Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERAIKAN SUAMIMU
Setelah sarapan bersama, Lingga mengajak adiknya, Maya, untuk berbicara berdua.
"Kamu udah dapet info keadaan daddi kan?" tanya Lingga dan Maya mengangguk sendu.
"Hmm..kakak benar benar gak tau harus bilang apa terkait keadaanmu ini, May. Jujur dari awal memang aku sangat ingin memberitaukan kelakuan bejat Juan tapi takut bikin daddi kayak gini. Tapi akhirnya pun ada amplop misterius yang entah darimana mengatakan keadaanmu sama daddi dan mommi. Kamu tau siapa dia kan?" tebak Lingga.
"Jangan kira kakak gak tau kamu tadi pagi pergi setelah ngomong sama Hania" lanjutnya dengan senyuman smirk.
Maya hanya bisa diam saja.
"Sudahi hubunganmu dengan Juan baik baik, begitupun dengan pria yang terobsesi denganmu" tambah pria itu.
"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak cinta pada dia, tapi Riko memaksa!" kesal Maya.
"Beneran gak cinta?" ragu Lingga.
"Ya! Aku sangat membencinya!" sahut Maya penuh penekanan.
"Aku tau Riko adalah pria yang dibuat hampir mati oleh Juan dan membuat mu kecelakaan waktu itu. Rasa sesal mu itu tanpa sadar membuktikan bahwa ada rasa untuk pria itu tapi kamu pendam. Taruhannya adalah hubunganmu dengan Juan" jelas Lingga.
"Kamu adikku satu satunya, Maya. Aku ingin kamu bahagia. Jika pria yang bersamamu menyakiti, aku pun ikut sakit. Tapi kamu melarangku untuk ikut campur mengurus Juan sejak awal. Kamu bilang kamu mampu merubahnya. Buktinya? Kamu semakin sakit dan sakit semakin dalam" tambahnya.
"Aku yang salah sama Mas Juan, Kak. Ini adalah karmaku" sahut Maya.
"Apa salahmu kalau boleh kakak tau?" tanya Lingga..
Maya terdiam sesaat. Matanya berkaca kaca memandang Lingga.
"Aku...aku salah karena gagal menjadi istri yang baik untuknya..aku gagal belum bisa memberikan anak untuknya..aku ga..gal, kak" ujar Maya terbata bata dengan isakan tangis yang tertahan.
Lingga mendekat dan mendekap sang adik.
"Kamu tidak gagal, Maya. Juan yang telah menyia - nyaiakan kamu" lirih pria itu sambil menepuk punggunh sang adik.
Beberapa saat Maya terisak dipelukan Lingga hingga puas menyalurkan perasannya.
Pelukan terlepas. Lingga menatap adiknya lekat.
"Aku mohon, pertimbangan lagi perceraian dengan Juan. Hidup lah bahagia, Maya. Aku akan mengirim mu ke London setelah semua kisah burukmu berakhir. Capailah keinginanmu untuk belajar disana lalu berkarir disana juga" minta Lingga.
"Daddi juga pasti akan memintamu bercerai dengan pria brengsek itu, so lebih baik kamu sampaikan dulu niat ini daripada mendengar daddi memohon padamu" lanjutnya.
Maya terdiam sesaat lalu mengangguk pelan.
Lingga tersenyum lalu memeluk adiknya lagi.
"Bahagialah adikku satu satunya. Kamu berhak bahagia dengan hidupmu" ujar pria itu.
Maya pun memeluk kembali sang kakak.
Setelah mengobrol sebagai adik kakak berduaan, di sore harinya Maya, Lingga, Hania, Isabel, dan Baim pergi kerumah sakit untuk menjenguk Erlan.
Sesampainya dirumah sakit, mereka masuk bersamaan. Erlan sudah sadar dan dalam kondisi baik. Kedua cucunya langsung memeluk sang opa terlebih dahulu.
"Opa sakit ya? Cepat sembuh" ucap si kecil Isabel.
"Iya opa, di weekend biasanya aku sama Isabel main lalu menginap di rumah opa sama oma" sahut Baim.
"Hehe iya sayang..maaf ya minggu ini opa dirumah sakit dulu, InsyaAllah minggu depan, kita main lagi" ucap Erlan.
Kedua anak itu tersenyum lalu menoleh ke arah omanya, mereka berlari dan memeluk Ayu bergantian.
"Ih cucu cucu oma opa udah makin gede aja padahal baru seminggu gak ketemu" ucap Ayu.
"Iya dong, Oma. Papi sama mami nyuruh minum susu terus" celetuk Isabel.
Semua tertawa kecil.
Maya berjalan mendekat ke brankar sang ayah.
"Daddi" sapanya.
"Hai sayang, peluk daddi dong" minta Erlan dan Maya langsung memeluk pria yang masih berada di brankar kamar VVIP rumah sakit itu.
Maya terisak didalam pelukan ayahnya. Hania membawa kedua anaknya untuk keluar agar keluarga suaminya bisa mengatakan isi hati.
Ayu berdiri dan ikut memeluk Maya dari belakang.
"Kamu luar biasa sayang" puji wanita itu, sebagai ibu hatinya benar benar teriris mengetahui keadaan Maya.
Makin menjadi jadilah tangis Maya diantara pelukan orang tuanya.
Lingga pun memilih memutar badan untuk menyembunyikan tangisnya. Ia sangat menyesal karena menjadi kakak yang gagal melindungi adiknya.
Beberapa saat kemudian, Lingga menyeka air matanya dan mulai meramaikan suasana.
"UDAH UDAAAH TANGIS TANGISAN DAN PELUKANNYA, AKU JUGA MAU DIPELUK!!" seru Lingga lalu memeluk ketiganya meskipun tangannya tidak cukup.
"Ayolah daddi mommi Maya, udah cukup nangisnya. Waktunya kita ngobrol sebagai keluarga sekarang" lanjut Lingga sambil melepaskan pelukannya lalu diikuti oleh Ayu dengan melepaskan pelukannya dari sang putri.
Tak lama kemudian, Maya pun melepaskan pelukannya dari sang daddi.
"Maaf kan aku dad, mom" lirih Maya sambil menyeka air matanya.
"Maaf untuk apa sayang? Katakan kesalahanmu yang perlu kami maafkan?" tanya Erlan.
"Maaf telah menyembunyikan hal ini dari kalian. Maaf karena membuat daddi kena serangan jantung lagi. Maaf karena kehilangan calon cucu daddi dan mommi lagi. Maaf karena aku tidak bisa menjaga diriku" ucap Maya.
"Maaf diterima tapi daddi ingin pernikahanmu selesai dengan Juan" ucap Erlan to the point.
"Daddi juga membuat kesalahan karena menikahkan kamu dengan pria bajingan seperti Juan, maafkan daddi" lanjutnya dengan linangan air mata.
Maya kembali menangis melihat ayahnya menangis karnanya. Ia pun memeluk Erlan lagi.
"Semua ini bukan salah daddi. Aku yang salah karena pernah mencintainya. Aku akan menceraikannya, Dad. Daddi harus sehat lagi okee, jangan memikirkan ku lagi setelah ini. Aku berjanji akan bahagia" ucap Maya.
Ayu yang melihat interaksi suami dan anak perempuannya ikut terharu lalu menangis. Lingga memeluk ibunya, menenangkan wanita itu.
Keluarga yang sangat hangat. Saling support secara mental. Meskipun kaya raya, keluarga Yudhistira memang terkenal sebagai keluarga pengusaha besar yang tidak neko neko.
Setelah beberapa saat saling menguatkan, akhirnya Hania, Baim, dan Isabel masuk ke ruangan Erlan sambil membawa kue tar serta lilin.
"HAPPY BIRTHDAY PAPIIII!!!" seru Baim dan Isabel.
Yang lain terkejut karena bisa bisanya melupakan hari lahir seorang Lingga Yudhistira, anak pertama dari keluarga ini.
"Loh, kok hari ini? Kan besok ulang tahunnya Lingga?" sela Ayu yang ikut terkejut dan heran.
"Hehehehe, iya mom. Kata Mas Lingga, mommi udah kontraksi sehari sebelumnya, jadi kita rayakan disini duluan. Besok lagi kalau daddi udah pulang kerumah" jelas Hania.
Ayu tersenyum. Ia bisa menebak jika ini adalah upaya untuk mencairkan suasana yang tegang.
"Ooh yaa bener banget! Lingga gak mau keluar keluar dari perut mommi sampai, daddi harus mijitin punggung mommi terus" sahut Ayu ikut antusias.
Erlan tersenyum karena mengingat dirinya begitu heboh saat anak pertama lahir.
"Dari pagi sampek malem, Lingga gak mau keluar. Eh pas udah masuk tengah malem, akhirnya keluar juga nih anak" sahut Erlan dengan tertawa kecil.
"Aku ini kan membuka jalan biar Maya bisa keluar dengan lancar, mom dad, hahaha" canda Lingga.
"Hisst! Aku lahir cesar kak akhirnya!" ujar Maya.
Semuanya pun tertawa.
Mereka semua menikmati kue tar yang dibawa Isabel dan Baim untuk ayahnya.