Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 18
"Kamu pikir aku sopir kamu hah! Pindah!" kesal Gavin setelah mengantarkan ibunya pulang lebih dulu.
"ck! Padahal cuma duduk di belakangan saja kok repot kali!" dumel Ayana.
"Lah, kenapa kamu yang ngomel? Aku ini bukan sopirmu! Enak banget kamu duduk di belakang!" kesal Gavin setelah Ayana duduk setelah memindahkan semua paperbag ke kursi belakang.
"Perkara duduk di permasalahkan! Repot banget jadi orang!" jawab Ayana yang memang selalu ada saja kata-kata untuk membalas ucapan Gavin.
"Makin berani aja setelah ada mantan pacar yang kembali dan menunggu jandamu padahal kita baru menikah beberapa hari!" Gavin rupanya tak bisa menahan rasa kesalnya kepada Reiner.
Apalagi melihat perlakuan Reiner kepada Ayana. Belum lagi ucapan pria itu yang seolah tahu semua tentang dirinya. Siapa sebenarnya Reiner?
"Lah apa salahnya? Kamu saja dari awal pernikahan asal tunjuk karena kesal padaku. Sedangkan kamu saja tak benar-benar serius dengan pernikahan ini, kamu masih belum percaya dengan semua bukti Vania seperti apa. Saran aja sih, lebih baik kita lakukan pembatalan pernikahan saja! Kamu dan aku bisa hidup normal tanpa harus saling memaksakan! Aku pastikan akan bantu kamu mencari keberadaan Vaniamu itu! Agar kamu bisa kembali sama dia, karena orang bulol itu sulit sembuhnya," jawab Ayana.
Gavin kesal bukan main dan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap Ayana akan ketakutan. Alih-alih takut, Ayana malah mengajarkan dia cara mengebut di jalanan. Makin emosi saja Gavin di buatnya. Dia lupa kalau Ayana memang tukang ngebut di saat keadaan darurat.
Mereka tiba di rumah dan Ayana membawa semua barang belanjaan di bantu oleh Mbak Mirna yang bekerja paruh waktu di rumah Gavin untuk beres-beres di sana. Mbak Mirna pamit pulang sedangkan Gavin sudah lebih dahulu masuk di dalam kamarnya. Ayana juga masuk ke dalam kamar dan mulai membuka laptopnya. Dia mengerjakan pekerjaan lainnya. Hanya saja sekarang dia kesulitan untuk bisa keluar ruang dengan bebas. Apalagi Gavin sedang dalam mode potek hatinya. Sehingga Ayana hanya mengandalkan laporan dari anak buahnya.
Menjelang sore, Ayana keluar dari kamar dalam kamar dan pergi ke dapur membuat makan malam. Gavin keluar dengan wajah kusut dan duduk di kursi meja makan.
"Kenapa kamu? Masih sakit hati? Atau masih ingin tahu info yang lainnya?" Ledek Ayana.
"Kamu adalah orang yang paling tak berperasaan Ayana!" kesal Gavin.
"Bukan aku tapi kamu!" jawab Ayana kembali fokus dengan masakannya.
Ponsel Ayana yang di simpan di meja makan berbunyi, nama Reiner muncul di sana! Gavin mengambil ponsel Ayana dan menerima panggilan Reiner.
"Ngapain Lo masih menghubungi istriku? Dapat dari mana nomor Ayana?" Cerocos Gavin saat sambungan terhubung.
sreeeeettttt
"Nggak sopan tau nggak?" kesal Ayana menyambar ponselnya.
"Reiner, nanti aku hubungi kamu lagi!" ucap Ayana kepada Reiner di sebrang sana kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Sedangkan Gavin menekuk wajahnya dengan kesal. Entahlah dia kesalahan karena apa kepada Reiner dan Ayana.
"Mau makan atau tidak? Kalau tidak ya terserah sih!" ujar Ayana saat melihat Gavin masih menekuk wajahnya kesal.
"Kau yakin masakanmu ini bisa di makan?" tanya Gavin meragukan.
"Tinggal beli online saja kalau kamu tak mau!" jawab Ayana sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Baiklah aku akan coba! Setidaknya Aku ingin tahu wanita seperti kamu bisa masak apa tidak!" jawab Gavin meremehkan.
Ayana mengambilkan nasi beserta lauk yang tadi dia masak. Kemudian Gavin mulai mencobanya, satu siap, dua suap, tiga suap ... Dan tanpa terasa makanan di dalam piringnya semua habis.
"Aku bisa masak kan?" cibir Ayana.
"Not bad! Tapi karena aku lapar saja makanya makanan itu habis!" jawab Gavin gengsi memuji masakan Ayana.
"Terserah!" jawab Ayana kesal dan membereskan meja makan.
Gavin masih duduk di sana tak beranjak sama sekali. Dia memperhatikan setiap gerakan Ayana yang ternyata juga bisa terlihat menjadi istri sungguhan yang menyiapkan makan malam untuk suaminya. Gavin kira wanita seperti Ayana tak akan bisa memasak. Karena dia juga pernah memakan masakan Vania namun rasanya membuat dia ingin muntah. Tapi masakan Ayana enak juga dan cocok di lidahnya. Walau masakan tadi sederhana.
"Aku mau kopi," pinta Gavin.
"Apa kamu mau begadang lagi mikirin Vania? Besok kita harus bekerja! Jangan sampai membaut kamu tak fokus bekerja dan di omelin Pak Evan nantinya. Aku lagi yang kena!" jawab Ayana mendelik ke arah Gavin.
"Astaga repot sekali! Kalau begitu teh atau coklat hangat lah!" jawab Gavin dan duduk di ruang televisi.
Ayana membuat dua cangkir teh dan ikut duduk di sebelah Gavin. Dia ingin menonton film laga sebelum tidur.
"ck! Apa kamu beneran perempuan? Kenapa pilihan film kamu malah action begini? biasanya kalau cewek suka film romantis kan?" protes Gavin.
"Nanti aku nonton film begitu dengan suamiku! soalnya banyak adegan aneh jadi bisa bahaya kalau sendirian!" jawab Ayana tanpa melihat ke arah Gavin.
"Aku suaminya loh!" bisik Gavin iseng.
Degh
Wangi Ayana kembali bisa tercium dengan jelas di indra penciumannya. Aroma tubuh Ayana lebih bisa membuat dia tenang di banding dengan teh Chamomile yang di buat Ayana.
"Suami sementara! Sampai kamu kembali kepada cintamu lagi!" jawab Ayana mendelik dan mendorong Gavin menjauh.
"Ah elah baperan sekali kamu! Berapa uang yang kamu butuhkan untuk biaya mencari keberadaan Vania dan keluarganya?" tanya Gavin.
"Entahlah, kirim saja dulu! Nanti kalau kurang aku minta lagi, kalau lebih aku kembalikan!" jawab Ayana santai.
"Astaga! hidupmu nggak jelas sekali Ayana!" ucap Gavin.
"Ya begitulah, namanya juga lama tinggal di panti!" jawab Ayana santai sambil meminum teh di tangannya tapi Gavin terdiam setelahnya. Dia merasa tak enak hati dengan ucapannya tadi kepada Ayana.
"Aku tidur duluan!" Ayana pergi ke kamarnya. Bukan untuk istirahat melainkan melanjutkan kembali pekerjaannya.