raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
amukan sang mantan raja kegelapan
Medan Perang Abadi telah menjadi lautan darah dan debu. Ferdi berdiri sendirian di tengah kepungan jutaan prajurit yang berasal dari sembilan alam berbeda. Langit di atasnya tidak lagi terlihat karena tertutup oleh ribuan naga, kapal perang melayang, dan ksatria bersayap. Di hadapannya, sembilan panglima tertinggi dari masing-masing alam menggabungkan kekuatan mereka, menciptakan sebuah bola energi penghancur yang disebut "Hukuman Semesta"
BOOM!
Ledakan itu menghantam Ferdi telak. Tubuhnya terhempas menabrak gunung batu hingga hancur berkeping-keping.
"Apakah dia mati?" tanya Panglima Alam Naga, terengah-engah.
"Harusnya begitu. Tidak ada makhluk di multiverse ini yang bisa selamat dari serangan gabungan kami," jawab Panglima Alam Cahaya dengan sombong.
Namun, di balik kepulan asap hitam, sebuah tangan muncul mencengkeram bongkahan batu. Ferdi merangkak keluar. Zirahnya hancur, darah mengalir dari pelipisnya, dan napasnya tersengal. Pandangannya mulai kabur, kekuatannya terkuras habis.
‘Sial... tubuhku... sudah tidak sanggup...’ batin Ferdi.
Saat kesadarannya hampir hilang, bayangan seorang wanita muncul di benaknya. Vani. Ia ingat bagaimana Vani selalu mengomelinya jika ia lupa mencuci kaki setelah dari ladang. Ia ingat bagaimana Vani mencibir masakan Ferdi yang terlalu asin, padahal Vani sendiri yang menghabiskannya.
"Ferdi! Kau ini bodoh atau apa?! Kalau kau mati, siapa yang akan mengurus kebun? Siapa yang akan mendengarkan omelanku setiap pagi?!"
Suara omelan Vani yang cempreng namun manis itu bergema di telinganya bagaikan musik surgawi.
Ferdi tersenyum tipis di tengah luka-lukanya.
"Aku... tidak boleh mati di sini," bisik Ferdi. "Kalau aku mati... tidak ada lagi yang akan memarahi aku..."
Tiba-tiba, jantung Ferdi berdegup kencang. Energi yang awalnya hanya ia keluarkan 50 persen, kini melonjak drastis. 60... 80... hingga mencapai 100 persen kekuatan penuh.
Tanah di bawahnya amblas. Tubuh Ferdi tidak lagi terlihat seperti manusia. Ia berubah menjadi bayangan pekat yang menelan cahaya di sekitarnya. Matanya yang tadinya merah kini berubah menjadi putih murni, memancarkan aura kehampaan.
"Apa itu?!" teriak para prajurit ketakutan.
Ferdi bergerak. Ia tidak lagi berlari, ia menghilang. Dalam sekejap, sepuluh ribu prajurit di barisan depan terlempar ke udara, tubuh mereka hancur hanya karena tekanan udara dari pergerakan Ferdi. Ia menghajar para panglima itu satu per satu dengan tangan kosong. Luka di tubuh Ferdi menutup dalam hitungan detik. Ia menjadi entitas yang tak terhentikan.
Saat Ferdi hampir menyentuh perbatasan tanah suci Luxeria, langit tiba-tiba membelah. Sembilan cahaya raksasa turun, dipimpin oleh seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah yang memancarkan aura ilahi yang sangat masif.
Dia adalah Aldito Kaila, kakek kandung Vani, Tetua Agung yang kekuatannya setara dengan Ferdi dalam mode penuh.
"Berhenti, iblis!" suara Aldito menggetarkan realitas. "Kau tidak pantas menginjakkan kaki di tanah ini!"
Aldito memerintahkan sembilan bawahannya, para malaikat perang, untuk menyerang Ferdi 1 vs 1 secara bergantian. Namun, Ferdi dengan brutal membantai mereka semua. Kepalanya penuh dengan bayangan Vani yang sedang disiksa, dan itu membuatnya menggila.
Kini, tersisa Aldito dan Ferdi. Pertarungan mereka menyebabkan dimensi di sekitar mereka retak. Aldito mengeluarkan "Pasukan Surgawi", jutaan prajurit cahaya abadi. Namun, Ferdi hanya melambaikan tangannya, dan kegelapan total menelan mereka semua hingga lenyap dari eksistensi.
Aldito terengah-engah, tongkat sucinya retak. Ia melihat Ferdi yang terus bangkit meski sudah terkena serangan mematikan berkali-kali. Ferdi menggenggam sebuah kalung di lehernya—kalung sederhana pemberian Vani.
"Kenapa... kenapa kau tidak bisa mati?!" teriak Aldito.
Ferdi menatap kalung itu. "Ferdi, kalung ini adalah pengikat jiwaku. Jangan sampai hilang, atau aku akan mencubitmu sampai biru!" omelan Vani terngiang lagi.
"Karena istriku adalah cucumu, dan dia sangat cerewet jika aku tidak pulang," jawab Ferdi dingin.
Aldito melihat kegilaan di mata Ferdi. Ia sadar, jika ia terus bertarung, dia akan musnah. "Sialan! Kau makhluk terkutuk! Aku akan kembali, Ferdi! Aku akan memburu kalian berdua karena berani mencemari garis keturunan Kaila!"
Aldito membuka portal dan lari melarikan diri, meninggalkan pasukannya yang kocar-kacir.
Ferdi tidak mengejar Aldito. Fokusnya hanya satu: Istana Luxeria. Ia membabat habis sisa pasukan penjaga gerbang seperti memotong rumput. Pintu gerbang emas raksasa itu hancur berkeping-keping saat Ferdi menabraknya.
Ia lari menuju ruang Penghakiman Surgawi.
Sesampainya di sana, jantung Ferdi seakan berhenti berdetak. Di tengah ruangan, Vani tergantung dengan rantai cahaya. Tubuhnya penuh luka memar, pakaiannya sobek, dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Di depannya berdiri ayahnya, Raja Luxerius, dan kakaknya, Pangeran Valen, yang sedang memegang cambuk api.
"Kau wanita jalang! Beritahu kami di mana kau menyembunyikan jantung kegelapan!" teriak Valen sambil mencambuk punggung Vani.
"T-tidak akan... Ferdi... akan membunuh kalian..." rintih Vani lemah.
Melihat pemandangan itu, air mata jatuh dari mata putih Ferdi. Kesedihan itu dalam sekejap berubah menjadi kemurkaan yang tak terlukiskan. Seluruh istana Luxeria bergetar. Tembok-tembok retak, dan langit-langit mulai runtuh.
"KAAALLLIIIAAAANNNNN!!!!" raung Ferdi.
Ferdi meledak. Ia menyerang bagaikan badai hitam. Raja Luxerius dan Valen bahkan tidak sempat mengeluarkan sihir mereka saat Ferdi menghantam mereka ke dinding hingga tulang-tulang mereka remuk. Ferdi mencekik leher ayah Vani, tangannya berubah menjadi cakar hitam yang siap merobek tenggorokan pria itu.
"Kau menyentuh milikku..." desis Ferdi dengan suara iblis. "Kau menyiksa wanitaku... Ayah atau bukan, kau akan mati!"
"Ferdi... b-berhenti..." suara lemah Vani terdengar di tengah reruntuhan.
Ferdi tidak mendengar. Kegelapan telah menelan kewarasannya. Ia mengangkat tangannya untuk memenggal kepala Raja Luxerius dan Valen sekaligus.
"FERDI! LIHAT AKU!" teriak Vani dengan sisa tenaganya.
Rantai yang mengikat Vani hancur karena tekanan aura Ferdi. Vani terjatuh, namun ia memaksakan dirinya merangkak menuju suaminya. Saat tangan Ferdi siap menebas, Vani tiba-tiba memeluk Ferdi dari belakang. Ia menarik wajah Ferdi dan mencium bibirnya dengan penuh perasaan.
Seketika, dunia seolah membeku.
Kegelapan pekat yang menyelimuti tubuh Ferdi mulai luruh seperti debu yang tertiup angin.
Kulitnya kembali normal, matanya kembali menjadi hitam kecokelatan yang hangat. Ferdi tersentak, napasnya kembali manusiawi.
Ia menatap wajah Vani yang tepat berada di depan matanya. Wajah yang ia rindukan, meski sedang terluka.
"Sayang..." bisik Ferdi lirih. "Maaf... aku terlambat..."
Vani tersenyum tipis sambil menangis. "Kau selalu terlambat, bodoh... kau tahu berapa lama aku menunggumu?"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, tubuh Ferdi limbung. Ia pingsan seketika karena kelelahan yang luar biasa setelah memaksakan kekuatan 100 persen selama berjam-jam.
Vani menangkap tubuh Ferdi yang tak berdaya. Ia menoleh ke arah ayah dan kakaknya yang terkapar tak berdaya, lalu menoleh ke arah luar di mana pasukan Luxeria mulai berdatangan kembali.
"Kalian tidak akan pernah menyentuh kami lagi," ujar Vani dengan tatapan tajam.
Dengan sisa kekuatan sihir cahayanya yang sangat tipis, Vani menggabungkan energinya dengan energi kegelapan sisa di tubuh Ferdi. Sebuah portal ungu keemasan terbuka di lantai istana.
"Kita pulang, Ferdi... ke rumah kita," bisik Vani.
Vani menyeret tubuh Ferdi masuk ke dalam portal.
Portal itu menutup tepat saat para tetua Luxeria menyerbu ruangan, meninggalkan istana yang hancur dan dendam yang akan membara selamanya.
Mereka kembali ke Aethelgard, ke lembah sunyi di mana kisah petani dan ratu cerewet ini akan berlanjut ke babak baru yang lebih dahsyat.