---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Us
---
Hari Minggu pagi, Griya Asri tampak berbeda.
Biasanya, Minggu pagi adalah waktu santai—para penghuni sarapan lama, anak-anak bermain di taman, para suami ngopi di teras. Tapi hari ini, ada kesibukan khusus.
Di balai warga—sebuah bangunan kecil di ujung kompleks yang biasanya hanya dipakai untuk rapat RT dan arisan—puluhan kursi sudah ditata rapi. Spanduk merah bertuliskan "SELAMAT DATANG WARGA BARU: HANNAH" digantung di dinding. Meja panjang dilapisi taplak putih, siap untuk hidangan.
Pak RT, seorang pria paruh baya berkumis tebal bernama Pak Rahmat, sibuk mengatur persiapan. Ia sudah tinggal di Griya Asri sejak kompleks ini pertama kali dibangun, 15 tahun lalu. Baginya, setiap warga baru adalah anggota keluarga besar yang harus disambut dengan hangat.
"Irene, makanan udah siap?" tanyanya.
"Siap, Pak. Nasi kuning, tumpeng, lauk pauk, semuanya udah." Irene menunjukkan jajaran makanan di meja.
"Bagus. Soo Young, jajanan pasar?"
"Soo Young mengangguk. "Ada, Pak. Aneka kue tradisional Korea dan Indonesia."
"Leon, dokumentasi?"
Leon mengangkat kameranya. "Ready, Pak RT!"
Pak Rahmat tersenyum puas. Griya Asri mungkin kompleks kecil, tapi warganya kompak. Itu yang membuatnya bangga.
---
Pukul 09.00, warga mulai berdatangan.
Ibu-ibu dengan pakaian rapi, bapak-bapak dengan kemeja batik, anak-anak berlarian di sekitar balai. Suasana hangat dan ramah.
Jane dan Mario datang pukul 09.15. Jane menggendong Hannah yang terbungkus selimut rajut pemberian Soo Young. Mario di sampingnya, membawa tas perlengkapan bayi yang sudah menjadi "tas wajib" ke mana pun mereka pergi.
Begitu mereka muncul, semua mata tertuju pada Hannah.
"Wah, cantiknya!"
"Lucu banget!"
"Mirip siapa, ya?"
Jane hanya tersenyum, menjawab satu per satu sapaan.
Pak RT menyambut mereka di pintu masuk. "Selamat datang, keluarga kecil! Mari, mari, duduk di depan."
Mereka dipersilakan duduk di kursi paling depan, menghadap ke arah para tamu. Hannah, yang tidak mengerti apa-apa, tidur pulas di gendongan Jane.
---
Acara dimulai pukul 09.30.
Pak RT berdiri di depan, memegang mikrofon seadanya. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, Bapak-Ibu, saudara-saudara warga Griya Asri."
"Wa'alaikumsalam!" jawab warga kompak.
"Hari ini kita berkumpul dalam rangka menyambut warga baru kita yang paling muda, putri pertama dari Bapak Mario dan Ibu Jane, yaitu... siapa namanya, Pak Mario?"
Mario berdiri, agak gugup. "Hannah, Pak. Hannah Irene."
"Wah, nama yang bagus. Hannah Irene." Pak RT tersenyum. "Silakan duduk kembali."
Acara berlanjut dengan sambutan dari Pak RT, doa bersama yang dipimpin oleh ustadz kompleks, lalu perkenalan resmi dari keluarga Jane dan Mario.
Mario berbicara dengan mikrofon, tangannya sedikit gemetar. "Assalamu'alaikum... Bapak-Ibu, terima kasih banyak sudah datang dan menyambut Hannah. Kami sekeluarga... terutama saya dan Jane... merasa sangat bersyukur bisa tinggal di Griya Asri."
Jane menambahkan, "Kami nggak pernah menyangka punya tetangga yang begitu perhatian. Dari mulai Jane hamil, sampai Hannah lahir, kalian semua selalu ada. Makasih, ya."
Mata Irene mulai berkaca-kaca. Jisoo memegang tangannya, ikut terharu.
Mario melanjutkan, "Kami berharap, Hannah bisa tumbuh dengan baik di lingkungan ini. Bisa punya banyak teman, banyak kakak, banyak om dan tante yang sayang sama dia."
Amora dari tempat duduknya berteriak, "Amora sayang Hannah!"
Semua tertawa. Suasana yang tadinya haru jadi cair.
---
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng.
Tumpeng nasi kuning besar diletakkan di depan Jane dan Mario. Di puncak tumpeng, ada tulisan "HANNAH" dari wortel yang diukir rapi—hasil kerja keras Irene semalam.
Mario memotong tumpeng dengan pisau, lalu memberikan bagian pertama pada Pak RT sebagai simbol penghormatan. Bagian kedua diberikan pada Jane, bagian ketiga untuk Hannah—meski bayi itu jelas belum bisa makan nasi.
Acara semakin meriah dengan makan bersama. Semua warga antre mengambil makanan, duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan, mengobrol dengan hangat.
Leon sibuk berkeliling dengan kameranya, mengabadikan setiap momen. Ia sudah menjadi fotografer tidak resmi Griya Asri, dan semua orang senang dengan hasil jepretannya.
Chaeyoung membantu Leon, sesekali mengarahkan pose. "Pak RT, senyum! Bu RT, dekat sedikit!"
Pak Rahmat dan istrinya tersenyum patuh. Leon mengambil beberapa jepretan.
---
Sesi berikutnya adalah pemberian kado dari warga.
Satu per satu warga maju memberikan amplop atau bingkisan untuk Hannah. Ada yang memberi baju bayi, mainan, perlengkapan mandi, buku cerita, bahkan ada yang memberi tabungan kecil.
Jane dan Mario kebingungan menerima semua itu. "Ini... banyak banget, Pak. Nggak usah repot-repot."
Pak RT tersenyum. "Ini tradisi kita, Bu Jane. Setiap warga baru, kita sambut dengan suka cita. Nanti kalau ada warga baru lain, giliran Bapak-Ibu yang memberi."
Mario mengangguk, terharu. "Siap, Pak. Kami akan teruskan tradisi ini."
Saat pemberian kado, Amora dan Rafa ikut maju. Mereka membawa kado buatan sendiri: Amora dengan buku gambar baru—edisi kedua dari serial "Hannah" karya Amora—dan Rafa dengan mainan kerincingan yang sudah ia bungkus dengan kertas kado ala kadarnya, lengket di sana-sini karena kebanyakan lem.
"Ini dari Amora!" kata Amora bangga.
"Ini dari Rafa!" Rafa meniru.
Jane menerima kado itu dengan mata berkaca-kaca. "Makasih, Amora, Rafa. Hannah pasti suka."
Hannah, yang sejak tadi tidur, tiba-tiba terbangun dan mengoceh kecil. Semua orang yang mendengar tersenyum.
"Dia bilang makasih," kata Jisoo.
"Iya, dia ikut ngomong." Irene tertawa.
---
Acara diakhiri dengan foto bersama. Semua warga berpose di depan balai, dengan Jane, Mario, dan Hannah di tengah. Leon sibuk mengatur posisi.
"Pak RT, di tengah! Bu RT, di samping! Amora dan Rafa di depan! Semua senyum!"
Leon mengambil beberapa jepretan, memastikan ada hasil yang bagus. Setelah puas, ia mengacungkan jempol.
"Perfect!"
Semua bertepuk tangan. Acara selesai, tapi kebersamaan tidak berhenti. Warga masih mengobrol, anak-anak masih bermain, dan makanan masih tersisa.
Jane duduk di kursi, Hannah di gendongan. Irene, Jisoo, Soo Young, dan Chaeyoung duduk di sampingnya.
"Gimana perasaannya jadi warga resmi?" tanya Irene.
Jane tersenyum. "Seneng, Mba. Kayak... diterima sepenuhnya."
"Ya emang diterima. Lo udah bagian dari kita dari dulu."
Jisoo mengangguk. "Iya. Dari pertama lo pindah ke sini, lo udah keluarga."
Soo Young menambahkan, "Sekarang Hannah juga keluarga."
Chaeyoung meraih tangan Jane. "Kita keluarga. Sampai kapan pun."
Jane menunduk, berusaha menyembunyikan air mata. Tapi tidak berhasil. Air matanya jatuh.
"Ini kenapa nangis?" Irene memeluknya.
"Bahagia, Mba. Bahagia banget."
Mereka berpelukan berlima, dengan Hannah di tengah. Leon, yang melihat dari kejauhan, mengabadikan momen itu. Foto itu akan menjadi salah satu favoritnya.
---
Sore harinya, setelah semua acara selesai dan warga pulang, Jane dan Mario duduk di teras rumah nomor 7. Hannah tidur di boks di samping mereka.
"Mas, hari ini luar biasa."
"Iya, Sayang. Aku nggak nyangka bakal sambutan semeriah ini."
"Kita tinggal di lingkungan yang baik banget."
Mario meraih tangan Jane. "Iya. Dan kita harus jadi tetangga yang baik juga. Nanti kalau ada warga baru, kita sambut mereka seperti ini."
"Setuju."
Mereka menikmati sore yang tenang. Di kejauhan, terdengar tawa Amora dan Rafa yang masih bermain di taman. Soo Young dan Endy duduk di teras rumah mereka, minum teh. Irene dan Elgi sibuk membereskan sisa-sisa acara. Chaeyoung dan Leon jalan santai mengelilingi kompleks.
Griya Asri damai. Harmonis.
Dan di rumah nomor 7, seorang bayi mungil bernama Hannah telah resmi menjadi bagian dari harmoni itu. Warga terkecil, tapi paling berharga.
Selamat datang, Hannah. Selamat datang di rumahmu.
---