Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Fitnah Tetangga Sebelah
Pagi yang seharusnya tenang di Wisma Lavender mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menegangkan. Aroma kopi yang baru diseduh oleh Arka di dapur belakang kalah menyengat dibanding aroma gosip yang mulai mengepul di depan gerbang besi bercat ungu itu. Di sana, Bu RT yang terkenal dengan penciuman setajam radar militer, berdiri bersama dua orang ibu-ibu kompleks lainnya—Ibu Heru yang hobi memegang daster sambil berkacak pinggang, dan Ibu Tatik yang mata sipitnya selalu menyelidik ke celah-celah pagar.
"Saya nggak salah lihat, Jeng. Kemarin malam itu, jam dua pagi, ada suara laki-laki mengerang-erang dari kamar atas!" bisik Bu RT dengan volume yang sengaja dikencangkan supaya terdengar sampai ke teras. "Suaranya parau, kayak orang lagi kesurupan atau... ya tahu sendirilah, anak muda zaman sekarang kalau ditinggal tanpa pengawasan."
"Betul itu! Saya juga lihat ada bayangan laki-laki pakai kaos oblong putih mondar-mandir di koridor lantai dua. Rambutnya gondrong berantakan, persis kayak preman pasar yang habis dikejar petugas!" timpal Ibu Heru dengan wajah penuh imajinasi liar. Ia tidak tahu kalau yang ia lihat adalah Arka yang sedang stres berat menghadapi laptopnya yang mati total.
Mereka bertiga berdiri mematung di depan gerbang, siap melakukan 'sidak' moral demi menjaga kesucian lingkungan yang mereka klaim paling suci se-kecamatan. Tekanan udara di sekitar Wisma Lavender terasa turun drastis saat Ibu RT mulai menggedor gerbang dengan kunci motornya. Ting! Ting! Ting! Suaranya memekakkan telinga, memancing Ziva yang baru saja bangun tidur untuk melongok dari jendela lantai atas dengan nyawa yang baru terkumpul setengah.
"Waduh, pasukan 'Intelijen Daster' sudah mendarat di pangkalan, Guys!" bisik Ziva panik ke grup WhatsApp penghuni kos. "Arka, lo sembunyi di bawah bak mandi sekarang juga! Jangan sampai seujung rambut lo kelihatan di jendela!"
Arka yang baru saja mau menggoreng telur langsung mematikan kompor dengan gerakan patah-patah. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul, di lingkungan ini, keberadaan laki-laki di kos putri setelah jam sepuluh malam—apalagi menginap—adalah dosa besar yang bisa berakhir dengan arak-arakan keliling kampung.
Namun, sebelum ketegangan itu pecah menjadi keributan massal, sebuah suara langkah kaki yang mantap dan berwibawa terdengar dari arah bangunan utama. Oma Rosa muncul. Ia tidak mengenakan daster seperti ibu-ibu di depan gerbang. Pagi itu, Oma mengenakan setelan satin merah marun yang elegan, rambut putihnya tertata rapi dalam sanggul kecil, dan kacamata berbingkai emas bertengger di hidungnya. Di tangannya, ia memegang sebuah gunting rumput yang berkilau tajam di bawah sinar matahari pagi.
"Ada apa ini ribut-ribut depan rumah orang? Mau minta sumbangan agustusan atau mau daftar jadi penghuni baru?" tanya Oma Rosa dengan suara tenang namun memiliki vibrasi yang mengintimidasi. Ia membuka gerbang dengan santai, seolah tidak ada beban sedikit pun.
Bu RT berdeham, mencoba mengumpulkan keberanian di depan sang pemilik kos yang disegani. "Anu, Oma... kami sebagai pengurus lingkungan cuma mau menjalankan fungsi pengawasan. Ada laporan warga kalau Wisma Lavender ini sekarang sudah jadi 'kos campur'. Ada laki-laki yang keluar masuk, bahkan sampai subuh!"
Ibu Heru mengangguk cepat. "Iya Oma, tadi malam ada suara teriakan laki-laki. Kita takut ada hal-hal yang tidak senonoh terjadi di sini. Lingkungan kita ini lingkungan baik-baik, jangan sampai ketularan aura negatif."
Oma Rosa terdiam sejenak, menatap ketiga ibu itu satu per satu dengan tatapan yang membuat mereka mendadak salah tingkah. Ia kemudian tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat meremehkan bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Oh, jadi kalian lebih percaya telinga yang salah dengar dan mata yang salah lihat daripada percaya pada saya?" Oma Rosa melangkah maju, membuat Bu RT mundur selangkah. "Laki-laki yang kalian maksud itu adalah keponakan saya yang datang mengantar obat jantung saya semalam. Namanya Arka. Dia mahasiswa tingkat akhir yang budi pekertinya jauh lebih lurus daripada pagar rumah kalian yang miring itu."
Oma Rosa berbohong dengan sangat mulus, ekspresi wajahnya begitu meyakinkan sampai-sampai Arka yang menguping di balik pintu dapur hampir saja percaya kalau dia benar-benar keponakan Oma.
"Tapi Oma, suara teriakannya semalam itu..." Ibu Tatik mencoba menyela.
"Itu suara Arka yang baru saja kehilangan data skripsinya!" potong Oma Rosa tajam. Gunting rumput di tangannya bergerak klik-klik memotong dahan kering di dekat pagar dengan suara yang cukup keras. "Kalian tahu rasanya jadi mahasiswa tingkat akhir? Stresnya bisa bikin orang menjerit seperti kerasukan. Harusnya kalian itu prihatin, bukannya malah sibuk mengarang cerita yang bisa merusak nama baik anak orang."
Oma Rosa mendekati Bu RT, lalu merapikan kerah daster sang Ibu RT dengan ujung jarinya. "Dengar ya, Jeng RT. Wisma Lavender ini saya yang kelola. Aturannya ketat, lebih ketat dari aturan diet kalian yang sering gagal itu. Kalau sampai saya dengar ada fitnah lagi tentang 'laki-laki' di sini, saya tidak akan segan-segan membawa masalah ini ke meja hijau karena pencemaran nama baik. Paham?"
Ketiga ibu itu mendadak kelu. Keberanian yang tadi mereka bawa dari rumah seolah menguap begitu saja terkena aura dominan Oma Rosa. Mereka tidak menyangka kalau Oma Rosa akan 'pasang badan' sebegitu kerasnya untuk membela penghuni kosnya—bahkan sampai mengakui laki-laki asing sebagai keponakannya sendiri.
"I-iya Oma, kami kan cuma menjalankan tugas... Ya sudah kalau memang itu keponakan Oma, kami permisi dulu," ucap Bu RT terbata-bata sambil menarik lengan Ibu Heru dan Ibu Tatik untuk segera menjauh.
Setelah pasukan daster itu menghilang di tikungan jalan, Oma Rosa berbalik menuju teras. Ia melihat ke arah pintu dapur yang sedikit terbuka, di mana wajah pucat Arka menyembul dari balik celah. Oma menghela napas panjang, lalu menyilangkan tangannya di depan dada.
"Keluar kamu, Arka. Kamu berutang satu nyawa dan satu kebohongan besar pada saya," ucap Oma Rosa, suaranya kembali ke nada aslinya yang tegas namun tidak lagi sedingin tadi.
Arka keluar dengan langkah gontai, diikuti oleh Ziva, Sari, Dira, dan Gendis yang sejak tadi ternyata bersembunyi di balik sofa ruang tamu. Mereka semua menunduk, merasa bersalah sekaligus kagum luar biasa pada sang pemilik kos.
"Maafin saya, Oma... gara-gara saya, Oma jadi harus bohong ke Bu RT," bisik Arka penuh penyesalan.
Oma Rosa menatap Arka dari atas sampai bawah. "Lain kali kalau mau teriak, pakai bantal di mulut kamu. Dan kamu..." Oma menunjuk ke arah Arka lagi, "Minggu depan, kamu harus bantu saya merapikan taman belakang sebagai hukuman karena sudah bikin saya berbohong di depan umum. Saya tidak suka bohong, tapi saya lebih tidak suka tetangga-tetangga saya yang tidak punya pekerjaan selain mengurusi urusan orang lain."
Oma kemudian berbalik masuk ke dalam rumah, namun sebelum hilang di balik pintu, ia sempat berujar pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka, "Cepat selesaikan skripsimu itu sebelum aku benar-benar berubah pikiran dan menyerahkanmu ke Bu RT untuk diarak."
Arka dan teman-temannya saling berpandangan. Ketegangan itu berakhir dengan sebuah napas lega yang panjang. Di Wisma Lavender, mereka belajar satu hal lagi hari itu: di balik ketegasan Oma Rosa yang kadang menyeramkan, tersimpan perlindungan yang tak tergoyahkan bagi siapa pun yang ia anggap sebagai 'anak-anaknya'.