NovelToon NovelToon
Menantu Cenayang

Menantu Cenayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Action / Harem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sean Sensei

🔖 SINOPSIS :

Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.

​Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.

Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.

🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 | Tamparan dari Masa Lalu

...----------------🍁----------------🍁----------------...

Bau obat-obatan yang tajam dan aroma antiseptik yang menyesakkan telah menjadi udara baruku selama beberapa bulan terakhir. Aku menatap kosong ke luar jendela apartemen sempit di pinggiran Jakarta, sebuah tempat yang lebih mirip kotak sabun dibandingkan dengan mansion megah keluarga Wijaya yang kini telah disita bank. Di bawah selimut rajutan yang kasar, kaki ku terasa seperti dua batang kayu yang mati. Tidak ada rasa, tidak ada gerakan. Hanya kehampaan yang dingin.

"Lumpuh," gumam ku dalam hati. "Clarissa Wijaya, sang putri mahkota, sekarang hanya seonggok daging yang menunggu disuapi."

Aku meraih remote televisi dengan tangan yang gemetar. Jari-jari ku yang dulu lentik dan selalu dihiasi manikur mahal kini tampak pucat dan pecah-pecah. Di meja kecil samping kursi roda ku, ada tumpukan tagihan rumah sakit yang sudah jatuh tempo dan surat sitaan terakhir. Ayah ku sudah tidak bisa lagi berteriak marah; dia hanya bisa duduk di sudut ruangan, menatap dinding dengan mata kosong, hancur oleh kejatuhan Rupiah yang membakar seluruh aset properti nya dalam semalam.

Aku menyalakan televisi, hanya untuk mencari gangguan dari kesunyian yang mencekik ini. Saluran berita internasional CNBC sedang menayangkan laporan khusus tentang krisis moneter Asia.

"...di tengah keruntuhan pasar modal Asia Tenggara, sebuah fenomena ajaib terjadi di Bursa Saham Shanghai," suara pembawa berita wanita itu terdengar jernih. "Seorang investor misterius asal Indonesia, yang bekerja di bawah bendera Samantha Holdings, baru saja meraup keuntungan luar biasa sebesar 3,5 miliar dollar. Ia disebut-sebut sebagai 'Naga Baru' yang berhasil menjinakkan badai moneter..."

Jantung ku berdegup kencang saat nama itu disebut. Samantha Holdings. "Satya?" suara ku keluar sebagai bisikan yang serak. "Tidak... itu tidak mungkin."

Layar televisi kemudian menampilkan cuplikan amatir dari kejauhan. Di sana, di depan gedung kaca yang megah di distrik Pudong, seorang pria keluar dari limusin hitam. Dia mengenakan jas sutra yang berkilau di bawah lampu kota. Bahu nya tegap, langkah nya penuh wibawa, dan di samping nya, seorang wanita cantik yang tampak seperti dewi, Wang Meiling menggandeng lengan nya dengan bangga.

Kamera itu sempat menangkap profil samping wajah nya. Garis rahang itu. Sorot mata yang tajam itu. Meskipun kini tampak lebih berwibawa dan dikelilingi aura kekuasaan yang luar biasa, aku mengenali nya.

"SATYA!" teriak ku, membuat ayah ku tersentak di sudut ruangan.

"Ada apa, Clarissa? Kenapa kau teriak-teriak?" tanya ayah ku dengan nada lemah.

"Lihat, Ayah! Lihat!" aku menunjuk layar televisi dengan tangan yang bergetar hebat. "Itu Satya! Pria yang kita usir... pria yang kita sebut sampah itu! Dia... dia Naga dari Shanghai itu!"

Ayah ku berjalan tertatih-tatih mendekati televisi. Dia menyipitkan mata nya yang sudah rabun. Saat menyadari siapa pria di layar itu, wajah nya yang kusam berubah menjadi pucat pasi. Dia jatuh terduduk di lantai, mulut nya menganga tanpa suara.

"Bagaimana mungkin?" gumam ku meratap. "Tiga bulan lalu aku membuang nya seperti sampah di jalanan. Aku memandang nya dengan jijik saat dia memohon agar aku tidak menceraikan nya di saat dia tidak punya apa-apa. Sekarang... dia memegang kunci kekayaan yang bahkan tidak bisa kubayangkan dalam mimpi terliar ku."

Rasa panas menjalar di dada ku, bukan rasa bangga, melainkan rasa malu yang membakar dan penyesalan yang pahit. Aku melihat kembali kaki ku yang lumpuh. Kecelakaan itu terjadi tepat setelah aku keluar dari ruang pengadilan setelah resmi bercerai dengan nya. Seolah-olah alam semesta sedang menghukum ku di saat Satya mulai naik ke langit.

"Dia harus membantu ku," gumam ku, air mata mulai mengalir membasahi pipi ku yang tirus. "Dia dulu sangat mencintai ku. Dia akan melakukan apa saja untuk ku. Dia tidak mungkin setega itu melihat ku seperti ini."

"Clarissa, dia sudah berubah," suara ayah ku terdengar seperti bisikan dari liang kubur. "Lihat mata nya. Itu bukan lagi mata pria yang bisa kau injak-injak."

"Tidak! Dia tetap Satya-ku!" aku berteriak histeris, mencoba memutar kursi roda ku ke arah kamar. "Kita harus ke Shanghai, Ayah! Jual sisa perhiasan Ibu yang kau sembunyikan! Jual apa saja yang tersisa! Kita beli tiket pesawat ke China. Kita harus menemukan nya!"

Dua hari kemudian, aku berada di Bandara Soekarno-Hatta. Suasana nya kacau. Ribuan orang mencoba keluar dari Indonesia karena kerusuhan mulai pecah akibat krisis ekonomi. Aku duduk di kursi roda, memegang tas kecil berisi seluruh sisa harta ku: sebuah kalung berlian pemberian nenek ku dan jam tangan emas Ayah. Hanya cukup untuk dua tiket sekali jalan dan biaya hidup beberapa hari di Shanghai.

"Aku akan bersujud di kaki nya jika perlu," pikir ku saat pesawat mulai lepas landas. "Aku akan mengingatkan nya tentang masa-masa indah kami. Tentang janji suci nya di depan altar. Dia pria yang lembut... dia pasti akan luluh melihat kondisi ku yang hancur seperti ini."

Penerbangan itu terasa seperti selamanya. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat wajah Satya saat terakhir kali kami bertemu. Wajah yang penuh luka dan kehinaan.

"Maafkan aku, Satya," bisik ku dalam hati, sebuah doa yang egois. "Berikan aku kesempatan sekali lagi untuk menjadi istri mu. Bukan karena uang mu... tapi karena aku tidak punya tempat lain untuk pergi." (Meskipun di dalam lubuk hati ku, aku tahu bahwa uang nya adalah alasan utama aku mengejar nya).

Shanghai, Bandara Internasional Pudong.

Begitu pintu pesawat terbuka, udara dingin Shanghai menyambut ku. Kota ini terasa begitu asing dan megah, sangat kontras dengan Jakarta yang sedang terbakar. Ayah mendorong kursi roda ku menyusuri terminal yang berkilau. Di setiap sudut, aku melihat papan iklan besar yang menampilkan wajah Wang Meiling dan... Satya.

Dia benar-benar sudah menjadi pengusaha di sini.

"Tuan, di mana letak gedung Grup Dragon?" tanya ayah ku pada seorang petugas bandara dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

Petugas itu menunjuk ke arah pusat kota, ke sebuah menara yang puncak nya menembus awan. "Di sana. Tapi Anda tidak bisa masuk tanpa janji. Keamanan di sana sangat ketat."

Kami naik taksi menuju distrik Pudong. Sepanjang perjalanan, aku menempelkan wajah ku ke kaca jendela, menatap hutan beton yang menakjubkan. Shanghai adalah kota masa depan, dan pria yang pernah aku remehkan adalah salah satu arsitek nya.

Saat taksi berhenti di depan gedung Grup Dragon, aku merasa sangat kecil. Gedung itu adalah monumen kekuasaan. Ratusan orang berlalu-lalang dengan setelan jas mahal, dan puluhan mobil mewah berderet di lobi.

"Ayo, Ayah. Dorong aku ke sana," perintah ku.

Saat kami mendekati pintu kaca otomatis, dua penjaga keamanan bertubuh besar segera menghadang kami.

"Ada keperluan apa?" tanya salah satu penjaga dalam bahasa Mandarin yang kaku.

"Saya... saya istri dari Satya Samantha," kata ku dengan suara yang dipaksakan agar terdengar berwibawa, meski penampilan ku berantakan dan kursi ku sudah agak berkarat.

Penjaga itu saling pandang, lalu tertawa kecil yang menghina. "Istri Tuan Satya? Tuan Satya tidak punya istri. Dia hanya di dampingi oleh Nona Wang Meiling. Pergilah, dasar pengemis. Jangan membuat keributan di sini."

"Saya bukan pengemis! Lihat paspor saya! Saya Clarissa Wijaya!" aku berteriak, menarik perhatian orang-orang di lobi. "Satya! Keluar kau! Ini aku, Clarissa!"

Kehebohan itu membuat seorang wanita cantik dengan seragam sekretaris yang sangat rapi keluar dari arah lift. Itu adalah Lin Xia. Dia menatap ku dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara pengenalan dan rasa jijik yang halus.

"Ada apa ini?" tanya Lin Xia dingin.

"Nona, tolong," ayah ku memohon sambil membungkuk. "Kami dari Indonesia. Ini Clarissa, istri Satya. Kami hanya ingin bertemu dengan nya sebentar saja."

Lin Xia berjalan mendekat ke kursi roda ku. Dia menatap kaki ku yang lumpuh dengan tatapan datar. "Tuan Satya sedang dalam rapat penting dengan dewan direksi. Dia tidak punya waktu untuk bertemu dengan masa lalu yang sudah dia buang di tempat sampah."

"Kau hanya sekretaris! Jangan berani bicara begitu pada ku!" aku mencoba berdiri karena marah, namun kaki ku langsung lemas dan aku hampir jatuh dari kursi roda. Ayah ku dengan cepat menahan ku.

Lin Xia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat menyakitkan. "Saya bukan hanya sekretaris. Saya adalah orang yang merawat nya saat dia terluka karena perbuatan mu. Tuan Satya sudah tahu kalian ada di sini. Dia sudah melihat kalian sejak kalian menginjakkan kaki di bandara."

Aku tertegun. "Dia tahu? Lalu kenapa dia tidak keluar menemui ku?"

Lin Xia merogoh saku rok nya dan mengeluarkan sebuah koin perak kecil yang kusam. Dia meletakkan nya di pangkuan ku, tepat di atas kaki ku yang tidak terasa apa-apa.

"Tuan Satya menitipkan ini untuk mu," ucap Lin Xia. "Dia bilang, ini adalah nilai sisa dari cinta yang pernah kau berikan pada nya. Dia menyarankan kalian menggunakan koin ini untuk membeli tiket pulang, sebelum dia memanggil polisi untuk mengusir kalian dari China sebagai imigran ilegal."

Aku menatap koin itu. Itu adalah koin seratus rupiah lama yang sudah berkarat, koin yang mungkin dia temukan di saku celana lama nya yang robek.

"Tidak... ini tidak mungkin," raung ku dalam hati. "Satya ku yang dulu tidak mungkin sekejam ini."

Aku mendongak, menatap ke lantai atas gedung melalui langit-langit kaca lobi. Di sana, di balkon lantai tinggi, aku melihat sesosok bayangan pria berdiri tegak. Dia sedang memegang gelas kristal, menatap ke bawah ke arah lobi. Meskipun jarak nya jauh, aku bisa merasakan tatapan mata nya yang dingin menembus jiwa ku.

Dia tidak melambai. Dia tidak tersenyum. Dia hanya melihat ku sebagai gangguan kecil yang harus dibersihkan.

"SATYA! MAAFKAN AKU!" teriak ku hingga tenggorokan ku sakit. "AKU LUMPUH, SATYA! LIHAT AKU!"

Pria di atas sana hanya berbalik dan berjalan masuk ke dalam kegelapan kantor nya.

Lin Xia memberi isyarat kepada petugas keamanan. "Bawa mereka keluar. Dan pastikan mereka tidak mendekati area ini lagi."

Penjaga itu mulai mendorong kursi roda ku dengan kasar menuju pintu keluar. Ayah ku menangis sesenggukan, mencoba memohon belas kasihan, namun tidak ada yang mendengarkan.

Saat aku berada di trotoar Shanghai yang dingin, di bawah guyuran hujan yang tiba-tiba turun, aku menggenggam koin karat itu erat-erat. Tamparan dari masa lalu itu jauh lebih menyakitkan daripada kecelakaan mobil yang melumpuhkan ku.

"Dia sudah berubah," gumam ku sambil terisak di tengah hujan. "Dan tidak akan pernah menoleh kembali ke arah orang yang pernah menginjak nya. Aku telah kehilangan dia... aku telah kehilangan segalanya."

Aku menatap Menara Grup Dragon yang megah itu sekali lagi sebelum ayah ku mendorong ku menjauh. Di kota yang berkilauan ini, aku menyadari bahwa penebusan dosa tidak selalu berakhir dengan pengampunan. Kadang, ia berakhir dengan kesunyian yang paling dingin di atas kursi roda.

...----------------🍁----------------🍁----------------...

1
Hunk
anjay posesif banget nih cewe.
Hunk
Masih hidup mantan istrinya? aku kira udah mati.
LOL #555
Wihh,ini mereka bakal jadi pasangan atau cuman rekan kerja biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
jadi, kekuatan mata super itu diketahui banyak orang yang Thor?
Serena Khanza
wuih wang meiling pocecip 🤭 biasanya kan cowok yang pocecip ya 🫣
Panda
cukup oke cuma wang itu terlalu telling dan kebanyakan narasi emosi dibanding "show" emosi
Syh.Mutiara
waduh gak cukup tuh untuk hidup dalam seminggu
LOL #555
emas murni sama jam tangan ? 200k? pengen ditendang ni bapak satu
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
kelazzz cuyyy, ijin copas 🤭
Hunk
Keren banget bagian ini. Ketegangan dan urgensinya kerasa nyata, apalagi saat keputusan ekstrem seperti jual Yuan dan pakai leverage besar langsung dieksekusi. Dialognya tegas dan punya power, bikin karakter MC terasa dominan dan berani ambil risiko.👍
Serena Khanza
wow adegan nya panas thor
Hunk
/Applaud/Aww terlalu dekat🤭
Serena Khanza
tinggi bener 88 lantai ya buset 😭
Alexanderia
ceritanya bagus 👍👍
Syh.Mutiara
benar jugaa ya🤔 Dunia ini akan berubah seiring waktu
LOL #555
Satrya ,kalau udah kaya di Shanghai sana , ingat ya ,aku adikmu 🤣
LOL #555
Berarti nanti anak Satya fak bakal bisa cenayang ya?
Serena Khanza
siapa nih🤔 si meiling ya
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
karakter es selalu menjadi karakter favorit aku 💪
LOL #555
Wow ,bisa nerawang kayak dukun 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!