NovelToon NovelToon
Lima Sekawan Ginza

Lima Sekawan Ginza

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulan Separuh

"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."

Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.

Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15. Pemeriksaan Mendadak

Udara di dalam kelas terasa sangat pengap dan juga sangat menyesakkan dada bagi siapa pun yang ada di sana. Hana Tanaka duduk dengan posisi tubuh yang sangat kaku sambil memegang erat tali tas sekolah yang ada di pangkuannya.

Di depan kelas, Guru Yamada berdiri dengan wajah yang terlihat sangat pucat dan juga terlihat sangat gelisah. Guru Yamada adalah wali kelas mereka yang namanya sempat muncul di dalam buku catatan hitam milik Haruo Fujiwara semalam.

Beliau terus memperbaiki letak kacamatanya sambil menatap ke arah pintu kelas yang masih tertutup sangat rapat. Suasana di koridor sekolah terdengar sangat gaduh karena suara langkah sepatu bot yang sangat berat dan juga keras.

Hana bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya karena rasa takut yang sangat luar biasa hebat.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan sangat kasar hingga menimbulkan suara dentuman yang sangat mengejutkan seluruh siswa di dalam ruangan. Tiga orang pria bertubuh besar dengan setelan jas hitam masuk ke dalam kelas dengan langkah yang sangat angkuh.

Mereka adalah petugas keamanan dari yayasan sekolah yang biasanya hanya bertugas di gerbang depan gedung utama saja. Salah satu dari mereka membawa sebuah tongkat detektor logam yang terlihat sangat modern dan juga sangat mengintimidasi.

Guru Yamada segera membungkuk hormat kepada pria-pria tersebut dengan gerakan tubuh yang terlihat sangat ketakutan sekali. Para siswa mulai saling berbisik dengan nada cemas karena mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.

"Harap tenang dan letakkan semua tas kalian di atas meja sekarang juga," perintah pria berjas hitam dengan suara sangat berat.

Hana merasakan jantungnya berdegup dengan frekuensi yang sangat cepat hingga dia merasa kepalanya menjadi sedikit pusing. Dia melihat ke arah Kaito Fujiwara yang duduk di barisan paling pojok dekat jendela kaca yang besar.

Kaito memberikan tatapan yang sangat tenang namun Hana tahu bahwa di dalam hatinya Kaito juga merasa sangat cemas. Akane Sato yang duduk di depan Hana mulai memegang ponselnya dengan sangat erat di bawah kolong meja kayu.

Yuki Nakamura terlihat menunduk sangat dalam sambil terus memainkan jemarinya yang terlihat sangat pucat dan juga gemetar. Ren Ishida mengepalkan tangannya di bawah meja seolah dia sedang bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang buruk.

Petugas keamanan mulai memeriksa tas siswa satu per satu dengan cara yang sangat kasar dan juga sangat tidak sopan. Mereka mengeluarkan semua isi tas dan melemparkannya ke atas meja tanpa peduli apakah barang tersebut akan rusak.

Hana melihat buku-buku pelajaran milik teman sekelasnya berserakan di lantai kelas yang berdebu karena ulah petugas itu. Guru Yamada hanya diam mematung di pojok kelas tanpa berani memberikan pembelaan sedikit pun bagi para siswanya.

Hana menyadari bahwa pemeriksaan ini dilakukan secara khusus untuk mencari buku catatan hitam milik Haruo Fujiwara. Haruo pasti sudah memerintahkan orang-orang suruhannya untuk menggeledah seluruh area sekolah demi menemukan buku tersebut kembali.

Kini giliran barisan kursi tempat Hana Tanaka duduk yang mulai diperiksa oleh petugas keamanan yang berwajah sangat galak. Petugas tersebut melangkah perlahan menuju meja Hana sambil terus menggerakkan tongkat detektor logam di tangan kanannya.

Hana mencoba untuk mengatur napasnya agar tidak terlihat mencurigakan di hadapan pria-pria yang sangat terlatih itu. Dia teringat bahwa semalam Yuki Nakamura sudah membungkus buku hitam itu dengan lapisan aluminium tipis yang sangat rapat.

Yuki mengatakan bahwa lapisan tersebut bisa mengelabui sensor detektor logam sederhana yang biasanya digunakan oleh petugas keamanan. Hana berdoa di dalam hati agar teori teknis milik Yuki Nakamura benar-benar bekerja dengan sangat sempurna saat ini.

"Buka tasmu sekarang juga," gertak petugas keamanan tersebut tepat di depan wajah Hana Tanaka yang terlihat pucat.

Hana membuka ritsleting tas sekolahnya dengan gerakan tangan yang sangat lambat karena dia merasa sangat lemas sekali. Petugas itu merogoh bagian dalam tas Hana dan mengeluarkan kotak bekal makan siang yang isinya hanya nasi putih.

Dia juga mengeluarkan beberapa buku tulis yang sampulnya sudah mulai robek karena terlalu sering digunakan oleh Hana. Hana menahan napas saat tangan petugas itu meraba bagian kantong rahasia yang berada di dasar tas sekolahnya.

Namun, tongkat detektor logam tersebut tidak mengeluarkan suara peringatan sedikit pun saat melewati kantong rahasia tersebut. Petugas itu mendengus kesal karena dia tidak menemukan benda mencurigakan apa pun di dalam tas milik Hana Tanaka.

Setelah petugas itu berpindah ke meja lain, Hana merasakan sebuah getaran pendek yang berasal dari jam tangan miliknya. Jam tangan tersebut adalah perangkat komunikasi khusus yang sudah dimodifikasi oleh Yuki Nakamura menggunakan frekuensi radio.

Ada sebuah kode cahaya berwarna biru kecil yang muncul di layar jam tangan sebagai tanda bahaya tingkat tinggi. Yuki mengirimkan sinyal bahwa sistem keamanan sekolah telah diretas sepenuhnya oleh pihak luar yang sangat profesional.

Ini berarti semua kamera pengawas di sekolah sekarang sedang dipantau langsung oleh tim operasi gelap milik Haruo. Mereka harus segera keluar dari ruang kelas tersebut sebelum pihak yayasan melakukan pemeriksaan tubuh secara menyeluruh.

Hana memberikan kode mata kepada Akane Sato untuk segera melakukan rencana darurat yang sudah mereka susun sebelumnya. Akane tiba-tiba berdiri dari kursinya dan dia mulai berteriak dengan suara yang sangat kencang sambil memegang perutnya. Dia berpura-pura mengalami rasa sakit yang sangat hebat dan dia juga mulai menjatuhkan diri ke lantai kelas.

Suasana kelas yang tadinya sunyi segera berubah menjadi sangat kacau karena para siswa lain mulai berteriak panik. Guru Yamada terlihat sangat bingung dan dia segera berlari menghampiri Akane yang terus mengerang dengan suara keras.

Petugas keamanan mencoba menenangkan suasana namun perhatian mereka sekarang sudah terpecah sepenuhnya kepada kondisi Akane Sato.

"Cepat bawa dia ke ruang kesehatan sekarang juga sebelum terjadi hal yang buruk," teriak Ren Ishida dengan sangat lantang.

Ren segera menggendong Akane di punggungnya dan dia mulai berlari menuju pintu keluar kelas dengan langkah sangat cepat. Hana dan Kaito segera mengikuti dari belakang dengan alasan ingin membantu menjaga teman mereka yang sedang sakit.

Yuki Nakamura juga ikut berlari sambil membawa tasnya yang penuh dengan perangkat komputer rahasia miliknya sejak tadi. Para petugas keamanan tidak berani menghentikan mereka karena mereka tidak ingin dianggap bertanggung jawab jika Akane meninggal dunia.

Mereka berhasil keluar dari ruang kelas yang menyesakkan itu dan mulai berlari menyusuri koridor sekolah yang sepi. Hana merasa paru-parunya mulai terisi kembali dengan udara segar meskipun dia harus tetap waspada terhadap pengejaran.

Mereka tidak menuju ke ruang kesehatan karena tempat itu pasti sudah dipenuhi oleh informan milik pihak yayasan sekolah. Ren membawa mereka semua menuju ke gudang peralatan olahraga yang terletak di bagian belakang gedung olahraga sekolah.

Gudang tersebut sangat jarang dikunjungi oleh guru karena lokasinya yang sangat terpencil dan juga sangat gelap. Mereka segera masuk ke dalam gudang dan Ren mengunci pintu kayu yang sangat tebal itu dari arah dalam. Di dalam gudang hanya tercium aroma karet bola basket dan juga aroma debu yang sudah mengendap sangat lama.

Mereka duduk di atas tumpukan matras senam yang terasa sangat empuk namun juga terasa sangat lembap di kulit.

Hana duduk bersandar di dekat tumpukan bola voli sambil mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum stabil. Kaito duduk tepat di samping Hana dan dia bisa merasakan kehangatan tubuh Hana yang sedang gemetar karena takut.

Kaito memberanikan diri untuk menggenggam tangan Hana dengan sangat erat sebagai bentuk dukungan yang sangat tulus sekali. Hana menoleh ke arah Kaito dan dia melihat ada sebuah sorot mata yang penuh dengan rasa sayang.

Dalam kegelapan gudang tersebut, Hana merasa dunia seolah berhenti berputar hanya untuk memberikan waktu bagi mereka berdua. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka namun perasaan mereka sudah saling tersampaikan melalui sentuhan tangan tersebut.

"Kita akan melewati semua ini bersama-sama dan aku tidak akan membiarkanmu terluka," bisik Kaito Fujiwara dengan suara sangat lembut.

Hana merasakan pipinya menjadi sangat panas dan dia merasa ada sebuah harapan baru yang muncul di dalam hatinya. Dia merasa sangat bersyukur karena memiliki seseorang seperti Kaito yang selalu siap menjaganya di tengah badai masalah.

Akane yang tadi berpura-pura sakit kini sudah duduk tegak kembali sambil terus memantau layar ponsel miliknya sendiri. Yuki Nakamura segera membuka laptopnya dan mulai bekerja untuk memulihkan kembali sistem keamanan siber mereka yang sempat goyah.

Ren Ishida berdiri di dekat pintu gudang sambil memegang sebuah tongkat kayu sebagai alat pertahanan diri yang sederhana. Mereka berlima kembali bersatu di dalam ruangan yang sangat sempit ini untuk merencanakan langkah perlawanan selanjutnya.

Yuki menjelaskan bahwa Haruo Fujiwara sedang mencoba menggunakan otoritas sekolah untuk mendapatkan kembali buku hitam secara ilegal. Mereka harus melakukan sebuah tindakan balasan yang bisa membuat Haruo tidak berani lagi melakukan penggeledahan secara paksa.

Akane mengusulkan agar mereka mulai menyebarkan video testimoni para siswa yang selama ini menjadi korban sistem gacha. Mereka akan menggunakan tagar khusus di media sosial agar gerakan mereka menjadi viral di seluruh wilayah Jepang.

Hana setuju karena dia ingin masyarakat tahu bahwa sistem pendidikan mereka sedang berada dalam kondisi yang buruk. Mereka tidak akan menyebarkan isi buku hitam sekarang karena mereka masih harus memverifikasi semua data yang ada.

Hana mulai menuliskan draf pidato singkat yang akan dia bacakan di depan kamera ponsel milik Akane Sato nanti. Dia ingin berbicara dari hati ke hati sebagai seorang siswa miskin yang hanya ingin mendapatkan keadilan yang nyata.

Suara Hana terdengar sangat tenang saat dia mulai berlatih mengucapkan kata demi kata di hadapan teman-temannya. Kaito membantu Hana untuk memperbaiki beberapa bagian pidato agar terdengar lebih kuat dan juga lebih menyentuh emosi.

Mereka menyadari bahwa kekuatan mereka bukan terletak pada senjata namun terletak pada kejujuran cerita yang mereka miliki. Persahabatan mereka menjadi bahan bakar utama yang membuat mereka tetap berani meskipun nyawa mereka sedang berada di ujung tanduk.

"Kalian semua harus bersiap karena setelah video ini keluar maka tidak akan ada jalan kembali," ujar Yuki Nakamura serius.

Hana menatap satu per satu wajah sahabatnya yang terlihat sangat lelah namun juga terlihat sangat penuh dengan tekad. Dia tahu bahwa masa remaja mereka akan berubah selamanya setelah hari yang sangat bersejarah ini berakhir nanti.

Namun, dia lebih memilih untuk menjadi seorang pejuang daripada hanya menjadi seorang penonton di tengah ketidakadilan. Mereka semua saling berpelukan untuk saling memberikan energi positif sebelum mereka memulai aksi yang sangat berani itu.

Suasana di dalam gudang peralatan olahraga tersebut terasa sangat sakral karena ada sebuah janji setia yang terucap. Mereka adalah kelompok lima sekawan yang akan mengubah wajah masa depan pendidikan di negeri matahari terbit ini.

Momen di dalam gudang tersebut telah mempererat ikatan emosional di antara mereka semua sebagai sebuah keluarga baru yang utuh. Akane Sato mulai menitikkan air mata karena dia merasa sangat bangga bisa menjadi bagian dari perjuangan yang hebat ini.

Dia teringat betapa dulu dia hanya peduli pada jumlah pengikut di media sosial tanpa memiliki tujuan hidup yang jelas. Kini dia merasa hidupnya memiliki makna yang jauh lebih dalam karena dia sedang membela kebenaran bersama teman-temannya.

Ren Ishida juga merasa bahwa keberaniannya sebagai atlet sekarang telah menemukan wadah yang tepat untuk membantu orang lain. Mereka semua merasa bahwa penderitaan yang mereka alami selama ini telah menempa mereka menjadi pribadi yang sangat tangguh.

Hana Tanaka menatap buku hitam yang tergeletak di samping matras dan dia berjanji akan menyelesaikannya sampai tuntas. Dia membayangkan wajah ibunya yang akan merasa sangat bangga saat melihat anaknya berani berdiri melawan penguasa korup.

Hana ingin ibunya segera sembuh dan mereka bisa hidup dengan tenang tanpa harus takut akan hari esok yang suram. Harapan tersebut memberikan kekuatan ekstra bagi Hana untuk terus melangkah maju meskipun rintangan yang ada sangat besar.

Kaito terus menggenggam tangan Hana seolah dia sedang menyalurkan seluruh keberanian yang dia miliki kepada gadis tersebut. Cinta dan persahabatan telah menyatu menjadi sebuah kekuatan yang sangat luar biasa dahsyat di dalam diri mereka.

Matahari mulai meninggi dan sinarnya mulai masuk melalui celah-celah kecil yang ada di atap gudang peralatan olahraga tersebut. Mereka tahu bahwa waktu mereka sangat terbatas dan mereka harus segera melakukan aksi penyiaran video tersebut sekarang juga.

Yuki memberikan aba-aba bahwa koneksi internet sudah sangat aman dan tidak akan bisa dilacak oleh pihak kepolisian siber. Akane mengangkat kamera ponselnya dan mulai menekan tombol rekam dengan jari yang sudah tidak lagi gemetar sedikit pun. Hana berdiri di depan kamera dengan tatapan mata yang sangat tajam dan juga penuh dengan rasa percaya diri.

Dunia akan segera mendengar suara dari mereka yang selama ini terabaikan oleh sistem gacha kehidupan yang sangat kejam.

1
Nuri_cha
ah, sedih sekali aku melihatnya
Nuri_cha
hai pemuda-pemudi kaya lainnya, Yuk contoh Akane yg peduli terhadap negaranya
Nuri_cha
kenapa harus begitu? apakah kamu malu karena ketahuan miskin, atau takut dibully karena kamu miskin?
Filan
sudahlah Hana. Persahabatan tidak bisa dimulai dengan kebohongan. Lagipula pura-pura kaya itu sulit dibanding orang kaya pura-pura miskin.
Three Flowers
aduh kasihan... gak kebayang gimana malunya saat perut berbunyi. Terima saja Hana, lagian juga sudah ketahuan kalo kamu lapar🤣
Three Flowers
Karena di sekolah elit, kemiskinan adalah hal yang sensitif. Kalau ketahuan bisa dibully, ya..
Filan
ga dapat mbg dia?
Filan
duh kasihan. Tokyo kota mahal /Grimace/
PrettyDuck
iya sihh. takutnya nanti mereka dicap radikal.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
PrettyDuck
tapi akane ini peduli loh sama keadaan negaranya
PrettyDuck
yaiyalahh. mereka gak terdesak.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
Mentariz
Ya ampun mirisnya 🥲
Mentariz
Bagus, gak usah gengsi, isi perut itu nomor satu 👍
Mentariz
Udah terima aja rotinya, han, lumayan loh
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
perut memang tidak bisa diajak kompromi. dia terlalu jujur, karena memang dia butuh asupan
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
tengah hari, lagi puasa. tentu lapar lah 🤭
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
Kayak kondisi dimana yaaa/Doge/
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
-Thiea-
Akane gak mungkin ngejauhin Hana kan.. secara dia vokal banget sama urusan politik. dia kan juga pengen bantu orang-orang susah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak..
-Thiea-
beruntung Hana punya teman kayak akane.. dia sangat perhatian .🥹
Miu Nuha.
dimana2 keadaan itu sama ya 😫
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!