan catur. “Perempuan kan, Yah?”

Ayah Zahra tertawa kecil. “Iya lah, Mas. Kan dulu pesantrennya isinya perempuan semua.”

Schevenko tersenyum tipis. “Oh gitu ya, Yah. Ngobrolin apa mereka?”

“Ngobrolin kampus.Dan ternyata Mereka sekampus. Katanya ngajak Zahra ngekos bareng.”

Tangan Schevenko berhenti sejenak di atas bidak kudanya.

“Terus gimana, Yah?”

Ayah Zahra memindahkan bentengnya dengan tenang. “Ya Ayah bilang saja nanti Zahra tinggal di tempat pamannya.”

Schevenko terdiam sepersekian detik… lalu tersenyum kecil.

“Terima kasih, Yah.”

Ayah Zahra menatapnya penuh arti. “Yang penting Zahra nyaman. Itu saja.”

Schevenko mengangguk pelan. Lalu permainan kembali berlanjut, diselingi obrolan ringan tentang perjalanan dan urusan pekerjaan.

KEMBALI KE TOKOH UTAMA

(Sudut Pandang Zahra)

Di sisi lain rumah…

Aku masih terlelap ketika Ibu membuka pintu kamar pelan.

“Nak… bangun. Udah setengah delapan.”

Aku menggeliat kecil, masih setengah sadar.

“Suamimu udah pulang lho.”

Kalimat itu membuat mataku langsung terbuka.

Aku langsung duduk tegak.

“Ia sudah pulang?!” suaraku masih serak. “Di mana dia, Bu?”

Ibu tersenyum sambil melirik ke arah meja kecil di samping tempat tidurku.

“Itu, kamu dibawain bunga. Kamu malah tidur.”

Aku mengikuti arah pandang Ibu.

Dan benar saja.

Di atas meja kecil itu ada buket bunga cantik yang semalam belum ada di sana.

Dadaku langsung berdebar keras.

Dia benar-benar sudah pulang.

Tanpa pikir panjang aku langsung berdiri dari kasur.

Aku bahkan belum sepenuhnya sadar. Rambutku masih berantakan, wajahku pasti sembab. Tapi aku tidak peduli.

Aku melangkah cepat ke arah pintu kamar.

Namun tiba-tiba Ibu memegang tanganku.

“Mau ke mana?”

“Mau lihat dia!” jawabku cepat.

Ibu menaikkan alisnya. “Kamu baru bangun tidur. Mandi dulu. Masa iya mau ketemu suaminya dengan wajah begitu?”

“Aduh Bu…” aku mencoba melepaskan tangan Ibu. “Nanti saja mandinya.”

Tapi Ibu tidak melepaskanku.

“Pokoknya mandi dulu.”

Aku meronta kecil. “Ibu ini kenapa sih…”

“Karena kamu itu istri,” jawab Ibu tegas tapi lembut. “Walaupun cuma dua hari nggak ketemu, tetap saja harus rapi kalau mau menyambut suami.”

Aku menggigit bibir.

Jantungku masih berdetak cepat.

“Dia di mana sekarang?” tanyaku tak sabar.

“Di belakang. Lagi ngopi sambil main catur sama Ayah.”

Aku hampir saja kembali melangkah, tapi Ibu kembali menahanku.

“Zahra.”

Nada suaranya kali ini lebih lembut.

“Kamu nunggu dua hari sambil nangis. Sekarang dia sudah pulang. Masa nggak mau ketemu dalam keadaan paling cantik?”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Aku menatap bunga di meja.

Tanganku perlahan menyentuh kelopak bunga itu.

Dia masuk ke kamarku.

Dia melihatku tidur.

Dadaku terasa hangat sekaligus malu.

“Dia… masuk kamar?” tanyaku pelan.

“Iya. Cuma lihat kamu. Katanya kasihan lihatnya.”

Pipiku langsung terasa panas.

Tanpa sadar aku tersenyum sendiri.

“Sudah, mandi sana,” dorong Ibu pelan.

.............

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!