NovelToon NovelToon
Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.

Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.

Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menikah dengan duda anak 3

Helena tentu saja sangat bahagian begitu akhirnya ia bisa menikah dengan seorang pria yang sebulan belakangan ini mencuri perhatiannya. Bukan karena wajahnya yang tampan ataupun juga tubuhnya yang kekar, tapi ada satu hal yang membuat Helena begitu menggilai pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya, ia bahkan tidak peduli jika diumurnya yang ke dua puluh tujuh tahun, sudah memiliki tiga anak yang berusia 15 tahun, 14 tahun juga yang paling kecil 3 tahun.

Hal inilah yang membuat Helena merasa baru saja keluar dari kandang singa yang selama ini mengurungnya dan juga menjadikannya sebagai bahan ejekan bagi keluarganya. Ya keluarga. Kalian pikir Helena lahir dari keluarga kaya raya yang sempurna? Yang di dalamnya ia mendapatkan kasih sayang yang kelebihan? Jika kalian berpikir seperti itu, kalian salah.

Karena selama ini, Helena hidup menderita di bawah kekuasaan keluarganya, ia memang tidak disiksa secara fisik tapi mereka sengaja melukai psikisnya agar terguncang. Helena tahu mereka melakukannya bukan karena mereka ingin Helena pergi dari dalam rumah itu, tapi kakak kakaknya, yang selama ini menganggunya tidak ingin Helena hidup damai, mereka menginginkan Helena mengalami hal yang dialami ibu mereka.

Rasanya lega sekali ketika akhirnya Helena bisa menghirup udara bebas di luar rumah, rasanya hal yang dulu selalu mencekik dirinya melonggar hingga akhirnya terlepas. Lega sekali rasanya.

"Mas," bisik Helena di dekat kuping suaminya.

Farhan yang memang lebih tinggi dari istrinya langsung sedikit menurunkan badannya agar sejajar dengan istrinya.

"Ada apa?" tanya Farhan lembut.

"Ini kita lagi nunggu apa?" tanya Helena menatap sekelilingnya yang hampir kosong, acara selesai dari dua jam yang lalu, tapi pengantinnya belum juga angkat kaki dari dalam gedung tempat mereka mengadakan acara pernikahan.

Farhan hanya menanggapinya dengan senyuman kecil, sepertinya mereka memang harus pergi saja, karena menunggu dua jam pun tidak ada tanda-tanda keluarga kecilnya akan muncul.

"Kita pulang sekarang yuk!" ajak Farhan, ia menggandeng mesra tangan istrinya. memperlakukannya sebagai permata yang sangat berharga, bahkan melindungi kepalanya ketika ia akan masuk ke dalam mobil hitam yang sudah terparkir apik di depan parkiran tepat di depan pintu keluar.

"Anak-anak sekolah ya, mas?" tanya Helena, karena sedari awal mereka akad sampai acara selesai, Helena sama sekali belum melihat barang hidung anak-anak dari Farhan yang kini menjadi anaknya juga.

Farhan tersenyum, "hari ini mereka mendadak ada acara di sekolah, jadi mereka tidak bisa datang,"

"Apa kita salah menentukan tanggal pernikahan ya mas, rasanya aku tidak enak mengadakan acara pernikahan sementara kamu membiarkan anak-anak di sekolah tanpa pendamping papanya,"

"Tidak apa, acaranya memang sangat mendadak, lagi pula bukan acara besar, hanya acara festival," Farhan mengelus lembur punggung tangan istrinya yang putih.

"Festival? Memangnya ada festival yang mendadak?" Helena merasa bingung, jika festival tidak mungkin acaranya sangat mendadak, pasti pihak sekolah pun sudah menyiapkan acaranya jauh jauh hari, tidak mendadak.

"Undangan dari sekolah lain, awalnya memang sekolahan mereka tidak diundang, tapi karena ada sekolah yang tidak bisa hadir, mereka diundang untuk menjadi pengganti sekolahan yang tidak bisa datang itu," Farhan menjelaskan sedetail mungkin agar Helena tidak merasa tidak enak.

Helena ber-oh ria, ia kira acara pernikahannya dengan Farhan menganggu acara dari sekolahan mereka.

Sebenernya Helena merasa heran karena di acara pernikahannya, keluarga besar dari Farhan sama sekali tidak ada yang datang, ia tidak melihat orang tuanya Farhan tidak juga melihat saudara-saudara Farhan, ingin bertanya pun rasanya sangat singkat, terlebih lagi, ia dan Farhan baru saja bertemu sebulan belakangan ini, dimana ketika akhirnya ia memilih melabuhkan hatinya kepada sosok pria yang telah menolongnya dari sebuah kecelakaan yang mungkin akan merenggut keperawanannya.

Rasanya Helena masih tidak menyangka karena Farhan sendiri yang datang menemuinya dan mengatakan itikad baiknya untuk menikahi Helena, Bahkan sebelum pernikahan itu terjadi, Farhan mengajak dirinya untuk bertemu dengan ketiga anaknya, awalnya semuanya baik-baik saja, ketiga anaknya pun bahkan senang dengan Helena, tapi sedetik setelah Farhan mengatakan jika alasan di balik mereka makan malam bersama, Farhan ingin mempertemukan sekaligus mengenalkan calon ibu untuk mereka, Helena pun rasanya terbang ketika dirinya di kenalkan sebagai calon ibu untuk ketika pria yang dicintainya.

Kala itu suasana yang awalnya ramai berubah menjadi sunyi, tidak ada lagi cekcok antara anak pertama Farhan dengan anak keduanya, keduanya tiba-tiba saja diam dan fokus menghabiskan makanannya, sedangkan si kecil, yang masih berumur lima tahun, sibuk berceloteh dengan babysitter yang sedang menyuapinya.

Helena sama sekali tidak curiga, ia menyangka kesunyian di meja itu adalah hal yang biasa terjadi ketika makan malam berlangsung, tapi dugaannya salah, ketika ia baru saja sampai di depan halaman rumah Farhan yang kini mungkin akan menjadi rumahnya, kedua anak tirinya melengos begitu saja ketika dirinya dengan semangat menghampiri mereka, tidak menyapanya bahkan untuk sekedar melirik pun tidak.

Detik itulah Helena menyadari satu hal, jika dirinya belum di terima dengan baik oleh anak-anak tirinya. Sejak awal ekspetasi Helena kepada kedua anak tirinya adalah mereka yang akan memeluknya ketika ia sampai depan rumah dan mengatakan hal-hal yang terjadi selama di sekolahnya.

Tapi ekspetasinya hancur ketika mereka tidak menyambut kedatangannya bahkan untuk menyalimi dirinya.

Farhan yang mengerti kondisi itu langsung melangkah cepat menghampiri istrinya dan merangkul pinggangnya mesra.

"Masuk yuk! Kamu mandi dulu setelah itu istirahat, pasti cape kan berdiri seharian menyambut para tamu," hibur Farhan membawa istrinya masuk, kebetulan baju-baju milik Helena sudah sampai lebih dulu sehari sebelum pernikahan terjadi.

Helena mengangguk semangat, hatinya kembali berbunga-bunga mendapatkan sedikit perhatian dari suaminya, rasanya ia baru bisa merasakan bagaimana perasaan cinta sesunguhnya, karena selama ini, ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang dengan begitu besarnya, Helena sudah terbiasa dengan kehidupan tanpa harus melibatkan perasaan.

"Aku perlu masak untuk makan malam tidak?" tanya Helena mendongakkan kepalanya.

Farhan menunduk dan menggeleng, senyumnya sedikit mengembang, "tidak perlu, kamu harus istirahat lebih banyak hari ini,"

Dan lagi-lagi Helena senang di perlakukan seperti itu, rasanya sangat manis dan juga membuat ia bahagia. Bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum, melupakan perasaan kecewa terhadap ekspetasinya sendiri terhadap anak-anak tirinya.

"Kenapa aku tidak melihat Nael?" kepala Helena menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sosok balita berumur tiga tahun tahun itu.

"Biasanya kalau sore dia sedang di taman dengan susnya,"

"Lain kali aku juga mau mengajak Nael bermain di taman," ucap Helena riang.

"Boleh, dia sudah menjadi anakmu ju-"

"Tidak boleh, Nael juga tidak akan mau diajak ke taman jika bukan dengan kami atau Sus Widya." celetuk Freya yang baru saja turun dari tangga dengan pakaian santainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!