NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJALANAN KE BARAT — GUNUNG API

Matahari baru saja muncul saat Wei Chen bangun.

Dia tidur di samping sungai, beralas daun kering, beratapkan langit. Tubuhnya agak kaku, tapi tidak terlalu. Kebiasaan tidur di tempat keras sudah mulai terbentuk.

Kakek Tua sudah duduk di batu yang sama, memancing seperti kemarin. Ikan hasil tangkapan semalam sudah habis dimakan, sekarang dia mencari sarapan.

"Selamat pagi, Kek." Wei Chen mendekat.

"Pagi, Nak." Kakek Tua tidak menoleh. "Mau ikut memancing lagi?"

Wei Chen tersenyum tipis. "Maaf, Kek. Aku harus segera jalan."

Kakek Tua menghela napas. "Ah, anak muda selalu terburu-buru." Tapi dia mengangguk. "Baik, baik. Aku sudah kira."

Dia mengeluarkan bungkusan daun pisang dari balik jubahnya. "Ini bekal. Ikan bakar sisa kemarin. Cukup untuk siang."

Wei Chen menerimanya. "Terima kasih, Kek."

"Jangan lupa pesanku." Kakek Tua menatapnya serius. "Di gunung itu, jangan terburu-buru. Perhatikan sekeliling. Uap belerang bisa membunuh tanpa kau sadari."

"Aku ingat."

"Dan kalau bertemu Klan Api... jangan melawan. Lari. Kau belum cukup kuat."

Wei Chen mengangguk. Dia tahu batas kemampuannya.

Kakek Tua tersenyum. "Bagus. Sekarang pergi. Dan kalau kembali, mampir lagi. Ajak aku memancing."

Wei Chen hampir tersenyum. "Janji."

Dia pergi. Meninggalkan Kakek Tua yang kembali asyik dengan pancingnya.

---

Dua jam kemudian, Wei Chen sampai di kaki Gunung Api.

Gunung itu menjulang tinggi, puncaknya tertutup kabut tipis. Dari kejauhan, dia sudah melihat kepulan asap putih — uap belerang yang keluar dari celah-celah bebatuan.

Wei Chen mengeluarkan peta dari Kakek Tua. Mempelajarinya dengan teliti.

Jalur rahasia ada di sisi timur. Melewati hutan kecil, lalu naik ke lereng yang tidak terlalu curam. Di tengah lereng, ada gua yang menembus ke dalam gunung. Darah Naga tumbuh di dekat sumber air panas di dalam gua itu.

Tapi ada peringatan: "Gua itu dijaga ular raksasa."

Wei Chen menghela napas. Ular raksasa. Tentu saja.

Tapi dia tidak mundur. Untuk Mei Ling, dia akan hadapi apa pun.

Dia mulai mendaki.

---

Satu jam kemudian, Wei Chen sampai di mulut gua.

Gua itu gelap. Udara di sekitarnya hangat, bercampur bau belerang yang menyengat. Dari dalam, terdengar suara gemuruh samar — mungkin air panas yang mengalir, atau mungkin sesuatu yang lain.

Wei Chen menyalakan lampu qi kecil — salah satu produknya sendiri. Cahaya hangat menerangi sekitar.

Dia masuk.

---

Gua itu lebih besar dari dugaannya.

Dinding-dinding batu hitam mengilap karena lembab. Di beberapa tempat, air panas merembes keluar, membentuk kolam-kolam kecil yang mengepulkan uap. Suhu di dalam cukup hangat, membuatnya berkeringat.

Wei Chen berjalan hati-hati. Setiap langkahnya bergema di dinding gua.

Tiba-tiba, dia mendengar suara mendesis.

Dia berhenti. Lampu qi diangkat tinggi.

Di depan, sekitar 20 meter, dua mata bersinar dalam gelap. Merah. Besar.

Ular itu muncul dari balik batu besar.

Bukan ular biasa. Panjangnya mungkin 10 meter, dengan sisik hitam mengilap seperti batu bara. Kepalanya sebesar kerbau, dengan taring panjang menjulur.

Ular itu mendesis lagi, lidahnya bercabang keluar masuk.

Wei Chen diam. Tidak bergerak. Ingat pesan Kakek Tua: jangan melawan, lari.

Tapi ke mana lari? Gua ini hanya satu jalan. Di belakangnya, ular itu menghalangi.

Ular itu mulai merayap maju. Perlahan. Matanya terus mengunci Wei Chen.

Wei Chen berpikir cepat. Di bumi, dia pernah membaca tentang ular. Kebanyakan ular menyerang mangsa yang bergerak. Kalau diam, mereka ragu.

Dia tetap diam. Tidak bergerak. Hanya matanya yang bergerak, mencari jalan.

Di samping kirinya, ada celah sempit di antara dua batu besar. Mungkin cukup untuknya masuk. Tapi ular itu bisa saja mengikutinya.

Tidak ada pilihan lain.

Saat ular itu sudah sangat dekat — sekitar 5 meter — Wei Chen tiba-tiba berlari ke kiri. Menyelinap ke celah batu.

Ular itu terkejut. Mendesis keras. Tubuhnya bergerak cepat mengejar.

Tapi celah itu terlalu sempit. Kepala ular itu masuk, tapi tubuhnya yang besar tidak bisa.

Wei Chen terus merangkak di celah. Gelap. Sempit. Udara panas. Tapi dia tidak berhenti.

Setelah beberapa menit, celah itu melebar. Wei Chen keluar di ruangan lain.

Ruangan ini lebih kecil, dengan kolam air panas di tengahnya. Di sekitar kolam, tumbuh tanaman-tanaman kecil dengan daun merah menyala.

Darah Naga.

Wei Chen tersenyum. Dia berhasil.

---

Tapi belum selesai.

Dari belakang, suara mendesis masih terdengar. Ular itu tidak menyerah. Kepalanya sudah masuk lebih dalam ke celah.

Wei Chen cepat-cepat memetik beberapa tanaman Darah Naga. Memasukkannya ke dalam tas khusus — pemberian Guru Anta yang bisa menjaga kesegaran tanaman.

Lalu dia mencari jalan keluar.

Di sudut ruangan, ada lubang lain. Lebih besar dari celah tadi. Mungkin menuju ke luar.

Wei Chen berlari ke sana.

---

Lima belas menit kemudian, Wei Chen keluar dari gua.

Dia berada di sisi lain gunung. Udara segar menyambutnya. Dia menghirup dalam-dalam.

Di belakangnya, suara mendesis masih terdengar, tapi semakin jauh. Ular itu tidak bisa keluar.

Wei Chen duduk di batu. Tubuhnya gemetar — efek adrenalin.

Tapi dia tersenyum. Tanaman Darah Naga ada di tasnya. Misi berhasil.

---

Dua jam kemudian, Wei Chen kembali ke lembah sungai.

Kakek Tua masih duduk di batu yang sama, memancing. Melihat Wei Chen, dia tersenyum.

"Nak, cepat sekali."

Wei Chen duduk di sampingnya. "Dapat."

Kakek Tua mengangguk. "Bagus. Sekarang kau punya modal untuk obatnya."

Wei Chen menghela napas lega. "Terima kasih, Kek. Tanpa bantuanmu, aku tidak akan bisa."

"Ah, jangan bilang begitu." Kakek Tua melambaikan tangan. "Kau yang berani masuk gua. Aku cuma kasih peta."

Mereka diam. Menikmati sore.

"Kek, aku mau tanya sesuatu."

"Apa?"

"Kau tinggal di sini sendirian? Tidak punya keluarga?"

Kakek Tua diam. Matanya menerawang.

"Dulu aku punya." Suaranya pelan. "Istri. Anak. Tapi mereka mati dibunuh. Oleh Klan Api."

Wei Chen terkejut.

"Aku selamat, tapi terluka parah. Kultivasiku hancur." Kakek Tua tertawa pahit. "Sekarang aku cuma orang tua yang memancing."

Wei Chen diam. Tidak tahu harus berkata apa.

"Tapi lihat kau." Kakek Tua menatapnya. "Kau datang, cari obat untuk kekasihmu. Itu... membuatku ingat masa muda."

Dia tersenyum. "Terima kasih, Nak. Sudah mengingatkan aku bahwa cinta itu ada."

Wei Chen memegang jepit rambut di sakunya. Hangat.

---

Malam harinya, Wei Chen pamit.

"Kek, aku harus kembali. Masih banyak yang harus dilakukan."

Kakek Tua mengangguk. "Pergilah. Dan jaga gadismu."

"Aku akan."

"Kalau nanti punya anak, beri nama dia... hmm..." Kakek Tua berpikir. "Beri nama yang berarti. Seperti kau."

Wei Chen tersenyum. "Terima kasih untuk semuanya, Kek."

"Jangan lupa mampir lagi. Ajak memancing."

"Janji."

Wei Chen pergi. Berjalan ke timur. Kembali ke Desa Qinghe.

Di belakangnya, Kakek Tua melambaikan tangan. Lalu kembali memancing.

---

Chapter 32 END.

---

1
Jack Strom
Bikin puyeng, lawannya itu-itu saja... 😁
Jack Strom
Kill them all!!! 😁😛
Jack Strom
Sip!!! 😁
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Wow... Sangat mengharukan... 😁
Jeffie Firmansyah
cukup menghibur 👍💪
Jeffie Firmansyah
mulai tumbuh arti cinta
Jeffie Firmansyah
3 bab sudah di baca bagus natral💪
Jeffie Firmansyah: natural*
total 1 replies
Jeffie Firmansyah
3bab sdh di baca bagus alurnya natural semangat /Good/
Jeffie Firmansyah
sippp semangat Thor 💪💪💪
Jeffie Firmansyah
hadir gabung permulaan lumayan alur enak di baca semoga kedepannya tambah seru dan tdk ngegantung ceritanya karena lama update nya semangat Thor💪💪💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!