NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan dan Keputusasaan

'Kemana tujuanku selanjutnya? Aku tak bertanggung jawab atas diriku sendiri, tetapi atas Maerin juga. Raja memang mengijinkanku membawa harta pribadiku. Namun aku hanya membawa 5000koin emas saja. Kupikir akan cukup jika hanya untuk menanggung hidupku sendiri. Tapi kejadian tak terduga muncul setelah bertemu Maerin. Aku tak menyesali apapun atau menyalahkan siapapun. Aku hanya tak tahu bagaimana kedepannya nasibku serta nasib Maerin yang kutanggung. Aku sudah berjalan berkilo-kilo meter dengan Maerin. Dia tak mengeluh sedikitpun. Jika aku mengajaknya beristirahat, aku tak memiliki apapun untuk dimakan atau sepeser uang untuk membeli sesuatu di makan. Aku juga tak punya keahlian berburu, bahkan aku tak tega memburu binatang. Alangkah memalukan hidupku ini. Apa yang harus kulakukan?' Batin Theo bergejolak sepanjang jalan dan sesekali menatap ke arah Maerin. Maerin yang terlihat polos dan sepenuhnya percaya pada Theo, membuat Theo semakin bersalah.

"Maerin? Apa kau mau beristirahat sebentar? Kau pasti capek kan karena kita sudah berjalan cukup jauh." Tanya Theo.

"Saya tak capek sama sekali, saya tak ingin memperlambat perjalanan." Ucap Maerin sedikit merintih pelan.

Dari jawaban Maerin, Theo sadar bahwa Maerin sudah kelelahan dan kesakitan. Lalu tak sengaja Theo menunduk dan melihat kaki Maerin. Ternyata kakinya lecet-lecet dan berdarah, akibat berjalan jauh tanpa henti. Theo berhenti dan mengamati sekeliling. Dia menemukan pohon yang lumayan besar yang bisa dipakai untuk berteduh dari terik matahari. Tanpa mengatakan apapun, dia langsung menggendong Maerin di punggungnya dan berlari menuju pohon tersebut. Maerin yang terkejut, "Ada apa? Kenapa? Turunkan saya. Saya bisa berlari jika memang sedang ada bahaya mendekat yang bisa anda rasakan."

"Diam, menurut saja." Jawab Theo singkat.

Sesampai di dekat pohon, Theo menurunkan Maerin dan mendudukannya sambil bersandar di pohon. Lalu dia meluruskan kaki Maerin dan pelan-pelan melepaskan alas kakinya untuk mengobati lecet-lecet di kaki Maerin.

"Apa yang anda lakukan?" Maerin terlihat sedikit panik.

"Kenapa kau tak mengatakannya, ini pasti perih dan tak nyaman banget buat jalan. Kenapa kau hanya diam menahannya?" Ucap Theo yang terdengar bersalah.

"Saya baik-baik saja. Luka seperti itu hanya luka kecil." Jawab Maerin.

"Gak usah memaksakan diri merasa kuat. Kalau sakit bilang sakit, kalau capek bilang capek. Gak usah menahannya. Aku sudah mengajari hal-hal dasar semacam itu padamu, kan? Apa kau sudah melupakannya?" Tanya Theo dengan suara sedikit gemetar.

"Mana mungkin saya melupakannya? Saya hanya tak ingin membebani dan merepotkan anda." Jawab Maerin.

"Buang pemikiran picik macam itu. Mulai sekarang katakan apapun yang kau rasakan, jangan memendamnya. Selama tak menghina atau mencela orang lain." Kata Theo dengan tegas sambil mengobati kaki Maerin dan memasang perban.

"Baik, kedepannya saya aku mengatakan apapun yang saya rasakan. Lalu sepertinya langit mulai gelap padahal ini masih siang." Kata Maerin.

Theo mendongak ke atas sambil melihat langit, "Ya. Kau benar. Sepertinya akan turun hujan. Tapi sejauh mata memandang tak ada tempat yang bisa kita singgahi untuk berteduh."

"Karena ini dipinggiran hutan." Jawab Maerin polos.

"Wah sekarang kau bisa sedikit sarkas ya?" Ledek Theo sambil ketawa kecil.

"Ti-tidak. Tidak seperti itu." Kata Maerin.

"Ya ya. Aku tau. Tapi kurasa berteduh di sini lebih baik meskipun masih kehujanan." Ucap Theo dengan nada rendah. Dia merasa malu tak bisa melakukan apa-apa di saat seperti ini.

Tak lama hujan turun dengan sangat deras. Mereka kehujanan di bawah pohon. Theo melepas jubahnya untuk melapisi Maerin, Maerin memeluk tas yang bawaan Theo di dalam jubahnya. Dia meringkuk menempel pohon dan dilapisi jubah Theo dari luar. Theo berusaha agar Maerin tak kedinginan. Bibir mereka mulai pucat karena terlalu lama kehujanan. Tiba-tiba terdengar suara kuda dari kejauhan, Theo pun berharap bahwa itu suara kuda yang menarik kereta. Benar saja, harapan Theo terwujud, meskipun bukan kereta yang ditarik, namun hanya gerobak. Theo menatap dari kejauhan, gerobak kuda itu semakin mendekati arahnya. Namun tiba-tiba berhenti. Theo pun melihatnya dengan seksama, pandangannya sedikit buyar karena hujan lebat yang turun. Tapi hal pasti bahwa yang menaiki gerobak itu hanya satu orang. Orang tersebut terlihat turun dari gerobak, dan berjalan ke sisi gerobak. Sepertinya ada masalah yang membuatnya menghentikan gerobak kudanya. Theo ingin mengeceknya.

"Maerin, kau tunggu di sini. Aku akan mendatangi gerobak itu, mungkin saja bisa menolong kita. Kau tetap dalam jangkauan pandanganku kok." Kata Theo

Maerinpun mengangguk sambil menggigil gemetaran. Dan Theo bergegas berlari ke arah gerobak kuda. Setibanya dia berkata, "Permisi. Apa ada yang bisa saya bantu?"

Laki-laki itu menoleh, ternyata seorang kakek yang sudah sangat tua. Tiba-tiba berlutut dan memohon, "Ampuni nyawa saya. Anda bisa bawa kuda saja, meskipun tidak besar tapi masih berguna. Sebagai gantinya jangan bunuh saya."

Theo terkejut dan refleks memegang kedua lengan kakek itu untuk membantunya berdiri, "Apa yang kakek bicarakan? Saya tak ada niatan jahat sedikitpun. Saya melihat kakek kesusahan sepertinya salah satu roda gerobak anda terlepas. Mari saya bantu betulkan." Ucap Theo sambil mengamati keadaan.

"Oh saya kita, anda salah satu bandit yang biasanya beraksi disekitar sini. Mungkin karena hujan lebat jadi mereka tak muncul." Kata Kakek itu lega.

"Jika begitu, kita harus segera bergegas, kek. Sebelum hujan reda dan banditpun muncul." Kata Theo sedikit khawatir.

"Kau benar, nak." Imbuh kakek itu.

Mereka cukup memakan waktu lama untuk memperbaiki gerobak. Setelah selesai, kakek itu mengucapkan banyak terima kasih dan menawarkan mengambil apapun yang ada di dalam gerobak. Theo pun menoleh ke dalam gerobak, di dalam situ hanya terdapat pucuk daun muda yang diikat dan beberapa biji jagung yang masih terbungkus kulitnya serta sebuah tempat minum air lusuh.

"Saya tak menginginkan apapun, namun bisakah kakek membantu saya? di bawah pohon itu ada seseorang yang kakinya sakit. Jadi sulit untuk berjalan. Setidaknya bisakah untuk mengangkutnya dengan gerobak kakek. Cukup sampai ke desa terdekat saja." Ucap Theo dengan penuh harap.

"Desa terdekat masih jauh, sekitar 2 hari perjalanan dengan kereta kuda biasa. Tapi kau dan temanmu bisa berteduh di rumahku." Kata kakek dengan penuh perhatian.

"Terima kasih banyak, kek." Kata Theo dengan rasa lega luar biasa.

"Naiklah nak." Ucap kakek.

"Tak perlu, kek. Saya berlari saja." Jawab Theo.

"Kau pasti capek juga. Jadi naiklah." Desak kakek.

"Tidak kek. Kasian kuda kecil ini jika menarik terlalu banyak beban. Jadi saya baik-baik saja." Tegas Theo.

"Baiklah jika itu kemauanmu."

Mereka menuju ke arah Maerin, dan dengan segera Theo mengangkat Maerin dan mendudukkannya di dalam gerobak kakek.

"Mari bergegas, hujan tak lagi lebat." Seru kakek supaya Theo bergegas.

"Kakek benar. Ayo cepat kek."

Kereta kuda melaju tak begitu kencang karena jalanan yang licin. Namun Theo tetap terengah-engah berlari di belakang mengikuti gerobak kakek.

"Bernapas, ayo tetap bernapas. Aku pasti bisa." Gumam Theo untuk menguatkan diri. Maerinpun hanya meringkuk diam di sisi gerobak dekat kakek mengendalikan kuda.

Cukup lama perjalanan dan Theo berlari, sampailah di sebuah gubuk kecil yang terlihat hampir ambruk.

"Turunkan temanmu dan masuklah, Istriku ada di dalam. Aku akan memasukkan kuda ini ke dalam kandangnya." Ucap kakek

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!