NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: KALIMAT YANG MENELANJANGI KEBENARAN

"Datuk tahu yang paling ironis?"

Dullah tersenyum miring, tapi matanya tajam seperti sembilu.

"Ayahnya membenci Tuan seperti iblis… anaknya malah jatuh cinta pada Tuan."

Maringgih tersentak. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena kebenaran yang selama ini ia kubur, tiba-tiba dikubak hidup-hidup oleh orang terdekatnya.

Hening menganga di antara mereka. Dan di atas meja, dua lembar surat dari Halimah tergeletak seperti saksi bisu atas diamnya yang berkepanjangan.

---

Pagi baru saja merekah ketika Dullah datang dengan membawa setumpuk surat dagang. Biasanya, Maringgih akan langsung membaca dan memberi catatan. Tapi pagi ini, ia hanya duduk mematung di kursinya, dengan selembar surat tergeletak di pangkuan.

Surat dari Halimah. Yang pertama.

Dullah meletakkan surat-surat dagang itu di meja. Menunggu. Tapi tuannya tidak bergerak.

"Tuan," panggilnya pelan.

Maringgih tidak menjawab. Matanya kosong menatap surat itu. Sudah berapa kali ia membaca? Lima kali? Sepuluh kali? Ia tidak ingat. Yang ia ingat, setiap kali membaca, hatinya terasa ditusuk sembilu. Dan setiap kali selesai membaca, ia melipatnya kembali, menyimpannya di laci, lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Tapi malam-malamnya tidak pernah sama sejak surat itu tiba.

"Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?"

Kalimat itu. Sederhana. Polos. Tapi menghantam seperti ombak di malam badai. Setiap kali ia memejamkan mata, kalimat itu muncul. Setiap kali ia hendak tidur, bayangan Halimah datang. Bukan Halimah yang sekarang, tapi Halimah kecil yang dulu dituntunnya pulang. Dan kini gadis itu menulis surat seperti itu. Untuknya.

Dullah melihat surat di pangkuan tuannya. Ia tahu surat itu. Ia sendiri yang menerimanya dari Mak Ijah seminggu lalu. Dan ia tahu, tuannya belum membalas. Tidak juga setelah seminggu.

"Tuan masih memikirkan surat itu?" tanya Dullah, mencoba memecah keheningan.

Maringgih menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti mengeluarkan beban yang selama ini dipikul sendirian.

"Duduk, Dullah."

Dullah duduk di kursi depan tuannya. Ia menunggu, sabar seperti biasa.

Maringgih menatapnya lama. Lelaki yang sudah dua puluh tahun mengabdi ini tahu lebih banyak dari siapa pun. Tahu tentang Aminah. Tahu tentang luka yang dikubur. Tahu tentang ketakutannya.

"Kau tahu isi surat ini?" tanya Maringgih akhirnya.

"Tidak, Tuan. Saya tidak membaca surat orang lain."

Maringgih diam. Lalu tiba-tiba, ia menyerahkan surat itu pada Dullah.

Dullah terkejut. Matanya membelalak. "Tuan yakin?"

"Baca."

Dullah menerima surat itu dengan hati-hati, seperti membawa benda pecah belah. Ia membaca. Perlahan. Setiap kata, setiap kalimat. Wajahnya berubah. Dari biasa, menjadi terkejut. Dari terkejut, menjadi sulit diartikan. Ada kaget, ada iba, ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.

Setelah selesai, ia meletakkan surat itu kembali di meja. Diam. Tidak tahu harus berkata apa.

"Kau diam saja?" tanya Maringgih.

Dullah menghela napas. Matanya menatap tuannya dengan tajam. Lalu, dengan suara pelan tapi menusuk, ia melontarkan kalimat yang membuat Maringgih tersentak.

"Datuk tahu yang paling ironis?"

Maringgih menatapnya.

"Ayahnya membenci Tuan seperti iblis… anaknya malah jatuh cinta pada Tuan."

Udara di ruangan itu terasa membeku.

Dullah melanjutkan, suaranya tidak tinggi tapi setiap kata seperti paku yang ditancapkan satu per satu. "Maaf, Tuan. Tapi itu kenyataan. Datuk Sulaiman di mana-mana memaki Tuan. Bilang Tuan licik, jahat, perusak. Saya dengar sendiri dari anak buahnya yang masih setia. Di warung, di pasar, di mana pun ia bertemu orang, ia selalu menyebut nama Tuan dengan umpatan."

Ia menjeda, menarik napas.

"Tapi anaknya sendiri—anak gadisnya—menulis surat seperti ini. Surat yang isinya... isinya..." Ia tidak bisa melanjutkan.

Maringgih terdiam. Kata-kata Dullah menghantamnya seperti ombak. Bukan marah, bukan tersinggung. Tapi kebenaran yang selama ini ia hindari, tiba-tiba dihadapkan padanya dengan telanjang.

Ironis.

Ya, ironis.

Tapi apa yang lebih ironis: diamku selama ini.

---

Dullah menatap tuannya. Kali ini matanya tidak lagi tajam, tapi penuh iba.

"Tuan, boleh saya tanya?"

Maringgih mengangguk, masih terpaku.

"Kenapa Tuan tidak membalas suratnya? Seminggu sudah. Saya lihat Tuan membaca surat itu berulang kali. Tapi tidak pernah menulis balasan. Kenapa?"

Maringgih diam. Bibirnya terkatup rapat.

"Tuan takut?" tanya Dullah lagi. Suaranya lembut, tapi menusuk.

"Takut?"

"Iya. Takut. Takut karena dia anak Sulaiman. Takut karena umur. Takut karena..." Dullah berhenti, memilih kata. "Takut karena luka lama. Luka yang belum sembuh. Luka yang masih Tuan rawat dalam diam."

Maringgih tersentak. Dullah tahu. Dullah selalu tahu. Tidak pernah ia ceritakan tentang Aminah, tapi Dullah tahu. Mungkin dari kebiasaannya di malam-malam sunyi. Mungkin dari cara ia memandangi laci tempat menyimpan saputangan itu. Mungkin dari dinding-dinding yang ia bangun di sekeliling hatinya.

"Kau... kau tahu tentang Aminah?"

Dullah mengangguk pelan. Wajahnya sendu.

"Saya tahu, Tuan. Saya tidak perlu Tuan ceritakan. Saya lihat sendiri bagaimana Tuan berubah setelah kabar itu datang. Saya lihat sendiri bagaimana Tuan menutup diri. Saya lihat sendiri bagaimana Tuan membuang semua lamaran yang datang. Saya tahu."

Hening.

Dullah melanjutkan, "Tapi Tuan, Halimah bukan Aminah."

Maringgih menunduk. Tangannya menggenggam erat sandaran kursi.

"Aminah pergi karena takdir. Karena kapal karam. Karena laut yang kejam." Suara Dullah bergetar. "Halimah datang karena pilihan. Karena ia memilih Tuan. Karena ia melihat sesuatu di dalam diri Tuan yang orang lain tidak lihat."

Ia menjeda. Menatap tuannya dalam-dalam.

"Kalau Tuan terus diam, Tuan bukan melindungi Halimah. Tuan menyakitinya. Tuan membiarkannya menunggu dalam ketidakpastian. Tuan membiarkannya meragukan dirinya sendiri. Tuan membiarkannya berpikir bahwa cintanya salah, bahwa perasaannya tidak berharga."

Maringgih menutup mata. Kata-kata Dullah mengoyak benteng yang selama sembilan tahun ia bangun.

---

"Selama ini aku pikir diam adalah cara terbaik," kata Maringgih lirih. Suaranya serak, seperti orang yang baru menangis. "Aku pikir dengan menjauh, aku melindunginya dari fitnah. Dari gunjingan orang. Dari kemarahan ayahnya. Dari..."

"Tapi Tuan lupa satu hal," potong Dullah. "Fitnah terbesar justru datang dari ketidakjelasan. Gunjingan terkeras lahir dari ketidaktahuan. Dan kemarahan ayahnya... itu sudah ada, Tuan. Sudah membara sejak lama. Tidak akan bertambah atau berkurang karena Tuan dekat atau jauh dari Halimah."

Maringgih diam.

"Dia mungkin sedang menunggu, Tuan. Setiap hari. Setiap malam. Membayangkan apa yang Tuan pikirkan. Apakah Tuan marah? Apakah Tuan muak? Apakah Tuan sudah punya calon?" Dullah menggeleng pelan. "Dan Tuan diam saja. Membiarkan ia tenggelam dalam seribu pertanyaan tanpa satu pun jawaban."

Maringgih memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, ia melihat Halimah. Gadis kecil yang dulu dituntunnya pulang. Yang dulu diobati lukanya. Yang dulu selalu tersenyum padanya.

Kini gadis itu menulis surat dengan keberanian luar biasa. Surat yang membuatnya gempar. Surat yang membuatnya ingin lari. Surat yang juga membuatnya... merasa hidup lagi untuk pertama kalinya setelah sembilan tahun.

Ia lebih berani dariku.

---

"Tuan, saya tidak bermaksud menggurui," kata Dullah. "Saya hanya pembantu Tuan, cuma kuli panggul yang kebetulan dekat. Tapi kalau Tuan terus begini, Tuan akan kehilangan sesuatu yang mungkin tidak akan datang dua kali. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan rempah atau uang. Sesuatu yang disebut..."

Dullah berhenti. Mencari kata.

"...kesempatan."

Maringgih membuka mata. "Kau pikir aku harus membalas?"

"Bukan saya yang berpikir, Tuan. Hati Tuan sendiri yang tahu. Yang selama ini Tuan kubur. Yang selama ini Tuan paksa tidur. Yang sekarang mulai bergerak lagi karena surat itu."

Maringgih diam. Bergulat dengan pikirannya sendiri.

Aku takut. Aku takut mencinta lagi. Aku takut kehilangan lagi.

Tapi kalau aku terus diam, aku sudah kehilangan sebelum memulai.

Halimah...

---

Pintu gudang terbuka. Mak Ijah masuk dengan langkah gontai. Wajahnya pucat, matanya cemas.

Maringgih dan Dullah menoleh.

Mak Ijah mendekat. Di tangannya, selembar surat—kertasnya sama, lipatannya sama, tulisannya sama. Tapi kali ini, ada sesuatu di raut wajah Mak Ijah yang membuat jantung Maringgih berdebar.

"Datuk," suara Mak Ijah bergetar. "Ini... dari Neng Halimah. Surat kedua."

Maringgih terkejut. Surat kedua? Ia belum membalas yang pertama.

Dullah bangkit. "Mak, dari Neng Halimah lagi?"

Mak Ijah mengangguk. Tangannya gemetar saat menyerahkan surat itu.

"Neng Halimah... dia kurus, Datuk. Matanya sembab. Sudah seminggu ini dia tidak tidur nyenyak. Hampir tidak makan. Siti dan Zubaidah mulai curiga. Usman dan Hasan bingung lihat kakaknya murung terus. Tapi dia diam saja. Tidak mau cerita."

Maringgih menerima surat itu. Tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, ia merasakan jantungnya berdebar bukan karena takut, tapi karena... khawatir.

"Dia bilang apa, Mak?"

Mak Ijah menghela napas. Air matanya jatuh.

"Dia hanya titip surat, Datuk. Tapi dari raut wajahnya, dia... dia terlihat hancur. Seperti orang yang sudah putus asa. Saya tanya, 'Neng, Neng kenapa?' Dia hanya bilang, 'Nyai, tolong sampaikan surat ini. Ini yang terakhir.'"

Maringgih membeku.

Yang terakhir.

Ia membuka surat itu. Tangannya gemetar hebat. Dullah dan Mak Ijah diam, hanya menatap.

Maringgih membaca. Perlahan, hati-hati, seperti membuka luka yang belum sembuh.

---

Kepada Datuk Maringgih,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Datuk, maaf jika surat ini mengganggu waktu Datuk. Saya tahu Datuk sibuk dengan banyak urusan. Saya tidak bermaksud menjadi pengganggu.

Saya hanya ingin bertanya, apakah surat pertama saya sudah sampai dan dibaca? Jika sudah, saya tidak bermaksud mendesak. Saya hanya... ingin tahu. Karena selama ini saya hanya bisa menebak-nebak sendiri.

Apakah ada yang salah dengan surat saya? Apakah saya terlalu lancang? Atau mungkin ada hal lain yang membuat Datuk tidak bisa membalas?

Saya juga ingin bertanya, apakah Datuk sudah punya calon? Maaf jika pertanyaan ini keterlaluan. Tapi selama ini saya terus berpikir, jangan-jangan Datuk sudah punya seseorang, dan saya hanya... datang mengganggu.

Jika benar begitu, tolong beri tahu. Saya akan berhenti menulis. Saya tidak ingin menjadi beban atau mengganggu hidup Datuk.

Tapi jika ada alasan lain, saya hanya ingin tahu. Karena tidak tahu itu lebih sakit dari apa pun.

Saya sudah menunggu seminggu, Datuk. Seminggu terasa seperti setahun. Setiap hari saya berharap Mak Ijah pulang membawa kabar. Setiap malam saya tidak bisa tidur memikirkan apa yang salah.

Mungkin saya terlalu bodoh. Mungkin saya terlalu berharap. Tapi saya tidak bisa memaksa hati saya untuk tidak merasa.

Terima kasih atas waktu Datuk membaca ini.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halimah

---

Maringgih meletakkan surat itu. Dadanya naik turun. Tangannya gemetar.

Ia menunggu. Ia bingung. Ia menyalahkan dirinya sendiri.

Ia bahkan bertanya apakah ia mengganggu. Apakah ia terlalu lancang.

Padahal... padahal dia hanya gadis tujuh belas tahun yang jatuh cinta.

Dan aku diam.

---

Dullah membaca surat itu dari balik bahu tuannya. Ia menghela napas panjang.

"Tuan, ini surat kedua. Dia sudah menulis dua kali. Dua kali, Tuan. Dan Tuan belum membalas sama sekali."

Maringgih menunduk. Rasa bersalah menggerogotinya.

"Dia bahkan bertanya apakah dia mengganggu. Apakah dia terlalu lancang. Padahal..." Dullah berhenti, suaranya serak. "Padahal dia hanya gadis kecil yang jatuh cinta. Apa dosanya, Tuan? Apa dosanya?"

Hening.

Maringgih menatap kedua surat itu. Surat pertama yang berani, dengan kalimat yang membuatnya gempar. Surat kedua yang lebih hati-hati, penuh keraguan, penuh pertanyaan, penuh kerendahan hati.

Dia menulis surat kedua karena surat pertama tak berbalas. Dia menulis dengan lebih hati-hati, takut salah, takut lancang, takut dianggap mengganggu.

Dan aku masih diam.

---

"Mak Ijah," panggil Maringgih. Suaranya berubah. Ada tekad di sana.

Mak Ijah masuk kembali. "Ya, Datuk?"

"Bagaimana keadaan Neng Halimah? Jujur. Semuanya."

Mak Ijah menghela napas panjang. Ia tahu, saatnya bicara jujur.

"Neng Halimah, Datuk... dia sudah tidak seperti dulu. Wajahnya pucat. Matanya selalu sembab, kantung hitam di bawah mata. Siti sampai tanya berkali-kali, tapi dia diam. Dia hanya bilang tidak bisa tidur. Tapi saya tahu, bukan tidak bisa tidur. Dia tidak mau tidur. Karena setiap kali tidur, mungkin ia mimpi buruk."

Maringgih diam.

"Dia juga jarang makan, Datuk. Saya lihat sendiri, lauk di piringnya hanya dipindah-pindah, tidak dimakan. Badannya makin kurus. Bajunya jadi longgar. Siti sampai masak kesukaannya, tapi tetap tidak disentuh."

Dullah ikut diam. Keduanya menatap Maringgih.

"Dia juga tidak mau keluar rumah, Datuk. Padahal dulu suka jalan-jalan, suka ke pasar. Sekarang hanya di kamar. Kadang saya dengar dia nangis malam-malam. Nangis pelan, tapi saya tahu."

Air mata Mak Ijah jatuh.

"Dia bilang, 'Nyai, kenapa menunggu itu sakit?' Saya tidak bisa jawab, Datuk. Saya hanya bisa diam."

---

Maringgih mengambil kedua surat itu. Surat pertama dan surat kedua. Ia susun berjajar di atas meja. Dua lembar kertas. Dua kali keberanian. Dua kali harap. Dua kali ia balas dengan diam.

Cukup.

Ia berdiri. Berjalan ke meja kerjanya. Mengambil pena dan kertas.

Dullah terkejut. "Tuan...?"

Maringgih duduk. Pena di tangannya. Kertas kosong di depan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia mengambil pena untuk menulis sesuatu yang bukan surat dagang. Bukan laporan. Bukan strategi. Bukan surat untuk pembesar Batavia.

Tapi surat untuk seorang gadis.

Halimah.

Ia mulai menulis. Tangannya tidak gemetar. Hatinya mantap. Setelah sembilan tahun, akhirnya ia membuka diri.

Dullah tersenyum. Ia bangkit, memberi isyarat pada Mak Ijah untuk keluar.

Di luar, Mak Ijah menunggu dengan cemas. Dullah menghampirinya.

"Mak, tunggu sebentar. Tuan sedang menulis."

Mak Ijah terkejut. "Menulis?"

"Iya. Akhirnya."

Mak Ijah tersenyum. Air matanya jatuh lagi, tapi kali bukan karena sedih.

"Syukurlah... Neng Halimah sudah menunggu terlalu lama."

Dullah menatap ke dalam, melihat tuannya yang khusyuk menulis.

Semoga ini bukan terlambat, bisiknya dalam hati.

---

[Bersambung...]

---

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!