Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: PENYUSUP DI RUMAH SENDIRI
Gorden beludru abu-abu di kamar Juliet tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari pagi yang mencoba menerobos masuk. Kamar itu kini terasa lebih dingin dari biasanya, meski pendingin ruangan disetel pada suhu normal. Di depan pintu, seorang penjaga pria berpakaian safari berdiri tegak—perintah langsung dari Pak Wijaya. Juliet resmi menjadi tahanan di rumahnya sendiri.
Ia duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan kaos oblong hitam milik Gaara yang kini sedikit kusut. Ia menolak menggantinya, meskipun Bi Ijah sudah membawakan gaun tidur sutra yang baru dan memohon padanya untuk mandi. Aroma tanah dan sabun batang murah yang tertinggal di kain itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa tetap "hidup".
Tangan Juliet meraba saku kaosnya. Flashdisk kecil itu masih ada di sana. Benda keras bin kecil itu terasa seperti bara api yang membakar kulitnya. Ia tahu, di dalam benda ini terdapat kehancuran ayahnya dan kebebasan Gaara.
Ceklek.
Pintu terbuka. Adam melangkah masuk dengan nampan berisi sarapan mewah—roti panggang, telur benedict, dan jus jeruk segar. Wajahnya tampak segar, seolah kejadian semalam hanyalah mimpi buruk yang sudah ia hapus dari ingatannya.
"Makanlah, Sayang. Kamu butuh tenaga untuk fitting baju siang nanti," ucap Adam dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Juliet tidak menoleh. "Lepaskan Gaara, Adam. Dia tidak menculikku."
Adam meletakkan nampan di meja nakas, lalu duduk di samping Juliet. Ia mencoba meraih tangan Juliet, namun gadis itu menariknya menjauh.
"Polisi sedang memprosesnya, Jul. Dia punya catatan yang buruk—mencoba memeras keluarga kita dengan cerita fiktif soal masa lalu. Dia berbahaya. Ayahmu bahkan menemukan bukti bahwa dia merencanakan ini sejak lama," bohong Adam dengan lancar.
"Kau pembohong," desis Juliet. "Ayahku yang mencuri milik keluarganya. Dan kau tahu itu, kan?"
Adam terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, namun senyum palsunya kembali muncul. "Dunia bisnis itu keras, Juliet. Yang kuat yang menang. Dan sekarang, aku yang menang. Besok kita berangkat ke Australia. Semua dokumen sudah siap. Di sana, tidak akan ada tukang kebun, tidak ada Vina, dan tidak ada masa lalu yang mengganggumu."
Adam berdiri, mengelus rambut Juliet dengan kasar. "Makanlah. Aku akan menjemputmu dua jam lagi. Jangan mencoba hal bodoh, penjaga di depan pintu tidak akan segan-segan menguncimu dari luar jika kamu berteriak."
Setelah Adam pergi, Juliet segera bergerak. Ia tahu ia tidak punya banyak waktu. Masalahnya, seluruh perangkat elektroniknya—ponsel dan laptop—sudah disita oleh ayahnya semalam. Satu-satunya cara untuk mengakses isi flashdisk ini adalah dengan menggunakan komputer di ruang kerja ayahnya.
Ruang kerja Pak Wijaya adalah area terlarang. Di sana terdapat brankas dan dokumen rahasia perusahaan. Biasanya, ruangan itu dijaga ketat, tapi saat ini ayahnya pasti sedang berada di kantor untuk mengurus keributan yang mungkin mulai timbul akibat penangkapan Gaara.
Juliet berjalan menuju pintu. Ia mengetuknya perlahan.
"Pak, saya butuh ke kamar mandi di koran bawah. Kamar mandi di sini airnya mati," ucap Juliet pada penjaga di balik pintu.
Penjaga itu ragu sejenak. "Nona, perintah Tuan—"
"Airnya mati, Pak! Apa Anda mau saya berteriak pada Ayah bahwa Anda membiarkan saya tidak mandi?" potong Juliet dengan nada manja yang dibuat-buat, gaya lama Juliet yang sangat dibenci penjaga rumah.
Penjaga itu akhirnya mengalah. Ia mengawal Juliet turun ke lantai bawah. Saat melewati ruang kerja ayahnya, Juliet sengaja menjatuhkan sandal rumahnya dan berhenti untuk membenarkannya. Ia melirik ke arah pintu ruang kerja. Terkunci. Tapi ia tahu di mana Bi Ijah menyimpan kunci cadangan untuk keperluan membersihkan debu: di dalam vas bunga besar di koridor samping.
"Pak, saya lupa membawa sabun khusus saya di tas di ruang tengah. Bisa ambilkan sebentar? Saya tunggu di sini," pinta Juliet.
"Tapi Nona..."
"Hanya sepuluh meter dari sini, Pak. Lihat, saya tidak akan lari ke mana-mana dengan kaos besar ini."
Begitu penjaga itu berbalik, Juliet bergerak secepat kilat. Ia merogoh vas bunga, mengambil kunci perak kecil, dan menyelinap masuk ke ruang kerja ayahnya. Ia mengunci pintu dari dalam dengan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang.
Ruangan itu gelap dan beraroma cerutu mahal. Juliet segera menyalakan komputer desktop di meja besar ayahnya. Layarnya menyala, meminta kata sandi.
Juliet mencoba tanggal lahir ayahnya. Salah.
Tanggal lahir ibunya. Salah.
Ia terdiam sejenak. Ia teringat kode brankas yang pernah ia lihat tak sengaja saat kecil. 0709. Tanggal mawar Juliet Rose pertama kali mekar di taman mereka.
Klik. Desktop terbuka.
Dengan tangan gemetar, Juliet mencolokkan flashdisk Gaara. Ratusan dokumen muncul. Foto-foto kontrak lama, rekaman suara percakapan ayahnya dengan broker gelap, dan bukti aliran dana ke rekening luar negeri yang tidak terdaftar.
"Ya Tuhan..." bisik Juliet. Ia melihat foto ayahnya bersalaman dengan ayah Gaara sepuluh tahun lalu, keduanya tersenyum. Ayahnya benar-benar terlihat seperti malaikat di foto itu, padahal di balik punggungnya, ia sedang memegang pisau untuk menghujam rekannya sendiri.
Juliet segera membuka email pribadinya yang jarang ia gunakan. Ia melampirkan semua file itu dan mengirimkannya ke alamat email redaksi sebuah media investigasi besar yang sering ia baca. Ia juga mengirimkan salinannya ke email pribadinya sendiri sebagai cadangan.
Loading... 45%... 60%...
Suara langkah kaki terdengar di koridor.
"Nona? Nona Juliet di mana?" suara penjaga itu terdengar panik.
"Nona! Buka pintunya!" Gedoran keras menghantam pintu ruang kerja.
85%... 90%...
"Juliet! Buka pintu ini sekarang atau aku dobrak!" Itu suara Adam. Rupanya dia belum benar-benar pergi.
Ting! Sent.
Email terkirim. Juliet segera mencabut flashdisk tersebut dan menyembunyikannya kembali di saku kaosnya. Ia menghapus riwayat penjelajahan dengan cepat dan mematikan monitor tepat saat pintu ruang kerja terbuka paksa.
Adam berdiri di sana dengan wajah merah padam, disusul oleh dua penjaga.
"Apa yang kau lakukan di sini, Juliet?!" teriak Adam. Ia melihat komputer yang masih berdengung. "Kau mencoba mencuri data Ayahmu?"
Juliet berdiri, menatap Adam dengan keberanian yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Adam merasa tidak nyaman.
"Aku tidak mencuri apa pun, Adam. Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya diketahui dunia," ucap Juliet tenang.
Adam menerjang ke meja kerja, memeriksa komputer, namun ia terlambat. Monitor sudah gelap. Ia berbalik dan mencengkeram bahu Juliet. "Apa yang kau kirim? Katakan padaku!"
"Kebenaran," jawab Juliet singkat.
Adam mengangkat tangannya, hendak menampar Juliet, namun ia menahannya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya yang meledak. "Kau baru saja menandatangani surat kematian tukang kebunmu itu, Juliet. Jika video Vina merusak namamu, maka data yang kau kirim akan memastikan pria itu tidak akan pernah keluar dari penjara hidup-hidup. Ayahmu punya orang di mana-mana."
"Kita lihat saja, Adam. Siapa yang akan bertahan lebih lama: orang yang membangun istana di atas pasir, atau orang yang menanam akar di dalam tanah," balas Juliet.
Adam menyeret Juliet kembali ke kamarnya dan mengunci pintu dari luar dengan kasar. "Kau tidak akan pergi ke mana pun! Besok pagi, kau akan masuk ke pesawat itu, suka atau tidak!"
Juliet terduduk di lantai kamarnya. Ia lelah, ia takut, tapi ia merasa lega. Ia tahu bahwa di luar sana, mesin kebenaran sudah mulai bergerak.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Gaara di sel penjara. Tahanlah sedikit lagi, Gaara. Mawar kita akan mekar di tengah badai ini.
Sementara itu, di kantor redaksi Kabar Investigasi, seorang editor senior baru saja menerima sebuah email dengan subjek: "DOSA BESAR GRUP WIJAYA - BUKTI OTENTIK".
Editor itu membuka lampirannya dan matanya membelalak. "Cepat panggil tim hukum! Kita punya berita terbesar tahun ini!"
Di sisi lain kota, di dalam sel penjara yang sempit dan pengap, Gaara duduk bersandar di dinding semen yang dingin. Ia menatap jeruji besi di depannya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar, tapi ia merasakan sebuah getaran aneh di dadanya. Sebuah keyakinan bahwa mawar yang ia tanam bersama Juliet tidak akan pernah bisa diinjak-injak lagi.
Duri-duri kebenaran mulai menusuk sangkar emas Wijaya dari dalam, dan kali ini, tidak ada berlian yang bisa menyumbat lukanya.
...****************...