kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Alendra berdiri mematung di tengah hiruk-pikuk Pasar Desa yang becek. Dunianya yang selama dua bulan ini membeku, tiba-tiba mencair secara paksa. Di antara tumpukan sawi dan aroma bumbu dapur, ia melihatnya.
Wanita itu. Sosok yang membuatnya hampir gila.
Patricia sedang berdiri di depan lapak penjual buah. Ia mengenakan gamis biru dongker yang longgar, namun tetap tidak bisa menyembunyikan perutnya yang sudah menonjol nyata. Tangannya yang mungil sedang merogoh dompet kain, namun sesekali ia mengusap pinggangnya, gerakan khas ibu hamil yang merasa pegal.
Alendra hampir tidak bersuara "Cia..."
Langkah Alendra yang tadinya kaku mulai bergerak maju. Matanya tidak berkedip, takut jika ia berkedip, sosok itu akan menguap seperti kabut pagi. Namun, sepatu pantofel mahalnya yang tidak cocok dengan tanah pasar membuat suara derit yang aneh.
Entah karena ikatan batin atau sekadar insting, Patricia merasa ada sepasang mata yang menatapnya dengan intensitas yang menyakitkan. Ia menoleh perlahan.
Mata mereka bertemu.
Mata Alendra yang merah dan cekung menatap langsung ke dalam manik mata Patricia. Dalam satu detik itu, waktu seolah berhenti. Patricia mematung, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke perutnya.
Mas Alen? Kenapa dia di sini? Bagaimana bisa? batin Patricia berteriak. Jeruknya jatuh menggelinding masuk ke lumpur yang becek.
Ketakutan menyergapnya. Bukan takut pada Alendra, tapi takut akan luka lama yang akan terbuka kembali jika mereka bicara. Patricia langsung memalingkan wajah. Ia tidak mengambil kembalian dari penjual jeruk, Ia langsung berbalik badan dengan gerakan cepat yang membuatnya sedikit meringis karena beban perutnya.
"Patricia ... sayang..! Tunggu!" teriak Alendra, suaranya pecah di antara keramaian.
Patricia panik. Ia segera masuk ke celah-celah kerumunan ibu-ibu yang sedang mengerumuni tukang daster diskon. Tubuhnya yang lebih kecil memudahkannya menyelinap di antara tumpukan kain.
Patricia berbisik pada dirinya sendiri "Jangan sekarang... tolong, jangan sekarang..."
Alendra mencoba mengejar, namun ia segera dihadang oleh kenyataan bahwa ia masihlah "Tuan Muda Suhadi".
"Aduh, Mas! Hati-hati dong, ini keranjang kerupuk saya ditabrak!" omel seorang ibu-ibu.
"Maaf, Bu, maaf!" Alendra mencoba melompat melewati karung cabai, tapi ia malah tersandung tali tenda pasar.
Patricia melihat Alendra yang kesulitan beradaptasi dengan pasar yang sempit. Ia segera melepaskan kerudung bagian luarnya yang berwarna biru dan membaliknya ke sisi yang berwarna cokelat gelap, salah satu teknik penyamaran sederhana yang diajarkan Rukayyah.
Ia berjongkok di belakang tumpukan keranjang ayam, menunduk dalam-dalam. Ia melihat kaki Alendra berlari melewatinya dengan terburu-buru.
"PATRICIA! AKU TAHU KAMU DI SINI!" teriak Alendra membuat semua orang menoleh ke arahnya...
" mas lagi syuting ya" ucap pembeli yang sedang memilih sayuran, .
" mas minta foto nya" ucap pembeli yang lain langsung mengangkat ponselnya siap untuk berfoto,namun Alendra berlari kembali meninggalkan kerumunan yang mengira ia sedang melakukan syuting film.
Suara Alendra terdengar frustrasi, hampir menangis. Patricia memejamkan mata rapat-rapat, tangannya mendekap perutnya erat-erat. Air matanya jatuh membasahi cadarnya. Maafkan Ibu, Nak... Ayahmu belum siap melihat kita.
Setelah Alendra berlari jauh ke arah gerbang pasar, Patricia segera keluar dari persembunyiannya dan berjalan cepat menuju pintu belakang pesantren yang jarang dilewati orang.
Sementara itu, Alendra berdiri di pinggir jalan dengan napas tersengal. Ia sadar, Patricia sengaja bersembunyi. Jika ia terus mengejar seperti ini, Patricia akan pergi lebih jauh lagi dari jangkauannya.
Ia menatap tahi lalat di wajah seorang kuli panggul yang lewat, lalu melihat kumis tebal penjual sate di seberang jalan. Sebuah ide gila muncul di kepalanya.
Alendra menyeka air matanya, beralih menjadi tekad "Oke, kamu mau main petak umpet, Sayang? Aku akan jadi pemain paling konyol yang pernah kamu temui saat di kampus. Kamu tidak akan mengenali suamimu yang brengsek ini" gumam Alendra dalam hati.
Alendra melihat toko aksesoris yang tidak jauh darinya, tanpa pikir panjang,ia langsung memasuki toko aksesoris tersebut, mencari sesuatu yang membuat dirinya berubah.
Alendra Suhadi, sang CEO bertangan besi yang dua bulan terakhir ini lebih ditakuti daripada iblis, tiba-tiba memutuskan untuk melakukan hal paling tidak masuk akal dalam sejarah hidupnya. Ia tidak langsung menerjang ke arah wanita itu. Ia tahu, jika ia muncul sebagai "Alendra yang Kejam", Patricia akan lari lebih jauh lagi.
Maka, operasi "Menantu Terbuang Menjadi Kuli Dapur" pun dimulai.
Alendra memarkirkan mobil mewahnya di gudang kosong yang jauh dari pesantren. Ia mengganti kemeja slim fit seharga puluhan juta dengan kaos partai yang sudah pudar dan celana komprang hitam.
Ia berdiri di depan cermin kecil mobilnya. Di tangannya ada lem bulu mata dan gumpalan rambut kecil.
"Maafkan aku, harga diriku. Kita harus berpisah sementara," bisiknya dramatis.
Sepuluh menit kemudian, Alendra berubah total:
Kumis Tebal, melengkung, dan sedikit miring sebelah , karena tangannya gemetar.
Kacamata Frame hitam besar yang membuatnya terlihat seperti guru sejarah tahun 80-an.
Tahi Lalat yang ukurannya lumayan lumayan ,....Sebuah titik hitam besar dari spidol permanen tepat di samping hidungnya.
"Panggil aku... Kang Asep," gumamnya sambil mencoba tersenyum, meski tahi lalat buatannya itu membuat wajahnya terlihat sangat konyol.
Dengan nafas tersengal, Alendra memanggul karung beras 50 kg dan dua keranjang besar berisi sayuran. Ia berjalan gontai menuju dapur umum pesantren. Tubuhnya yang terbiasa memegang pena dan ponsel, kini harus berurusan dengan beban berat.
"Punten... permisi... paket bahan baku datang!" serunya dengan suara yang diberat-beratkan agar tidak dikenali.
Di dapur, para santriwati sedang sibuk. Alendra meletakkan karungnya dengan keras
Brak!...
ia hampir terjungkal. Saat ia menyeka keringat dengan handuk kecil di lehernya, jantungnya nyaris melompat keluar.
Di sudut dapur, sedang duduk di atas kursi kayu pendek, adalah Patricia. Ia sedang membantu mengupas bawang putih. Cadarnya tersingkap sedikit di bagian bawah, memperlihatkan jemari lenturnya yang bergerak telaten.
Alendra berusaha tetap tenang. Ia mulai menyusun sayuran di dekat meja Patricia. Namun, karena terus mencuri pandang ke arah perut Patricia yang membuncit, ia tidak fokus.
Sret!...
Alendra terpeleset kulit bawang.
"Aduh!" teriaknya. Bukannya jatuh dengan keren, ia justru mendarat dengan posisi terduduk di atas tumpukan labu siam.
Patricia tersentak dan menoleh. "Astagfirullah, Kang... tidak apa-apa?"
Suara itu. Suara yang paling dirindukan Alendra. Alendra segera menunduk dalam-dalam, membetulkan kacamatanya yang miring. "Eh, iya, Neng... eh, Mbak. Tidak apa-apa. Ini... labunya memang kurang sopan, diam-diam di bawah kaki saya."
Patricia terkekeh pelan. Tawa kecil yang sangat tipis, tapi bagi Alendra itu seperti memenangkan tender triliunan rupiah.
"Sini Kang, biar saya bantu rapikan sedikit," ucap Patricia sambil mencoba meraih keranjang yang tumpah.
"JANGAN!" seru Alendra terlalu keras. "Eh, maksud saya... Mbak kan lagi... itu, perutnya besar. Jangan angkat-angkat. Biar Asep yang kuat ini yang urus." Alendra kemudian pamer otot lengannya yang sebenarnya sudah gemetar karena kelelahan.
Saat Alendra sedang sibuk memindahkan wortel tepat di samping Patricia, hawa panas dapur membuat lem kumisnya mulai meleleh. Ujung kumis sebelah kanannya mulai melorot ke bawah.
Patricia menatap wajah "Kang Asep" dengan dahi berkerut. "Kang... itu... kumis Akang..."
Alendra panik. Ia langsung menempelkan kembali kumisnya dengan telapak tangan, tapi malah mengenai tahi lalat spidolnya hingga tinta hitamnya meluber ke pipi.
"Kumis saya kenapa, Mbak? Oh, ini kumis model terbaru. Aerodynamic, biar kalau kena angin tidak terbang," jawab Alendra asal-asalan sambil membelakangi Patricia.
Patricia menahan senyum. Ia merasa ada yang aneh dengan tukang sayur baru ini. Postur tubuhnya tegap seperti orang kota, bicaranya kaku, tapi tingkahnya sangat... ajaib.